Napas terasa pendek saat berjalan ke warung, dan batuk kering tak kunjung reda. Keluhan seperti ini sering dianggap tanda kurang olahraga.
Pada sebagian orang, keluhan yang datang perlahan itu berasal dari fibrosis, yaitu jaringan parut yang menumpuk di organ dalam. Parut umumnya menetap, tetapi penanganan lebih awal bisa memperlambat perkembangannya.
Artikel ini membahas arti fibrosis, jenisnya, penyebab, gejala, hingga cara dokter menanganinya.
Pengertian Fibrosis dan Organ yang Bisa Terkena
Fibrosis adalah kondisi saat jaringan parut terbentuk berlebihan dan menggantikan jaringan organ yang normal, biasanya setelah cedera atau peradangan yang berulang. Prosesnya mirip bekas luka di kulit, tetapi terjadi di organ dalam. Jaringan parut ini tebal dan kaku, sehingga organ tidak bisa bekerja seperti biasa. Kondisi ini bisa muncul di paru, hati, pankreas, hingga sumsum tulang.
Di paru, parut terbentuk di sekitar alveolus, yaitu kantong udara kecil tempat oksigen berpindah ke darah. Dinding yang menebal menghambat pertukaran udara, inti dari fungsi paru-paru.
Bagaimana Fibrosis Terbentuk?
Saat jaringan cedera, tubuh memulai perbaikan. Peradangan muncul lebih dulu untuk membersihkan sel yang rusak, lalu sel pembentuk parut menghasilkan kolagen, protein berbentuk serat yang menambal bagian tersebut.
Bila cedera terjadi sekali, tambalan ini membantu jaringan pulih. Masalah muncul saat kerusakan berlangsung lama atau berulang, misalnya akibat asap rokok, debu di tempat kerja, virus hepatitis, atau alkohol. Kolagen terus menumpuk, jaringan makin tebal, dan lama-lama menggantikan sel yang sehat.
Jenis Fibrosis yang Sering Dibahas
Jenis yang sering dibahas antara lain:
1. Fibrosis Paru dan IPF
Pada fibrosis paru, sesak napas bertambah seiring waktu karena jaringan paru makin kaku. Bila penyebabnya tidak ditemukan, dokter menyebutnya fibrosis paru idiopatik (IPF), yang umumnya dialami orang paruh baya dan lansia. Perjalanannya berbeda pada tiap orang, dari stabil bertahun-tahun hingga cepat memburuk.
2. Fibrosis Hati dan Sirosis
Kerusakan hati yang berlangsung lama membuat parut perlahan menggantikan jaringan hati yang sehat. Bila terus berlanjut, kondisi ini menjadi sirosis hati, yaitu hati yang penuh parut dan rusak permanen. Makin berat sirosis, hati mulai gagal menjalankan tugasnya.
3. Fibrosis Kistik
Fibrosis kistik adalah penyakit genetik bawaan yang mekanismenya berbeda dari jenis lain. Perubahan gen CFTR membuat lendir tubuh kental dan lengket, lalu menyumbat serta merusak paru, pankreas, dan organ lain. Namanya berasal dari kista dan parut yang terbentuk di pankreas.
4. Mielofibrosis
Mielofibrosis adalah salah satu jenis kanker sumsum tulang, tempat sel darah dibuat. Parutnya membuat tubuh sulit menghasilkan sel darah yang sehat. Kondisi ini lebih sering ditemukan setelah usia 50 tahun.
Penyebab dan Faktor Risiko Fibrosis
Pemicunya berbeda menurut organ, antara lain:
Penyakit hati menahun. Hepatitis B dan hepatitis C kronis, penyakit hati terkait alkohol, dan perlemakan hati termasuk penyebab sirosis. Semuanya merusak sel hati dalam waktu lama.
Rokok. Perokok aktif dan mantan perokok lebih berisiko terkena fibrosis paru. Risikonya juga lebih tinggi pada orang dengan emfisema.
Debu dan serat di tempat kerja. Paparan berulang debu silika, serat asbes, debu logam, kayu, batu bara, jamur, atau kotoran burung bisa merusak paru, apalagi tanpa pelindung. Pekerja tambang, pertanian, dan konstruksi termasuk kelompok berisiko.
Radiasi dan obat tertentu. Terapi radiasi ke dada, misalnya untuk kanker paru atau payudara, bisa merusak paru berbulan-bulan hingga bertahun-tahun kemudian. Beberapa golongan obat, seperti kemoterapi, obat gangguan irama jantung, sebagian antibiotik, dan antiradang tertentu, juga bisa merusaknya.
Penyakit autoimun dan infeksi. Lupus, artritis reumatoid, skleroderma, dan sarkoidosis bisa memicu fibrosis paru. Pneumonia juga bisa berkembang menjadi parut paru.
Usia dan keturunan. Kemenkes mencatat sebagian besar penderita fibrosis paru berusia 40 hingga 70 tahun dan lebih banyak pria. Sebagian jenisnya menurun dalam keluarga, sedangkan fibrosis kistik diwariskan dari kedua orang tua.
Gejala Fibrosis Menurut Organ yang Terkena
Gejala fibrosis umumnya muncul perlahan dan bergantung pada organ yang terkena. Di tahap awal, sebagian orang belum merasakan keluhan.
Paru. Keluhan utamanya batuk kering dan sesak napas yang makin berat, bahkan saat berjalan atau berpakaian. Keluhan lain meliputi lelah berat, berat badan turun, nyeri otot dan sendi, serta ujung jari melebar dan membulat (jari tabuh). Keluhan serupa juga muncul pada penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), jadi penyebabnya perlu dipastikan dokter.
Hati. Parut di hati sering belum bergejala sampai kerusakannya berat. Keluhan yang kemudian muncul antara lain lelah dan gatal hebat pada kulit.
Fibrosis kistik. Gejalanya berupa infeksi paru berulang, batuk menetap, mengi, dan infeksi sinus. Pada anak, tinja bisa berminyak dan berat badan sulit naik meski nafsu makan baik.
Mielofibrosis. Keluhannya bisa berupa lemas, mudah memar atau berdarah, keringat berlebihan saat tidur, demam, dan nyeri tulang. Rasa penuh di bawah rusuk kiri bisa muncul karena limpa membesar.
Apa Beda Fibrosis Paru, Hati, dan Kistik?
Ringkasan berikut membantu membedakan ketiganya.
Perbandingan di atas bersifat umum dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?
Periksakan diri bila sesak napas atau batuk kering tidak kunjung membaik. Mayo Clinic menganjurkan menghubungi dokter secepatnya saat gejala fibrosis paru muncul, dan segera bila gejalanya cepat memburuk.
Orang dengan hepatitis kronis, kebiasaan minum alkohol, atau perlemakan hati sebaiknya rutin memeriksakan tanda gangguan fungsi hati meski merasa sehat, karena parut hati bisa bertambah tanpa keluhan. Anak yang sering mengalami infeksi paru atau berat badannya sulit naik perlu diperiksakan ke dokter anak.
Segera ke IGD bila sesak napas memburuk mendadak, muncul nyeri dada, atau bibir dan kuku tampak kebiruan.
Cara Dokter Menilai Derajat Fibrosis
Dokter menanyakan keluhan, riwayat penyakit, pekerjaan, obat, dan kebiasaan, lalu memeriksa fisik. Tes lanjutan dipilih sesuai organ, antara lain:
Tes darah. Tes darah bisa menunjukkan tanda kerusakan hati, misalnya lewat enzim SGOT, SGPT, dan Gamma GT. Hitung darah lengkap dipakai bila dokter mencurigai kelainan sumsum tulang.
Tes fungsi paru. Tes seperti spirometri mengukur seberapa baik paru bekerja. Hasilnya membantu menilai beratnya gangguan.
Pencitraan. Rontgen dada dan CT scan memperlihatkan gambaran jaringan paru. Untuk hati, dokter bisa memakai pencitraan, termasuk elastografi atau fibroscan yang memperkirakan kekakuan hati tanpa sayatan.
Biopsi. Dokter mengambil sampel kecil jaringan hati atau sumsum tulang. Sampel ini lalu diperiksa di laboratorium.
Derajat fibrosis dinilai dokter dari gabungan seluruh hasil pemeriksaan.
Tes Darah untuk Memantau Peradangan Hati
Pada penyakit hati menahun, peradangan dan kerusakan sel hati bisa terlihat dari tes darah, sehingga dokter memakainya untuk memantau kondisi hati. Di Bumame, pemeriksaan ini tersedia dalam Medical Check Up Fungsi Hati, yang memuat SGOT, SGPT, dan Gamma GT.
Kadar enzim tersebut menggambarkan peradangan hati yang sedang berlangsung. Derajat fibrosis tetap dinilai dokter lewat pencitraan atau biopsi, dan hasil tes darah dibaca bersama pemeriksaan lain. Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Pengobatan Fibrosis Menurut Penyebabnya
Jaringan parut umumnya tidak bisa kembali normal, dan belum ada terapi khusus yang menyembuhkan sirosis. Pengobatan bisa memperlambat perkembangannya dan meringankan keluhan, antara lain lewat:
Mengatasi penyebab. Pada hati, dokter menangani penyakit dasarnya, misalnya lewat pengobatan hepatitis atau berhenti minum alkohol. Langkah ini bisa menahan sirosis agar tidak memburuk.
Obat antifibrotik untuk paru. Pada fibrosis paru, dokter bisa memberikan obat golongan antifibrotik untuk menghambat perkembangan parut. Jenis dan lama pemakaiannya ditentukan dokter spesialis paru.
Oksigen dan rehabilitasi paru. Oksigen tambahan mencegah tubuh kekurangan oksigen dan membantu tidur lebih nyenyak. Rehabilitasi paru melatih ketahanan fisik dan teknik bernapas.
Perawatan jangka panjang. Fibrosis kistik ditangani seumur hidup lewat teknik membersihkan saluran napas, obat, dan pola makan khusus. Pengobatan mielofibrosis umumnya berfokus meredakan gejala.
Transplantasi pada tahap lanjut. Bila paru rusak berat dan pengobatan lain tidak efektif, transplantasi paru bisa menjadi pilihan. Keputusannya diambil tim dokter spesialis.
Langkah Menurunkan Risiko Fibrosis
Sebagian pemicu fibrosis bisa dikurangi lewat kebiasaan sehari-hari, antara lain:
Hindari rokok. Berhenti merokok menghilangkan salah satu pemicu fibrosis paru. Usahakan juga rumah dan kendaraan bebas asap.
Pakai pelindung saat bekerja. Pekerja yang terpapar debu, serat, atau jamur sebaiknya memakai alat pelindung pernapasan. Paparan tanpa pelindung lebih mungkin merusak paru.
Jaga kesehatan hati. Batasi alkohol, dan tangani hepatitis atau perlemakan hati sejak awal. Kebiasaan ini membantu menjaga fungsi hati tetap baik.
Konsultasi genetik. Fibrosis kistik tidak bisa dicegah karena dibawa sejak lahir. Pembawa gennya bisa menanyakan tes genetik dan peluang anak mewarisinya kepada dokter.
Rawat Paru dan Hati Mulai Hari Ini
Jaringan parut terbentuk sedikit demi sedikit, dan banyak pemicunya bisa dikenali lebih awal. Menjauhi rokok, membatasi alkohol, dan memeriksakan keluhan yang menetap membantu organ tetap bekerja baik. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.
Jika ada pertanyaan seputar pemeriksaan hati, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
National Heart, Lung, and Blood Institute. Pulmonary Fibrosis - What Is Idiopathic Pulmonary Fibrosis? Retrieved 24 September 2026 from https://www.nhlbi.nih.gov/health/idiopathic-pulmonary-fibrosis
Mayo Clinic. Pulmonary fibrosis - Symptoms and causes. Retrieved 24 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pulmonary-fibrosis/symptoms-causes/syc-20353690
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Cirrhosis. Retrieved 24 September 2026 from https://www.niddk.nih.gov/health-information/liver-disease/cirrhosis
Cleveland Clinic. Cystic Fibrosis: Causes, Symptoms & Treatment. Retrieved 24 September 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9358-cystic-fibrosis
Mayo Clinic. Myelofibrosis - Symptoms and causes. Retrieved 24 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/myelofibrosis/symptoms-causes/syc-20355057
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Fibrosis Paru. Retrieved 24 September 2026 from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/742/fibrosis-paru
Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna
