Seorang karyawan sudah tiga hari demam dan tenggorokannya perih. Ia lalu meminum sisa antibiotik dari sakit bulan lalu tanpa bertanya ke dokter.
Kebiasaan ini masih sering ditemui. Padahal sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan virus, dan antibiotik tidak bekerja pada virus. Obat yang diminum tanpa arahan juga memberi peluang bakteri menjadi kebal.
Artikel ini membahas penularan, jenis, gejala, dan pemeriksaan infeksi bakteri, bedanya dengan virus, hingga cara minum antibiotik yang tepat.
Apa Itu Infeksi Bakteri?
Infeksi bakteri adalah penyakit akibat bakteri yang masuk ke tubuh, lalu berkembang biak atau melepaskan racun (toksin) yang merusak sel. Bakteri adalah makhluk hidup bersel satu, sedangkan virus harus masuk ke sel makhluk hidup untuk memperbanyak diri.
Sebagian besar bakteri tidak berbahaya, bahkan ada yang membantu pencernaan. Infeksi terjadi bila bakteri penyebab penyakit seperti Streptococcus, Staphylococcus, atau E. coli masuk ke tubuh. Bakteri yang biasanya aman pun bisa menimbulkan infeksi bila masuk ke tempat yang salah, misalnya lewat luka.
Bagaimana Infeksi Bakteri Menular?
Jalur penularannya antara lain:
Percikan napas. Bakteri ikut keluar dalam percikan (droplet) saat orang yang sakit batuk atau bersin. Percikan ini bisa terhirup atau mendarat di mulut, hidung, dan mata.
Sentuhan dan luka. Bakteri berpindah lewat kulit, cairan tubuh, atau benda yang tercemar, lalu masuk saat tangan menyentuh wajah. Luka gores dan lecet juga membuka jalan bagi bakteri.
Makanan dan air. Makanan, air, atau susu yang belum dipasteurisasi bisa membawa bakteri seperti Salmonella dan E. coli. Jalur ini juga menjadi cara penularan tipes.
Gigitan serangga atau hewan. Nyamuk, caplak, atau hewan yang terinfeksi bisa menularkan bakteri lewat gigitan. Infeksi dari nyamuk atau caplak umumnya tidak menular antarmanusia.
Hubungan seksual dan kehamilan. Sebagian bakteri menular lewat hubungan seksual. Ibu hamil juga bisa menularkan infeksi kepada bayinya.
Jenis Infeksi Bakteri yang Sering Ditemui
Hampir semua bagian tubuh bisa terkena infeksi bakteri.
1. Infeksi Saluran Napas
Radang tenggorokan akibat Streptococcus (strep throat) sering dialami anak-anak. Pneumonia (radang paru) akibat bakteri, tuberkulosis, dan pertusis atau batuk rejan juga termasuk di sini. Infeksi paru bisa memicu batuk berdahak, sesak, atau nyeri dada.
2. Infeksi Saluran Kemih
Sebagian besar infeksi saluran kemih (ISK) disebabkan bakteri, sering kali E. coli yang berpindah dari anus. Gejalanya perih saat buang air kecil dan lebih sering berkemih.
3. Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak
Bisul, impetigo, dan selulitis adalah contoh infeksi kulit akibat bakteri. Kulit tampak merah, bengkak, nyeri, dan kadang melepuh. Infeksi di permukaan kulit umumnya ringan, walau bakterinya sesekali bisa menyebar ke bagian tubuh lain.
4. Infeksi Saluran Cerna
Makanan yang tercemar Salmonella atau Campylobacter bisa memicu keracunan makanan (gastroenteritis). Gejala infeksi usus ini berupa diare, sakit perut, mual, dan muntah. Demam tifoid atau tipes juga termasuk infeksi bakteri yang masuk lewat saluran cerna.
5. Infeksi Telinga dan Sinus
Sebagian infeksi telinga dan sinusitis disebabkan bakteri, misalnya pneumokokus. Menurut CDC, banyak infeksi sinus dan sebagian infeksi telinga membaik tanpa antibiotik.
6. Infeksi Menular Seksual
Klamidia dan gonore adalah contoh infeksi menular seksual akibat bakteri. Keluhannya bisa berupa keluar cairan dari kelamin dan perih saat buang air kecil.
7. Sepsis sebagai Komplikasi
Sepsis adalah reaksi tubuh yang berat terhadap infeksi, yang bisa merusak organ dan mengancam nyawa. Kondisi ini bisa berawal dari infeksi di aliran darah (bakteremia). Tandanya antara lain demam tinggi, lemas berat, banyak berkeringat, dan tekanan darah rendah.
Gejala Infeksi Bakteri yang Umum Muncul
Gejala umum infeksi bakteri adalah demam, menggigil, lelah, dan sakit kepala. Keluhan ini sering disertai gejala khas sesuai lokasinya, seperti diare, batuk, atau perih saat berkemih.
Gejala yang sama bisa muncul pada infeksi virus, sehingga keluhan saja belum cukup untuk menentukan penyebabnya.
Infeksi Bakteri atau Virus, Apa Bedanya?
Bakteri dan virus bisa menimbulkan penyakit yang sama, seperti pneumonia, radang selaput otak (meningitis), dan diare. Dokter menilai gejala dan hasil pemeriksaan sebelum memilih obat.
Antibiotik membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhannya. Virus tidak terpengaruh obat ini. Flu dan pilek, misalnya, disebabkan virus sehingga tidak perlu antibiotik, meski ingusnya kental kuning atau hijau. Begitu pula COVID-19.
Perbandingan di atas bersifat umum dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Siapa yang Lebih Berisiko?
Siapa pun bisa terkena infeksi bakteri, apalagi bila punya luka terbuka atau baru dioperasi. Risikonya juga naik pada kondisi berikut:
Diabetes. Orang dengan diabetes lebih mudah terkena infeksi bakteri. Kelompok ini juga lebih bergantung pada antibiotik yang masih mempan.
Daya tahan tubuh lemah. Tubuh jadi lebih sulit mengendalikan bakteri. Bicarakan risiko infeksi dan sepsis dengan dokter.
Baru memakai antibiotik. Obat ini bisa ikut membunuh bakteri baik yang biasanya menahan bakteri jahat. Akibatnya bisa muncul infeksi C. difficile di usus yang memicu diare.
Kapan Harus ke Dokter atau IGD?
Periksakan diri ke dokter bila gejala infeksi berlangsung lebih dari beberapa hari, atau tidak membaik meski sudah diobati. Segera ke IGD bila muncul tanda berikut:
Demam tinggi. Suhu mencapai sekitar 39,4°C atau lebih. Bila disertai lemas berat atau tekanan darah rendah, kondisi ini bisa menandakan sepsis.
Kebingungan. Penderita tampak linglung atau berperilaku tidak seperti biasa. Perubahan ini bisa muncul pada meningitis.
Leher kaku. Leher sulit ditekuk, apalagi bila disertai sakit kepala, mual, atau muntah. Kombinasi ini mengarah ke meningitis.
Sesak napas. Napas terasa berat atau pendek, kadang disertai nyeri dada. Keluhan ini bisa muncul pada infeksi paru dan jantung.
Cara Dokter Memastikan Penyebab Infeksi
Dokter memulai dengan menanyakan keluhan dan memeriksa fisik. Tidak semua infeksi perlu tes laboratorium. Bila dibutuhkan, dokter bisa meminta:
Tes darah. Tes darah lengkap menghitung sel darah putih (leukosit), sedangkan CRP (C-reactive protein) menandai peradangan. Hasilnya menunjukkan arah infeksi, walau belum memastikan penyebabnya bakteri.
Kultur dan tes cepat. Sampel darah, urine, dahak, tinja, atau jaringan dibiakkan untuk menumbuhkan bakteri penyebabnya, lalu uji kepekaan membantu memilih antibiotik yang masih mempan. Tes cepat, pewarnaan Gram, atau PCR bisa mendeteksi kuman tertentu dalam waktu lebih singkat.
Pencitraan. Bila infeksi dicurigai ada di paru, otak, atau organ dalam, dokter bisa meminta rontgen, USG, CT scan, atau MRI. Gambarnya memperlihatkan tanda infeksi.
Pemeriksaan Hematologi Lengkap di Bumame
Saat tubuh melawan infeksi, jumlah dan jenis sel darah putih bisa berubah, dan dokter membaca pola ini untuk menilai arah infeksi walau belum memastikan bakteri sebagai penyebabnya.
Di Bumame, pemeriksaan Hematologi Lengkap memuat hitung sel darah putih bersama hemoglobin, sel darah merah, dan trombosit. Tes lanjutan seperti CRP dan kultur diputuskan dokter. CRP Kuantitatif juga tersedia di Bumame. Bila muncul tanda bahaya, IGD tetap menjadi tujuan pertama. Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Pengobatan dan Aturan Minum Antibiotik
Sebagian infeksi bakteri ringan bisa sembuh karena dilawan sistem kekebalan tubuh. Bila perlu, dokter meresepkan antibiotik berupa tablet, infus, salep, atau tetes mata, serta obat penurun demam atau pereda nyeri.
Kementerian Kesehatan dan CDC menganjurkan hal berikut:
Hanya dengan resep dokter. Hindari membeli antibiotik sendiri atau mendesak dokter meresepkannya. Obat ini tidak mempan untuk virus dan jamur.
Minum teratur dan habiskan sesuai arahan. Jangan melewatkan dosis atau berhenti meski keluhan sudah mereda. Bakteri yang tersisa bisa bertahan dan menjadi kebal.
Jangan menyimpan atau berbagi. Sisa antibiotik tidak disimpan untuk sakit berikutnya dan tidak diberikan ke orang lain. Obat yang keliru bisa menunda pengobatan yang tepat dan menimbulkan efek samping seperti ruam, mual, atau diare.
Aturan ini membantu mencegah resistensi antimikroba, yaitu saat kuman tidak lagi merespons obat sehingga infeksi sulit diobati. Menurut WHO, pemakaian antibiotik yang keliru dan berlebihan termasuk pendorong utamanya. Sekitar 1 dari 6 infeksi bakteri yang dikonfirmasi laboratorium di dunia pada 2023 sudah kebal antibiotik.
Kebiasaan Sederhana untuk Mencegah Infeksi Bakteri
Banyak infeksi bakteri bisa dicegah dengan kebiasaan berikut:
Cuci tangan. Gunakan sabun dan air minimal 20 detik, atau cairan pembersih tangan beralkohol minimal 60%. Hindari menyentuh wajah dengan tangan yang belum dicuci.
Olah makanan dengan aman. Masak daging hingga matang, simpan makanan dengan benar, dan cuci buah serta sayur. Pilih susu yang sudah dipasteurisasi.
Lengkapi vaksinasi. Vaksin membantu menurunkan risiko beberapa infeksi bakteri, seperti tetanus, pertusis, difteri, serta sebagian meningitis dan pneumonia. Ikuti jadwal yang dianjurkan dokter.
Rawat luka. Bersihkan luka gores atau lecet, lalu tutup. Hindari juga berbagi barang pribadi.
Batasi penularan antarmanusia. Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, dan tetap di rumah saat sakit. Gunakan kondom saat berhubungan seksual.
Kenali Polanya dan Gunakan Antibiotik dengan Bijak
Banyak infeksi bakteri ringan pulih dengan penanganan yang tepat. Perhatikan keluhan yang tidak membaik, cari pertolongan bila ada tanda bahaya, dan minum antibiotik hanya dengan resep. Mengetahui lebih awal berarti punya lebih banyak pilihan.
Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan darah, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
MedlinePlus. Bacterial Infections. Retrieved 24 September 2026 from https://medlineplus.gov/bacterialinfections.html
World Health Organization. Antimicrobial resistance. Retrieved 24 September 2026 from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antimicrobial-resistance
Centers for Disease Control and Prevention. Healthy Habits: Antibiotic Do's and Don'ts. Retrieved 24 September 2026 from https://www.cdc.gov/antibiotic-use/about/index.html
Mayo Clinic. Bacterial vs. viral infections: How do they differ? Retrieved 24 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/infectious-diseases/expert-answers/infectious-disease/faq-20058098
Cleveland Clinic. Bacterial Infection: Causes, Symptoms & Treatment. Retrieved 24 September 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24189-bacterial-infection
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Gunakan Obat Antibiotik dengan Bijak, Cegah Resistensi. Retrieved 24 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/gunakan-obat-antibiotik-dengan-bijak-cegah-resistensi
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
Frequently Asked Question
Apa saja gejala infeksi bakteri?
Apa bedanya infeksi bakteri dan infeksi virus?
Apakah infeksi bakteri menular?
Apakah semua infeksi bakteri perlu antibiotik?
Mengapa antibiotik harus diminum sesuai resep sampai habis?
Berhenti terlalu cepat atau minum tidak teratur memberi peluang bakteri yang tersisa menjadi kebal. Akibatnya, infeksi berikutnya bisa lebih sulit diobati.
