Hasil urine rutin menulis protein negatif, tetapi dokter tetap meminta tes mikroalbumin urine. Permintaan ini kerap membuat penderita diabetes atau tekanan darah tinggi bertanya-tanya, apalagi saat tubuh terasa sehat.
Tes ini mencari kebocoran protein dalam jumlah kecil yang belum tertangkap tes urine biasa. Penyakit ginjal tahap awal umumnya tanpa gejala, sehingga hasil tes urine sering menjadi petunjuk pertama.
Berikut arti tes ini, siapa yang memerlukannya, cara menampung urine 24 jam, dan cara membaca hasilnya.
Apa Itu Mikroalbumin Urine?
Mikroalbumin urine adalah albumin dalam jumlah kecil yang ikut keluar bersama urine. Albumin merupakan protein yang banyak terdapat di dalam darah dan tidak termasuk zat sisa, sehingga ginjal yang sehat hanya meloloskan sedikit sekali, bahkan sering tidak ada.
Saat penyaring ginjal mulai rusak, albumin yang lolos bertambah. Kadar yang melebihi normal tetapi masih di bawah batas deteksi tes celup urine atau dipstick disebut mikroalbuminuria, yaitu sekitar 30 sampai 300 mg per 24 jam menurut StatPearls.
National Kidney Foundation menyebut kisaran yang setara sebagai albuminuria meningkat sedang. Albuminuria atau adanya albumin dalam urine termasuk salah satu bentuk proteinuria dan bisa menjadi tanda awal penyakit ginjal.
Dua Cara Laboratorium Melaporkan Hasilnya
Laboratorium mengukur kadar albumin dalam sampel urine dan melaporkannya dengan dua cara:
Rasio albumin terhadap kreatinin atau ACR. Kreatinin adalah zat sisa kerja otot yang dibuang ginjal dengan laju cukup stabil. Membandingkan keduanya mengoreksi urine yang pekat atau encer, sehingga sampel sekali berkemih sudah bisa dinilai.
Jumlah albumin per 24 jam. Laboratorium menghitung total albumin yang keluar selama sehari penuh dalam satuan mg/24 jam. Karena mencakup seluruh urine dalam sehari, variasinya lebih kecil dibanding sampel sekali berkemih.
Tes celup pada urinalisis baru bereaksi pada jumlah protein yang lebih besar, jadi hasil protein negatif pada urine rutin belum menyingkirkan kebocoran albumin tahap awal. Protein total juga punya nilai normal protein urin tersendiri yang dibaca berbeda.
Albumin juga sering tertukar dengan prealbumin, protein lain yang tidak dipakai untuk menilai kesehatan ginjal.
Siapa yang Perlu Memeriksakan Mikroalbumin Urine?
Tes ini umumnya menjadi bagian dari tahapan cek ginjal pada orang berisiko tinggi yang belum merasakan keluhan, antara lain:
Penderita diabetes. Diabetes termasuk penyebab umum penyakit ginjal, sehingga MedlinePlus menganjurkan tes ini setiap tahun. Rekomendasi American Diabetes Association dalam StatPearls menyebut pemeriksaan tahunan dimulai sejak diagnosis pada tipe 2 dan lima tahun setelah diagnosis pada tipe 1.
Penderita tekanan darah tinggi. Hipertensi yang berlangsung lama bisa merusak ginjal. Data Indonesian Renal Registry 2020 dalam pedoman nasional Kementerian Kesehatan mencatat penyakit ginjal hipertensi sebagai penyebab pada 35% pasien gagal ginjal tahap akhir, sementara nefropati diabetik tercatat pada 29%.
Penyakit jantung atau riwayat keluarga. Riwayat penyakit jantung turut menaikkan risiko, begitu pula keluarga dengan penyakit ginjal, diabetes, atau tekanan darah tinggi. Tanyakan kepada dokter seberapa sering Anda perlu diperiksa.
Usia lanjut, merokok, dan obesitas. MedlinePlus memasukkan usia di atas 50 tahun dan kebiasaan merokok ke dalam faktor risiko penyakit ginjal. National Kidney Foundation menganjurkan tes minimal setahun sekali bila Anda memiliki salah satu faktor risiko.
Tes yang sama juga dipakai untuk memantau penyakit ginjal yang sudah diketahui, sekali sampai empat kali atau lebih setahun.
Di Indonesia, penelitian pada 52 peserta program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) dengan diabetes tipe 2 di Brebes mendapati sekitar 4 dari 10 peserta memiliki mikroalbumin urine 30 µg/mg kreatinin atau lebih. Kadarnya berhubungan dengan HbA1c, penanda kendali gula darah. Penelitian pada 107 pasien di Samarinda tidak menemukan hubungan tersebut, tetapi keduanya menekankan perlunya memantau fungsi ginjal pada diabetes.
Persiapan Sebelum Menjalani Tes
Pengambilan sampel urine hampir tidak berisiko. Agar hasilnya mencerminkan kondisi ginjal, perhatikan hal berikut sejak sehari sebelumnya:
Hindari olahraga berat. Aktivitas fisik berat bisa menaikkan albumin urine untuk sementara. National Kidney Foundation menyarankan menghindarinya 24 jam sebelum tes.
Minum air secukupnya. Cairan yang cukup membantu mencegah tubuh kekurangan cairan. Anda juga lebih mudah berkemih saat sampel diambil.
Batasi daging bila diminta. Daging bisa memengaruhi kadar kreatinin urine. Sebagian laboratorium meminta Anda tidak makan daging sehari sebelum tes.
Sampaikan obat dan suplemen. Beberapa obat bisa memengaruhi hasil. Sampaikan obat, vitamin, dan suplemen yang rutin diminum, dan jangan menghentikannya tanpa arahan dokter.
Tiga Cara Menampung Sampel Urine
Dokter memilih cara menampung urine sesuai tujuan pemeriksaan:
Urine sewaktu. Sampel diambil sekali pada jam berapa pun, biasanya di klinik atau laboratorium. Cara ini praktis untuk skrining dan hasilnya umumnya berupa ACR.
Urine pagi atau berjangka. Sampel diambil saat bangun pagi atau setelah empat jam tidak berkemih. Pedoman nasional Kementerian Kesehatan memakai urine pertama pagi hari untuk pemeriksaan ulang ACR.
Urine 24 jam. Semua urine selama sehari penuh ditampung dalam wadah khusus. Sampel ini biasanya dipakai untuk menindaklanjuti hasil sampel tunggal yang tidak normal.
Sampel sekali berkemih umumnya diambil dengan teknik urine porsi tengah agar tidak tercemar kuman dari kulit.
Untuk urine 24 jam, buang urine pertama saat memulai dan catat jamnya. Setelah itu, tampung seluruh urine selama 24 jam berikutnya, termasuk saat bepergian, dan simpan wadah di lemari es atau kotak pendingin berisi es. Tepat di akhir 24 jam, berkemihlah sekali lagi ke dalam wadah sebagai tampungan terakhir, lalu serahkan wadah ke laboratorium.
Bagaimana Membaca Hasil Mikroalbumin Urine?
Satuan pada lembar hasil bisa berbeda, bergantung pada jenis sampel dan laboratorium. Tabel berikut merangkum kategori dari National Kidney Foundation, NHS, dan StatPearls.
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Nilai rujukan bergantung pada laboratorium dan dokter, dan ambang diagnosis ditentukan oleh dokter. Satu hasil tinggi belum cukup untuk menyimpulkan adanya penyakit ginjal.
Menurut MedlinePlus, hasil tidak normal biasanya dikonfirmasi dengan dua tes lagi dalam tiga sampai enam bulan, dan dua hasil tinggi dari tiga tes mengarah pada kemungkinan penyakit ginjal tahap awal. Pedoman nasional menyebut dua hasil positif dalam tiga bulan sebagai albuminuria persisten.
Kadar yang tinggi atau terus naik umumnya menandakan penyakit ginjal yang lebih berat dan lebih cepat memburuk, serta risiko gagal ginjal, serangan jantung, dan stroke yang lebih tinggi. Kadar ini juga bisa menandakan penyakit ginjal walau eGFR, perkiraan laju penyaringan ginjal, masih di atas 60.
Kondisi yang Bisa Menaikkan Hasil untuk Sementara
Kadar albumin urine bisa berubah dari hari ke hari. StatPearls mencatat ACR bisa bervariasi hingga 40% dalam sehari, antara lain karena massa otot, pola makan, dan asupan air. Kondisi berikut juga perlu diperhitungkan:
Demam dan infeksi. Demam, infeksi saluran kemih, infeksi gusi atau periodontitis, dan hepatitis bisa menaikkan albumin urine tanpa selalu berarti ada penyakit ginjal. Bila demam atau infeksi muncul dalam 24 jam sebelum tes, jadwal sebaiknya diatur ulang.
Darah dalam urine. Perdarahan dari saluran kemih, menstruasi, atau wasir yang berdarah bisa mengganggu hasil tes. Sampaikan kepada petugas agar waktu tes bisa disesuaikan.
Lonjakan gula darah atau tekanan darah. Kenaikan tiba-tiba dan tajam dalam 24 jam sebelum tes bisa memberi hasil positif palsu. Tes sebaiknya dijadwalkan saat kondisi lebih stabil.
Pemeriksaan Urine 24 Jam di Bumame
Karena kadar albumin naik turun sepanjang hari, urine yang ditampung 24 jam menangkap jumlah total dalam sehari, cara yang oleh StatPearls disebut standar acuan karena variasinya rendah.
Pemeriksaan Mikroalbuminuria (urine 24 jam) di Bumame mengukur parameter urine sebagai bagian dari evaluasi fungsi ginjal. Tes ini membantu mendeteksi kebocoran protein, termasuk pada tahap awal, dan mendukung pemantauan kondisi kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung. Tes tidak memerlukan puasa dan tersedia secara Walk In maupun Home Care, dengan hasil lebih dari 1x24 jam.
Untuk menanyakan wadah, cara menampung, dan jadwal, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?
Bicarakan hasil dengan dokter bila ACR Anda 30 mg/g atau lebih, atau hasilnya terus naik. Dokter biasanya melengkapinya dengan tes fungsi ginjal lain, termasuk tes darah untuk menghitung eGFR dari kadar kreatinin.
Hasil yang menetap tiga bulan atau lebih bisa menjadi tanda penyakit ginjal kronis. Pedoman nasional menganjurkan rujukan ke dokter ahli ginjal terutama bila ACR di atas 300 mg/g, eGFR di bawah 30, atau fungsi ginjal turun cepat.
Bila hasil terkonfirmasi, penanganan dimulai dengan mengendalikan gula darah dan tekanan darah lewat gaya hidup dan pengobatan. Pedoman nasional juga menyebut obat golongan penghambat ACE, ARB, dan SGLT2 inhibitor untuk memperlambat perburukan, sesuai penilaian dokter.
Periksakan diri juga bila muncul bengkak di kaki atau tangan, kencing berbusa, urine berdarah, atau sering berkemih di malam hari. Keluhan ini bisa berkaitan dengan banyak hal, termasuk berbagai penyebab gagal ginjal. Sesak napas berat perlu segera ditangani di IGD.
Pantau Ginjal Lebih Awal dengan Tes Urine Sederhana
Tes mikroalbumin urine memberi gambaran awal kerja penyaring ginjal, saat keluhan umumnya belum muncul. Bagi penderita diabetes, tekanan darah tinggi, atau yang memiliki riwayat keluarga penyakit ginjal, tes berkala membantu Anda dan dokter melangkah lebih cepat. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Untuk menjadwalkan pemeriksaan, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
Pemeriksaan tersedia di lima klinik Bumame.
Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28, Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi
Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi
Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi
Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat 11610. Senin sampai Minggu, pukul 06.00 sampai 20.00. Lihat lokasi
Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Kelapa Gading Barat, Kec. Kelapa Gading, Jakarta Utara, DKI Jakarta 14240. Senin sampai Minggu, pukul 06.00 sampai 20.00. Lihat lokasi
Pilih lokasi terdekat dari tempat Anda.
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1634/2023 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Penyakit Ginjal Kronik.
Al-Rasyid MM, Widhiyastuti E. Bhamada Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan. Hubungan HbA1c dengan Mikroalbumin Urin pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Prolanis Klinik Sehat Setia Brebes.
Kesuma S, Azahra S, Rahmah ADS. Borneo Journal of Medical Laboratory Technology. Evaluasi Kadar Kreatinin dan Mikroalbumin dengan HbA1C <6% pada Pasien Diabetes Mellitus di Samarinda.
MedlinePlus, National Library of Medicine. Microalbumin Creatinine Ratio.
National Kidney Foundation. Urine Albumin-Creatinine Ratio (uACR).
Prasad RM, Bali A, Tikaria R. StatPearls, NCBI Bookshelf. Microalbuminuria.
NHS. Chronic Kidney Disease: Diagnosis.
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apa itu mikroalbumin urine dan apa fungsinya?
Mikroalbumin urine adalah albumin, yaitu protein dalam darah, yang keluar melalui urine dalam jumlah kecil. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi kebocoran protein pada penyaring ginjal sejak dini, bahkan sebelum muncul gejala atau hasil tes urine rutin menunjukkan protein.
Berapa nilai normal mikroalbumin urine?
Hasil umumnya tergolong normal jika rasio albumin terhadap kreatinin (ACR) di bawah 30 mg/g atau albumin urine 24 jam di bawah 30 mg. Nilai rujukan dapat berbeda menurut laboratorium, sehingga hasil perlu dibaca bersama dokter.
Apa arti hasil mikroalbumin urine yang tinggi?
Hasil tinggi dapat menunjukkan kebocoran albumin dari ginjal dan menjadi petunjuk awal gangguan fungsi ginjal. Namun, olahraga berat, demam, infeksi, atau kondisi tertentu juga dapat meningkatkan kadar sementara. Dokter biasanya menyarankan pemeriksaan ulang untuk memastikan apakah peningkatan menetap.
Apa yang perlu dipersiapkan sebelum tes mikroalbumin urine?
Hindari olahraga berat selama 24 jam sebelum tes, minum air secukupnya, dan beri tahu petugas tentang obat serta suplemen yang dikonsumsi. Jika sedang demam, mengalami infeksi saluran kemih, atau menstruasi, informasikan kepada petugas karena kondisi tersebut dapat memengaruhi hasil.
Bagaimana cara menampung urine selama 24 jam untuk pemeriksaan mikroalbumin?
Buang urine pertama saat mulai dan catat waktunya. Selanjutnya, tampung seluruh urine selama 24 jam dalam wadah khusus dan simpan dalam kondisi dingin. Tepat pada akhir periode, tampung urine sekali lagi, lalu serahkan seluruh sampel ke laboratorium sesuai petunjuk petugas.
