Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Penyebab Eksim Kering
Kembali ke Artikel & Berita

Glomerulonefritis: Gejala dan Penyebab | Bumame

SBAOthers

Saat sedang kencing, apakah mendapati urine berwarna kemerahan atau kecokelatan seperti teh? Kemudian, apakah muncul bengkak di kaki dan wajah pada waktu yang berdekatan tanpa sebab yang jelas?

Jika mengalami semua gejala ini secara berdekatan, kemungkinan dapat mengarah ke gangguan ginjal yang bernama glomerulonefritis. Namun, gejala-gejala tersebut tidak cukup untuk memastikan diagnosis, sehingga pemeriksaan dokter tetap diperlukan. Tapi, tetap mengenali gejala-gejala gangguan ini sejak awal bisa membantu Anda menjelaskan kepada dokter tentang keluhan yang dialami secara detail.

Apa Itu Glomerulonefritis?

Di dalam ginjal, terdapat organ bernama glomerulus, yaitu jaringan pembuluh darah kecil yang terus bekerja tanpa henti. Tugas glomerulus adalah menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah yang kemudian akan keluar lewat urine, serta mempertahankan protein dan sel darah agar tetap berada dalam aliran darah.

Ketika jaringan ini mengalami peradangan atau pembengkakan, maka penderita sedang mengalami apa yang disebut glomerulonefritis. Ketika glomerulus meradang, kemampuannya menyaring darah akan terganggu. Akibatnya, limbah yang seharusnya terbuang akan menumpuk di dalam tubuh, serta zat protein yang penting justru akan keluar lewat urine.

Secara keseluruhan, pembengkakan glomerulus termasuk salah satu jenis gangguan ginjal bernama nefritis. Jika berlangsung lama atau tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan kerusakan ginjal kronis.

Glomerulonefritis Akut vs Kronis

Para ahli gangguan ginjal membagi peradangan glomerulus menjadi dua kategori, yaitu tingkat akut dan kronis.

Jenis pertama adalah peradangan glomerulus akut yang bisa terjadi secara tiba-tiba dalam waktu singkat. Penderitanya akan mengalami peradangan ini setelah mengalami infeksi tertentu dan memiliki gejala yang bisa terlihat jelas. Untungnya, banyak kasus glomerulonefritis akut bisa pulih sepenuhnya dengan penanganan yang tepat, terutama pada anak-anak.

Sementara itu, peradangan glomerulus kronis adalah jenis yang berlangsung secara perlahan selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Dibandingkan dengan peradangan akut, peradangan kronis ini tidak punya gejala yang bisa langsung terdeteksi.

Oleh karena itu, sebagian penderitanya sering baru menyadari bahwa mereka mengalami peradangan glomerulus kronis setelah sekian lama. Terkadang, peradangan akut tersebut bisa berubah menjadi kronis apabila dibiarkan begitu saja tanpa penanganan yang sesuai.

Meski peradangan akut tidak separah peradangan kronis, penderitanya harus tetap menanganinya sebelum semakin parah demi menjaga kesehatan ginjal.

Gejala Glomerulonefritis

Setiap penderita peradangan glomerulus bisa mempunyai gejala yang berbeda tergantung pada tingkat keparahannya. Pada umumnya, ada beberapa jenis gejala umum yang sering ditemui pada penderitanya.

Gejala yang pertama dan paling khas adalah urine berwarna merah atau cokelat karena adanya darah di dalamnya. Urine juga bisa terlihat berbusa karena banyaknya protein yang bocor.

Selain itu, penderitanya juga dapat mengalami pembengkakan bernama edema yang terjadi di wajah dan sekitar mata, serta di kaki dan pergelangan tangan. Pembengkakan ini terjadi karena adanya penumpukan cairan yang tidak bisa ginjal keluarkan lewat urine.

Gejala lain peradangan glomerulus juga bisa mencakup tekanan darah tinggi yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Tidak hanya itu, beberapa penderita juga bisa merasa mudah lelah dan mengalami pengurangan frekuensi buang air kecil.

Walaupun gejala di atas bisa terjadi secara berbeda-beda, Anda perlu segera memeriksakan diri ke dokter apabila semuanya terjadi secara bersamaan.

Penyebab Glomerulonefritis

Meski ada banyak penyebab di balik terjadinya peradangan glomerulus, ada beberapa penyebab yang sering kali menyebabkan terjadinya peradangan ini.

Penyebab pertama adalah infeksi, terutama akibat bakteri Streptococcus yang sering menyebabkan radang tenggorokan atau infeksi kulit. Peradangan ginjal akibat bakteri ini biasanya terjadi sekitar 1 hingga 4 minggu setelah terjadinya radang tenggorokan. Selain itu, infeksi virus seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV juga bisa menyebabkan terjadinya peradangan glomerulus ini.

Penyebab kedua adalah penyakit autoimun, di mana sistem imun justru menyerang jaringan ginjal yang sehat. Contohnya adalah penyakit lupus dan nefropati IgA (penyakit ketika antibodi IgA menumpuk di penyaring ginjal dan memicu peradangan).

Kemudian, penyebab ketiga adalah penyakit lain seperti diabetes dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol yang juga bisa menyakiti ginjal. Kedua penyakit ini bisa merusak pembuluh darah kecil di ginjal secara perlahan dan sering kali tanpa menimbulkan gejala pada tahap awal.

Diagnosis Glomerulonefritis

Untuk memastikan apakah seseorang memang mengalami peradangan glomerulus atau tidak, dokter akan melakukan pemeriksaan berdasarkan gejala dan tes penunjang lainnya.

Pemeriksaan yang paling awal biasanya adalah tes urine untuk mendeteksi adanya darah dan protein yang bocor dalam urine. Dalam tes ini, salah satu temuan yang diperiksa adalah proteinuria, yaitu suatu kondisi saat protein yang seharusnya tetap berada dalam darah justru bocor ke dalam urine.

Selain itu, dokter juga akan melakukan tes darah untuk menilai seberapa baik organ ginjal menyaring limbah dalam tubuh.

Dokter mungkin juga akan menyarankan pencitraan seperti USG untuk melihat wujud dan kondisi umum ginjal. Dan apabila diperlukan, dokter akan melakukan biopsi ginjal, yaitu pengambilan sedikit sampel jaringan ginjal untuk diperiksa di laboratorium sehingga kondisi ginjal dapat dipastikan dengan lebih akurat.

Meski pemeriksaan lain pada umumnya sudah cukup, dokter baru akan melakukan biopsi apabila hasil pemeriksaan lainnya tidak cukup untuk menggambarkan kondisi ginjal.

Pengobatan Glomerulonefritis

Setiap penderita peradangan glomerulus bisa menempuh penanganan yang berbeda sesuai dengan penyebab dan tingkat keparahan kondisi mereka. Tujuan utama pengobatan ini adalah meredakan peradangan, mengendalikan gejala, dan melindungi fungsi ginjal.

Jika peradangannya terjadi karena infeksi, kadang kondisinya bisa membaik sendiri tanpa penanganan khusus. Pada kasus ini, dokter biasanya fokus pada pengendalian tekanan darah dan pengurangan pembengkakan yang terjadi.

Apabila penyakit autoimun adalah penyebabnya, dokter akan memberikan obat penekan sistem imun seperti kortikosteroid sesuai indikasi. Penderita juga umumnya perlu mengurangi asupan garam untuk membantu mengontrol tekanan darah dan cairan.

Namun, untuk lebih jelasnya, penderita peradangan glomerulus, baik yang akut maupun kronis, tetap perlu pergi ke dokter untuk mendapatkan gambaran yang akurat.

Apakah Glomerulonefritis Bisa Sembuh?

Jawabannya sangat bergantung pada jenis dan penyebabnya. Pada peradangan glomerulus akut, peluang sembuh totalnya cukup besar, apalagi jika penderitanya adalah anak-anak.

Di sisi lain, peradangan glomerulus kronis umumnya tidak bisa sembuh total. Namun, dengan penanganan yang tepat, perkembangannya bisa diperlambat agar fungsi ginjal penderitanya tetap terjaga. 

Terlepas dari jenisnya, peradangan ginjal ini tetap butuh perhatian khusus agar tidak menjadi semakin parah di kemudian hari.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera temui dokter bila mendapati urine tampak sangat berbusa atau berwarna pekat seperti merah atau cokelat. Perubahan tersebut dapat menandakan adanya protein atau darah dalam urine, meskipun penyebabnya perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis. Anda juga perlu segera periksa ke dokter apabila muncul pembengkakan di wajah atau kaki yang tidak biasa.

Bagi penderita tekanan darah tinggi dan sering mengalami rasa lelah berkepanjangan secara bersamaan, maka perlu lebih waspada memantau kesehatan organ ginjal. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat memperburuk kerusakan ginjal, sedangkan gangguan ginjal yang semakin berat dapat menyebabkan kelelahan hingga perubahan jumlah urine.

Orang yang memiliki faktor risiko juga sebaiknya tidak menunggu sampai gejala muncul. Bagi penderita diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, riwayat cedera ginjal akut, atau anggota keluarga dengan penyakit ginjal, sangat dianjurkan menjalani pemeriksaan berkala untuk pantau kondisi ginjal.

Manfaat konsultasi ke dokter selain untuk menjalani penanganan dan pemeriksaan juga dapat mengetahui kemungkinan faktor risiko penyakit ginjal yang mungkin sedang dialami.

Cek Fungsi Ginjal jika Mencurigai Ada Indikasi Masalah Ginjal

Karena peradangan glomerulus sering tidak memiliki gejala di awal, Anda perlu melakukan pemeriksaan untuk deteksi dini. Anda bisa mengikuti beberapa tes kesehatan ginjal, salah satunya dengan paket pemeriksaan Urine Rutin dari Bumame untuk membantu mendeteksi adanya darah dan protein dalam urine Anda. Selain itu, paket ini juga berguna untuk mendeteksi apakah ada kelainan lain di ginjal.

Meski pemeriksaan ini bukan untuk mengobati ginjal secara langsung, hasilnya akan sangat berguna untuk membantu dokter menentukan langkah berikutnya. Dari hasil tes ini, dokter akan sangat terbantu dalam memutuskan penanganan yang sesuai dengan penyebab dan kondisi yang Anda alami.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Cleveland Clinic. (2026). Glomerulonephritis: Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment.

  2. Cleveland Clinic. (2025). Glomerular Diseases: What Is It, Causes, Symptoms & Treatment.

  3. Mayo Clinic. (2026). Glomerulonephritis: Symptoms and causes. 

  4. Kazi, A. M., & Hashmi, M. F. (2023). Glomerulonephritis. StatPearls Publishing.

  5. Choudhry, N., et al. (2025). Chronic Glomerulonephritis: Background, Pathophysiology, Etiology. Medscape eMedicine.

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apa itu glomerulonefritis?
Glomerulonefritis adalah peradangan pada glomerulus, yaitu bagian ginjal yang berfungsi menyaring limbah dan cairan dari darah. Peradangan ini dapat mengganggu fungsi penyaringan ginjal sehingga darah atau protein dapat masuk ke dalam urine.
Apa saja gejala glomerulonefritis?
Gejala yang dapat muncul meliputi urine berwarna merah atau cokelat, urine berbusa, pembengkakan pada wajah dan kaki, tekanan darah tinggi, mudah lelah, serta berkurangnya frekuensi buang air kecil. 
Apa penyebab glomerulonefritis?
Glomerulonefritis dapat disebabkan oleh infeksi, terutama bakteri Streptococcus, penyakit autoimun seperti lupus dan nefropati IgA, serta penyakit lain seperti diabetes dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. 
Bagaimana glomerulonefritis didiagnosis?
Diagnosis dapat dilakukan melalui pemeriksaan urine untuk melihat darah dan protein, tes darah untuk menilai fungsi ginjal, serta pencitraan seperti USG. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat melakukan biopsi ginjal untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat. 
Apakah glomerulonefritis bisa sembuh?
Peluang sembuh bergantung pada jenis dan penyebabnya. Glomerulonefritis akut memiliki peluang pulih lebih besar, sedangkan jenis kronis umumnya tidak dapat sembuh total tetapi perkembangannya dapat diperlambat dengan penanganan yang tepat.