Telapak tangan yang terus berkeringat saat bekerja, ketiak basah meski berada di ruangan ber-AC, atau kaki lembap tanpa aktivitas berat bisa terasa mengganggu. Jika kondisi ini terjadi secara berlebihan, hiperhidrosis adalah kondisi yang mungkin terjadi.
Keringat berlebih dapat menghambat aktivitas sehari-hari dan menurunkan rasa percaya diri jika tidak ditangani dengan tepat. Memahami penyebab, gejala, dan cara mengatasi hiperhidrosis dapat membantu Anda menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Apa itu Hiperhidrosis?
Hiperhidrosis adalah kondisi saat produksi keringat melebihi kebutuhan fisiologis tubuh. Sebenarnya, berkeringat merupakan proses yang normal untuk menjaga suhu tubuh, khususnya saat berolahraga, saat cuaca panas, maupun saat mengalami stres.
Akan tetapi, pada penderita hiperhidrosis, keringat bisa muncul secara berlebihan meski pemicunya tidak sama dengan jumlah keringat yang keluar. Kondisi tersebut bisa Anda tentukan berdasarkan area tubuh yang berkeringat.
Hiperhidrosis fokal merupakan keringat berlebihan di area telapak tangan, ketiak, wajah, atau telapak kaki. Sementara itu, hiperhidrosis generalisata terjadi saat keringat berlebih muncul di sebagian besar tubuh.
Hiperhidrosis adalah kondisi yang tidak sekadar berkaitan dengan penampilan. Kondisi ini bisa berpengaruh terhadap kepercayaan diri, kenyamanan, pekerjaan, dan interaksi sosial. Maka dari itu, keluhan yang berulang harus memperoleh perhatian medis.
Penyebab Hiperhidrosis
Penyebab keringat berlebih bisa bergantung pada jenis hiperhidrosis yang Anda alami. Umumnya, ada dua kelompok utama, yaitu primer dan sekunder. Berikut ini penjelasannya.
1. Hiperhidrosis Primer
Hiperhidrosis primer (primary hyperhidrosis) merupakan kondisi keringat berlebihan yang bukan disebabkan oleh penyakit lain. Memang penyebab pastinya masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi kondisi tersebut diduga berhubungan dengan aktivitas saraf simpatis yang berlebihan dalam memberi rangsangan pada kelenjar keringat.
Jenis ini kerap muncul pada anak-anak maupun remaja, khususnya pada telapak kaki, telapak tangan, wajah, dan ketiak. Keluhannya cenderung terjadi pada kedua sisi tubuh, seperti kedua telapak tangan, dan umumnya tidak muncul saat tidur.
Selain itu, faktor keluarga juga berperan. Seseorang yang mempunyai anggota keluarga dengan riwayat keluhan yang sama mungkin mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terkena hiperhidrosis primer.
2. Hiperhidrosis Sekunder
Hiperhidrosis sekunder (secondary hyperhidrosis) terjadi saat keringat berlebihan berhubungan dengan kondisi medis atau efek dari penggunaan obat tertentu. Beberapa penyebabnya adalah:
Gangguan metabolisme, seperti hipoglikemia atau diabetes;
Gangguan hormon, seperti hipertiroidisme dan perubahan hormon ketika menopause;
Beberapa infeksi bisa mengakibatkan keringat berlebih, demam, termasuk keringat malam;
Gangguan saraf bisa memengaruhi pengaturan keringat oleh sistem saraf; serta
Penggunaan beberapa obat pereda nyeri, antidepresan, dan obat lain bisa mengakibatkan keringat berlebih sebagai bagian dari efek samping.
Hiperhidrosis sekunder bisa muncul di semua bagian tubuh dan terkadang terjadi pada malam hari. Ketika keringat berlebih semakin parah, muncul secara mendadak, atau disertai dengan gejala lain, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya.
Perbedaan Hiperhidrosis dan Berkeringat pada Umumnya
Berkeringat adalah respons normal dari tubuh. Tapi, bedanya dengan hiperhidrosis adalah pada dampak dan pemicunya. Simak tabel perbandingannya di bawah ini.
Tabel di atas merupakan penyebab atau gambaran umum. Memastikan hiperhidrosis hanya berdasarkan keringat berlebihan masih belum cukup. Perlu ada evaluasi lebih lanjut dari tenaga medis.
Ciri-ciri Hiperhidrosis
Ciri-ciri hiperhidrosis bisa berbeda pada setiap individu, tergantung pada penyebab dan area tubuh. Beberapa indikasi yang sering ditemukan adalah sebagai berikut.
Keringat berlebihan di ketiak sampai meninggalkan noda di pakaian.
Telapak kaki atau tangan sering basah meski tidak sedang berolahraga.
Keluhan keringat dingin dapat terjadi secara berulang, seperti 1 minggu sekali.
Keringat di kepala atau wajah muncul tanpa paparan panas berarti.
Keringat yang berlebihan pada kedua sisi tubuh, khususnya pada yang mengalami hiperhidrosis primer.
Aktivitas seperti memegang ponsel, menulis, berjabat tangan, atau mengetik menjadi tidak nyaman.
Keluhan yang mengganggu kepercayaan diri maupun membuat Anda menghindari situasi sosial.
Ketika keluhan disertai keringat malam baru muncul, jantung berdebar, demam, atau penurunan berat badan tanpa penyebab yang pasti, pemeriksaan medis dibutuhkan untuk mengevaluasi potensi penyebab lain.
Diagnosis Hiperhidrosis
Biasanya, diagnosis hiperhidrosis dimulai dari pemeriksaan medis dan wawancara. Dokter bisa menanyakan terkait bagian tubuh yang berkeringat, kapan keluhan mulai muncul, frekuensi kemunculannya, dan dampaknya terhadap kegiatan sehari-hari.
1. Wawancara Medis
Dokter akan bertanya terkait penggunaan obat, riwayat kesehatan, riwayat keluarga, dan apakah keringat muncul ketika tidur. Informasi tersebut akan membantu dokter dalam membedakan jenis hiperhidrosis.
2. Pemeriksaan Fisik
Dokter kemudian akan memeriksa area tubuh yang mengalami keringat berlebih serta menilai apakah indikasinya mengarah ke kondisi medis lain.
3. Penilaian Tingkat Keparahan
Dokter akan menilai seberapa besar keringat telah mengganggu aktivitas. Salah satu instrumen yang bisa digunakan yaitu Hyperhidrosis Disease Severity Scale (HDSS), skala untuk menilai dampak keringat pada kehidupan sehari-hari.
4. Tes Pati-Iodium
Tes ini juga dikenal sebagai Minor’s iodine-starch test. Dokter akan mengoleskan larutan iodium ke kulit, lalu membiarkannya kering, kemudian menambahkan pati. Area yang berkeringat bisa berubah menjadi kehitaman atau biru tua. Pemeriksaan tersebut akan membantu memetakan lokasi produksi keringat yang berlebihan.
5. Tes Darah atau Pemeriksaan Lain
Ketika dokter mencurigai potensi hiperhidrosis sekunder, pemeriksaan bisa disesuaikan dengan gejala. Misalnya, tes gula darah untuk melakukan evaluasi terhadap hipoglikemia atau diabetes serta pemeriksaan fungsi tiroid untuk menilai kemungkinan Anda mengalami hiperhidrosis.
Meski begitu, tidak semua pasien memerlukan semua pemeriksaan tersebut. Dokter dapat menentukan tes berdasarkan temuan klinis serta dugaan penyebabnya.
Komplikasi Hiperhidrosis
Hiperhidrosis tidak selalu mengakibatkan masalah kesehatan serius. Namun, keringat berlebihan yang berlangsung terus-menerus bisa mengakibatkan dampak seperti berikut.
Iritasi kulit: Kelembapan yang berulang bisa mengakibatkan kemerahan, kulit lecet, atau peradangan.
Infeksi kulit: Lingkungan kulit yang lembap bisa meningkatkan risiko masalah tertentu, salah satunya infeksi jamur.
Gangguan aktivitas: Tangan yang basah bisa menyulitkan pekerjaan Anda yang memerlukan ketelitian, seperti menulis maupun menggunakan perangkat elektronik.
Masalah emosional dan sosial: Beberapa orang merasa cemas, malu, dan menghindari interaksi karena takut keringat berlebihnya terlihat.
Rasa tidak nyaman pada kaki: Kaki yang terus lembap bisa memicu bau yang tidak sedap dan meningkatkan risiko masalah kulit.
Komplikasi di atas bisa Anda kurangi dengan penanganan yang tepat. Ketika keringat berlebihan disebabkan oleh penyakit lain, kondisi yang berpotensi mendasarinya harus dievaluasi.
Cara Mengatasi Keringat Berlebihan
Cara mengatasi keringat yang berlebihan harus Anda sesuaikan dengan lokasi, jenis, dan tingkat keparahannya. Penanganan bisa Anda mulai dari perawatan mandiri sampai tindakan medis.
1. Penanganan Mandiri
Beberapa cara berikut bisa membantu mengurangi rasa tidak nyaman.
Gunakan pakaian yang bisa menyerap keringat dengan baik dan mempunyai sirkulasi udara yang bagus.
Pilih kaus kaki yang bisa menyerap kelembapan dan segera ganti ketika basah.
Gunakan antiperspirant sesuai anjuran produk. Berbeda dengan deodoran yang khususnya membantu mengurangi bau, antiperspiran berperan dalam mengurangi produksi keringat.
Jaga kebersihan dan keringkan area kulit yang sering basah.
Catat pemicu yang bisa memperburuk keluhan, seperti minuman berkafein, makanan pedas, maupun situasi yang mengakibatkan stres.
2. Penanganan Medis
Dokter bisa merekomendasikan beberapa opsi terapi berikut ini sesuai kebutuhan pasien.
Obat topikal: Obat yang dioleskan ke kulit untuk menurunkan rangsangan terhadap kelenjar keringat.
Antiperspirant medis: Produk yang memiliki kandungan aluminium klorida untuk mengurangi keringat.
Suntikan toksin botulinum: Tindakan untuk menghambat sinyal saraf yang merangsang kelenjar keringat di area tertentu.
Iontophoresis: Prosedur dengan menggunakan arus listrik ringan lewat air untuk mengendalikan keringat, khususnya pada kaki dan tangan.
Obat oral: Obat yang bisa menurunkan produksi keringat, tetapi penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter karena bisa mengakibatkan efek samping.
Pemeriksaan Kesehatan untuk Menelusuri Penyebab Keringat Berlebihan bersama Bumame
Keringat yang berlebihan tidak selalu menjadi indikasi penyakit tertentu. Akan tetapi, ketika keluhan muncul secara mendadak maupun disertai gejala lain, pemeriksaan kesehatan bisa membantu dokter dalam melakukan evaluasi terhadap kemungkinan penyebabnya.
Salah satu pilihan yang bisa Anda pertimbangkan yaitu MCU Metabolisme Tubuh dari Bumame. Paket pemeriksaan yang mencakup segala hal tentang metabolisme, seperti HbA1c, gula darah, profil lipid, dan beberapa parameter fungsi ginjal serta hati.
Pemeriksaan ini bisa memberi informasi tambahan terkait kondisi metabolik. Namun, layanan dari Bumame ini bukan pemeriksaan khusus dengan tujuan mendiagnosis hiperhidrosis. Hasilnya juga tidak bisa memastikan penyebabnya tanpa melalui evaluasi medis.
Kapan Harus ke Dokter?
Sebaiknya, Anda berkonsultasi dengan dokter ketika keringat berlebihan sudah mulai mengganggu kenyamanan tidur, pekerjaan, maupun aktivitas sosial, baik muncul tanpa penyebab yang jelas maupun tidak membaik setelah melakukan perawatan mandiri.
Cari pertolongan medis ketika keringat berlebihan muncul secara mendadak disertai nyeri dada, pusing berat, sesak napas, atau hampir pingsan. Berbagai gejala tersebut bisa menjadi indikasi serius yang memerlukan penanganan segera.
Keringat Berlebihan Bisa Ditangani dengan Langkah yang Tepat
Hiperhidrosis adalah kondisi yang bisa berpengaruh terhadap kenyamanan fisik dan rasa percaya diri. Namun, masalah ini bisa Anda tangani dengan mengenali pola keringatnya, memperkirakan penyebabnya, dan memilih perawatan secara tepat.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Maazi, M., Leung, A. K. C., & Lam, J. M. — Primary Hyperhidrosis: An Updated Review
Potts, G. A., et al. — A Review of the Etiologies and Key Clinical Features of Secondary Hyperhidrosis
American Academy of Dermatology Association — Hyperhidrosis: Signs and Symptoms
Mayo Clinic — Hyperhidrosis: Diagnosis and Treatment
DermNet New Zealand — Hyperhidrosis (Excessive Sweating)
American Academy of Dermatology Association — Hyperhidrosis: Diagnosis and Treatment
Nawrocki, S., & Cha, J. — The Etiology, Diagnosis, and Management of Hyperhidrosis: A Comprehensive Review
National Health Service (NHS) — Excessive Sweating (Hyperhidrosis)
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
Frequently Asked Question
Apa yang dimaksud dengan hiperhidrosis?
Hiperhidrosis adalah kondisi ketika tubuh menghasilkan keringat secara berlebihan melebihi kebutuhan fisiologis untuk mengatur suhu tubuh.
Apa penyebab utama hiperhidrosis?
Hiperhidrosis primer tidak diketahui penyebab pastinya dan diduga berkaitan dengan aktivitas saraf simpatis. Hiperhidrosis sekunder berhubungan dengan kondisi medis, seperti diabetes atau gangguan tiroid, maupun efek samping obat tertentu.
Apakah hiperhidrosis berbahaya?
Hiperhidrosis dapat mengganggu aktivitas, kepercayaan diri, dan kesehatan kulit. Jika keringat berlebihan muncul mendadak, terjadi pada malam hari, atau disertai gejala lain, penyebab medis perlu dievaluasi.
Bagaimana cara mengatasi keringat berlebihan?
Penanganannya dapat berupa penggunaan antiperspirant, menjaga kulit tetap kering, memakai pakaian yang menyerap keringat, serta terapi medis seperti obat topikal, suntikan toksin botulinum, iontophoresis, atau obat oral sesuai anjuran dokter.
Kapan keringat berlebihan perlu diperiksakan ke dokter?
Periksakan diri jika keringat berlebihan mengganggu aktivitas, muncul tanpa penyebab jelas, atau tidak membaik dengan perawatan mandiri. Segera cari pertolongan medis jika disertai nyeri dada, sesak napas, pusing berat, atau hampir pingsan.
