Apakah tangan, kaki, wajah, dan bagian tubuh lain tampak membengkak secara bersamaan, disertai napas yang terasa berat? Dalam dunia medis, kondisi ini disebut sebagai edema anasarka.
Anasarka terjadi ketika cairan menumpuk secara berlebihan di jaringan tubuh, sehingga pembengkakan dapat terlihat pada wajah, lengan, kaki, hingga perut.
Berhubung edema jenis ini memiliki berbagai gejala, Anda perlu mulai mengenalinya karena ini sering menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang cukup serius.
Apa Itu Edema Anasarka?
Edema anasarka adalah pembengkakan parah yang terjadi di berbagai bagian tubuh secara bersamaan. Saat edema ini terjadi, cairan menumpuk secara berlebihan di berbagai jaringan tubuh, mulai dari wajah, perut, area kelamin, hingga kedua tungkai.
Dalam kondisi normal, tubuh bisa menjaga keseimbangan cairan yang bergerak antara pembuluh darah dan jaringan sekitarnya. Tubuh mengatur keseimbangan tersebut dengan dua tekanan utama di dalam pembuluh darah yang memastikan agar cairan seperti darah dan sebagainya tidak merembes.
Namun, jika keseimbangan ini terganggu, cairan tersebut akan merembes keluar dan menumpuk di jaringan tubuh.
Penderita edema ini baru akan melihat pembengkakannya dengan jelas ketika penumpukan cairan sudah mencapai sekitar 2,5 hingga 3 liter. Gangguan edema ini juga sering menandakan adanya masalah kesehatan yang cukup serius di tubuh.
Edema Anasarka Gejala Penyakit Apa?
Munculnya edema ini pada umumnya merupakan sinyal adanya gangguan berat pada organ vital tubuh. Dilihat dari asal-usulnya, ahli kesehatan menentukan gangguan kesehatan pada tiga organ utama tubuh sebagai penyebab terjadinya edema ini, yakni jantung, hati, dan ginjal.
Gangguan Jantung
Gagal jantung adalah salah satu penyebab paling umum dari munculnya pembengkakan ini. Ketika jantung melemah, aliran darah akan melambat dan tekanan dalam pembuluh darah akan meningkat.
Kemudian, tekanan darah yang tinggi tersebut akan mendorong cairan keluar dari pembuluh dan membuat cairan menumpuk di jaringan tubuh. Akibatnya, pembengkakan pun muncul di berbagai bagian tubuh secara bersamaan.
Oleh sebab itu, melakukan deteksi dini penyakit jantung adalah langkah yang cukup strategis untuk mencegah munculnya edema anasarka. Deteksi dan penanganan sejak awal dapat membantu mengendalikan penyakit jantung sebelum berkembang menjadi lebih parah.
Gangguan Hati
Penyakit hati berat seperti sirosis juga bisa menjadi penyebab edema anasarka. Ini terjadi karena hati mengalami penurunan kemampuan memproduksi albumin sehingga kadar albumin darah dapat menurun. Albumin sendiri merupakan jenis protein yang membantu mempertahankan cairan di dalam pembuluh darah.
Ketika kadar albumin menurun, cairan lebih mudah keluar ke jaringan dan menyebabkan pembengkakan. Kondisi kadar albumin yang rendah ini disebut hipoalbuminemia. Hipoalbuminemia dapat ditandai dengan edema dan rasa lelah, meskipun gejalanya bergantung pada penyebab yang mendasarinya.
Gangguan Ginjal
Masalah pada ginjal seperti sindrom nefrotik dan gagal ginjal juga bisa menimbulkan edema di seluruh tubuh. Alasannya adalah karena ginjal yang rusak membuang terlalu banyak protein penting lewat urine atau menahan garam dan air. Akibatnya, keseimbangan cairan akan terganggu, yang memicu munculnya edema di berbagai bagian tubuh.
Penyebab Lain Edema Anasarka
Selain penyakit jantung, ginjal, dan hati, edema anasarka juga dapat dipicu oleh malnutrisi berat, efek samping obat tertentu, serta gangguan pencernaan yang menyebabkan malabsorpsi atau kehilangan protein. Semua gangguan ini dapat menurunkan kadar albumin atau mengganggu keseimbangan cairan, sehingga cairan lebih mudah berpindah dan menumpuk di jaringan.
Penyebab lain yang juga bisa mendasari masalah anasarka meliputi:
Penggunaan obat kortikosteroid dan obat antihipertensi. Keduanya dapat menyebabkan tubuh menahan natrium dan cairan atau memengaruhi tekanan di pembuluh darah, sehingga cairan lebih mudah berpindah ke jaringan.
Peradangan seperti rheumatoid arthritis, karena dapat meningkatkan permeabilitas pembuluh darah dan menyebabkan cairan lebih mudah keluar dari pembuluh darah lalu menumpuk di jaringan.
Gangguan pada sistem limfatik. Sistem limfatik sendiri berfungsi mengalirkan kelebihan cairan dari jaringan kembali ke sirkulasi. Jika saluran limfatik mengalami kerusakan, cairan dapat tertahan dan menyebabkan pembengkakan yang meluas.
Penyakit celiac, karena dapat menyebabkan malabsorpsi atau kehilangan protein melalui saluran pencernaan. Jika kadar protein, terutama albumin, menurun, kemampuan darah menahan cairan di dalam pembuluh darah juga berkurang.
Kekurangan hormon tiroid, karena dapat menyebabkan penumpukan zat tertentu di jaringan kulit dan meningkatkan retensi cairan dan menimbulkan pembengkakan, meskipun mekanismenya berbeda dari edema biasa.
Infeksi berat, karena dapat memicu peradangan sistemik dan meningkatkan kebocoran pembuluh darah. Respons peradangan juga dapat mengganggu fungsi organ serta menyebabkan penumpukan cairan yang lebih luas.
Reaksi alergi, karena zat peradangan bisa membuat pembuluh darah lebih mudah ditembus cairan dan menimbulkan pembengkakan dengan cepat.
Perbedaan Anasarka dan Edema Perifer
Banyak orang masih mudah kebingungan membedakan edema anasarka dengan edema perifer yang lebih umum. Namun, keduanya memiliki perbedaan yang cukup kentara dari segi penyebaran dan tingkat keparahannya.
Edema perifer adalah pembengkakan yang biasanya hanya terjadi pada satu area tertentu, seperti kaki, tungkai, atau pergelangan. Kondisi ini sering muncul setelah terlalu lama berdiri atau duduk, dan kondisinya tidak separah edema di seluruh tubuh. Sementara itu, anasarka adalah kondisi yang lebih parah karena sifatnya yang bisa menyebar di banyak bagian tubuh.
Perbedaan luas dan tingkat keparahan pembengkakan antara kedua kondisi tersebut penting dipahami agar penyebabnya dapat segera dievaluasi dan penanganan medis yang sesuai dapat diberikan.
Diagnosis Edema Anasarka
Untuk memastikan apakah mengalami anasarka, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan penyebab pastinya. Dokter biasanya memulai dengan menanyakan riwayat kesehatan dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai sebaran dan tingkat keparahan pembengkakan.
Tidak hanya itu, dokter juga akan melakukan tes darah untuk mengecek fungsi hati dan ginjal serta kadar albumin dalam tubuh. Dokter juga akan melakukan tes urine untuk memeriksa apakah ada protein yang bocor ke dalam urine akibat masalah ginjal.
Apabila dibutuhkan, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan pencitraan seperti USG untuk melihat kondisi organ secara detail. USG ini bisa mencakup USG perut untuk melihat kondisi hati dan ekokardiografi untuk menilai kerja jantung.
Dari rangkaian tes tadi, dokter bisa mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang masalah kesehatan yang sedang dikeluhkan.
Cara Mengeluarkan Cairan Edema (Penanganan)
Untuk menangani edema anasarka, dokter perlu mengatasi penyebab penumpukan cairan sekaligus membantu mengurangi kelebihan cairan dalam tubuh. Penanganan dapat berbeda-beda, bergantung pada organ atau kondisi yang mendasarinya.
Dokter umumnya meresepkan obat diuretik untuk membantu tubuh membuang kelebihan cairan melalui urine. Penderita juga biasanya disarankan untuk membatasi asupan garam untuk mengurangi penumpukan cairan.
Jika penderitanya memiliki kadar albumin yang sangat rendah, dokter akan memberikan albumin sesuai indikasi medis. Sementara itu, jika penyebab edema tersebut adalah sirosis, dokter akan melakukan tindakan khusus untuk mengeluarkan cairan dengan pemantauan ketat.
Penanganan edema anasarka harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi setiap penderita. Penggunaan obat diuretik, pembatasan garam, atau pemberian albumin tidak boleh dilakukan tanpa anjuran dokter karena kebutuhan dan respons tubuh dapat berbeda-beda. Dokter juga perlu memantau fungsi ginjal, tekanan darah, kadar elektrolit, serta jumlah cairan yang masuk dan keluar selama proses pengobatan.
Kapan Harus ke Dokter?
Edema anasarka merupakan kondisi serius yang memerlukan pemeriksaan medis. Segera konsultasikan dengan dokter jika pembengkakan muncul di banyak bagian tubuh apalagi jika terjadi secara tiba-tiba atau semakin memburuk dalam waktu singkat.
Waspadai pula sesak napas atau kesulitan bernapas yang muncul bersamaan dengan pembengkakan. Kondisi tersebut dapat menandakan penumpukan cairan di paru-paru atau gangguan jantung yang membutuhkan penanganan segera. Penurunan jumlah urine secara drastis juga perlu diperhatikan karena dapat menunjukkan gangguan fungsi ginjal atau penumpukan cairan yang semakin berat.
Cek Kadar Albumin untuk Tahu Penyebab Edema
Karena rendahnya albumin sering berkaitan dengan edema, tes albumin menjadi salah satu pemeriksaan penting dalam evaluasi kondisi tersebut. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter menilai kadar albumin dan mencari penyebab pembengkakan, tetapi hasilnya tetap perlu dipertimbangkan bersama gejala serta pemeriksaan lain.
Bumame menyediakan paket pemeriksaan Albumin yang bisa membantu Anda menilai kadar protein albumin dalam tubuh. Hasil pemeriksaan ini dapat mendukung dokter dalam memantau kondisi yang berkaitan dengan keseimbangan cairan tubuh serta fungsi hati dan ginjal.
Meski bermanfaat, pemeriksaan albumin tidak bisa dianggap sebagai terapi pengobatan. Tes kadar albumin hanya berfungsi sebagai alat bantu agar dokter dapat menentukan langkah medis yang sesuai untuk mengevaluasi edema dan mencari penyebabnya.
Apabila kadar albumin telah diketahui, dokter dapat menilai kondisi secara lebih menyeluruh serta menentukan penanganan yang tepat untuk edema dan penyakit lain yang mungkin mendasarinya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Cleveland Clinic. (2024). Anasarca: What It Is, Causes & Treatment.
Osmosis (Elsevier). (2025). Anasarca: What Is It, Causes, Signs, Symptoms, and More.
Kattula, S. R. S. T., Avula, A., & Baradhi, K. M. (2026). Anasarca. StatPearls Publishing.
Largeau, B., et al. (2025). Peripheral Edema. StatPearls Publishing.
StatPearls. (2026). Anasarca: Treatment & Management.
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
Frequently Asked Question
Apa itu edema anasarka?
Apa penyebab edema anasarka?
Edema anasarka paling sering berkaitan dengan gangguan berat pada jantung, hati, atau ginjal. Kondisi lain seperti malnutrisi berat, efek obat tertentu, gangguan sistem limfatik, infeksi berat, reaksi alergi, dan kadar albumin rendah juga dapat menjadi penyebab.
.jpg&w=3840&q=75)