Pada sebagian pria, perubahan bentuk penis menjadi sedikit melengkung adalah hal yang normal. Namun, ceritanya bisa berbeda jika disertai dengan gejala medis tertentu, seperti munculnya benjolan dan nyeri. Kondisi tersebut bisa mengindikasikan adanya masalah kesehatan serius, salah satunya adalah penyakit Peyronie.
Apa Itu Penyakit Peyronie?
Peyronie disease atau penyakit Peyronie adalah kondisi saat jaringan parut yang disebut plak terbentuk pada tunica albuginea, atau selubung jaringan elastis di dalam penis. Jaringan ini memiliki peran dalam membantu penis mengembang dan kaku saat ereksi.
Saat sebagian jaringan ini kehilangan kelenturannya akibat plak, maka bisa terjadi perubahan bentuk penis menjadi melengkung. Meskipun demikian, penis yang melengkung tidak selalu mengindikasikan Peyronie.
Lantas, apakah penyakit Peyronie berbahaya?
Pada sebagian pria, kondisi ini bisa terjadi sejak lahir dan tanpa keluhan medis tertentu. Berbeda dengan kanker penis atau penyakit kelamin menular, Peyronie bukan termasuk penyakit berbahaya.
Kondisi ini justru wajib Anda curigai jika muncul pada saat dewasa atau seiring bertambahnya usia. Selain itu, jika tidak mendapatkan penanganan tepat, kondisi ini bisa mempengaruhi kehidupan seksual penderitanya.
Fase Peyronie Disease
Kondisi ini biasanya dibagi menjadi dua fase berdasarkan perkembangan gejalanya. Berikut ini penjelasannya.
1. Fase Akut
Fase akut adalah periode ketika plak dan perubahan bentuk penis masih berkembang. Di fase ini, kelengkungan bisa bertambah, panjang penis bisa berkurang, dan ereksi mungkin terasa nyeri. Fase ini umumnya berlangsung sekitar 5–18 bulan.
2. Fase Kronis
Pada fase kronis, kelengkungan dan perubahan bentuk penis cenderung sudah stabil. Rasa nyeri saat ereksi biasanya sudah berkurang atau menghilang, namun plak dan kelengkungan bisa menetap. Fase kronis ini bukan berarti penyakit telah sembuh sepenuhnya.
Penyebab Peyronie Disease
Melansir American Academy of Dermatology (AAD), penyebab pasti penyakit ini belum diketahui sepenuhnya. Namun, salah satu dugaan paling umum adalah cedera penis yang berulang, sehingga memicu proses penyembuhan jaringan secara tidak normal.
Cedera pada penis umumnya bisa terjadi saat berhubungan seksual, terutama saat penis tertekuk secara tidak sengaja. Selain itu, benturan saat olahraga atau kecelakaan juga bisa menjadi penyebab lain cedera ini.
Saat jaringan mengalami kerusakan, tubuh akan membentuk jaringan parut sebagai bagian dari penyembuhan. Pada sebagian pria, jaringan parut tersebut bisa berkembang menjadi plak yang mengurangi kelenturan penis.
Faktor Risiko Penyakit Peyronie
Tidak semua pria yang mengalami cedera penis otomatis akan mengalami Peyronie. Meski demikian, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan kemungkinan kondisi medis ini, di antaranya adalah sebagai berikut.
Pertambahan usia: Kondisi ini lebih sering ditemukan pada pria berusia 45–70 tahun. Perubahan jaringan seiring bertambahnya usia bisa mempengaruhi proses penyembuhan.
Riwayat keluarga: Pria yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit ini juga mungkin memiliki risiko lebih tinggi.
Gangguan jaringan ikat: Kondisi seperti kontraktur Dupuytren yang menyebabkan jari tangan tertarik menekuk akibat jaringan menebal memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit Peyronie.
Diabetes dan disfungsi ereksi: Kadar gula tinggi bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan saraf di area penis, sehingga mengganggu aliran darah ke penis untuk mempertahankan ereksi dan memperburuk kesehatan jaringan ikat.
Riwayat operasi prostat: Pada beberapa kasus, pria bisa mengalami kondisi ini setelah menjalani operasi kanker prostat.
Gejala Penyakit Peyronie
Gejala Peyronie disease bisa muncul secara bertahap atau secara mendadak. Keluhan atau gejala yang penderita alami juga bisa bervariasi. Adapun gejala yang paling umum muncul adalah sebagai berikut.
Penis melengkung saat ereksi: Penis bisa melengkung ke atas, ke bawah, atau ke salah satu sisi. Kelengkungan yang baru muncul saat dewasa atau semakin parah perlu mendapatkan evaluasi medis.
Benjolan atau bagian yang mengeras: Saat diraba, plak di bawah kulit penis bisa terasa seperti pita atau benjolan keras.
Nyeri pada penis: Penderita bisa merasakan rasa nyeri saat penis dalam keadaan tidak ereksi maupun ketika ereksi, terutama pada fase akut.
Panjang penis berkurang: Jaringan parut bisa membuat ukuran penis tampak lebih pendek saat ereksi.
Perubahan bentuk lainnya: Sebagian pria mengalami penyempitan di bagian tertentu yang menyebabkan penis terlihat seperti jam pasir atau memiliki lekukan.
Disfungsi ereksi: Pria mungkin kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk berhubungan seksual.
Kesulitan saat berhubungan intim: Kelengkungan yang cukup berat bisa menyebabkan penetrasi terasa nyeri atau sulit terjadi.
Diagnosis Peyronie Disease
Diagnosis penyakit Peyronie umumnya menjadi tugas dari dokter urologi, yaitu dokter yang menangani gangguan saluran kemih dan sistem reproduksi pria. Prosesnya sendiri bertujuan mengenali plak, menilai tingkat kelengkungan, serta mengetahui dampaknya terhadap fungsi ereksi. Berikut ini penjelasan selengkapnya.
1. Wawancara Medis
Dokter akan menanyakan kapan kelengkungan mulai terlihat, apakah bentuk penis berubah dari waktu ke waktu, dan apakah ada rasa nyeri atau gangguan ereksi. Selain itu, dokter bisa menanyakan riwayat cedera, operasi, penggunaan obat, dan penyakit lain dari penderita.
2. Pemeriksaan Fisik
Dokter kemudian melakukan pemeriksaan untuk menemukan plak atau bagian yang mengeras. Dalam pemeriksaan ini, dokter biasanya juga mengukur penis sebagai acuan jika perubahan bentuk penis perlu pemantauan ke depannya.
3. Dokumentasi Kelengkungan
Meminta dokumentasi kelengkungan penis juga menjadi bagian diagnosa yang sering dokter lakukan. Di sini, dokter mungkin meminta penderita untuk membawa foto penis saat ereksi yang diambil secara pribadi di rumah. Foto tersebut membantu menilai arah dan tingkat kelengkungan secara lebih akurat.
4. Pemeriksaan Tambahan Bila Diperlukan
USG penis bisa digunakan untuk melihat plak dan menilai aliran darah, terutama jika terdapat gangguan ereksi atau dokter membutuhkan informasi tambahan sebelum menentukan pengobatan. Dalam kondisi tertentu, dokter bisa memberikan obat suntik untuk menghasilkan ereksi sementara saat pemeriksaan.
Komplikasi Penyakit Peyronie
Meski tidak membahayakan nyawa, penyakit ini bisa menyebabkan beberapa komplikasi yang mempengaruhi kehidupan seksual jika tidak mendapatkan penanganan tepat. Di antaranya adalah:
Disfungsi seksual: Kelengkungan atau nyeri bisa membuat penderita sulit melakukan hubungan seksual.
Gangguan ereksi: Sebagian penderita dengan penyakit ini mengalami keluhan mempertahankan ereksi.
Pemendekan penis: Perubahan jaringan bisa menyebabkan penis tampak lebih pendek saat ereksi.
Stres dan kecemasan: Perubahan bentuk penis dan kondisi sulit berhubungan seksual juga bisa mempengaruhi kepercayaan diri dan hubungan dengan pasangan.
Kesulitan memperoleh keturunan: Penyakit ini tidak selalu mengganggu produksi sperma. Namun, kelengkungan berat bisa menyulitkan hubungan seksual, sehingga penderita bisa sulit mendapatkan keturunan.
Cara Mengobati Penyakit Peyronie
Cara mengobati penyakit Peyronie bergantung pada tingkat kelengkungan, nyeri, fungsi ereksi, dan fase penyakit. Tidak semua penderita membutuhkan tindakan medis aktif, terutama jika kelengkungan ringan dan tidak mengganggu hubungan seksual. Sedangkan pada penderita yang membutuhkannya, umumnya dokter akan melakukan beberapa hal berikut.
1. Pemantauan Berkala
Jika kelengkungan ringan, tidak nyeri, dan tidak mengganggu aktivitas seksual, dokter mungkin menyarankan pemantauan berkala. Tujuannya adalah untuk melihat apakah gejala memburuk atau tetap stabil.
2. Obat untuk Meredakan Nyeri
Dokter bisa merekomendasikan obat pereda nyeri, termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), jika penis terasa sakit atau nyeri. Obat ini berfungsi membantu mengurangi nyeri, namun tidak terbukti bisa menghilangkan plak atau meluruskan penis dengan sendirinya.
3. Suntikan pada Jaringan Plak
Dalam kondisi tertentu, dokter bisa mempertimbangkan suntikan obat langsung ke jaringan parut. Salah satu pilihan adalah kolagenase Clostridium histolyticum, yang membantu memecah komponen plak dan bisa mengurangi kelengkungan pada pasien terpilih.
4. Terapi Traksi Penis
Terapi traksi adalah jenis perawatan menggunakan alat medis yang memberi tarikan terkontrol pada penis selama durasi tertentu. Pada beberapa kasus, terapi ini bisa membantu mengurangi kelengkungan atau membatasi pemendekan penis. Jadi, hindari menarik atau membengkokkan penis sendiri dengan paksa karena tindakan tersebut justru berisiko menyebabkan cedera.
5. Operasi
Operasi bisa menjadi pilihan jika kelengkungan tidak stabil, mengganggu hubungan seksual, dan tidak membaik dengan pilihan nonbedah. Dokter biasanya akan menilai tingkat kelengkungan, panjang penis, serta fungsi ereksi sebelum menentukan prosedur. Jenis operasi yang dimaksud bisa berupa:
Penjahitan pada sisi tertentu untuk meluruskan penis;
Sayatan atau pengangkatan sebagian plak disertai pencangkokan jaringan; atau
Pemasangan implan penis pada pasien yang juga mengalami disfungsi ereksi berat.
Pencegahan Penyakit Peyronie
Karena penyebab penyakit kelamin pria ini belum sepenuhnya diketahui, belum ada cara pasti yang bisa mencegah kondisi ini. Meski demikian, dengan menjadikan cedera penis berulang sebagai dugaan faktor penyebab, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk meminimalisir risiko kondisi medis ini, di antaranya adalah:
Hindari gerakan seksual yang menyebabkan penis tertekuk atau mengalami benturan;
Gunakan pelumas yang cukup untuk mengurangi gesekan saat berhubungan intim;
Jika penis tertekuk atau mengalami cedera saat berhubungan seksual, hentikan aktivitas dan periksakan diri jika muncul nyeri, bengkak, memar, atau perubahan bentuk;
Kelola kondisi kesehatan seperti diabetes dan disfungsi melalui konsultasi, serta pemeriksaan medis rutin; serta
Jangan mencoba meluruskan penis dengan menarik atau menekannya secara paksa.
Jika terdengar bunyi seperti letupan saat cedera, kemudian timbul nyeri hebat, pembengkakan, memar, atau ereksi langsung menghilang, segera cari pertolongan medis. Gejala tersebut bisa menandakan cedera penis serius yang berbeda dari penyakit Peyronie.
Pemeriksaan Kesehatan Pria sebagai Bagian dari Persiapan Pranikah
Menjaga kesehatan reproduksi adalah bagian penting dari persiapan membangun bahtera rumah tangga. Selain mengenali perubahan pada penis, pemeriksaan kesehatan juga sebaiknya dilakukan untuk mengetahui kondisi umum dan mendeteksi sejumlah infeksi yang bisa mempengaruhi kesehatan pasangan.
Bumame bisa menjadi opsi yang memfasilitasi evaluasi medis ini. Bumame menyediakan Paket Pranikah Pria, yang mencakup pemeriksaan darah, golongan darah, HBsAg, VDRL, dan anti-HIV. Pemeriksaan ini bisa membantu mengevaluasi beberapa aspek kesehatan sebelum pernikahan, termasuk skrining infeksi tertentu.
Selain paket pemeriksaan Pranikah Pria, Bumame juga menawarkan paket Kesuburan Pria yang bisa membantu mengetahui tingkat kesuburan dan penyebab infertilitas pada pria. Paket medis ini sudah mencakup pemeriksaan LH, FSH, testosteron, prolaktin, dan urine rutin.
Kapan Harus ke Dokter?
Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter jika Anda mendapati gejala seperti perubahan bentuk penis, munculnya benjolan, atau rasa nyeri saat ereksi. Hal tersebut juga berlaku jika perubahan bentuk penis ini mulai mengganggu kehidupan seksual Anda.
Pemeriksaan dini bisa membantu memastikan penyebab munculnya kondisi ini dan menentukan pilihan penanganan sebelum keluhan semakin mengganggu. Jika perubahan bentuk penis ini terjadi secara mendadak akibat dengan bunyi letupan, nyeri hebat, memar, dan pembengkakan, segera pergi ke Unit Gawat Darurat. Karena kondisi tersebut bisa jadi menandakan cedera serius.
Kenali Perubahan Sejak Dini untuk Jaga Kesehatan Reproduksi
Kesimpulannya, penyakit Peyronie adalah kondisi terbentuknya jaringan parut di dalam penis yang menyebabkan kelengkungan, munculnya rasa nyeri, pemendekan ukuran, dan gangguan ereksi. Jika Anda mengalami kondisi ini, berkonsultasi dengan dokter menjadi langkah yang bisa dilakukan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Pada sebagian pria, perubahan bentuk penis menjadi sedikit melengkung adalah hal yang normal. Namun, ceritanya bisa berbeda jika disertai dengan gejala medis tertentu, seperti munculnya benjolan dan nyeri. Kondisi tersebut bisa mengindikasikan adanya masalah kesehatan serius, salah satunya adalah penyakit Peyronie.
Apa Itu Penyakit Peyronie?
Peyronie disease atau penyakit Peyronie adalah kondisi saat jaringan parut yang disebut plak terbentuk pada tunica albuginea, atau selubung jaringan elastis di dalam penis. Jaringan ini memiliki peran dalam membantu penis mengembang dan kaku saat ereksi.
Saat sebagian jaringan ini kehilangan kelenturannya akibat plak, maka bisa terjadi perubahan bentuk penis menjadi melengkung. Meskipun demikian, penis yang melengkung tidak selalu mengindikasikan Peyronie.
Lantas, apakah penyakit Peyronie berbahaya?
Pada sebagian pria, kondisi ini bisa terjadi sejak lahir dan tanpa keluhan medis tertentu. Berbeda dengan kanker penis atau penyakit kelamin menular, Peyronie bukan termasuk penyakit berbahaya.
Kondisi ini justru wajib Anda curigai jika muncul pada saat dewasa atau seiring bertambahnya usia. Selain itu, jika tidak mendapatkan penanganan tepat, kondisi ini bisa mempengaruhi kehidupan seksual penderitanya.
Fase Peyronie Disease
Kondisi ini biasanya dibagi menjadi dua fase berdasarkan perkembangan gejalanya. Berikut ini penjelasannya.
1. Fase Akut
Fase akut adalah periode ketika plak dan perubahan bentuk penis masih berkembang. Di fase ini, kelengkungan bisa bertambah, panjang penis bisa berkurang, dan ereksi mungkin terasa nyeri. Fase ini umumnya berlangsung sekitar 5–18 bulan.
2. Fase Kronis
Pada fase kronis, kelengkungan dan perubahan bentuk penis cenderung sudah stabil. Rasa nyeri saat ereksi biasanya sudah berkurang atau menghilang, namun plak dan kelengkungan bisa menetap. Fase kronis ini bukan berarti penyakit telah sembuh sepenuhnya.
Penyebab Peyronie Disease
Melansir American Academy of Dermatology (AAD), penyebab pasti penyakit ini belum diketahui sepenuhnya. Namun, salah satu dugaan paling umum adalah cedera penis yang berulang, sehingga memicu proses penyembuhan jaringan secara tidak normal.
Cedera pada penis umumnya bisa terjadi saat berhubungan seksual, terutama saat penis tertekuk secara tidak sengaja. Selain itu, benturan saat olahraga atau kecelakaan juga bisa menjadi penyebab lain cedera ini.
Saat jaringan mengalami kerusakan, tubuh akan membentuk jaringan parut sebagai bagian dari penyembuhan. Pada sebagian pria, jaringan parut tersebut bisa berkembang menjadi plak yang mengurangi kelenturan penis.
Faktor Risiko Penyakit Peyronie
Tidak semua pria yang mengalami cedera penis otomatis akan mengalami Peyronie. Meski demikian, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan kemungkinan kondisi medis ini, di antaranya adalah sebagai berikut.
Pertambahan usia: Kondisi ini lebih sering ditemukan pada pria berusia 45–70 tahun. Perubahan jaringan seiring bertambahnya usia bisa mempengaruhi proses penyembuhan.
Riwayat keluarga: Pria yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit ini juga mungkin memiliki risiko lebih tinggi.
Gangguan jaringan ikat: Kondisi seperti kontraktur Dupuytren yang menyebabkan jari tangan tertarik menekuk akibat jaringan menebal memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit Peyronie.
Diabetes dan disfungsi ereksi: Kadar gula tinggi bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan saraf di area penis, sehingga mengganggu aliran darah ke penis untuk mempertahankan ereksi dan memperburuk kesehatan jaringan ikat.
Riwayat operasi prostat: Pada beberapa kasus, pria bisa mengalami kondisi ini setelah menjalani operasi kanker prostat.
Gejala Penyakit Peyronie
Gejala Peyronie disease bisa muncul secara bertahap atau secara mendadak. Keluhan atau gejala yang penderita alami juga bisa bervariasi. Adapun gejala yang paling umum muncul adalah sebagai berikut.
Penis melengkung saat ereksi: Penis bisa melengkung ke atas, ke bawah, atau ke salah satu sisi. Kelengkungan yang baru muncul saat dewasa atau semakin parah perlu mendapatkan evaluasi medis.
Benjolan atau bagian yang mengeras: Saat diraba, plak di bawah kulit penis bisa terasa seperti pita atau benjolan keras.
Nyeri pada penis: Penderita bisa merasakan rasa nyeri saat penis dalam keadaan tidak ereksi maupun ketika ereksi, terutama pada fase akut.
Panjang penis berkurang: Jaringan parut bisa membuat ukuran penis tampak lebih pendek saat ereksi.
Perubahan bentuk lainnya: Sebagian pria mengalami penyempitan di bagian tertentu yang menyebabkan penis terlihat seperti jam pasir atau memiliki lekukan.
Disfungsi ereksi: Pria mungkin kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk berhubungan seksual.
Kesulitan saat berhubungan intim: Kelengkungan yang cukup berat bisa menyebabkan penetrasi terasa nyeri atau sulit terjadi.
Diagnosis Peyronie Disease
Diagnosis penyakit Peyronie umumnya menjadi tugas dari dokter urologi, yaitu dokter yang menangani gangguan saluran kemih dan sistem reproduksi pria. Prosesnya sendiri bertujuan mengenali plak, menilai tingkat kelengkungan, serta mengetahui dampaknya terhadap fungsi ereksi. Berikut ini penjelasan selengkapnya.
1. Wawancara Medis
Dokter akan menanyakan kapan kelengkungan mulai terlihat, apakah bentuk penis berubah dari waktu ke waktu, dan apakah ada rasa nyeri atau gangguan ereksi. Selain itu, dokter bisa menanyakan riwayat cedera, operasi, penggunaan obat, dan penyakit lain dari penderita.
2. Pemeriksaan Fisik
Dokter kemudian melakukan pemeriksaan untuk menemukan plak atau bagian yang mengeras. Dalam pemeriksaan ini, dokter biasanya juga mengukur penis sebagai acuan jika perubahan bentuk penis perlu pemantauan ke depannya.
3. Dokumentasi Kelengkungan
Meminta dokumentasi kelengkungan penis juga menjadi bagian diagnosa yang sering dokter lakukan. Di sini, dokter mungkin meminta penderita untuk membawa foto penis saat ereksi yang diambil secara pribadi di rumah. Foto tersebut membantu menilai arah dan tingkat kelengkungan secara lebih akurat.
4. Pemeriksaan Tambahan Bila Diperlukan
USG penis bisa digunakan untuk melihat plak dan menilai aliran darah, terutama jika terdapat gangguan ereksi atau dokter membutuhkan informasi tambahan sebelum menentukan pengobatan. Dalam kondisi tertentu, dokter bisa memberikan obat suntik untuk menghasilkan ereksi sementara saat pemeriksaan.
Komplikasi Penyakit Peyronie
Meski tidak membahayakan nyawa, penyakit ini bisa menyebabkan beberapa komplikasi yang mempengaruhi kehidupan seksual jika tidak mendapatkan penanganan tepat. Di antaranya adalah:
Disfungsi seksual: Kelengkungan atau nyeri bisa membuat penderita sulit melakukan hubungan seksual.
Gangguan ereksi: Sebagian penderita dengan penyakit ini mengalami keluhan mempertahankan ereksi.
Pemendekan penis: Perubahan jaringan bisa menyebabkan penis tampak lebih pendek saat ereksi.
Stres dan kecemasan: Perubahan bentuk penis dan kondisi sulit berhubungan seksual juga bisa mempengaruhi kepercayaan diri dan hubungan dengan pasangan.
Kesulitan memperoleh keturunan: Penyakit ini tidak selalu mengganggu produksi sperma. Namun, kelengkungan berat bisa menyulitkan hubungan seksual, sehingga penderita bisa sulit mendapatkan keturunan.
Cara Mengobati Penyakit Peyronie
Cara mengobati penyakit Peyronie bergantung pada tingkat kelengkungan, nyeri, fungsi ereksi, dan fase penyakit. Tidak semua penderita membutuhkan tindakan medis aktif, terutama jika kelengkungan ringan dan tidak mengganggu hubungan seksual. Sedangkan pada penderita yang membutuhkannya, umumnya dokter akan melakukan beberapa hal berikut.
1. Pemantauan Berkala
Jika kelengkungan ringan, tidak nyeri, dan tidak mengganggu aktivitas seksual, dokter mungkin menyarankan pemantauan berkala. Tujuannya adalah untuk melihat apakah gejala memburuk atau tetap stabil.
2. Obat untuk Meredakan Nyeri
Dokter bisa merekomendasikan obat pereda nyeri, termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), jika penis terasa sakit atau nyeri. Obat ini berfungsi membantu mengurangi nyeri, namun tidak terbukti bisa menghilangkan plak atau meluruskan penis dengan sendirinya.
3. Suntikan pada Jaringan Plak
Dalam kondisi tertentu, dokter bisa mempertimbangkan suntikan obat langsung ke jaringan parut. Salah satu pilihan adalah kolagenase Clostridium histolyticum, yang membantu memecah komponen plak dan bisa mengurangi kelengkungan pada pasien terpilih.
4. Terapi Traksi Penis
Terapi traksi adalah jenis perawatan menggunakan alat medis yang memberi tarikan terkontrol pada penis selama durasi tertentu. Pada beberapa kasus, terapi ini bisa membantu mengurangi kelengkungan atau membatasi pemendekan penis. Jadi, hindari menarik atau membengkokkan penis sendiri dengan paksa karena tindakan tersebut justru berisiko menyebabkan cedera.
5. Operasi
Operasi bisa menjadi pilihan jika kelengkungan tidak stabil, mengganggu hubungan seksual, dan tidak membaik dengan pilihan nonbedah. Dokter biasanya akan menilai tingkat kelengkungan, panjang penis, serta fungsi ereksi sebelum menentukan prosedur. Jenis operasi yang dimaksud bisa berupa:
Penjahitan pada sisi tertentu untuk meluruskan penis;
Sayatan atau pengangkatan sebagian plak disertai pencangkokan jaringan; atau
Pemasangan implan penis pada pasien yang juga mengalami disfungsi ereksi berat.
Pencegahan Penyakit Peyronie
Karena penyebab penyakit kelamin pria ini belum sepenuhnya diketahui, belum ada cara pasti yang bisa mencegah kondisi ini. Meski demikian, dengan menjadikan cedera penis berulang sebagai dugaan faktor penyebab, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk meminimalisir risiko kondisi medis ini, di antaranya adalah:
Hindari gerakan seksual yang menyebabkan penis tertekuk atau mengalami benturan;
Gunakan pelumas yang cukup untuk mengurangi gesekan saat berhubungan intim;
Jika penis tertekuk atau mengalami cedera saat berhubungan seksual, hentikan aktivitas dan periksakan diri jika muncul nyeri, bengkak, memar, atau perubahan bentuk;
Kelola kondisi kesehatan seperti diabetes dan disfungsi melalui konsultasi, serta pemeriksaan medis rutin; serta
Jangan mencoba meluruskan penis dengan menarik atau menekannya secara paksa.
Jika terdengar bunyi seperti letupan saat cedera, kemudian timbul nyeri hebat, pembengkakan, memar, atau ereksi langsung menghilang, segera cari pertolongan medis. Gejala tersebut bisa menandakan cedera penis serius yang berbeda dari penyakit Peyronie.
Pemeriksaan Kesehatan Pria sebagai Bagian dari Persiapan Pranikah
Menjaga kesehatan reproduksi adalah bagian penting dari persiapan membangun bahtera rumah tangga. Selain mengenali perubahan pada penis, pemeriksaan kesehatan juga sebaiknya dilakukan untuk mengetahui kondisi umum dan mendeteksi sejumlah infeksi yang bisa mempengaruhi kesehatan pasangan.
Bumame bisa menjadi opsi yang memfasilitasi evaluasi medis ini. Bumame menyediakan Paket Pranikah Pria, yang mencakup pemeriksaan darah, golongan darah, HBsAg, VDRL, dan anti-HIV. Pemeriksaan ini bisa membantu mengevaluasi beberapa aspek kesehatan sebelum pernikahan, termasuk skrining infeksi tertentu.
Selain paket pemeriksaan Pranikah Pria, Bumame juga menawarkan paket Kesuburan Pria yang bisa membantu mengetahui tingkat kesuburan dan penyebab infertilitas pada pria. Paket medis ini sudah mencakup pemeriksaan LH, FSH, testosteron, prolaktin, dan urine rutin.
Kapan Harus ke Dokter?
Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter jika Anda mendapati gejala seperti perubahan bentuk penis, munculnya benjolan, atau rasa nyeri saat ereksi. Hal tersebut juga berlaku jika perubahan bentuk penis ini mulai mengganggu kehidupan seksual Anda.
Pemeriksaan dini bisa membantu memastikan penyebab munculnya kondisi ini dan menentukan pilihan penanganan sebelum keluhan semakin mengganggu. Jika perubahan bentuk penis ini terjadi secara mendadak akibat dengan bunyi letupan, nyeri hebat, memar, dan pembengkakan, segera pergi ke Unit Gawat Darurat. Karena kondisi tersebut bisa jadi menandakan cedera serius.
Kenali Perubahan Sejak Dini untuk Jaga Kesehatan Reproduksi
Kesimpulannya, penyakit Peyronie adalah kondisi terbentuknya jaringan parut di dalam penis yang menyebabkan kelengkungan, munculnya rasa nyeri, pemendekan ukuran, dan gangguan ereksi. Jika Anda mengalami kondisi ini, berkonsultasi dengan dokter menjadi langkah yang bisa dilakukan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Pada sebagian pria, perubahan bentuk penis menjadi sedikit melengkung adalah hal yang normal. Namun, ceritanya bisa berbeda jika disertai dengan gejala medis tertentu, seperti munculnya benjolan dan nyeri. Kondisi tersebut bisa mengindikasikan adanya masalah kesehatan serius, salah satunya adalah penyakit Peyronie.
Apa Itu Penyakit Peyronie?
Peyronie disease atau penyakit Peyronie adalah kondisi saat jaringan parut yang disebut plak terbentuk pada tunica albuginea, atau selubung jaringan elastis di dalam penis. Jaringan ini memiliki peran dalam membantu penis mengembang dan kaku saat ereksi.
Saat sebagian jaringan ini kehilangan kelenturannya akibat plak, maka bisa terjadi perubahan bentuk penis menjadi melengkung. Meskipun demikian, penis yang melengkung tidak selalu mengindikasikan Peyronie.
Lantas, apakah penyakit Peyronie berbahaya?
Pada sebagian pria, kondisi ini bisa terjadi sejak lahir dan tanpa keluhan medis tertentu. Berbeda dengan kanker penis atau penyakit kelamin menular, Peyronie bukan termasuk penyakit berbahaya.
Kondisi ini justru wajib Anda curigai jika muncul pada saat dewasa atau seiring bertambahnya usia. Selain itu, jika tidak mendapatkan penanganan tepat, kondisi ini bisa mempengaruhi kehidupan seksual penderitanya.
Fase Peyronie Disease
Kondisi ini biasanya dibagi menjadi dua fase berdasarkan perkembangan gejalanya. Berikut ini penjelasannya.
1. Fase Akut
Fase akut adalah periode ketika plak dan perubahan bentuk penis masih berkembang. Di fase ini, kelengkungan bisa bertambah, panjang penis bisa berkurang, dan ereksi mungkin terasa nyeri. Fase ini umumnya berlangsung sekitar 5–18 bulan.
2. Fase Kronis
Pada fase kronis, kelengkungan dan perubahan bentuk penis cenderung sudah stabil. Rasa nyeri saat ereksi biasanya sudah berkurang atau menghilang, namun plak dan kelengkungan bisa menetap. Fase kronis ini bukan berarti penyakit telah sembuh sepenuhnya.
Penyebab Peyronie Disease
Melansir American Academy of Dermatology (AAD), penyebab pasti penyakit ini belum diketahui sepenuhnya. Namun, salah satu dugaan paling umum adalah cedera penis yang berulang, sehingga memicu proses penyembuhan jaringan secara tidak normal.
Cedera pada penis umumnya bisa terjadi saat berhubungan seksual, terutama saat penis tertekuk secara tidak sengaja. Selain itu, benturan saat olahraga atau kecelakaan juga bisa menjadi penyebab lain cedera ini.
Saat jaringan mengalami kerusakan, tubuh akan membentuk jaringan parut sebagai bagian dari penyembuhan. Pada sebagian pria, jaringan parut tersebut bisa berkembang menjadi plak yang mengurangi kelenturan penis.
Faktor Risiko Penyakit Peyronie
Tidak semua pria yang mengalami cedera penis otomatis akan mengalami Peyronie. Meski demikian, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan kemungkinan kondisi medis ini, di antaranya adalah sebagai berikut.
Pertambahan usia: Kondisi ini lebih sering ditemukan pada pria berusia 45–70 tahun. Perubahan jaringan seiring bertambahnya usia bisa mempengaruhi proses penyembuhan.
Riwayat keluarga: Pria yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit ini juga mungkin memiliki risiko lebih tinggi.
Gangguan jaringan ikat: Kondisi seperti kontraktur Dupuytren yang menyebabkan jari tangan tertarik menekuk akibat jaringan menebal memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit Peyronie.
Diabetes dan disfungsi ereksi: Kadar gula tinggi bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan saraf di area penis, sehingga mengganggu aliran darah ke penis untuk mempertahankan ereksi dan memperburuk kesehatan jaringan ikat.
Riwayat operasi prostat: Pada beberapa kasus, pria bisa mengalami kondisi ini setelah menjalani operasi kanker prostat.
Gejala Penyakit Peyronie
Gejala Peyronie disease bisa muncul secara bertahap atau secara mendadak. Keluhan atau gejala yang penderita alami juga bisa bervariasi. Adapun gejala yang paling umum muncul adalah sebagai berikut.
Penis melengkung saat ereksi: Penis bisa melengkung ke atas, ke bawah, atau ke salah satu sisi. Kelengkungan yang baru muncul saat dewasa atau semakin parah perlu mendapatkan evaluasi medis.
Benjolan atau bagian yang mengeras: Saat diraba, plak di bawah kulit penis bisa terasa seperti pita atau benjolan keras.
Nyeri pada penis: Penderita bisa merasakan rasa nyeri saat penis dalam keadaan tidak ereksi maupun ketika ereksi, terutama pada fase akut.
Panjang penis berkurang: Jaringan parut bisa membuat ukuran penis tampak lebih pendek saat ereksi.
Perubahan bentuk lainnya: Sebagian pria mengalami penyempitan di bagian tertentu yang menyebabkan penis terlihat seperti jam pasir atau memiliki lekukan.
Disfungsi ereksi: Pria mungkin kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk berhubungan seksual.
Kesulitan saat berhubungan intim: Kelengkungan yang cukup berat bisa menyebabkan penetrasi terasa nyeri atau sulit terjadi.
Diagnosis Peyronie Disease
Diagnosis penyakit Peyronie umumnya menjadi tugas dari dokter urologi, yaitu dokter yang menangani gangguan saluran kemih dan sistem reproduksi pria. Prosesnya sendiri bertujuan mengenali plak, menilai tingkat kelengkungan, serta mengetahui dampaknya terhadap fungsi ereksi. Berikut ini penjelasan selengkapnya.
1. Wawancara Medis
Dokter akan menanyakan kapan kelengkungan mulai terlihat, apakah bentuk penis berubah dari waktu ke waktu, dan apakah ada rasa nyeri atau gangguan ereksi. Selain itu, dokter bisa menanyakan riwayat cedera, operasi, penggunaan obat, dan penyakit lain dari penderita.
2. Pemeriksaan Fisik
Dokter kemudian melakukan pemeriksaan untuk menemukan plak atau bagian yang mengeras. Dalam pemeriksaan ini, dokter biasanya juga mengukur penis sebagai acuan jika perubahan bentuk penis perlu pemantauan ke depannya.
3. Dokumentasi Kelengkungan
Meminta dokumentasi kelengkungan penis juga menjadi bagian diagnosa yang sering dokter lakukan. Di sini, dokter mungkin meminta penderita untuk membawa foto penis saat ereksi yang diambil secara pribadi di rumah. Foto tersebut membantu menilai arah dan tingkat kelengkungan secara lebih akurat.
4. Pemeriksaan Tambahan Bila Diperlukan
USG penis bisa digunakan untuk melihat plak dan menilai aliran darah, terutama jika terdapat gangguan ereksi atau dokter membutuhkan informasi tambahan sebelum menentukan pengobatan. Dalam kondisi tertentu, dokter bisa memberikan obat suntik untuk menghasilkan ereksi sementara saat pemeriksaan.
Komplikasi Penyakit Peyronie
Meski tidak membahayakan nyawa, penyakit ini bisa menyebabkan beberapa komplikasi yang mempengaruhi kehidupan seksual jika tidak mendapatkan penanganan tepat. Di antaranya adalah:
Disfungsi seksual: Kelengkungan atau nyeri bisa membuat penderita sulit melakukan hubungan seksual.
Gangguan ereksi: Sebagian penderita dengan penyakit ini mengalami keluhan mempertahankan ereksi.
Pemendekan penis: Perubahan jaringan bisa menyebabkan penis tampak lebih pendek saat ereksi.
Stres dan kecemasan: Perubahan bentuk penis dan kondisi sulit berhubungan seksual juga bisa mempengaruhi kepercayaan diri dan hubungan dengan pasangan.
Kesulitan memperoleh keturunan: Penyakit ini tidak selalu mengganggu produksi sperma. Namun, kelengkungan berat bisa menyulitkan hubungan seksual, sehingga penderita bisa sulit mendapatkan keturunan.
Cara Mengobati Penyakit Peyronie
Cara mengobati penyakit Peyronie bergantung pada tingkat kelengkungan, nyeri, fungsi ereksi, dan fase penyakit. Tidak semua penderita membutuhkan tindakan medis aktif, terutama jika kelengkungan ringan dan tidak mengganggu hubungan seksual. Sedangkan pada penderita yang membutuhkannya, umumnya dokter akan melakukan beberapa hal berikut.
1. Pemantauan Berkala
Jika kelengkungan ringan, tidak nyeri, dan tidak mengganggu aktivitas seksual, dokter mungkin menyarankan pemantauan berkala. Tujuannya adalah untuk melihat apakah gejala memburuk atau tetap stabil.
2. Obat untuk Meredakan Nyeri
Dokter bisa merekomendasikan obat pereda nyeri, termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), jika penis terasa sakit atau nyeri. Obat ini berfungsi membantu mengurangi nyeri, namun tidak terbukti bisa menghilangkan plak atau meluruskan penis dengan sendirinya.
3. Suntikan pada Jaringan Plak
Dalam kondisi tertentu, dokter bisa mempertimbangkan suntikan obat langsung ke jaringan parut. Salah satu pilihan adalah kolagenase Clostridium histolyticum, yang membantu memecah komponen plak dan bisa mengurangi kelengkungan pada pasien terpilih.
4. Terapi Traksi Penis
Terapi traksi adalah jenis perawatan menggunakan alat medis yang memberi tarikan terkontrol pada penis selama durasi tertentu. Pada beberapa kasus, terapi ini bisa membantu mengurangi kelengkungan atau membatasi pemendekan penis. Jadi, hindari menarik atau membengkokkan penis sendiri dengan paksa karena tindakan tersebut justru berisiko menyebabkan cedera.
5. Operasi
Operasi bisa menjadi pilihan jika kelengkungan tidak stabil, mengganggu hubungan seksual, dan tidak membaik dengan pilihan nonbedah. Dokter biasanya akan menilai tingkat kelengkungan, panjang penis, serta fungsi ereksi sebelum menentukan prosedur. Jenis operasi yang dimaksud bisa berupa:
Penjahitan pada sisi tertentu untuk meluruskan penis;
Sayatan atau pengangkatan sebagian plak disertai pencangkokan jaringan; atau
Pemasangan implan penis pada pasien yang juga mengalami disfungsi ereksi berat.
Pencegahan Penyakit Peyronie
Karena penyebab penyakit kelamin pria ini belum sepenuhnya diketahui, belum ada cara pasti yang bisa mencegah kondisi ini. Meski demikian, dengan menjadikan cedera penis berulang sebagai dugaan faktor penyebab, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk meminimalisir risiko kondisi medis ini, di antaranya adalah:
Hindari gerakan seksual yang menyebabkan penis tertekuk atau mengalami benturan;
Gunakan pelumas yang cukup untuk mengurangi gesekan saat berhubungan intim;
Jika penis tertekuk atau mengalami cedera saat berhubungan seksual, hentikan aktivitas dan periksakan diri jika muncul nyeri, bengkak, memar, atau perubahan bentuk;
Kelola kondisi kesehatan seperti diabetes dan disfungsi melalui konsultasi, serta pemeriksaan medis rutin; serta
Jangan mencoba meluruskan penis dengan menarik atau menekannya secara paksa.
Jika terdengar bunyi seperti letupan saat cedera, kemudian timbul nyeri hebat, pembengkakan, memar, atau ereksi langsung menghilang, segera cari pertolongan medis. Gejala tersebut bisa menandakan cedera penis serius yang berbeda dari penyakit Peyronie.
Pemeriksaan Kesehatan Pria sebagai Bagian dari Persiapan Pranikah
Menjaga kesehatan reproduksi adalah bagian penting dari persiapan membangun bahtera rumah tangga. Selain mengenali perubahan pada penis, pemeriksaan kesehatan juga sebaiknya dilakukan untuk mengetahui kondisi umum dan mendeteksi sejumlah infeksi yang bisa mempengaruhi kesehatan pasangan.
Bumame bisa menjadi opsi yang memfasilitasi evaluasi medis ini. Bumame menyediakan Paket Pranikah Pria, yang mencakup pemeriksaan darah, golongan darah, HBsAg, VDRL, dan anti-HIV. Pemeriksaan ini bisa membantu mengevaluasi beberapa aspek kesehatan sebelum pernikahan, termasuk skrining infeksi tertentu.
Selain paket pemeriksaan Pranikah Pria, Bumame juga menawarkan paket Kesuburan Pria yang bisa membantu mengetahui tingkat kesuburan dan penyebab infertilitas pada pria. Paket medis ini sudah mencakup pemeriksaan LH, FSH, testosteron, prolaktin, dan urine rutin.
Kapan Harus ke Dokter?
Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter jika Anda mendapati gejala seperti perubahan bentuk penis, munculnya benjolan, atau rasa nyeri saat ereksi. Hal tersebut juga berlaku jika perubahan bentuk penis ini mulai mengganggu kehidupan seksual Anda.
Pemeriksaan dini bisa membantu memastikan penyebab munculnya kondisi ini dan menentukan pilihan penanganan sebelum keluhan semakin mengganggu. Jika perubahan bentuk penis ini terjadi secara mendadak akibat dengan bunyi letupan, nyeri hebat, memar, dan pembengkakan, segera pergi ke Unit Gawat Darurat. Karena kondisi tersebut bisa jadi menandakan cedera serius.
Kenali Perubahan Sejak Dini untuk Jaga Kesehatan Reproduksi
Kesimpulannya, penyakit Peyronie adalah kondisi terbentuknya jaringan parut di dalam penis yang menyebabkan kelengkungan, munculnya rasa nyeri, pemendekan ukuran, dan gangguan ereksi. Jika Anda mengalami kondisi ini, berkonsultasi dengan dokter menjadi langkah yang bisa dilakukan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Clinical Guidance for Group A Streptococcal Impetigo
American Academy of Dermatology (AAD) — Impetigo: Signs and Symptoms
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — About Post-Streptococcal Glomerulonephritis
American Academy of Dermatology (AAD) — Impetigo: Diagnosis and Treatment
National Health Service (NHS) — Impetigo
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
Frequently Asked Question
Apakah penyakit Peyronie berbahaya?
Penyakit Peyronie umumnya tidak mengancam nyawa, tetapi dapat menyebabkan penis melengkung, nyeri saat ereksi, pemendekan penis, gangguan ereksi, serta kesulitan berhubungan seksual.
Apa penyebab penyakit Peyronie?
Penyebab pastinya belum diketahui sepenuhnya. Salah satu dugaan utama adalah cedera penis berulang yang memicu pembentukan jaringan parut atau plak secara tidak normal. Faktor risiko lainnya meliputi pertambahan usia, riwayat keluarga, gangguan jaringan ikat, diabetes, dan riwayat operasi prostat.
Apa saja gejala penyakit Peyronie?
Gejala penyakit Peyronie meliputi penis melengkung saat ereksi, benjolan atau bagian keras di bawah kulit penis, nyeri, ukuran penis tampak lebih pendek, perubahan bentuk menyerupai jam pasir, gangguan ereksi, dan kesulitan saat berhubungan intim.
Bagaimana cara mengobati penyakit Peyronie?
Penanganan bergantung pada tingkat kelengkungan, nyeri, fungsi ereksi, dan fase penyakit. Pilihannya meliputi pemantauan berkala, obat pereda nyeri, suntikan pada jaringan plak untuk pasien tertentu, terapi traksi penis menggunakan alat medis, atau operasi jika kelengkungan mengganggu hubungan seksual.
Kapan penderita penyakit Peyronie harus ke dokter?
Konsultasikan kepada dokter urologi jika penis mulai melengkung, muncul benjolan, terasa nyeri saat ereksi, atau perubahan bentuk mengganggu kehidupan seksual. Jika cedera disertai bunyi letupan, nyeri hebat, memar, pembengkakan, atau ereksi langsung menghilang, segera cari pertolongan medis darurat.
