Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Ciri-ciri Keracunan Makanan, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Kembali ke Artikel & Berita

Ciri-ciri Keracunan Makanan, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

SBATips Kesehatan

Makanan yang terlihat segar dan memiliki aroma menggugah selera belum tentu aman untuk dikonsumsi. Jika bahan makanan terkontaminasi bakteri, virus, atau zat berbahaya, keracunan makanan bisa terjadi dan memicu keluhan seperti mual, muntah, diare, hingga sakit perut.

Gejala ini dapat muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah makan, tergantung penyebabnya. Lantas, apa penyebab keracunan, bagaimana cara mengatasinya, dan kapan harus ke dokter? Ketahui jawabannya di artikel ini.

Apa itu Keracunan Makanan?

Keracunan makanan (food poisoning) adalah gangguan kesehatan yang terjadi akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi mikroorganisme berbahaya, racun, maupun zat pencemar lainnya. Kondisi tersebut mengakibatkan gangguan pencernaan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Melansir National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), gejala bisa muncul dalam hitungan jam, tetapi ada juga yang baru merasakannya beberapa hari setelah mengonsumsi makanan. Waktu munculnya keluhan dipengaruhi oleh zat berbahaya yang masuk ke tubuh, penyebab, dan kondisi kesehatan seseorang.

Kondisi keracunan tidak sama dengan alergi makanan. Sebab, alergi terjadi karena sistem imun tubuh bereaksi terhadap zat tertentu dalam makanan, sementara keracunan berhubungan dengan kontaminasi atau zat berbahaya yang tertelan.

Penyebab Keracunan Makanan

Dalam dunia medis, penyebab keracunan cukup beragam. Sehingga, mengenali sumbernya dapat menentukan langkah penanganan yang sesuai. Berikut ini penjelasannya.

1. Kontaminasi Bakteri

Infeksi bakteri adalah salah satu penyebab utama keracunan dari makanan. Beberapa jenis yang kerap dikaitkan dengan kondisi ini adalah Campylobacter, Salmonella, Listeria monocytogenes, dan Escherichia coli (E.coli).

Bakteri bisa masuk ke makanan lewat tangan yang tidak bersih, bahan mentah, proses memasak yang tidak memadai, atau peralatan dapur yang tercemar. Susu yang tidak dipasteurisasi, daging, telur, dan makanan laut mentah yang tidak diolah secara steril juga bisa menyebabkan keracunan.

2. Infeksi Virus

Virus seperti Norovirus bisa menyebar lewat air, tangan, makanan, atau permukaan yang terkontaminasi. Penularan juga bisa terjadi saat makanan disiapkan oleh orang yang terkena infeksi dan tidak menjaga kebersihannya dengan baik.

Norovirus sering menimbulkan diare, muntah, dan kram perut. Keluhannya bisa menyerupai keracunan karena bakteri, sehingga penyebab pastinya tidak selalu dapat ditentukan hanya dengan melihat gejala.

3. Racun Alami dan Zat Kimia

Keracunan makanan juga bisa terjadi akibat mengonsumsi jamur beracun, racun yang dihasilkan oleh mikroorganisme tertentu, atau bahan kimia yang mencemari makanan. Misalnya, beberapa bakteri bisa menghasilkan toksin yang tetap berbahaya meski makanan sudah tidak memiliki banyak bakteri hidup.

Karena penyebabnya beragam, makanan yang terlihat normal, memiliki aroma menggugah selera dan rasa enak belum tentu aman dari kontaminasi.

4. Penyimpanan dan Pengolahan Makanan yang Tidak Tepat

Dalam laman instansi Food Safety, makanan matang yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri. Risiko berpotensi meningkat saat bahan mentah bersentuhan dengan makanan yang siap santap atau makanan yang tidak dimasak sampai mencapai suhu yang aman.

Faktor Risiko Keracunan Makanan

Siapa saja bisa mengalami keracunan. Akan tetapi, beberapa kelompok orang cenderung lebih berisiko terkena infeksi berat atau komplikasi, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Anak-anak, khususnya balita: Tubuh anak cenderung lebih rentan mengalami dehidrasi karena muntah dan diare karena cadangan cairannya lebih kecil daripada orang dewasa.

  • Ibu hamil: Perubahan sistem imun tubuh selama kehamilan bisa meningkatkan risiko infeksi tertentu. Beberapa kuman, seperti Listeria, juga bisa membahayakan janin.

  • Lansia: Perubahan fungsi imun dan organ seiring bertambahnya usia akan membuat lansia cenderung lebih rentan terkena komplikasi.

  • Penderita diabetes: Gangguan pengaturan gula darah bisa mempersulit pemulihan saat terjadi dehidrasi atau infeksi.

  • Penderita gangguan ginjal: Kehilangan cairan dan perubahan elektrolit tubuh bisa memperberat kerja ginjal yang sebelumnya sudah terganggu.

  • Penderita penyakit autoimun: Risikonya dipengaruhi oleh kondisi penyakit dan obat yang digunakan, khususnya obat yang berperan menekan sistem kekebalan.

  • Orang dengan daya tahan tubuh melemah: Pasien yang menerima transplantasi organ, menjalani kemoterapi, atau menggunakan obat imunosupresan mempunyai risiko lebih tinggi terkena infeksi serius.

Ciri-Ciri Keracunan Makanan

Ciri atau gejala keracunan makanan bisa berbeda sesuai dengan penyebabnya. Gejala yang paling umum adalah:

Gejala lain yang juga harus Anda perhatikan adalah tanda dehidrasi, yaitu kondisi saat tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk. Tandanya meliputi rasa haus berlebihan, mulut kering, urine berkurang atau berwarna lebih gelap, lemas, dan pusing.

Meski begitu, tidak semua gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan berarti menandakan keracunan. Ketika sakit perut terasa sangat berat, semakin memburuk, atau muncul gejala yang tidak biasa, pemeriksaan dokter dibutuhkan untuk mencari penyebab lain.

Diagnosis Keracunan Makanan

Dokter akan menilai gejala dan kondisi pasien sebelum menyimpulkan apakah pemeriksaan tambahan dibutuhkan. Mengutip Mayo Clinic, prosesnya bisa meliputi beberapa tahap berikut ini.

  • Wawancara Medis: Dokter akan bertanya kapan gejala dimulai, apa makanan yang sebelumnya dikonsumsi, seberapa sering diare atau muntah terjadi, riwayat perjalanan, dan apakah orang lain yang mengonsumsi makanan serupa juga merasakan keluhan yang sama.

  • Pemeriksaan fisik: Dokter akan memeriksa kondisi umum, denyut nadi, suhu tubuh, tekanan darah, dan tanda dehidrasi. Pemeriksaan perut juga bisa dilakukan untuk menilai lokasi nyeri serta membantu menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.

  • Pemeriksaan feses: Sampel tinja atau feses bisa diperiksa untuk mendeteksi virus, bakteri, parasit, atau tanda infeksi tertentu. Pemeriksaan tersebut mungkin direkomendasikan ketika diare berlangsung lama, berat, disertai darah, atau terdapat dugaan wabah.

  • Pemeriksaan darah: Tes darah bisa dilakukan ketika dokter mencurigai adanya gangguan elektrolit, dehidrasi berat, atau komplikasi lain. Pemeriksaan fungsi ginjal juga bisa Anda pertimbangkan untuk mengetahui dampak kehilangan cairan berlebih.

Komplikasi Keracunan Makanan

Sebagian besar kasus keracunan ringan akan membaik tanpa mengalami komplikasi serius. Akan tetapi, keracunan yang berat bisa mengakibatkan masalah kesehatan berikut.

  • Dehidrasi: Kehilangan elektrolit dan cairan akibat diare atau muntah bisa mengganggu fungsi tubuh.

  • Gangguan ginjal akut: Kekurangan cairan berat bisa mengurangi aliran darah ke ginjal lalu mengganggu fungsinya.

  • Sindrom hemolitik uremik (HUS): Komplikasi langka karena infeksi E. coli yang bisa merusak ginjal dan sel darah, khususnya pada anak-anak.

  • Infeksi menyebar: Bakteri tertentu bisa masuk ke aliran darah dan mengakibatkan infeksi serius.

  • Komplikasi kehamilan: Infeksi tertentu, termasuk listeriosis, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan selama kehamilan.

Cara Mengatasi Keracunan Makanan

Cara mengatasi keracunan makanan harus disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Untuk kasus ringan, terdapat langkah-langkah yang bisa membantu pemulihan, berikut ini penjelasannya.

1. Ganti Cairan yang Hilang

Minum air putih sedikit demi sedikit dengan intensitas yang sering jika Anda masih merasa mual. Larutan oralit juga bisa membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang karena muntah atau diare.

Anak-anak juga harus mendapatkan cairan yang sesuai dengan kondisi dan usia mereka. Jika muntah berlangsung terus-menerus sampai cairan tidak bisa dipertahankan, segera cari pertolongan medis.

2. Istirahat dan Kembali Makan secara Bertahap

Beristirahat akan membantu tubuh Anda memulihkan diri. Saat mual mulai berkurang, Anda harus makan sesuai dengan toleransi tubuh, dimulai dengan porsi kecil terlebih dahulu dan tidak harus memaksakan makanan dalam jumlah besar.

Hindari makanan atau minuman yang berpotensi memperburuk gejala. Ketika keluhan disertai dengan mual dan sakit perut, Anda perlu mencari penyebab perut perih dan mual, lalu mencari solusi yang tepat sesuai kondisi yang Anda alami.

3. Hindari Mengonsumsi Obat Sembarangan

Jangan sembarangan mengonsumsi obat tanpa anjuran tenaga medis. Anda harus berkonsultasi dengan dokter agar dokter bisa mengetahui riwayat kesehatan dan kondisi yang Anda alami sekarang, apakah sesuai dengan obat yang akan dikonsumsi atau tidak.

Dokter juga bisa menentukan apakah Anda memerlukan pemeriksaan lanjutan, obat tertentu, atau cairan lewat infus. Mungkin infus dibutuhkan ketika dehidrasi berat, tetapi bukan berarti penanganan otomatis yang Anda butuhkan.

Cara Mencegah Keracunan Makanan

Pencegahan bisa Anda mulai dari kebiasaan sederhana ketika memilih, menyimpan, dan mengolah makanan. Prinsip keamanan pangan yang dianjurkan WHO mencakup memisahkan, membersihkan, memasak, dan mendinginkan makanan dengan benar. Selain itu, Anda juga bisa melakukan hal-hal berikut ini.

  • Cuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan makanan.

  • Bersihkan peralatan dapur dan permukaan yang bersentuhan atau berinteraksi dengan bahan mentah.

  • Pisahkan unggas, daging, dan makanan laut mentah dari makanan yang siap santap.

  • Simpan makanan yang mudah rusak di kulkas sesegera mungkin.

  • Masak bahan pangan sampai matang dan jika perlu, gunakan termometer makanan.

  • Gunakan air minum yang aman serta cuci buah dan sayuran dengan air mengalir.

  • Hindari makanan mentah atau setengah matang ketika sumber dan pengolahannya tidak bisa dipastikan.

  • Jangan mengonsumsi makanan yang kemasannya rusak atau penyimpanannya masih diragukan.

V-Drip Happy Stomach Bumame: Kenali Pilihan Layanan dan Batasannya

Setelah mengalami diare atau muntah, Anda perlu mencari layanan yang bisa mengatasi keluhan pencernaan. Untungnya, Bumame menyediakan V-Drip Happy Stomach, layanan infus yang mengandung zat pelindung lambung, elektrolit, dan obat anti-mual.

Akan tetapi, penting untuk Anda pahami bahwa pemeriksaan tersebut bukan layanan untuk mendiagnosis keracunan makanan dan tidak otomatis menjadi pilihan yang direkomendasikan untuk semua pasien. Penanganannya harus menyesuaikan tingkat dehidrasi, penyebab, dan kondisi setiap orang.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera dapatkan pertolongan medis saat muncul kondisi di bawah ini.

Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan

Frequently Asked Question

Berapa lama gejala keracunan makanan muncul setelah makan?

Gejala keracunan makanan dapat muncul dalam hitungan jam hingga beberapa hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, bergantung pada penyebabnya.

Apakah keracunan makanan bisa sembuh sendiri?

Kasus ringan sering membaik tanpa pengobatan khusus. Namun, penting untuk mengganti cairan yang hilang dan mencari pertolongan medis jika muncul tanda bahaya.

Apa pertolongan pertama saat mengalami keracunan makanan?

Minum air sedikit demi sedikit dan gunakan oralit untuk membantu mengganti cairan serta elektrolit yang hilang akibat muntah atau diare. Segera cari pertolongan medis jika tidak mampu mempertahankan asupan cairan.

Apakah keracunan makanan harus diatasi dengan antibiotik?

Tidak selalu. Antibiotik hanya diperlukan pada kondisi tertentu berdasarkan penilaian dokter dan tidak efektif untuk infeksi yang disebabkan oleh virus.

Kapan keracunan makanan harus diperiksakan ke dokter?

Segera cari pertolongan medis jika mengalami demam tinggi sekitar 39°C atau lebih, diare berdarah, muntah berulang hingga tidak bisa minum, tanda dehidrasi, atau kelemahan otot dan kesulitan menelan. Gejala berat pada ibu hamil, balita, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah juga perlu segera diperiksa.