Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Malaria: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Pencegahannya
Kembali ke Artikel & Berita

Malaria: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Pencegahannya

SBAOthers

Hujan yang turun terus-menerus akan meninggalkan genangan air di sekitar rumah dan meningkatkan risiko perkembangbiakan nyamuk. Nah, malaria adalah salah satu penyakit yang perlu Anda waspadai, terutama ketika tinggal di wilayah yang masih memiliki penularan aktif.

Gejala malaria menyerupai penyakit lain, tapi jika tidak ditangani dengan tepat, malaria bisa berkembang menjadi kondisi yang serius. Karena itu, penting untuk mengenali gejala, memahami cara penularannya, serta mengetahui langkah pencegahan dan pengobatan yang sesuai agar risiko komplikasi dapat dikurangi.

Apa itu Malaria?

Menurut World Health Organization (WHO), malaria adalah penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit Plasmodium sehingga bersifat mengancam jiwa.

Menurut jurnal yang ditulis oleh Fitrie Syahlaa, terdapat lima spesies parasit Plasmodium yang menyebabkan malaria, yaitu:.

  • Plasmodium falciparum (P. falciparum);

  • Plasmodium malariae (P. malariae);

  • Plasmodium vivax (P. vivax);

  • Plasmodium ovale (P. ovale); dan

  • Plasmodium knowlesi (P. knowlesi).

Penyebab Malaria dan Cara Penularannya 

Sejalan dengan definisinya, penyebab utama malaria adalah infeksi parasit Plasmodium yang menular melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, parasit akan berkembang biak di hati, kemudian menginfeksi sel darah merah.

Itu artinya, malaria tidak menular melalui kontak fisik biasa. Anda tidak akan tertular malaria hanya karena berjabat tangan, berbicara, atau duduk bersama seseorang yang terinfeksi. Berikut adalah beberapa faktor lain yang bisa menyebabkan penularan malaria.

  • Lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk: Lingkungan dengan genangan air atau saluran drainase buruk bisa meningkatkan populasi nyamuk. Namun, keberadaan banyak nyamuk tidak selalu berarti risiko malaria tinggi karena hanya nyamuk Anopheles yang terinfeksi parasit Plasmodium yang dapat menularkan penyakit ini.

  • Penularan melalui darah: Lebih tepatnya pada darah yang mengandung parasit Plasmodium. Misalnya, melalui transfusi darah yang terkontaminasi atau penggunaan jarum suntik yang tercemar darah penderita malaria.

Faktor Risiko Malaria

Malaria adalah penyakit infeksi yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor risiko. Dengan memahami faktor-faktor tersebut, Anda bisa mengambil langkah pencegahan yang tepat untuk mengurangi risiko penularan malaria.

1. Faktor Usia

Anak-anak berusia di bawah lima tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami malaria berat dibandingkan orang dewasa. Hal ini karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang dan belum memiliki perlindungan yang cukup terhadap parasit penyebab malaria.

2. Tempat Tinggal atau Tujuan Perjalanan

Tinggal atau bepergian ke wilayah endemis malaria juga meningkatkan risiko terinfeksi penyakit ini. Malaria banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles. Beberapa wilayah tersebut meliputi:

  • Afrika, terutama wilayah Afrika sub-Sahara;

  • Amerika Tengah dan Amerika Selatan;

  • Republik Dominika, Haiti, serta beberapa wilayah Karibia;

  • Sejumlah kepulauan di Samudra Pasifik Tengah dan Selatan atau Oseania; serta

  • Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk beberapa wilayah di Indonesia.

3. Fasilitas Kesehatan Terbatas

Keterbatasan fasilitas kesehatan pun meningkatkan risiko komplikasi malaria karena penderita mungkin kesulitan untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan secara cepat. Kondisi ini sering terjadi di daerah terpencil yang memiliki akses transportasi terbatas atau jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan.

4. Sistem Kekebalan Tubuh Menurun

Kondisi sistem kekebalan tubuh juga memengaruhi risiko mengalami malaria berat. Orang yang belum memiliki kekebalan terhadap parasit malaria, seperti wisatawan yang baru pertama kali mengunjungi wilayah endemis, bisa lebih rentan mengalami gejala yang parah.

Selain itu, ibu hamil dan orang dengan kondisi tertentu yang melemahkan sistem kekebalan tubuh juga berisiko mengalami komplikasi lebih serius jika terinfeksi malaria. Tapi, daya tahan tubuh yang kuat tidak sepenuhnya mencegah infeksi malaria.

Gejala Malaria

Gejala malaria relatif bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, tergantung pada tingkat keparahan infeksi. Umumnya, gejala akan muncul sekitar 1–2 minggu setelah terinfeksi, meskipun pada kondisi tertentu gejala bisa muncul lebih lambat atau bahkan tidak langsung terasa.

Beberapa gejala awal malaria adalah:

  • Demam tinggi, yang bisa muncul secara berkala atau terus-menerus;

  • Menggigil, meskipun suhu tubuh meningkat;

  • Sakit kepala yang mengganggu aktivitas sehari-hari;

  • Nyeri otot dan rasa tidak nyaman pada tubuh;

  • Kelelahan, lemas, atau tubuh terasa kurang bertenaga; serta

  • Gangguan pencernaan, seperti diare, mual, dan muntah.

Jika infeksi berkembang menjadi malaria berat, Anda akan mengalami gejala yang lebih serius, seperti:

  • Kulit atau mata menguning, yang menandakan gangguan fungsi hati atau kerusakan sel darah merah;

  • Urine berwarna gelap, yang bisa berkaitan dengan kerusakan sel darah merah atau gangguan ginjal;

  • Detak jantung meningkat, terutama jika disertai demam tinggi atau kondisi tubuh yang memburuk;

  • Kejang, yang dapat menandakan keterlibatan sistem saraf;

  • Penurunan atau hilangnya kesadaran, yang menunjukkan kondisi darurat; serta

  • Gangguan fungsi otak, termasuk malaria serebral yang dapat memengaruhi kesadaran dan fungsi neurologis.

Diagnosis Malaria

Diagnosis malaria adalah langkah penting untuk memastikan apakah Anda terinfeksi parasit Plasmodium yang menyebabkan malaria atau tidak. Untuk menentukan diagnosis secara tepat, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut ini.

  • Wawancara medis: Dokter akan menanyakan gejala yang Anda alami, tempat tinggal, riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria, dan riwayat kesehatan.

  • Pemeriksaan fisik: Pemeriksaan ini bisa mencakup skrining demam, pemeriksaan denyut jantung, tekanan darah, dan kondisi umum Anda. Dokter juga dapat memeriksa tanda-tanda komplikasi.

Jika gejala dan riwayat kesehatan mengarah pada dugaan malaria, dokter akan menyarankan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi parasit penyebabnya, mulai dari:

  • Tes mikroskopis darah: Dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk mendeteksi keberadaan parasit Plasmodium, mengidentifikasi jenisnya, dan memperkirakan jumlah parasit dalam darah.

  • Rapid Diagnostic Test (RDT): Merupakan tes cepat untuk mendeteksi protein tertentu yang dihasilkan oleh parasit malaria dalam darah.

  • Polymerase Chain Reaction (PCR): Merupakan metode pemeriksaan yang mendeteksi materi genetik parasit Plasmodium dalam sampel darah. Metode ini memiliki sensitivitas tinggi dan bisa membantu mengidentifikasi spesies parasit, termasuk ketika jumlah parasit dalam darah relatif rendah.

Komplikasi Malaria

Parasit penyebab malaria bisa terus berkembang dan merusak sel darah merah, sehingga mengganggu fungsi berbagai organ tubuh. Jika tidak ditangani dengan baik, malaria akan menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Malaria serebral: Komplikasi yang terjadi ketika infeksi memengaruhi otak, sehingga bisa menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, hingga koma.

  • Gangguan pernapasan: Seperti penumpukan cairan di paru-paru atau gangguan pernapasan akut.

  • Kerusakan ginjal atau hati: Infeksi berat dapat mengganggu fungsi ginjal dalam menyaring zat sisa atau menyebabkan gangguan fungsi hati.

  • Anemia: Parasit malaria menghancurkan sel darah merah sehingga jumlahnya menurun dan tubuh kekurangan pasokan oksigen.

  • Kadar gula darah rendah (hipoglikemia): Akibat infeksi berat atau penggunaan obat tertentu.

Pengobatan Malaria

Pengobatan yang tepat sesuai jenis parasit dan tingkat keparahan penyakit akan membantu kondisi pasien untuk membaik dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Beberapa jenis obat yang digunakan untuk mengatasi malaria adalah sebagai berikut.

  • Terapi Artemisinin-based Combination Therapy (ACT): WHO merekomendasikan terapi ini untuk mengobati malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum dengan menggabungkan artemisinin dengan obat antimalaria lain yang bekerja melalui mekanisme berbeda untuk membasmi parasit secara lebih efektif.

  • Primaquine: Merupakan obat antimalaria yang digunakan untuk mengatasi bentuk parasit tertentu, terutama Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale, yang dapat menetap di hati dan menyebabkan malaria kambuh.

Cara Mencegah Malaria 

Selain menjalani pengobatan jika terinfeksi, beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi risiko terkena malaria adalah:

  • Konsumsi obat antimalaria sesuai anjuran dokter, misalnya berencana bepergian ke daerah endemis malaria;

  • Gunakan obat antinyamuk, baik yang berupa krim oles atau spray;

  • Pakai baju lengan panjang dan celana panjang;

  • Pertimbangkan untuk pasang kelambu di kamar tidur; dan

  • Mendapat vaksinasi malaria.

Pemeriksaan Darah Lengkap untuk Membantu Evaluasi Malaria

Beruntunglah Anda yang tinggal di sekitar Jabodetabek, karena Bumame menyediakan pemeriksaan hematologi lengkap untuk mengetahui kondisi darah melalui pengukuran beberapa parameter, seperti hemoglobin (Hb), jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Pemeriksaan ini bisa membantu dokter menilai kondisi tubuh dan mendeteksi perubahan komponen darah yang mungkin berkaitan dengan infeksi malaria. Meski demikian, pemeriksaan hematologi lengkap tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk mendiagnosis malaria.

Dokter biasanya memerlukan pemeriksaan khusus untuk mendeteksi parasit malaria, seperti pemeriksaan darah atau tes diagnostik cepat (RDT). Hasil pemeriksaan darah lengkap akan menjadi informasi pendukung bagi dokter untuk menentukan pemeriksaan lanjutan dan penanganan yang sesuai.

Kapan Harus ke Dokter?

Malaria adalah penyakit infeksi serius yang dapat berkembang menjadi kondisi berbahaya jika tidak segera ditangani. Jika Anda mengalami demam setelah tinggal atau bepergian ke daerah endemis malaria, segera periksakan diri ke dokter.

Kemudian, jika berencana mengunjungi daerah endemis malaria, konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter beberapa minggu sebelum keberangkatan. Konsultasi ini bahkan sangat penting bagi ibu hamil dan orang tua yang bepergian bersama anak berusia di bawah lima tahun karena termasuk kelompok berisiko tinggi.

Lindungi Diri dan Keluarga dari Bahaya Malaria

Malaria adalah penyakit yang perlu Anda waspadai, meskipun risiko penularannya dapat Anda kurangi dengan pencegahan yang tepat. Anda bisa memulai dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari gigitan nyamuk dan menerapkan pola hidup sehat. Dengan meningkatkan kesadaran dan melakukan pencegahan bersama, Anda melindungi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat dari bahaya malaria.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. WHO. (2025). Malaria.

  2. Stanford Health Care. Malaria.

  3. Nadaa, F. S., & Umar Zein. (2024). Jenis-Jenis Plasmodium pada Pasien Malaria di Tiga Desa Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2022. Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, 23(1), 43-49. https://doi.org/10.30743/ibnusina.v23i1.563.

  4. Ayo Sehat (2024). Kenali Apa itu Malaria: Gejala, Pencegahan dan Pengobatan.

  5. Axa Mandiri. (2023). Plasmodium, Parasit Penyebab Malaria yang Perlu Diwaspadai.

  6. CDC. (2024). Malaria.

  7. Cleveland Clinic. (2025). Malaria.

  8. Mayo Clinic. (2023). Malaria.

  9. WHO. Rapid diagnostic tests.

  10. CDC. (2024). Malaria Diagnostic Tests.

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apa itu penyakit malaria?

Malaria adalah penyakit infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit Plasmodium. Parasit tersebut berkembang biak di hati, kemudian menginfeksi sel darah merah.

Apa saja gejala malaria?

Gejala awal malaria meliputi demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, serta gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare. Pada kondisi berat, gejala dapat berupa kulit atau mata menguning, urine gelap, kejang, hingga penurunan kesadaran.

Bagaimana malaria menular?

Malaria terutama menular melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit Plasmodium. Penularan juga dapat terjadi melalui darah yang terkontaminasi, misalnya lewat transfusi darah atau penggunaan jarum suntik yang tercemar.

Bagaimana cara mengobati malaria?

Pengobatan malaria disesuaikan dengan jenis parasit dan tingkat keparahan penyakit. Terapi dapat mencakup kombinasi obat berbasis artemisinin (ACT) untuk malaria akibat Plasmodium falciparum serta primaquine untuk bentuk parasit tertentu, seperti Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale, sesuai indikasi dokter.

Bagaimana cara mencegah malaria?

Pencegahan malaria dapat dilakukan dengan menggunakan obat antimalaria sesuai anjuran dokter sebelum bepergian ke daerah endemis, memakai obat antinyamuk, mengenakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang, menggunakan kelambu, serta mendapatkan vaksinasi malaria.