Perubahan fisik maupun hormonal seiring bertambahnya usia merupakan hal yang wajar. Termasuk saat wanita memasuki usia paruh baya, terdapat perubahan signifikan terkait siklus menstruasi mereka dan menopause adalah puncaknya. Sebuah fase yang terasa menakutkan bagi mayoritas kaum hawa.
Apa itu Menopause?
Melansir situs Kementerian Kesehatan, menopause adalah kondisi medis di mana seorang wanita sudah tidak lagi mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut tanpa disertai penyakit atau gangguan kesehatan apapun. Berhentinya siklus haid ini menjadi tanda berakhirnya masa reproduksi seorang wanita.
Dengan kata lain, pada fase tersebut, indung telur (ovarium) sudah berhenti melepaskan sel telur untuk dibuahi setiap bulannya. Menopause bukanlah sebuah penyakit atau gangguan kesehatan, melainkan murni perubahan biologis alami seiring bertambahnya usia.
Usia Berapa Wanita Mengalami Menopause?
Sebagian besar wanita akan mengalami berhentinya siklus menstruasi pada rentang usia 45–55 tahun. Namun, pada beberapa kasus, ada yang mengalami menopause lebih awal sebelum usia 40 tahun dan juga lebih lambat di atas usia 55 tahun.
Tahapan Menopause
Menopause adalah sebuah masa transisi dengan proses panjang, bukan terjadi dalam satu malam. Berikut adalah tiga rangkaian dari perjalanan menopause pada seorang wanita.
1. Perimenopause
Tahap perimenopause umumnya terjadi sekitar 4–8 tahun sebelum siklus haid berhenti total. Pada tahap ini, indung telur (ovarium) mulai mengurangi produksi hormon kewanitaan secara drastis. Dampaknya, siklus haid tidak teratur, bisa lebih singkat, lama, deras, ataupun sedikit.
2. Menopause
Menopause adalah titik puncak saat siklus menstruasi berhenti sepenuhnya. Tepatnya, datang bulan tidak lagi datang selama 12 bulan berturut-turut. Pada titik ini, sel telur tidak lagi diproduksi, sehingga tidak mungkin terjadi proses pembuahan, apalagi kehamilan.
3. Pascamenopause
Fase pascamenopause terjadi setelah siklus menstruasi terhenti sepenuhnya. Pada tahapan ini, keluhan-keluhan yang muncul selama fase transisi sudah mereda. Namun, pada seseorang dengan produksi hormon yang tidak stabil sejak awal, tubuhnya jadi lebih rentan terserang penyakit.
Penyebab Menopause
Ada berbagai faktor alami maupun medis yang menyebabkan siklus menstruasi berhenti total pada seorang wanita, di antaranya adalah sebagai berikut.
Penurunan fungsi indung telur akibat penurunan drastis produksi hormon estrogen dan progesteron. Hal ini menyebabkan cadangan sel telur semakin menipis, sehingga siklus menstruasi dan proses pembuahan semakin jarang, bahkan terhenti total.
Kegagalan prematur indung telur (primary ovarian insufficiency) yang membuat indung telur berhenti memproduksi hormon reproduksi, sekaligus menghentikan siklus menstruasi sebelum usia 40 tahun. Penyebabnya bisa jadi akibat genetik atau penyakit autoimun.
Operasi pengangkatan rahim dan indung telur yang otomatis menghentikan siklus menstruasi secara instan tanpa melalui tahapan-tahapan menopause.
Efek samping kemoterapi atau radioterapi yang menjadi bagian dari perawatan kanker. Keduanya dapat menurunkan fungsi atau bahkan merusak total indung telur, sehingga siklus menstruasi terganggu atau terhenti total lebih awal.
Gejala Menopause
Menopause adalah kondisi yang relatif mudah terdeteksi atau dikenali oleh orang awam melalui gejala-gejala berikut ini.
Ciri haid menjelang menopause menjadi gejala yang paling jelas. Siklus menstruasi tidak teratur, mulai dari sering terlambat atau bahkan baru terjadi beberapa bulan sekali.
Pertanda fisik yang terjadi pada malam hari. Mulai dari keringat berlebih (night sweats), kesulitan tidur (insomnia), sensasi panas menjalar dari wajah ke dada, hingga jantung berdebar kencang.
Perubahan psikologis yang mencolok, dari suasana hati berubah-ubah (mood swings), mudah tersinggung, cemas, hingga kesulitan berkonsentrasi (brain fog).
Berkurangnya produksi cairan pelumas alami sehingga vagina terasa kering (vaginal dryness) yang bisa membuat hubungan intim terasa kurang nyaman dan penurunan gairah (libido).
Semua gejala di atas bisa muncul pada seseorang yang mengalami menopause, tapi bisa juga hanya beberapa. Oleh sebab itu, Anda tetap membutuhkan diagnosis dokter untuk pemeriksaan yang lebih akurat.
Diagnosis Menopause
Pada kebanyakan kasus, dokter dapat mengenali kondisi menopause hanya dengan mendengarkan keluhan pada proses wawancara (anamnesis). Namun, jika terdapat keraguan, misalnya akibat gejala muncul terlalu dini, maka pasien akan disarankan melakukan pemeriksaan berupa tes darah.
Tes ini bertujuan untuk memeriksa kadar hormon FSH untuk mengetahui apakah indung telur masih berovulasi secara normal atau tidak. Melalui pemeriksaan tersebut, dokter akan mendapat diagnosis penyebab kondisi yang Anda alami memang menopause atau gangguan reproduksi lain.
Komplikasi dan Risiko Kesehatan Jangka Panjang Akibat Menopause
Meskipun menopause adalah fase alami pada masa hidup seorang wanita, tetapi hilangnya kemampuan reproduksi total dapat mendatangkan beberapa risiko komplikasi kesehatan, seperti:
Nyeri sendi hingga pengeroposan tulang (osteoporosis) akibat kepadatan massa tulang ikut berkurang;
Gangguan penyakit kardiovaskular (jantung) akibat distribusi aliran darah yang sebelumnya dijaga hormon estrogen mengalami penurunan;
Kenaikan berat badan cukup drastis karena sistem metabolisme tubuh melambat secara alami. Lemak jadi lebih mudah menumpuk, terutama di area perut; serta
Gangguan saluran kemih akibat berkurangnya elastisitas jaringan di sekitar organ intim yang rentan memicu kondisi sulit menahan buang air kecil.
Namun, tidak semua wanita yang memasuki fase menopause berisiko mengalami komplikasi gangguan kesehatan tersebut. Biasanya, kondisi-kondisi di atas terjadi saat individu terkait abai terhadap kesehatannya sendiri karena belum bisa menerima bahwa ia sudah mencapai fase menopause.
Cara Mengatasi Gejala yang Muncul
Tidak dapat dipungkiri bahwa gejala-gejala yang muncul saat menopause adalah fase yang sangat tidak nyaman, apalagi untuk beraktivitas. Namun, Anda dapat meminimalisir tanda-tanda tersebut agar dapat menjalankan rutinitas dengan nyaman. Berikut ini tipsnya.
Mengenakan pakaian katun yang nyaman dan mengusahakan suhu tubuh maupun sekitar tetap dingin. Bisa dengan mendekat ke pendingin ruangan (AC), membawa kipas portable, hingga mengonsumsi minuman dingin. Hal ini efektif untuk menekan hawa panas yang tiba-tiba menyerang.
Meningkatkan kualitas tidur dengan menjauhi makanan ataupun minuman yang mengandung kafein. Selain itu, akukan digital detox agar tidak sibuk dengan gawai saat waktunya istirahat.
Melakukan relaksasi tubuh dan pikiran melalui yoga atau meditasi. Tujuannya untuk mengendalikan stres, kecemasan, dan gejolak emosi (mood swings).
Menjaga kelembapan area intim dengan memakai pelumas tambahan berbahan air untuk mengurangi risiko iritasi.
Cara Mencegah Risiko Penyakit Akibat Menopause
Selain mengatasi ketidaknyamanan yang muncul, pencegahan komplikasi menopause adalah langkah yang tidak kalah penting. Anda dapat melakukannya dengan cara:
Rutin berolahraga ringan seperti jalan cepat dan latihan beban untuk menjaga kesehatan jantung dan mempertahankan kepadatan tulang;
Memperbanyak konsumsi makanan tinggi kalsium dan vitamin D, seperti susu, ikan berlemak, dan sayuran hijau untuk mengurangi risiko pengeroposan tulang; serta
Kurangi asupan makanan tinggi lemak yang menyebabkan kolesterol dan obesitas atau tinggi garam yang memicu hipertensi. Kedua jenis makanan tersebut juga tidak ramah untuk jantung sehingga rentan memicu komplikasi penyakit kardiovaskular.
Memantau Kondisi Hormonal untuk Kenyamanan Pribadi
Menopause merupakan fase alami yang pasti setiap wanita alami. Namun, bukan berarti Anda hanya bisa pasrah, apalagi menerima semua ketidaknyamanan fisik maupun psikologis yang muncul. Anda dapat memantau kondisi hormonal melalui pemeriksaan MCU Hormon Wanita dari Bumame sebagai persiapan awal.
Pemeriksaan ini berfokus untuk mengukur kadar hormon yang berperan pada kelancaran siklus menstruasi, kemampuan reproduksi, dan sel kanker rahim. Hasil pemeriksaan dapat menjadi acuan dokter untuk merencanakan penanganan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun menopause adalah fase yang terjadi secara alami, tapi jika disertai beberapa kondisi darurat berikut, segera konsultasikan dengan dokter.
Perdarahan hebat hingga harus mengganti pembalut 1–2 jam sekali.
Pendarahan muncul kembali setelah siklus menstruasi berhenti total selama 12 bulan penuh.
Suhu tubuh meningkat drastis dan perubahan suasana hati terlalu ekstrem yang tidak teratasi meskipun sudah mengonsumsi obat.
Menerima Menopause adalah Proses yang Melegakan
Berakhirnya siklus menstruasi sekaligus masa reproduksi bukanlah akhir dunia. Justru, ini adalah awal dari babak kehidupan baru untuk Anda bisa bebas beraktivitas tanpa mengkhawatirkan nyeri haid, PMS, hingga derasnya menstruasi. Selama tetap menjaga kesehatan, Anda bisa semakin produktif.
Cara mewujudkan sekaligus mencegah komplikasi menopause adalah dengan melakukan pemeriksaan rutin MCU Plus Bumame. Layanan kesehatan ini memeriksa kondisi kesehatan secara menyeluruh, dari darah hingga risiko diabetes dan asam urat. Saatnya peduli pada kesehatan agar dapat hidup lebih lama!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Menopause Hanyalah Momen Bukan Momok
Hermina Hospitals — Kenali Tanda-tanda Menopause
Cleveland Clinic — Menopause: What It Is, Age, Stages, Signs & Side Effects
New York State Department of Health — Menopause
Centers for Disease Control and Prevention — Menopause, Women’s Health, and Work
Siloam Hospitals — 7 Penyakit yang Timbul Setelah Menopause, Wanita Perlu Waspada
Medscape — Menopause
Mayo Clinic — Menopause Symptoms and Causes
RS Premier Bintaro — Menopause Tidak Datang Tiba-Tiba. Ini yang Perlu Dipersiapkan Sejak Usia 40
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
Frequently Asked Question
Pada usia berapa wanita biasanya mengalami menopause?
Sebagian besar wanita mengalami menopause pada usia 45–55 tahun. Namun, menopause dapat terjadi lebih awal atau lebih lambat, tergantung kondisi masing-masing individu.
Apa saja gejala menopause yang umum dialami?
Gejala menopause dapat meliputi siklus menstruasi tidak teratur, sensasi panas mendadak, keringat malam, sulit tidur, perubahan suasana hati, kesulitan berkonsentrasi, vagina kering, dan penurunan gairah seksual. Gejala yang dialami setiap wanita dapat berbeda.
Apa saja tahapan menopause?
Tahapan menopause terdiri dari perimenopause, yaitu masa transisi ketika siklus menstruasi mulai berubah; menopause, yang ditandai tidak menstruasi selama 12 bulan berturut-turut; dan pascamenopause, yaitu periode setelah menopause.
Bagaimana cara mengatasi gejala menopause?
Keluhan dapat dikurangi dengan mengenakan pakaian nyaman, menjaga suhu tubuh tetap sejuk, memperbaiki pola tidur, melakukan relaksasi seperti yoga atau meditasi, serta menggunakan pelumas berbahan dasar air untuk membantu mengatasi vagina kering.
Apakah perdarahan setelah menopause perlu diperiksakan?
Ya. Perdarahan yang muncul kembali setelah tidak menstruasi selama 12 bulan perlu diperiksa oleh dokter untuk mengetahui penyebabnya. Pemeriksaan juga diperlukan jika perdarahan sangat banyak atau disertai keluhan yang mengkhawatirkan.
