Mengalami demam menggigil disertai nyeri di perut kanan atas, lalu mata dan kulit tampak menguning? Banyak orang mungkin mengira ini hanya masuk angin atau maag biasa. Padahal, bisa jadi itu adalah cholangitis, infeksi saluran empedu yang berbahaya bila terlambat ditangani. Mari kupas tuntas penyebab hingga pengobatannya!
Apa itu Cholangitis?
Kolangitis atau cholangitis adalah perpaduan dari peradangan dan infeksi pada saluran empedu (bile duct). Hal yang menjadi masalah di sini sendiri bukan kantung empedu, tetapi salurannya. Lebih tepatnya, saluran yang mengalirkan cairan empedu dari hati ke usus halus.
Kondisi ini seringkali disebut sebagai ascending cholangitis karena sifatnya yang biasa “naik” dari usus ke saluran empedu. Pada kondisi akut, penyakit ini bisa membahayakan jika penanganannya tidak segera.
Penyebab utamanya sendiri adalah aliran empedu yang tersumbat. Ketika aliran macet, bakteri dari usus bisa berkembang biak di saluran empedu, lalu menyusup ke aliran darah.
Gejala Cholangitis
Tergantung seberapa parah infeksi dan sumbatannya, gejala yang muncul bisa ringan atau berat. Ada beberapa pola gejala yang biasanya dokter gunakan sebagai petunjuk awal, berikut uraiannya.
Trias Charcot
Berikut kumpulan tiga gejala khas kolangitis akut.
Demam, sering disertai menggigil.
Sakit di perut kanan atas (right upper quadrant pain).
Jaundice atau penyakit kuning, yaitu kulit dan mata tampak menguning
Sekitar 27-72% pasien menunjukkan ketiganya sekaligus. Bila ketiganya terjadi, kemungkinan besar memang cholangitis, namun sensitivitasnya rendah (26,4%). Maksudnya, lebih banyak pasien tidak menunjukkan ketiganya secara bersamaan. Jadi, jangan menunggu sampai ketiganya muncul dulu.
Pentad Reynolds
Pada kasus yang berat, Trias Charcot akan berubah menjadi Pentad Reynolds. Kondisi ini menandakan adanya sepsis biliaris (infeksi saluran empedu yang menyebar ke seluruh tubuh). Gejalanya adalah Trias Charcot yang ditambah dua gejala berikut.
Hipotensi, yaitu tekanan darah rendah.
Perubahan status mental, seperti bingung, lemas berlebihan (lethargy), atau penurunan kesadaran.
Jika sudah mengalami Pentad Reynolds, kondisi pasien berarti sudah kritis dan butuh penanganan darurat.
Gejala Lainnya
Selain kedua gejala yang khas di atas, pasien juga bisa merasakan hal berikut.
Malaise: tidak enak badan secara umum.
Rigors: menggigil hebat.
Pruritus: kulit terasa gatal.
Feses pucat: karena bilirubin (pigmen empedu) tidak sampai ke usus.
Urine berwarna gelap: karena bilirubin dibuang lewat ginjal.
Takikardia: detak jantung cepat.
Hepatomegali: hati membesar dan terasa nyeri saat ditekan.
Mual dan muntah.
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyakit cholangitis muncul ketika ada hambatan atau obstruksi pada aliran empedu, sehingga tekanan di saluran tersebut akan meningkat. Dalam situasi ini, bakteri dari usus akan lebih mudah bermigrasi ke saluran empedu dan berkembang biak.
Tekanan normal di saluran empedu sendiri berkisar antara 7-14 cm H2O. Begitu tekanannya lebih dari 25 cm H2O, maka akan terjadi refluks bakteremia. Ini adalah kondisi saat bakteri terdorong masuk ke aliran darah. Inilah yang menyebabkan sepsis.
Penyebab Sumbatan Saluran Empedu
Terdapat beberapa penyebab yang paling mungkin menyumbat empedu dan memicu cholangitis. Mari kita bahas satu per satu.
1. Choledocholithiasis (Batu Saluran Empedu)
Ini adalah penyebab paling umum dengan kasus sebanyak 85%. Batu yang terbentuk di empedu bisa berpindah ke saluran empedu (common bile duct). Atau terbentuk langsung di saluran empedu (primary stones), biasanya batu pigmen coklat.
2. Striktur (Penyempitan Saluran Empedu)
Striktur jinak dapat muncul setelah operasi peradangan kronis atau Primary Sclerosing Cholangitis (PSC). Sementara striktur ganas muncul karena kanker pankreas, kanker ampulla Vater, dan kanker saluran empedu yang dapat menyumbat saluran empedu di hati.
3. Sumbatan Stent Biliaris
Stent (selang kecil penyangga) yang sudah terpasang sebelumnya bisa tersumbat. Sumbatannya dapat berupa biofilm bakteri, endapan empedu, atau pertumbuhan tumor.
4. Sindrom Langka
Ada pula Mirizzi Syndrome, yaitu batu di duktus sistikus atau leher kandung empedu yang menekan saluran empedu umum. Ada juga Lemmel's Syndrome, ketika kantung kecil pada dinding usus di sekitar ampula di duodenum menekan saluran empedu.
5. Infeksi Parasit
Masalah ini dapat terjadi karena cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing pita (Taenia saginata), dan cacing hati (Clonorchis sinensis serta Opisthorchis viverrini). Cacing hati sendiri lebih umum ditemukan di Asia, khususnya di Asia Tenggara.
6. Penyebab Lain
Pada pasien HIV/AIDS stadium lanjut, infeksi oportunistik seperti Cryptosporidium atau CMV bisa menyebabkan kolangitis, biasa dikenal sebagai AIDS cholangiopathy. Selain itu, sekitar 0,5-2,4% kasus terjadi setelah prosedur ERCP.
Faktor Risiko
Faktor risiko cholangitis mirip dengan faktor risiko batu empedu, yaitu:
obesitas (BMI di atas 30),
diet tinggi lemak atau trigliserida,
gaya hidup sedenter (kurang bergerak),
penurunan berat badan yang cepat,
riwayat batu empedu atau pengangkatan kandung empedu (kolesistektomi),
usia lanjut (di atas 75 tahun),
diabetes melitus,
sirosis hati, dan
imunosupresi, misalnya pada pasien HIV/AIDS atau pengguna obat penekan imun.
Diagnosis dan Tes Fungsi Hati
Karena gejalanya tidak selalu lengkap, dokter tidak bisa hanya mengandalkan keluhan pasien saja. Diagnosis harus menggunakan kombinasi gejala, hasil laboratorium, dan pencitraan.
Kriteria Diagnostik Tokyo Guidelines 2018 (TG18)
Sekarang ini, TG18 adalah standar internasionalnya. Diagnosis pasti membutuhkan minimal satu dari masing-masing kategori berikut.
1. Peradangan Sistemik
Demam lebih dari atau sama dengan 38°C dan/atau menggigil, atau
Bukti laboratorium: leukositosis (WBC > 10.000/μL atau < 4.000/μL) atau CRP ≥ 1 mg/dL.
2. Kolestasis (gangguan aliran empedu)
Jaundice (bilirubin total ≥ 2 mg/dL atau 34 μmol/L), atau
Tes fungsi hati abnormal: ALP (alkaline phosphatase), GGT (gamma-GT), atau AST/ALT lebih dari 1,5 kali batas normal.
3. Pencitraan
Pelebaran saluran empedu (umumnya > 6-7 mm), atau
Bukti penyebab sumbatan pada pencitraan, seperti batu, striktur, stent, atau massa.
Untuk diagnosis "suspek", cukup satu item dari A ditambah satu item dari B atau C. Trias Charcot dan Pentad Reynolds juga masih berlaku untuk identifikasi cepat, meski kurang sensitif.
Pemeriksaan Laboratorium
Beberapa parameter juga diukur di laboratorium.
Tes Darah Lengkap: Sebagian besar pasien mengalami leukositosis (sel darah putih tinggi). Pada pasien sepsis atau daya tahan tubuh yang menurun, jumlah sel darah putih justru bisa rendah (leukopenia).
Tes fungsi hati.
Marker Inflamasi: CRP meningkat. Prokalsitonin dapat menjadi penanda keparahan dan prognosis.
Kultur darah: sebelum pemberian antibiotik.
Pemeriksaan Pencitraan
USG abdomen (pilihan pertama): untuk melihat pelebaran saluran empedu dan batu di kandung empedu.
CT scan abdomen: bisa menunjukkan pelebaran saluran, abses hati, dan penyebab sumbatan lain seperti tumor atau pankreatitis.
MRCP: Pemeriksaan non-invasif yang paling akurat, dengan sensitivitas 82-90% untuk batu saluran empedu.
ERCP: Standar emas untuk diagnosis sekaligus terapi.
EUS (endoscopic ultrasound): Tes dengan sensitivitas sangat tinggi.
Pengobatan Cholangitis
Prinsip pengobatannya ada dua, yaitu mengatasi infeksi dan menghilangkan sumbatan. Keduanya pun harus bersamaan, karena antibiotik saja tidak cukup jika saluran empedu masih tersumbat.
1. Resusitasi dan Perawatan suportif
Langkah pertama adalah menstabilkan kondisi pasien. Pasien akan mendapat cairan infus untuk mengatasi dehidrasi dan menjaga tekanan darah, serta penanganan gangguan pembekuan darah.
2. Terapi Antibiotik
Pemberian antibiotik harus dilakukan sejak diagnosis, tanpa menunggu hasil kultur lab. Pilihannya mencakup bakteri gram-negatif dan anaerob, serta mampu menembus saluran empedu dengan baik.
Durasinya sekitar 7-10 hari, disesuaikan dengan respons klinis dan hasil kultur. Pada kasus ringan dan responsif, durasinya bisa lebih singkat.
3. Dekompresi Saluran Empedu
Ini adalah langkah yang dapat menentukan keberhasilan pengobatan cholangitis. Dekompresi adalah membuka sumbatan agar empedu dan nanah mengalir keluar. Caranya dengan ERCP, PTBD (Percutaneous Transhepatic Biliary Drainage), drainase dengan panduan EUS, atau drainase bedah.
4. Menangani Penyebab Dasar
Setelah kolangitis akut teratasi, penyebab sumbatannya harus ditangani supaya tidak kambuh. Caranya dapat dengan kolesistektomi laparoskopi, tergantung kondisi pasien.
Komplikasi Jika Tidak Ditangani
Cholangitis akut yang terlambat ditangani dapat berkembang menjadi masalah serius. Komplikasinya terbagi menjadi dua, yaitu jangka pendek dan jangka panjang.
Komplikasi Jangka Pendek
Sepsis dan syok septik: infeksi menyebar ke seluruh tubuh, tekanan darah turun drastis, dan organ gagal berfungsi.
Abses hati: kumpulan nanah di hati karena infeksi bakteri tidak terkendali.
Gagal ginjal akut: akibat tekanan darah rendah dan toksin bakteri.
Pankreatitis akut: terjadi bila batu menyumbat dan menghambat aliran cairan pankreas.
Kolesistitis akut: peradangan kandung empedu yang menyertai.
Trombosis vena porta: pembekuan darah di vena porta hati.
Komplikasi Jangka Panjang
Sirosis biliaris sekunder: kerusakan hati permanen akibat sumbatan dan infeksi berulang.
Striktur saluran empedu kronis: jaringan parut yang menyebabkan penyempitan permanen.
Kolangiokarsinoma: pada Recurrent Pyogenic Cholangitis, risiko kanker saluran empedu meningkat hingga 5%.
Kekambuhan cholangitis: terjadi bila penyebab sumbatan, seperti batu atau striktur, tidak tertangani tuntas.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera ke IGD bila mengalami gejala demam hingga menggigil, nyeri perut di bagian kanan atas, jaundice, hingga merasakan Trias Charcot. Orang dengan riwayat batu empedu, kanker pankreas, diabetes dan sirosis hati, atau imunosupresi juga harus mendapat evaluasi lebih lanjut.
Selain itu, tes lengkap untuk hati dari Bumame dapat menjadi langkah bijak pertama untuk memahami keluhan Anda. Dengan antibiotik dan pembukaan sumbatan yang cepat, sebagian besar pasien dapat pulih lebih baik. Ayo, kenali gejalanya, jaga gaya hidup sehat, dan segera ke dokter bila muncul tanda bahaya!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Virgile, J., & Marathi, R. (2023). Cholangitis. StatPearls. StatPearls Publishing .
Ahmed, M. (2018). Acute cholangitis - an update. World Journal of Gastrointestinal Pathophysiology.
Cleveland Clinic. (2023). Cholangitis.
Merck Manual Professional Version. (2025). Choledocholithiasis and cholangitis.
Coucke, E. M., Akbar, H., Kahloon, A., & Lopez, P. P. (2022). Biliary obstruction. StatPearls. StatPearls Publishing.
Kiriyama, S., Kozaka, K., Takada, T., et al. (2018). Tokyo Guidelines 2018: Diagnostic criteria and severity grading of acute cholangitis (with videos). Journal of Hepato-Biliary-Pancreatic Sciences.
von Seth, E., & Hult, M. (2026). Acute cholangitis. BJS (British Journal of Surgery).
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
