Lendir yang terasa licin di pertengahan siklus, atau kata "pembukaan" yang sering terdengar menjelang persalinan, sama-sama berkaitan dengan satu bagian kecil di ujung bawah rahim. Bagian ini bernama serviks atau leher rahim.
Mengenal fungsi serviks membantu Anda membedakan perubahan tubuh yang wajar dari keluhan yang perlu diperiksa. Bagian ini juga menjadi tempat kanker serviks bermula, sehingga perawatannya berkaitan erat dengan skrining.
Artikel ini membahas letak dan bagian serviks, fungsinya dari masa haid sampai persalinan, gangguan yang bisa muncul, serta cara menjaganya.
Mengenal Letak dan Bagian-Bagian Serviks
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan serviks sebagai bagian bawah rahim yang terhubung langsung ke vagina. Cleveland Clinic menggambarkannya sebagai organ berotot berbentuk seperti terowongan, dengan panjang sekitar 2,5 cm. Serviks terdiri atas beberapa bagian berikut:
Ostium interna dan ostium eksterna. Keduanya adalah lubang di ujung serviks. Ostium interna mengarah ke rahim, sedangkan ostium eksterna mengarah ke vagina.
Kanal endoserviks. Saluran ini menghubungkan kedua lubang tersebut. Dindingnya dilapisi sel kelenjar atau sel glandular.
Ektoserviks. Bagian luar ini menonjol ke puncak vagina dan bisa dilihat dokter saat pemeriksaan dengan spekulum. Permukaannya dilapisi sel skuamosa.
Zona transformasi. Area ini menjadi tempat bertemunya sel glandular dan sel skuamosa. American Cancer Society (ACS) menyebut letaknya bergeser seiring usia dan setelah melahirkan, dan sebagian besar kanker serviks bermula dari sel di area ini.
Apa Saja Fungsi Serviks bagi Tubuh Wanita?
Walau ukurannya kecil, serviks menjalankan beberapa tugas sejak haid pertama sampai persalinan.
1. Jalan Keluar Darah Haid
Saat haid, serviks sedikit membuka agar darah dari rahim bisa mengalir keluar. Proses ini berulang mengikuti siklus menstruasi normal. Menurut Cleveland Clinic, haid yang sangat banyak atau perdarahan di antara dua masa haid bisa menjadi tanda gangguan pada serviks, sehingga perlu diperiksakan.
2. Menghasilkan Lendir yang Berubah Mengikuti Siklus
Serviks menghasilkan lendir yang tekstur, jumlah, dan warnanya berubah mengikuti hormon. Menjelang ovulasi, lendir menjadi lebih encer, bening, licin, dan mudah meregang seperti putih telur mentah. Sebagian wanita mencatat perubahan ini untuk memperkirakan masa subur wanita, meski Cleveland Clinic menyebut lendir saja belum bisa diandalkan sebagai alat kontrasepsi.
3. Membuka Jalan bagi Sperma
Sperma harus melewati serviks untuk mencapai rahim. Di masa subur, lendir serviks yang encer dan basah membantu sperma bergerak menuju sel telur. Di luar masa itu, lendir yang lebih kental menyulitkan sperma lewat dan berperan seperti penghalang bagi zat lain.
4. Menahan Kuman agar Tidak Masuk ke Rahim
Cleveland Clinic menyebut serviks membantu mencegah bakteri dan virus masuk ke rahim, dan lendirnya ikut bekerja seperti lapisan pelindung. Meski begitu, sebagian infeksi menular seksual tetap bisa mengenai serviks. Karena itu, perubahan cairan dari vagina perlu diperhatikan.
5. Menjaga Janin selama Kehamilan
Selama hamil, serviks tetap menutup agar janin berada di dalam rahim. Serviks juga membentuk sumbat lendir yang menutup jalan masuk ke rahim. Menurut Cleveland Clinic, serviks normalnya lebih panjang pada trimester pertama dan kedua, lalu berubah menjelang persalinan.
6. Membuka saat Persalinan
Saat persalinan, serviks melunak, menipis, dan melebar agar bayi bisa lahir. NHS menjelaskan proses ini diawali fase laten yang bisa berlangsung berjam-jam hingga berhari-hari. Persalinan disebut aktif ketika pembukaan mencapai sekitar 4 cm, dan bayi bisa melewati serviks setelah pembukaan sekitar 10 cm.
Perubahan Lendir Serviks Sepanjang Siklus dan Kehamilan
Pola lendir berbeda pada setiap wanita. Gambaran umumnya menurut Cleveland Clinic dan Kemenkes adalah sebagai berikut:
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Saat ovulasi, serviks juga terasa lebih lunak dan lebih sulit dijangkau. Cleveland Clinic menambahkan bahwa perubahan lendir tidak bisa dipakai untuk memastikan kehamilan, sehingga tes kehamilan tetap diperlukan.
Gangguan Kesehatan yang Bisa Mengenai Serviks
Cleveland Clinic menyebut banyak gangguan serviks tidak menimbulkan keluhan, sehingga baru diketahui saat pemeriksaan. Kondisi yang perlu Anda kenal antara lain:
Servisitis. Radang serviks ini bisa dipicu infeksi menular seksual atau iritasi. Kemenkes mencatat radang serviks sebagai komplikasi klamidia, infeksi yang sering tidak bergejala. Bila muncul, keluhannya bisa berupa nyeri perut bawah, nyeri saat berhubungan seksual, perdarahan saat atau setelah berhubungan, dan perdarahan di antara masa haid.
Displasia serviks. Istilah ini merujuk pada pertumbuhan sel yang tidak normal, sering kali akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV), virus yang umum menular lewat kontak seksual. ACS menjelaskan perubahan sel ini berlangsung bertahap dan hanya sebagian yang berkembang menjadi kanker. WHO menyebut perubahan dari sel abnormal menjadi kanker biasanya memakan waktu 15 sampai 20 tahun.
Polip serviks. Cleveland Clinic menggolongkan polip, mioma, dan kista sebagai pertumbuhan berdaging atau berisi cairan pada serviks. Polip juga bisa tumbuh di dinding rahim, dan setiap jenis polip rahim dinilai dokter sesuai letak dan keluhannya.
Ektropion serviks. Pada kondisi ini, sel glandular dari bagian dalam serviks tampak dari luar. Dokter akan menilai apakah kondisi ini memerlukan penanganan.
Inkompetensi serviks. Serviks memendek atau membuka terlalu dini saat hamil. Cleveland Clinic menyebut kondisi ini bisa memicu keguguran atau persalinan prematur.
Kanker serviks. Kemenkes menyebut penyebab utamanya infeksi HPV dan gejala awalnya sering tidak terasa. Kanker ini tumbuh di leher rahim, berbeda letak dari kanker rahim yang berkembang di badan rahim.
Baca Juga: Tanda Kanker Serviks dari Telapak Kaki, Benarkah Ada?
Kapan Keluhan di Leher Rahim Perlu Diperiksakan?
Bila sedang hamil, segera ke IGD atau hubungi dokter kandungan saat muncul perdarahan dari vagina, ketuban pecah, atau tanda persalinan sebelum usia kehamilan 37 minggu. NHS menggolongkan keadaan ini sebagai alasan untuk segera menghubungi tenaga kesehatan.
Di luar kehamilan, jadwalkan konsultasi bila Anda mengalami keluhan berikut:
Perdarahan di luar jadwal haid. Kemenkes dan WHO menyebut perdarahan di antara masa haid, setelah berhubungan seksual, atau setelah menopause sebagai gejala yang perlu diperiksa. Sumbernya bisa berupa infeksi hingga perubahan sel, jadi dokter perlu mencari penyebabnya.
Keputihan yang berubah. Cairan yang berwarna, bercampur darah, berbau tidak sedap, atau menimbulkan gatal termasuk tanda keputihan tidak normal. Kemenkes memasukkan keputihan seperti ini ke daftar keluhan yang perlu diperiksakan, dan infeksi juga bisa menjadi penyebabnya.
Nyeri saat berhubungan atau buang air kecil. Kemenkes menyebut nyeri panggul saat berhubungan intim bisa menjadi gejala awal kanker serviks, dan keluhan serupa juga muncul pada radang serviks. Cleveland Clinic mencantumkan nyeri saat buang air kecil sebagai salah satu tanda gangguan serviks.
Skrining untuk Memantau Kesehatan Sel Serviks
WHO menyebut kondisi prakanker jarang menimbulkan gejala, sehingga skrining rutin tetap penting, termasuk bagi yang sudah mendapat vaksin HPV. Kemenkes mencatat beberapa metode berikut:
Pap smear. Sampel sel diambil dari leher rahim saat pemeriksaan Pap smear untuk mencari tanda kanker tahap awal. Kemenkes menganjurkan pemeriksaan ini dijalani secara rutin.
IVA. Pada IVA test atau Inspeksi Visual Asam Asetat, cairan asam asetat atau cuka encer dioleskan ke leher rahim. Bercak putih yang muncul menandakan area yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Tes HPV DNA. Tes ini mendeteksi ada tidaknya virus HPV pada leher rahim. Kemenkes menyebut metode ini direkomendasikan WHO untuk skrining kanker serviks.
Kemenkes menyarankan tes HPV DNA setiap 5 tahun bagi wanita usia 30 sampai 49 tahun. WHO menganjurkan skrining dengan tes berkinerja tinggi setiap 5 sampai 10 tahun mulai usia 30 tahun. Bila hasilnya tidak normal, dokter bisa melakukan biopsi, yaitu pengambilan sampel kecil jaringan untuk diperiksa di laboratorium.
Pemeriksaan HPV DNA di Bumame
Infeksi HPV yang menetap bisa memicu perubahan sel di serviks, sehingga keberadaan virusnya bisa diperiksa sebelum ada keluhan. Bumame menyediakan pemeriksaan HPV DNA Swab 21 Tipe dengan layanan Walk In dan Home Care. Pemeriksaan tidak dilakukan saat haid, dan hasil positif belum berarti Anda menderita kanker. Dokter kandungan akan membantu menentukan langkah berikutnya. Untuk pertanyaan seputar persiapan, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Kebiasaan yang Membantu Menjaga Serviks Tetap Sehat
Vaksin HPV. Kemenkes menyebut vaksin ini diberikan mulai usia 9 tahun, idealnya sebelum aktif secara seksual, dan tetap bermanfaat bagi perempuan dewasa. Vaksin HPV untuk perempuan membantu menurunkan risiko infeksi, dan skrining tetap perlu dijalani sesuai jadwal.
Hubungan seksual yang lebih aman. Cleveland Clinic dan WHO menganjurkan penggunaan kondom. Kemenkes juga mencatat risiko klamidia meningkat bila berganti-ganti pasangan seksual.
Berhenti merokok. WHO memasukkan tidak merokok atau berhenti merokok ke dalam langkah pencegahan. Kemenkes mencatat kebiasaan merokok sebagai faktor risiko kanker serviks.
Rawat Serviks lewat Langkah Kecil dan Skrining Teratur
Serviks bekerja sejak haid pertama sampai persalinan, dan perubahan lendirnya membantu Anda memahami siklus tubuh sendiri. Vaksinasi, hubungan seksual yang aman, dan skrining sesuai usia membantu menjaga bagian ini tetap sehat. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.
Bila ada pertanyaan seputar pemeriksaan serviks, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Gak Perlu Takut, Yuk Deteksi Dini Kanker Serviks.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan (Tim Promkes RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten). Chlamydia.
Cleveland Clinic. Cervix: Anatomy, Function, Changes and Conditions.
Cleveland Clinic. Cervical Mucus: Chart, Stages, Tracking and Fertility.
NHS. The Stages of Labour and Birth.
American Cancer Society. What Is Cervical Cancer?
World Health Organization. Cervical Cancer.
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
Frequently Asked Question
Apa fungsi serviks pada wanita?
Serviks berfungsi sebagai jalan keluar darah menstruasi, menghasilkan lendir yang membantu pergerakan sperma, membantu mencegah kuman masuk ke rahim, menjaga janin selama kehamilan, dan membuka jalan saat persalinan.
Di mana letak serviks atau leher rahim?
Serviks terletak di bagian bawah rahim dan terhubung langsung ke vagina. Panjangnya sekitar 2,5 cm dan menjadi jalur penghubung antara rahim dan vagina.
Apakah lendir serviks berubah setiap bulan?
Ya. Lendir serviks berubah mengikuti hormon sepanjang siklus menstruasi. Menjelang ovulasi, lendir biasanya menjadi bening, licin, dan elastis seperti putih telur mentah, kemudian mengental setelah ovulasi.
Berapa pembukaan serviks saat melahirkan?
Serviks membuka secara bertahap selama persalinan. Fase aktif dalam artikel ini dimulai saat pembukaan sekitar 4 cm, sedangkan pembukaan sekitar 10 cm memungkinkan bayi melewati jalan lahir.
Kapan wanita perlu menjalani skrining kanker serviks?
Menurut artikel, Kemenkes menyarankan tes HPV DNA setiap lima tahun bagi wanita usia 30–49 tahun. WHO menganjurkan skrining mulai usia 30 tahun dengan interval lima hingga sepuluh tahun, sesuai metode dan rekomendasi yang berlaku.
