Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Dampak Cuaca Ekstrem bagi Kesehatan: Kenali Risiko Panas Terik, Banjir, hingga Kabut Asap
Kembali ke Artikel & Berita

Dampak Cuaca Ekstrem bagi Kesehatan: Kenali Risiko Panas Terik, Banjir, hingga Kabut Asap

Bumame EditorV-Drip

Siang terasa terik, sore turun hujan deras, lalu jalan di depan rumah tergenang. Setelah hari seperti ini, badan lemas, pusing, atau batuk ringan sering dianggap wajar dan dibiarkan hilang sendiri.

Cuaca ekstrem memengaruhi tubuh lewat banyak jalur, dari cairan yang terkuras, air banjir yang membawa kuman, hingga asap yang mengganggu napas. Banyak dampaknya bisa dicegah bila tandanya dikenali sejak awal.

Artikel ini membahas dampak cuaca ekstrem bagi kesehatan menurut jenis cuacanya, kelompok yang lebih rentan, cara melindungi diri, dan tanda yang perlu segera diperiksakan.

Apa yang Dimaksud Cuaca Ekstrem?

Cuaca ekstrem adalah kondisi cuaca yang jauh berbeda dari biasanya, baik suhu, curah hujan, angin, maupun kualitas udara. WHO mencatat gelombang panas, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan kini lebih sering terjadi seiring perubahan iklim.

Di Indonesia, bentuknya berupa panas terik saat kemarau, hujan lebat dan banjir, kabut asap, serta cuaca yang cepat berubah saat pancaroba. Dampaknya bisa langsung, seperti tubuh kepanasan, atau tidak langsung lewat air yang tercemar dan nyamuk yang bertambah.

Dampak Panas Ekstrem pada Tubuh

Saat udara panas, tubuh mendinginkan diri lewat keringat dan aliran darah ke kulit. Bila panas berlangsung lama atau cairan kurang, muncul gangguan berikut.

Dehidrasi

Dehidrasi terjadi ketika cairan yang keluar lebih banyak daripada yang masuk, dan keringat saat cuaca panas mempercepatnya. Tandanya antara lain haus, mulut kering, urine lebih sedikit dan pekat, pusing, serta lemas. Bagi yang berpuasa, pencegahan dehidrasi saat puasa perlu diatur sejak sahur hingga berbuka.

Kelelahan Akibat Panas dan Sengatan Panas

Kelelahan akibat panas atau heat exhaustion ditandai keringat berlebihan, kulit lembap dan pucat, lemas, pusing, mual, atau kram otot. Keluhan ini biasanya membaik setelah beristirahat di tempat sejuk, melonggarkan pakaian, dan minum air.

Sengatan panas atau heat stroke lebih berat karena sistem pendingin tubuh gagal bekerja dan suhu tubuh naik sangat tinggi. Tanda daruratnya berupa kebingungan, bicara tidak jelas, kejang, kulit sangat panas, hingga pingsan. Kondisi ini perlu pertolongan gawat darurat. Kelelahan akibat panas yang dibiarkan bisa berlanjut menjadi sengatan panas, dan keduanya termasuk gangguan akibat panas berlebihan pada tubuh.

Penyakit Jantung dan Ginjal Bisa Memburuk

Saat cuaca panas, jantung bekerja lebih berat untuk mengalirkan darah ke kulit, sementara keringat yang banyak membebani ginjal. WHO menyebut panas bisa memperburuk penyakit kronis seperti penyakit jantung, paru, ginjal, dan diabetes. Sesak napas atau dada berdebar saat cuaca panas perlu segera diperiksakan.

Lansia, Bayi, dan Pekerja Luar Ruangan Lebih Berisiko

Tubuh lansia dan bayi lebih sulit menyesuaikan diri dengan panas, dan bayi belum bisa menyampaikan rasa haus. Pekerja luar ruangan seperti pengemudi ojek dan kurir terpapar panas berjam-jam, sehingga perlu istirahat di tempat teduh dan cukup minum.

Hujan Lebat dan Banjir Membawa Risiko Infeksi

WHO mencatat banjir bisa menyebabkan cedera, merusak pasokan air bersih, dan memicu penyakit yang menyebar lewat air maupun nyamuk. Sebagian risiko ini tetap ada setelah air surut.

Leptospirosis dari Air Banjir

Leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira dari urine hewan yang terinfeksi, khususnya tikus, yang bercampur dengan air banjir. Bakteri masuk lewat luka di kulit atau selaput lendir mata, hidung, dan mulut. Gejala awalnya berupa demam, sakit kepala, nyeri otot khususnya di betis, dan mata merah. Sampaikan riwayat kontak dengan air banjir agar dokter bisa menilai kemungkinan leptospirosis sejak awal.

Diare dan Penyakit yang Menyebar Lewat Air

Banjir bisa mencemari sumur dan pipa air bersih dengan kotoran, sehingga air minum dan makanan menjadi jalan masuk kuman penyebab diare. Pada anak-anak dan lansia, cairan tubuh bisa cepat berkurang saat diare. Dokter akan membedakan diare akut dan kronis dari lama keluhan dan gejala penyertanya.

DBD dan Penyakit yang Dibawa Nyamuk

Genangan di pot, ban bekas, atau talang menjadi tempat nyamuk bertelur, dan WHO mencatat banjir bisa meningkatkan penyakit yang ditularkan nyamuk. Di Indonesia, salah satunya demam berdarah dengue (DBD). Demam saat musim hujan sebaiknya diperiksakan, dan dokter akan menentukan tes untuk diagnosis dini DBD yang sesuai.

Luka dan Infeksi Kulit

Air banjir bisa menyembunyikan pecahan kaca atau paku, dan WHO memasukkan luka robek dan luka tusuk sebagai salah satu dampak banjir. Bersihkan luka dengan air mengalir dan sabun, lalu tutup rapat. Luka yang makin merah, bengkak, bernanah, atau disertai demam perlu diperiksakan.

Bagaimana Kabut Asap dan Polusi Udara Memengaruhi Pernapasan?

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan muncul di sejumlah daerah saat kemarau, sementara kota besar menghadapi asap kendaraan dan industri. WHO menyebut ketiganya sebagai sumber umum polusi udara, yang menyebabkan penyakit pernapasan dan penyakit lain.

Infeksi Saluran Pernapasan

WHO mengaitkan polusi udara dengan infeksi saluran pernapasan. Keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan demam. Anak dan lansia perlu diawasi bila batuk disertai napas cepat atau sesak.

Asma dan PPOK Lebih Mudah Kambuh

Udara berasap bisa memicu kekambuhan asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), yang juga dikaitkan WHO dengan polusi udara. Keluhannya berupa sesak, napas berbunyi, dan batuk. Pada PPOK, aliran udara di paru sudah terhambat sehingga paparan asap lebih cepat terasa. Mengenali ciri-ciri asma yang kambuh membantu penderitanya bertindak lebih cepat.

Mata Perih dan Berair

Asap dan debu juga bisa membuat mata perih, merah, atau berair. Hindari mengucek mata. Nyeri mata yang hebat atau penglihatan kabur perlu diperiksakan.

Pergantian Musim dan Keluhan Pernapasan

Saat pancaroba, cuaca bisa berubah dari terik ke hujan deras dalam sehari. WHO memasukkan gangguan pernapasan ke dalam masalah kesehatan yang dipengaruhi cuaca dan iklim.

Flu dan Infeksi Saluran Napas

Pilek, batuk, dan flu kerap muncul pada masa ini. Mengenali penyebab, gejala, dan penanganan flu membantu Anda memilah keluhan ringan dari yang perlu diperiksakan, seperti demam tinggi atau sesak napas.

Alergi yang Lebih Sering Kambuh

Sebagian orang dengan alergi merasakan bersin, hidung tersumbat, dan mata gatal lebih sering kambuh saat cuaca berubah atau rumah lembap. Keluhan rinitis alergi yang mengganggu tidur atau aktivitas sebaiknya dibicarakan dengan dokter.

Ringkasan Risiko per Jenis Cuaca Ekstrem

Jenis cuaca ekstrem

Risiko kesehatan utama

Langkah pencegahan

Panas terik

Dehidrasi, kelelahan akibat panas, sengatan panas

Minum teratur, hindari terik, pakaian longgar

Hujan lebat dan banjir

Leptospirosis, diare, DBD, luka terinfeksi

Hindari air banjir, minum air matang, kuras penampungan air

Kabut asap dan polusi

ISPA, asma dan PPOK kambuh, mata perih

Kurangi aktivitas di luar, tutup jendela, pakai masker

Pergantian musim

Flu, batuk pilek, alergi kambuh

Cuci tangan, tidur cukup, rumah kering dan bersih

Tabel ini hanya gambaran umum dan tidak menggantikan saran dokter.

Kelompok yang Lebih Rentan

WHO mencatat dampak cuaca dan iklim lebih berat dirasakan kelompok berikut:

  • Lansia. Banyak lansia hidup dengan penyakit kronis dan perlu didampingi agar cukup minum dan cepat ditolong.

  • Bayi dan anak-anak. Mereka bergantung pada orang dewasa untuk air minum yang aman dan menjauhi air banjir.

  • Ibu hamil. Ibu hamil lebih berisiko saat cuaca panas, sehingga kebutuhan cairannya perlu dibicarakan dengan dokter kandungan.

  • Orang dengan penyakit kronis. Penyakit jantung, ginjal, diabetes, asma, dan PPOK bisa memburuk saat panas atau berasap, sehingga pengobatan rutin perlu tetap dijalankan.

  • Pekerja luar ruangan dan warga daerah rawan banjir. Mereka lebih lama terpapar panas, asap, atau air banjir, sehingga perlu alat pelindung dan waktu istirahat yang cukup.

Bagaimana Cara Melindungi Diri Saat Cuaca Ekstrem?

Saat Panas Terik

  • Minum air putih secara teratur, termasuk saat belum haus.

  • Hindari aktivitas berat saat terik dan kenakan pakaian longgar berwarna terang.

  • Jangan tinggalkan anak atau lansia di mobil yang terparkir.

Saat Hujan Lebat dan Banjir

  • Hindari air banjir, atau pakai sepatu bot dan sarung tangan bila terpaksa.

  • Tutup luka, lalu cuci tangan dan kaki dengan sabun setelah terkena air banjir.

  • Minum air matang atau air kemasan, dan simpan makanan dalam wadah tertutup.

  • Kuras tempat penampungan air dan singkirkan barang bekas yang menampung air hujan.

Saat Udara Berasap

  • Pantau kualitas udara dan kurangi aktivitas di luar saat udara memburuk.

  • Tutup jendela dan pakai masker yang rapat saat keluar rumah.

  • Penderita asma atau PPOK sebaiknya selalu membawa obat sesuai resep dokter.

Saat Pergantian Musim

  • Cuci tangan dengan sabun dan tutup mulut saat batuk atau bersin.

  • Cukup tidur dan segera ganti pakaian yang basah.

  • Jaga rumah tetap kering dan bebas debu.

Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?

Segera cari pertolongan medis bila muncul tanda berikut:

  • Kebingungan, bicara tidak jelas, kejang, atau pingsan setelah terpapar panas. Kondisi ini perlu penanganan gawat darurat.

  • Kelelahan akibat panas yang tidak membaik setelah istirahat dan minum.

  • Tanda dehidrasi berat, seperti sangat jarang buang air kecil atau bayi yang tidak mau minum.

  • Demam, nyeri betis, atau mata merah setelah kontak dengan air banjir.

  • Demam tinggi mendadak saat musim hujan.

  • Diare berdarah atau disertai muntah terus-menerus.

  • Sesak napas, napas berbunyi, atau nyeri dada saat udara berasap.

  • Luka yang bengkak, bernanah, atau disertai demam.

Siapkan Diri, Tetap Sehat di Setiap Musim

Cuaca ekstrem datang silih berganti, dan kebiasaan sederhana membantu tubuh melewatinya. Cukup minum saat panas, jauhi air banjir, kurangi paparan asap, dan kenali tanda yang perlu diperiksakan. Semakin dini diketahui, semakin luas pilihan penanganannya.

Bagi Anda yang hidup dengan penyakit kronis, tanyakan kepada dokter cara menyiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem. Medical check-up berkala juga membantu Anda mengetahui kondisi tubuh. Untuk informasi layanan pemeriksaan, silakan hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Cuaca Panas Ekstrem Dapat Menyebabkan Bebagai Penyakit, Karena Itu Perlu Antisipasi Agar Tidak Tumbang. Retrieved 23 September 2026 from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1574/cuaca-panas-ekstrem-dapat-menyebabkan-bebagai-penyakit-karena-itu-perlu-antisipasi-agar-tidak-tumbang

  2. Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Waspadai Musim Hujan dan Banjir!!! Leptospirosis Diam-diam Mematikan. Retrieved 23 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/waspadai-musim-hujan-dan-banjir-leptospirosis-diam-diam-mematikan

  3. World Health Organization. Climate change. Retrieved 23 September 2026 from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/climate-change-and-health

  4. World Health Organization. Heat and health. Retrieved 23 September 2026 from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/climate-change-heat-and-health

  5. World Health Organization. Floods. Retrieved 23 September 2026 from https://www.who.int/health-topics/floods

  6. World Health Organization. Air pollution. Retrieved 23 September 2026 from https://www.who.int/health-topics/air-pollution

Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani

Frequently Asked Question

Apa saja dampak cuaca ekstrem bagi kesehatan?
Panas terik bisa menyebabkan dehidrasi, kelelahan akibat panas, dan sengatan panas, sedangkan banjir meningkatkan risiko leptospirosis, diare, dan DBD. Kabut asap dan polusi udara bisa memicu ISPA serta membuat asma dan PPOK lebih mudah kambuh.
Apa beda kelelahan akibat panas dan sengatan panas?
Kelelahan akibat panas ditandai keringat berlebihan, lemas, pusing, atau mual, dan biasanya membaik dengan istirahat di tempat sejuk serta minum. Sengatan panas lebih berat, dengan tanda seperti kebingungan, kejang, atau pingsan, dan perlu pertolongan gawat darurat segera.
Mengapa air banjir bisa menularkan penyakit?
Air banjir bisa tercemar kotoran dan urine hewan, termasuk urine tikus yang membawa bakteri Leptospira. Kuman bisa masuk lewat luka di kulit, selaput lendir, atau air minum dan makanan yang tercemar.
Siapa yang lebih rentan terkena dampak cuaca ekstrem?
Lansia, bayi dan anak-anak, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis, pekerja luar ruangan, dan warga di daerah rawan banjir lebih rentan terdampak. Kelompok ini perlu perlindungan lebih saat cuaca sedang ekstrem.
Kapan harus ke dokter saat cuaca ekstrem?
Segera cari pertolongan bila muncul kebingungan, kejang, pingsan, sesak napas, atau nyeri dada. Periksakan juga demam, nyeri otot, atau diare, terutama bila muncul setelah kontak dengan air banjir.