Pernahkah merasa betis tiba-tiba terasa nyeri setelah berjalan jauh, berolahraga, atau berdiri terlalu lama? Nyeri betis semacam ini merupakan keluhan yang umum dan biasanya berhubungan dengan otot yang kelelahan, kram, atau cedera ringan. Meski begitu, nyeri di bagian belakang tungkai bawah ini umumnya disebabkan oleh gangguan lain yang perlu diperiksakan lebih lanjut.
Karena penyebabnya beragam, penting untuk memerhatikan seperti apa rasa sakit yang muncul di betis dan apakah ada keluhan lain yang menyertainya. Bagaimanapun, nyeri setelah beraktivitas fisik tentu berbeda dengan nyeri pada betis yang disertai bengkak, kulit terasa hangat, atau warna kulit yang berubah.
Penyebab Umum Nyeri Betis
Nyeri betis dapat berasal dari otot, pembuluh darah, saraf, maupun jaringan lain di sekitar tungkai kaki. Penyebab yang cukup umum antara lain kram pada otot, cedera otot, dan otot yang tertarik saat melakukan aktivitas seperti olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan.
Kram sering terjadi ketika otot berkontraksi secara tiba-tiba tanpa disengaja. Terlebih, betis termasuk salah satu bagian tubuh yang cukup sering mengalami kram. Aktivitas fisik berlebihan, kurangnya cairan, dan perubahan kadar mineral tertentu dapat ikut meningkatkan kemungkinan terjadinya kram pada otot.
Di samping itu, cedera otot juga dapat menimbulkan nyeri. Kondisi ini dapat terjadi ketika otot meregang terlalu jauh atau mengalami robekan setelah aktivitas fisik seperti berlari, melompat, atau meningkatkan intensitas olahraga terlalu cepat. Cedera yang lebih berat juga bisa menimbulkan bengkak dan memar pada otot.
Namun, tidak semua nyeri betis berasal dari gangguan pada otot. Gangguan aliran darah pada kaki, adanya iritasi saraf, varises, infeksi, hingga bekuan darah pada pembuluh vena juga dapat menyebabkan menjadi penyebab adanya rasa sakit pada betis.
Nyeri Betis Akibat Bekuan Darah (Waspada DVT)
Dalam dunia medis, salah satu penyebab nyeri betis yang perlu diwaspadai adalah deep vein thrombosis (DVT) atau biasanya disebut dengan trombosis vena dalam. Kondisi ini biasanya terjadi ketika darah membeku di pembuluh vena dalam, dan paling sering terjadi pada bagian betis di kaki.
Keluhan DVT dapat berupa nyeri atau rasa tidak nyaman pada kaki, pembengkakan, kulit terasa lebih hangat, serta kemerahan atau perubahan warna di bagian tubuh yang terdampak. Namun, DVT tidak selalu menimbulkan gejala yang jelas, sehingga dokter perlu memeriksa faktor risiko dan kondisi pasien secara menyeluruh.
Risiko DVT dapat meningkat pada orang yang lama tidak bergerak, misalnya setelah operasi atau selama menjalani perawatan tertentu. Riwayat DVT sebelumnya, kondisi kesehatan tertentu, kanker, kehamilan, serta penggunaan obat hormonal juga termasuk beberapa faktor yang dapat memengaruhi risiko terbentuknya bekuan darah.
Lebih buruk lagi, bekuan darah pada vena kaki dapat terlepas dan masuk ke paru-paru. Kondisi tersebut umumnya disebut emboli paru dan membutuhkan pertolongan medis dengan segera. Oleh karena itu, nyeri pada betis yang muncul disertai dengan pembengkakan atau perubahan warna kulit sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kram biasa.
Nyeri Betis Akibat Cedera Otot atau Kram
Nyeri betis setelah olahraga atau aktivitas fisik sering berkaitan dengan otot. Kram dapat membuat otot terasa tertarik secara tiba-tiba dan menimbulkan rasa sakit selama beberapa detik atau beberapa menit. Keluhan seperti ini sering muncul setelah otot bekerja cukup berat.
Selain kram, otot betis juga dapat mengalami strain atau cedera akibat otot meregang terlalu jauh. Kondisi ini dapat terjadi secara mendadak, misalnya ketika berlari atau melakukan gerakan berlebihan, namun juga dapat muncul akibat aktivitas yang membuat otot bekerja terus-menerus.
Cedera otot biasanya menimbulkan rasa sakit di bagian tubuh yang mengalami cedera. Sebagian orang sering kali dapat mengalami bengkak, memar, otot yang terasa lemah, hingga kesulitan berjalan. Berat-ringannya keluhan tergantung pada tingkat kerusakan yang ada di jaringan otot.
Cara Meredakan Nyeri Betis di Rumah
Penanganan untuk meredakan nyeri betis di rumah dapat dilakukan jika nyeri tergolong ringan dan penyebabnya kemungkinan hanya berasal dari kram atau penggunaan otot yang berlebihan. Istirahatkan kaki terlebih dahulu dan hindari aktivitas yang dapat memperburuk rasa sakit pada betis.
Namun, jika nyeri pada betis muncul setelah cedera otot, kamu dapat mengompres bagian yang sakit menggunakan es yang dibungkus dengan kain. Perlu diingat juga, jangan langsung menempelkan es pada kulit. Mengistirahatkan kaki dan meninggikan posisi betis juga dapat mengurangi rasa sakit dan pembengkakan.
Pada kondisi kram, jangan beraktivitas dan regangkan otot secara pelan dan perlahan. Pijatan ringan pada otot yang mengalami kram juga dapat membantu mengurangi rasa kram. Jangan lupa pastikan juga tubuh mendapatkan cairan yang cukup, terutama setelah berolahraga atau beraktivitas dalam waktu lama.
Meski begitu, beberapa cara di atas tidak selamanya cocok untuk semua kondisi nyeri betis. Jadi, jangan hanya mengandalkan perawatan di rumah jika rasa sakit tidak kunjung membaik atau muncul pembengkakan, kemerahan, kulit terasa hangat, maupun gejala lain yang mencurigakan.
Kapan Nyeri Betis Berbahaya dan Harus ke Dokter?
Nyeri betis perlu mendapat perhatian khusus jika muncul tanpa adanya penyebab yang jelas, nyeri hanya di satu kaki, atau adanya pembengkakan. Kulit tubuh yang terasa hangat atau berubah warna juga dapat menjadi tanda yang mengharuskan penderita untuk melakukan pemeriksaan, terutama jika terdapat risiko DVT.
Segera lakukan pemeriksaan medis jika nyeri atau bengkak pada betis muncul bersama dengan sesak napas, nyeri dada, batuk darah, pusing berat, atau detak jantung yang terasa sangat cepat. Gejala tersebut dapat muncul saat bekuan darah bergerak menuju paru-paru dan mengakibatkan emboli paru.
Nyeri dada memang memiliki banyak kemungkinan penyebabnya. Namun, jika nyeri pada dada muncul setelah atau bersamaan dengan keluhan pada betis yang mengarah ke DVT, jangan menunda untuk segera mencari pertolongan medis.
Pemeriksaan juga sebaiknya dilakukan jika nyeri pada betis tidak kunjung membaik, semakin berat, atau bahkan membuat kaki sulit digerakkan. Dari pemeriksaan ini, dokter nantinya dapat mencari tahu apakah nyeri betis tersebut berasal dari otot, pembuluh darah, saraf, atau penyebab yang lain.
Diagnosis Lewat Tes D-Dimer
Jika dokter mencurigai adanya bekuan darah, dokter tidak hanya melihat rasa nyeri pada betis. Dokter akan menilai semua gejala, riwayat kesehatan pasien, dan faktor risikonya, lalu memilih pemeriksaan tambahan yang disesuaikan dengan kondisi pasien.
Salah satu pemeriksaan yang dokter umumnya lakukan adalah tes D-Dimer. Tubuh menghasilkan D-Dimer ketika memecah bekuan darah. Namun, kadar D-Dimer yang tinggi tidak langsung menunjukkan bahwa seseorang mengalami DVT karena kondisi lain juga dapat menjadi penyebab meningkatnya kadar D-Dimer.
Jika gejala, faktor risiko, dan hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan adanya DVT, dokter akan menggunakan ultrasonografi untuk mencari bekuan darah yang ada di pembuluh vena. Oleh karena itu, hasil dari pemeriksaan D-Dimer tetap perlu dinilai bersamaan dengan kondisi pasien dan pemeriksaan lainnya.
Jika dokter menyarankan adanya pemeriksaan D-Dimer, Tes D-Dimer Bumame dapat menjadi salah satu pilihan pemeriksaan laboratorium. Tes ini akan mengukur kadar D-Dimer dalam darah dan mengevaluasi kondisi yang berkaitan dengan adanya pembekuan darah. Perlu diingat, tes D-Dimer bukan pengobatan dan tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memastikan adanya DVT.
Kenali Nyeri Betis dan Jangan Abaikan Tanda Bahaya
Nyeri betis sering kali berkaitan dengan kram atau cedera otot ringan. Namun, nyeri yang muncul pada betis bersamaan dengan pembengkakan, rasa hangat pada kulit tubuh, atau perubahan warna kulit perlu mendapat perhatian lebih karena dapat berkaitan dengan kondisi DVT atau deep vein thrombosis.
Jika keluhan terasa tidak normal atau muncul bersama sesak napas dan nyeri pada dada, segera cari pertolongan medis. Nantinya, dokter akan menilai penyebab nyeri dan menentukan apakah membutuhkan pemeriksaan seperti D-Dimer, ultrasonografi, atau pemeriksaan tambahan lainnya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
1. MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2025). Leg Pain
2. MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2024). Muscle Cramps
3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2025) About Venous Thromboembolism (Blood Clots)
4. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). (2022). Venous Thromboembolism Diagnosis.
5. MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2025). Muscle Strain Treatment.
6. Lim W, Le Gal G, Bates SM, et al. (2018). American Society of Hematology 2018 Guidelines for Management of Venous Thromboembolism: Diagnosis of Venous Thromboembolism.
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
.jpg&w=3840&q=75)