Kaki terasa bengkak sepulang kerja, atau telapak kaki kesemutan saat bangun tidur. Lalu sebuah unggahan di media sosial menyebut keluhan seperti ini sebagai tanda kanker serviks.
Rasa khawatir itu wajar, karena kanker serviks sering tidak bergejala di tahap awal. Menebak dari telapak kaki justru bisa membuat Anda cemas tanpa dasar, atau merasa aman padahal belum pernah menjalani skrining.
Artikel ini membahas fakta medisnya, keluhan kaki yang punya penyebab lain, gejala yang lebih perlu diperhatikan, dan cara memeriksa serviks sejak awal.
Benarkah Ada Tanda Kanker Serviks di Telapak Kaki?
Telapak kaki tidak memiliki tanda khas kanker serviks. Daftar gejala dari WHO dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak mencantumkan perubahan kulit, warna, atau kesemutan di telapak kaki.
Yang tercatat adalah keluhan di tungkai. WHO memasukkan nyeri menetap di punggung, tungkai, atau panggul serta bengkak di tungkai ke dalam daftar gejala kanker serviks. Kemenkes menjelaskan kanker ini biasanya baru bergejala setelah memasuki stadium lanjut, dan WHO menyebut kondisi prakanker jarang menimbulkan keluhan.
Menurut NHS, bengkak di kaki juga sering dipicu hal sehari-hari, jadi keluhan kaki saja belum bisa menjadi patokan.
Mengapa Kanker Serviks Bisa Memengaruhi Tungkai?
Serviks atau leher rahim adalah bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina. Kemenkes menyebut penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang menular lewat kontak seksual.
Kaitannya dengan tungkai baru muncul ketika kanker meluas. MSD Manual menjelaskan kanker serviks menyebar ke jaringan di sekitarnya atau lewat saluran getah bening ke kelenjar getah bening di panggul. Sumbatan pada pembuluh vena atau saluran getah bening membuat tungkai membengkak. Kanker yang meluas juga bisa menghambat aliran urine dan memicu nyeri punggung.
National Cancer Institute (NCI) menyebut bengkak akibat cairan getah bening yang tertahan sebagai limfedema. Kondisi ini bisa terjadi bila tumor menyumbat aliran cairan tersebut.
Keluhan Kaki yang Sering Dikaitkan dengan Kanker Serviks
1. Bengkak di Kedua Kaki dan Pergelangan
Bengkak akibat penumpukan cairan atau edema sering terlihat di pergelangan kaki dan tungkai. NHS mencatat pemicunya kerap sederhana, seperti terlalu lama berdiri atau duduk, makan terlalu asin, kelebihan berat badan, kehamilan, atau obat tertentu. Gangguan ginjal, hati, atau jantung juga bisa memicu kaki bengkak, jadi bengkak yang tidak kunjung reda perlu dinilai dokter.
2. Bengkak di Satu Tungkai yang Terasa Nyeri
Bengkak di satu tungkai yang disertai nyeri berdenyut di betis atau paha, kulit kemerahan atau lebih gelap, dan vena yang membengkak bisa menandakan trombosis vena dalam, yaitu bekuan darah di vena dalam tungkai. NHS mencantumkan kanker sebagai salah satu faktor risikonya, bersama usia di atas 60 tahun, merokok, dan kehamilan. Kondisi ini perlu segera diperiksa karena bekuan bisa terbawa ke paru.
3. Nyeri Menetap di Tungkai, Punggung, atau Panggul
WHO memasukkan nyeri yang tidak kunjung hilang di area ini ke dalam daftar gejala kanker serviks, dan MSD Manual mengaitkan nyeri punggung dengan kanker yang sudah menyebar. Nyeri tungkai dan punggung juga punya banyak penyebab lain. Periksakan nyeri yang menetap, makin berat, atau disertai perdarahan dari vagina.
4. Kesemutan, Baal, atau Rasa Panas di Telapak Kaki
Kesemutan di telapak kaki tidak tercantum dalam daftar gejala kanker serviks dari WHO maupun Kemenkes. Keluhan ini bisa berasal dari gangguan saraf tepi atau neuropati perifer, misalnya pada diabetes. Kemenkes mencatat kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki sebagai gejala diabetes melitus tipe 2.
Bila kaki sering kesemutan atau telapak kaki terasa panas berlangsung lama, periksakan diri ke dokter.
5. Bengkak Kaki Setelah Pengobatan Kanker Serviks
Bagi penyintas, bengkak di kaki bisa berkaitan dengan pengobatan yang sudah dijalani. NCI menyebut orang dengan kanker serviks bisa mengalami limfedema di tungkai, alat kelamin, atau perut, karena operasi atau radioterapi bisa mengganggu aliran cairan getah bening. Keluhan ini bisa muncul bertahun-tahun setelah pengobatan dan lebih mudah dikendalikan bila ditangani sejak awal.
Membedakan Keluhan Kaki Sehari-hari dan yang Perlu Diperiksa
Tabel berikut merangkum keluhan kaki yang sering ditanyakan:
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Gejala Kanker Serviks yang Lebih Perlu Diperhatikan
Gejala yang lebih langsung berkaitan dengan serviks muncul di area kewanitaan, seperti berikut:
Perdarahan dari vagina yang tidak biasa. WHO menyebut perdarahan di luar masa haid, setelah berhubungan seksual, atau setelah menopause. Catat kapan perdarahan muncul agar dokter lebih mudah menilainya.
Keputihan yang berbeda dari biasanya. WHO mencatat cairan vagina yang bertambah banyak atau berbau tidak sedap. Keputihan tidak normal perlu diperiksa untuk mencari penyebabnya.
Nyeri saat berhubungan seksual. Kemenkes memasukkan nyeri yang tidak mereda saat berhubungan ke dalam daftar gejala. Keluhan yang berulang perlu dikonsultasikan ke dokter kandungan.
Keluhan umum yang menyertai. Kemenkes mencatat tubuh mudah lelah dan sering buang air kecil. Pada stadium lanjut, nafsu makan bisa hilang dan darah bisa muncul pada urine atau tinja.
Mengenali gejala kanker serviks sejak awal membantu Anda tahu kapan perlu memeriksakan diri.
Kapan Harus ke Dokter atau IGD?
Segera ke IGD bila kaki bengkak disertai sesak napas, dada terasa berat atau nyeri, jantung berdebar, atau terasa seperti akan pingsan. Menurut NHS, sesak dan nyeri dada pada orang dengan bekuan darah di tungkai bisa menandakan bekuan sudah terbawa ke paru atau emboli paru.
Buat janji dengan dokter dalam waktu dekat bila Anda mengalami hal berikut:
Bengkak di satu kaki tanpa sebab jelas. NHS juga meminta pemeriksaan cepat bila bengkak terasa nyeri, muncul tiba-tiba, kemerahan, atau hangat saat disentuh. Dokter akan menilai kemungkinan bekuan darah di vena dalam.
Kaki bengkak pada penderita diabetes. NHS memasukkan kondisi ini ke dalam keluhan yang perlu segera diperiksa. Perhatikan juga luka di kaki yang sulit sembuh.
Perdarahan atau keputihan yang tidak biasa. Keduanya termasuk gejala kanker serviks yang dicatat WHO dan Kemenkes. Dokter bisa menyarankan pemeriksaan panggul dan skrining.
Nyeri yang menetap. Perhatikan nyeri tungkai, punggung, atau panggul yang disertai berat badan turun tanpa sebab atau badan mudah lelah. WHO mencantumkan keluhan ini dalam daftar gejalanya.
Cara Dokter Mencari Penyebabnya
Dokter akan menanyakan riwayat keluhan dan memeriksa tungkai Anda. Bila dicurigai ada bekuan darah, NHS menganjurkan rujukan ke rumah sakit dalam 24 jam untuk pemeriksaan USG. Untuk menilai serviks, pilihannya meliputi:
Pap smear. Sampel sel diambil dari leher rahim di ujung vagina. Menurut Kemenkes, hasilnya menunjukkan ada tidaknya tanda kanker tahap awal.
Tes HPV. Tes ini mendeteksi ada tidaknya virus HPV pada leher rahim. Salah satu metodenya adalah pemeriksaan HPV DNA.
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat). Cuka dapur encer atau asam asetat dioleskan pada leher rahim. Menurut Kemenkes, bercak putih akan terlihat setelah 1 menit bila ada sel yang tidak normal.
Kolposkopi dan biopsi. MSD Manual menjelaskan kolposkopi memakai lensa pembesar untuk menemukan area yang perlu diambil sampelnya. Sampel jaringan itu lalu diperiksa di laboratorium.
Bila kanker ditemukan, MSD Manual menyebut CT scan atau MRI untuk menilai sebarannya. Memahami perbedaan Pap smear, HPV DNA, dan IVA membantu Anda berdiskusi dengan dokter.
Tes HPV DNA untuk Melihat Risiko Lebih Awal
Tes HPV DNA mencari infeksi HPV risiko tinggi, penyebab utama kanker serviks, sehingga risikonya bisa diketahui jauh sebelum keluhan muncul. Di Bumame, pemeriksaan ini tersedia sebagai HPV DNA Swab 21 Tipe dengan sampel swab, dan bisa menjadi langkah skrining yang disarankan dokter.
Menurut halaman produknya, hasil tes ini tidak menunjukkan bahwa seseorang menderita kanker, dan hasil positif menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan tersedia secara Walk In dan Home Care, tidak bisa dilakukan saat haid, dan hasilnya keluar dalam 3 hari kerja. Untuk pertanyaan seputar persiapannya, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dimulai Sekarang
Risiko kanker serviks bisa diturunkan dengan langkah berikut:
Vaksinasi HPV. Kemenkes menyebut vaksin HPV diberikan mulai usia 9 tahun, idealnya sebelum aktif secara seksual. Vaksinasi menjadi bagian dari perlindungan dari kanker serviks karena membantu menurunkan risiko infeksi HPV.
Skrining rutin. Kemenkes menyarankan skrining setiap 5 tahun bagi perempuan usia 30 sampai 49 tahun, dan WHO menyebut skrining tetap perlu walau sudah divaksin. Jadwal tes Pap smear dan HPV DNA bisa disesuaikan bersama dokter.
Tidak merokok dan memakai kondom. WHO mencantumkan keduanya sebagai cara lain untuk membantu menurunkan risiko infeksi HPV. Kemenkes juga mencatat kebiasaan merokok sebagai faktor risiko kanker serviks.
Kenali Keluhan Kaki, Periksa Serviks dengan Tenang
Keluhan di telapak kaki punya banyak penyebab sehari-hari, dan kondisi serviks tidak bisa ditebak dari sana. Skrining rutin dan vaksinasi memberi cara yang lebih jelas untuk menjaga kesehatan serviks. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.
Bila ada pertanyaan seputar skrining kanker serviks, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Gak Perlu Takut, Yuk Deteksi Dini Kanker Serviks.
World Health Organization. Cervical Cancer.
Ramirez PT, Salvo G (MSD Manual Professional Version). Cervical Cancer.
NHS. Swollen Ankles, Feet and Legs (Oedema).
NHS. DVT (Deep Vein Thrombosis).
National Cancer Institute. Lymphedema and Cancer.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Diabetes Melitus Tipe 2.
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
Frequently Asked Question
Apakah kanker serviks bisa diketahui dari telapak kaki?
Tidak. Telapak kaki tidak memiliki tanda khas kanker serviks. Bengkak dan nyeri menetap pada tungkai dapat terjadi ketika kanker sudah meluas, tetapi keluhan tersebut juga memiliki penyebab lain.
Apakah kaki bengkak bisa menjadi tanda kanker serviks?
Bisa, terutama jika kanker sudah meluas dan menghambat aliran darah atau cairan getah bening. Namun, kaki bengkak juga dapat disebabkan terlalu lama duduk atau berdiri, kehamilan, obat tertentu, maupun gangguan organ. Bengkak yang menetap perlu diperiksa.
Apakah kesemutan di telapak kaki berhubungan dengan kanker serviks?
Kesemutan di telapak kaki tidak tercantum sebagai gejala khas kanker serviks dalam daftar WHO maupun Kemenkes. Keluhan ini dapat berkaitan dengan gangguan saraf tepi, termasuk neuropati akibat diabetes. Jika berlangsung lama atau berulang, konsultasikan dengan dokter.
Apa saja gejala kanker serviks yang perlu diwaspadai?
Gejala yang perlu diperhatikan meliputi perdarahan vagina di luar menstruasi atau setelah berhubungan seksual, perdarahan setelah menopause, keputihan yang berbeda atau berbau tidak sedap, serta nyeri saat berhubungan seksual. Kanker serviks tahap awal sering tidak menimbulkan gejala.
Bagaimana cara mendeteksi risiko kanker serviks sejak dini?
Skrining dapat dilakukan melalui tes HPV DNA, Pap smear, atau IVA sesuai anjuran tenaga kesehatan. Vaksinasi HPV juga membantu menurunkan risiko infeksi. Skrining tetap diperlukan meskipun sudah divaksin karena vaksin tidak menggantikan pemeriksaan rutin.
