Pernah mengalami haus berlebih dan membuat lebih banyak buang air kecil? Ini bisa saja terjadi setelah banyak beraktivitas atau mengonsumsi makanan tertentu. Tapi, jika ini terjadi terus-menerus atau muncul keluhan seperti nyeri otot, mual, wajah kemerahan hingga kulit kering, sebaiknya Anda tidak mengabaikannya karena ini bisa menjadi tanda ketoasidosis diabetik. Ini adalah komplikasi diabetes yang terjadi ketika kadar keton dalam tubuh meningkat dan menyebabkan darah menjadi lebih asam.
Lalu apa penyebabnya dan bagaimana cara menyembuhkannya? Artikel ini akan membahas mulai dari gejala, penyebab, cara diagnosis hingga penanganannya yang bisa Anda gunakan sebagai acuan dalam menghadapi gangguan ini.
Apa Itu Ketoasidosis Diabetik?
Ketoasidosis diabetik (KAD) merupakan kondisi medis serius yang terjadi saat kadar keton dalam darah meningkat sehingga menyebabkan darah menjadi terlalu asam. Kondisi ini umumnya muncul ketika tubuh kekurangan insulin. Akibatnya, glukosa tidak bisa digunakan secara optimal sebagai sumber energi, lalu tubuh akan memecah lemak sebagai sumber energi dan menghasilkan keton yang kemudian menumpuk di darah.
Gejala Ketoasidosis Diabetik
Gejala KAD yang dirasakan setiap orang biasanya akan berbeda. Tapi, gejala yang umum dirasakan oleh seseorang yang mengalami gangguan ini yaitu:
Mual dan muntah.
Sakit atau nyeri perut.
Kulit dan mulut menjadi kering.
Napas cepat dan dalam.
Napas bau buah.
Sakit kepala.
Otot menjadi kaku dan nyeri.
Tubuh sering merasa sangat lelah.
Sering linglung atau kesadaran menurun, terutama jika di level yang sudah berat.
Penyebab Keton Tinggi dalam Darah
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan keton di dalam darah menjadi tinggi, antara lain:
Ada infeksi seperti pneumonia dan infeksi saluran kemih (ISK), karena kondisi ini bisa meningkatkan kebutuhan insulin dan memicu perubahan hormon yang membuat kadar gula darah menjadi lebih sulit diatur.
Menderita salah satu dari jenis diabetes, karena saat kadar insulin rendah, bisa membuat glukosa tidak bisa diubah menjadi energi dan akhirnya membuat produksi keton menjadi tinggi.
Menderita gangguan fisik yang berat, seperti serangan jantung, stroke, trauma, hingga pankreatitis, karena semua penyakit ini bisa meningkatkan respons stres tubuh dan kebutuhan insulin.
Konsumsi alkohol berlebih karena bisa mengganggu metabolisme glukosa dan meningkatkan produksi keton.
Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti kortikosteroid, diuretik tiazid, antipsikotik, dan simpatomimetik, yang mana pada kondisi tertentu obat tersebut bisa berefek pada kadar gula darah atau metabolisme tubuh.
Faktor Risiko pada Penderita Diabetes Melitus
Ketoasidosis diabetik merupakan komplikasi dari penyakit diabetes melitus dan bisa terjadi pada semua tipe diabetes. Namun, risikonya lebih tinggi pada diabetes tipe 1 karena tubuh mengalami kekurangan insulin yang berat. KAD juga dapat menjadi tanda awal diabetes yang belum terdiagnosis, terutama pada diabetes tipe 1.
Selain itu, risiko KAD dapat meningkat ketika tubuh kekurangan insulin. Kondisi ini dapat terjadi akibat kesalahan dosis, lupa menggunakan insulin, atau pompa insulin yang tersumbat sehingga pengiriman insulin terganggu. Kekurangan insulin membuat tubuh memecah lemak sebagai sumber energi dan menghasilkan keton dalam jumlah berlebih.
Diagnosis dan Penanganan Medis
Diagnosis keton tidak bisa hanya berdasarkan kadar gula darah yang sudah dicek sebelumnya, tapi perlu kombinasi antara kondisi klinis dan hasil pengecekan laboratorium. Beberapa pengecekan yang umum digunakan untuk diagnosis keton yaitu:
Cek glukosa darah, untuk tahu kadar gula dalam darah, mengingat kadar gula darah erat kaitannya dengan kadar keton tubuh.
Pengecekan keton darah atau urine, untuk mendeteksi secara langsung apakah ada penumpukan keton atau tidak di dalam tubuh.
Tes gas darah dan kadar bikarbonat, untuk menilai tingkat keasaman darah dan menentukan apakah keton sudah menyebabkan asidosis metabolik.
Elektrolit, terutama kalium dan natrium, karena kondisi seperti ketoasidosis dan dehidrasi bisa menyebabkan pergeseran serta kehilangan elektrolit.
Fungsi ginjal, seperti ureum dan kreatinin, karena peningkatan keton yang berat sering disertai dehidrasi yang bisa menyebabkan aliran darah ke ginjal menurun dan berefek pada penurunan fungsi ginjal.
Kultur bakteri, terutama jika dicurigai ada infeksi sebagai pemicu KAD. Pengecekan biasanya dilakukan dengan mengambil sampel, seperti darah atau urine, yang kemudian dikultur di laboratorium untuk tahu apakah ada pertumbuhan bakteri penyebab infeksi.
Foto rontgen dada, jika dicurigai ada infeksi saluran pernapasan, seperti pneumonia, yang bisa menjadi salah satu pemicu KAD.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar keton tinggi, biasanya dokter akan melakukan beberapa tindakan penanganan seperti:
Memberikan cairan infus, untuk mengatasi dehidrasi dan memperbaiki sirkulasi serta kadar gula dalam darah.
Pemberian insulin, untuk menghentikan pemecahan lemak dan produksi keton di dalam tubuh.
Monitoring dan koreksi elektrolit, terutama kalium, karena kadar elektrolit bisa berubah selama KAD ataupun selama insulin diberikan.
Memberikan antibiotik jika hasil pemeriksaan KAD disebabkan oleh infeksi.
Monitoring hasil pengobatan secara berkala, melalui pemeriksaan kadar glukosa dan keton hingga elektrolit kembali.
Cara Mencegah Ketoasidosis Diabetik
Sebenarnya tidak semua kasus KAD bisa dicegah, tapi Anda tetap bisa menurunkan risikonya dengan beberapa cara berikut.
Ikuti rencana pengobatan diabetes dengan baik termasuk menggunakan insulin atau obat sesuai anjuran. Selain itu, sebaiknya tidak menghentikan penggunaan insulin tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu, meskipun sedang sakit atau tidak nafsu makan.
Pantau kadar gula darah secara rutin, terutama saat sedang sakit, mengalami infeksi, atau pola makan dan aktivitas berubah.
Langsung periksa kadar keton jika kadar gula darah hasil tes naik.
Cukupi kebutuhan cairan setiap harinya untuk mencegah dehidrasi, karena dehidrasi bisa memperburuk kondisi tubuh dan meningkatkan risiko terjadinya ketoasidosis diabetik, terutama jika sedang sakit, demam, muntah, atau diare.
Hindari makanan atau minuman yang bisa meningkatkan gula darah, seperti minuman manis bersoda, permen, hingga kue-kue manis.
Kenali tanda-tanda KAD dengan baik, sehingga jika ada potensi gejala muncul, Anda bisa langsung mendapatkan pertolongan medis untuk meminimalkan risiko komplikasi lebih serius.
Selalu konsultasikan masalah kesehatan kepada dokter ahli, terutama jika pola makan atau aktivitas berubah secara signifikan agar KAD bisa dicegah dengan baik.
Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, untuk memantau diabetes, mencegah KAD, dan risiko komplikasi lainnya.
Kapan Harus ke IGD?
Pada dasarnya, Anda harus ke IGD jika sudah mengalami gejala ketoasidosis diabetik (KAD), terutama jika gejala yang muncul seperti:
Mual dan muntah berulang dan tidak bisa berhenti.
Nyeri perut hebat.
Napas cepat dan dalam atau sulit napas.
Napas sudah berbau seperti buah atau aseton.
Tubuh sering merasa sangat haus dan buang air kecil menjadi sangat jarang.
Linglung, ngantuk berat, dan bahkan pingsan.
Kadar gula darah tetap tinggi meskipun sudah menggunakan insulin sesuai anjuran.
Cek Diabetes Melitus Segera untuk Turunkan Risiko KAD
Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah hasil dari komplikasi diabetes melitus dan bisa terjadi saat tubuh kekurangan hormon insulin sehingga glukosa tidak bisa digunakan secara optimal sebagai sumber energi dan membuat tubuh malah memecah lemak dan menghasilkan keton secara berlebihan.
Gejala yang ditimbulkan KAD cukup berat mulai dari mual, muntah, nyeri perut, hingga hilang kesadaran, sehingga sebaiknya Anda melakukan tindakan pencegahan seperti penjelasan di atas.
Tapi, alangkah lebih baik lagi jika Anda mencegah komplikasi diabetes melitus dengan mengelola kadar gula darah secara rutin dan mengikuti rencana perawatan yang dianjurkan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan cek gula darah secara teratur seperti melalui cek Diabetes Melitus di Bumame.
Dalam satu paket ini sudah mencakup tes HbA1C dan Glukosa Puasa dengan hasil akurat dan tepercaya dalam menilai kadar gula darah tubuh Anda.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Siloam Hospitals. (2025). Ketoasidosis Diabetik - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya.
Mayo Clinic. (2025). Diabetic Ketoacidosis.
CDC. (2024). Diabetic Ketoacidosis.
National Library of Medicine. (2020). Diabetic Ketoacidosis: Clinical Characteristics and Precipitating Factors.
The Pharmaceutical Journal. (2024). Diabetic ketoacidosis in adults: identification, diagnosis and management.
National Library of Medicine. (2019). Precipitating Risk Factors, Clinical Presentation, and Outcome of Diabetic Ketoacidosis in Patients with Type 1 Diabetes.
Springer Nature Link. (2025). Risk factors of diabetic ketoacidosis among patients with diabetes attending at public hospitals of East Gojjam Zone, Northwest Ethiopia: an unmatched case - control study.
The Royal Children’ Hospital Melbourne. (2025). Diabetic ketoacidosis.
Mandjur. (2026). Ketoasidosis Diabetik.
Apollo Hospitals. (2025). Ketoasidosis Diabetik - Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan.
American Family Physician. (2005). Diabetic Ketoacidosis: What It Is and How to Prevent It.
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
Frequently Asked Question
Apa itu ketoasidosis diabetik (KAD)?
Apa saja gejala ketoasidosis diabetik?
Apa yang menyebabkan ketoasidosis diabetik?
Bagaimana ketoasidosis diabetik ditangani?
Penanganan KAD dilakukan secara medis dengan pemberian cairan infus, insulin, serta pemantauan dan koreksi elektrolit, terutama kalium. Antibiotik dapat diberikan jika KAD dipicu oleh infeksi, sementara kadar glukosa, keton, dan elektrolit perlu dipantau secara berkala.
Kapan penderita ketoasidosis diabetik harus ke IGD?
Segera ke IGD jika mengalami muntah berulang, nyeri perut hebat, napas cepat dan dalam atau sulit bernapas, napas berbau buah atau aseton, sangat haus dengan buang air kecil yang jarang, linglung, mengantuk berat, pingsan, atau gula darah tetap tinggi meskipun sudah menggunakan insulin.
.jpg&w=3840&q=75)