Punggung yang makin bungkuk sering dianggap bagian wajar dari penuaan. Pada remaja, bahu yang membulat kerap dianggap tanda malas duduk tegak.
Lengkung punggung atas yang berlebihan bisa menandakan kifosis, dan penyebabnya berbeda di tiap usia. Kasus ringan umumnya hanya menimbulkan sedikit masalah, tetapi lengkung yang berat bisa memicu nyeri hingga gangguan napas.
Artikel ini membahas penyebab kifosis dari remaja hingga lansia, gejalanya, cara dokter memeriksanya, serta penanganan dan pencegahannya.
Apa Itu Kifosis?
Kifosis adalah lengkung tulang belakang di punggung atas yang berlebihan ke arah depan, sehingga punggung tampak membulat atau bungkuk. Punggung atas sebenarnya punya lengkung alami, yang menurut Cleveland Clinic dan Johns Hopkins berkisar 20 sampai 45 derajat. Lengkung sekitar 50 derajat atau lebih pada rontgen tergolong kifosis, dan ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.
Kondisi ini muncul saat otot dan ligamen penopang punggung teregang, atau saat sebagian ruas tulang belakang (vertebra) berbentuk seperti baji. Kifosis berbeda dengan skoliosis, yaitu lengkung tulang belakang ke arah samping, dan dengan lordosis, yaitu lengkung berlebihan ke arah dalam di punggung bawah.
Penyebab Kifosis Menurut Usia dan Jenisnya
Penyebabnya bisa berasal dari kebiasaan postur atau perubahan bentuk ruas tulang belakang.
1. Postur Tubuh yang Kurang Baik
Kifosis postural adalah jenis yang sering ditemui, biasanya mulai terlihat saat remaja dan lebih banyak pada anak perempuan. Kebiasaan duduk membungkuk atau membawa tas sekolah yang terlalu berat membuat otot dan ligamen punggung teregang. Ruas tulangnya tetap normal dan lengkungnya lentur, jarang nyeri, serta sering membaik dengan latihan.
2. Penyakit Scheuermann pada Remaja
Pada kifosis Scheuermann, beberapa ruas tulang belakang tumbuh berbentuk baji sebelum masa puber, sehingga punggung makin melengkung saat remaja. Penyebabnya belum diketahui, meski faktor keturunan diduga berperan. Lengkungnya kaku, bisa bertambah seiring pertumbuhan, dan bisa nyeri saat beraktivitas atau duduk lama.
3. Osteoporosis dan Patah Tulang pada Lansia
Pada lansia, kifosis sering terjadi karena ruas tulang belakang melemah lalu tertekan atau retak. Kondisi ini disebut fraktur kompresi, salah satu bentuk patah tulang yang mudah terjadi pada tulang keropos akibat osteoporosis. Retakan ringan bisa tanpa gejala, sehingga punggung makin bungkuk tanpa disadari.
4. Kelainan Bawaan Tulang Belakang
Kifosis kongenital atau bawaan terjadi karena ruas tulang belakang tidak terbentuk sempurna selama di dalam kandungan. Jenis ini jarang, tetapi lengkungnya bisa bertambah cepat seiring pertumbuhan anak dan lebih sering disertai gangguan saraf.
5. Cedera atau Riwayat Operasi
Cedera bisa membuat ruas tulang belakang patah dan berubah bentuk, sehingga lengkung punggung bertambah. MedlinePlus juga menyebut riwayat operasi atau penyambungan tulang belakang sebagai penyebab kifosis pada orang dewasa.
6. Penyakit Degeneratif, Infeksi, dan Kondisi Lain
Seiring usia, bantalan di antara ruas tulang belakang atau diskus makin pipih, sehingga lengkung punggung sering bertambah. MedlinePlus juga menyebut artritis tulang belakang, infeksi seperti tuberkulosis, tumor, gangguan hormon, serta penyakit saraf dan otot seperti distrofi otot dan polio sebagai penyebab lain.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Kifosis?
Beberapa kondisi berikut meningkatkan risiko kifosis:
Bertambahnya usia. StatPearls menyebut lengkung punggung mulai bertambah sejak usia 40 tahun. Lengkung berlebihan dialami sekitar 20 sampai 40 persen orang berusia 60 tahun ke atas.
Perempuan lanjut usia. Kemenkes menyebut kifosis lebih sering dialami perempuan lanjut usia. Lengkung punggung perempuan juga cenderung bertambah lebih cepat saat menopause.
Tulang keropos. Osteoporosis atau kepadatan tulang rendah termasuk faktor risiko. Mayo Clinic menyebut kondisi ini lebih sering pada perempuan lansia dan orang yang lama memakai obat kortikosteroid.
Riwayat keluarga dan kondisi genetik. Johns Hopkins menyebut riwayat kifosis dalam keluarga sebagai faktor risiko. Pada anak, kondisi seperti osteogenesis imperfecta, sindrom Ehlers-Danlos, dan sindrom Marfan juga meningkatkan risiko.
Tanda dan Gejala Kifosis
Kifosis ringan sering hanya membuat punggung tampak sedikit bungkuk. Keluhan berikut lebih mungkin muncul saat lengkungnya bertambah.
1. Punggung Atas Tampak Bungkuk
Bahu tampak membulat, dan punggung atas melengkung atau menonjol seperti punuk. Kepala bisa tampak lebih maju dibanding badan, dengan tinggi bahu atau tulang belikat kanan dan kiri yang tidak sama.
2. Nyeri, Kaku, dan Mudah Lelah
MedlinePlus menyebut nyeri di punggung tengah atau bawah sebagai keluhan yang sering muncul, disertai punggung kaku dan tubuh mudah lelah. Otot hamstring di belakang paha juga bisa terasa kencang, terutama pada penyakit Scheuermann. Karena nyeri punggung punya banyak sebab, dokter perlu membedakannya dari nyeri punggung bawah atau sakit leher belakang akibat kondisi lain.
3. Sesak Napas atau Kesemutan pada Kasus Berat
Lengkung yang berat bisa menekan rongga dada, sehingga napas terasa pendek. Tekanan pada saraf tulang belakang bisa menimbulkan kesemutan atau lemah di tungkai, gangguan keseimbangan, hingga perubahan kebiasaan buang air.
Apakah Kifosis Bisa Menimbulkan Komplikasi?
Kifosis ringan jarang menimbulkan komplikasi. Pada lengkung yang berat, nyeri bisa menetap dan menyulitkan berjalan atau bangun dari kursi. Kapasitas paru bisa berkurang, dan saluran cerna yang tertekan bisa memicu asam lambung naik atau sulit menelan. Tekanan pada saraf bisa menyebabkan tungkai lemah, bahkan kelumpuhan pada kasus berat yang tidak ditangani.
Membedakan Tiga Jenis Kifosis yang Umum
StatPearls menyebut lengkung postural lentur dan bisa lurus saat berbaring telentang, sedangkan lengkung akibat perubahan bentuk tulang cenderung kaku.
Tabel ini merangkum pola yang umum ditemui. Diagnosis tetap ditentukan oleh dokter.
Kapan Perlu Periksa ke Dokter?
Periksakan diri ke dokter bila lengkung punggung atas tampak bertambah, pada Anda maupun anak, apalagi bila disertai nyeri atau kaku. Pada lansia, punggung yang makin bungkuk sering berkaitan dengan tulang keropos, sehingga kesehatan tulang perlu ikut dinilai.
Sulit bernapas memerlukan pertolongan segera di IGD. Kesemutan, lemah di tungkai, atau perubahan kebiasaan buang air juga perlu segera diperiksakan.
Cara Dokter Memastikan Kifosis
Dokter menanyakan riwayat kesehatan, lalu memeriksa postur dengan tes membungkuk, yaitu membungkuk perlahan ke depan dengan kaki rapat agar lengkung tulang belakang terlihat jelas. Kekuatan otot, refleks, dan rasa raba juga diperiksa untuk mencari tanda gangguan saraf.
Pemeriksaan lanjutan yang bisa diminta dokter antara lain:
Rontgen tulang belakang. Foto samping sambil berdiri menjadi standar untuk mengukur sudut lengkung. Hasilnya juga menunjukkan bentuk ruas tulang.
Tes kepadatan tulang. Densitometri atau DEXA diminta bila dokter mencurigai osteoporosis. Hasilnya membantu menilai perlu tidaknya terapi penguat tulang.
MRI. Pemeriksaan ini dipilih bila ada dugaan tumor, infeksi, atau gejala saraf. Hasilnya menunjukkan apakah saraf tulang belakang tertekan.
Cek Kesehatan Tulang di Bumame
Pada usia lanjut, kifosis sering berkaitan dengan pengeroposan tulang. Kadar vitamin D dan kalsium dalam darah adalah langkah awal yang dokter minta untuk menilai kesehatan tulang, sedangkan kepadatannya diukur dengan DEXA atas rujukan dokter.
Di Bumame, Paket MCU Kesehatan Tulang berisi pemeriksaan Vitamin D 25-OH Total dan Kalsium (Ca), dengan pilihan konsultasi dokter. Dokter membaca hasilnya bersama keluhan dan pemeriksaan lain, termasuk rontgen atau DEXA bila diperlukan. Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Bagaimana Kifosis Ditangani?
Penanganan bertujuan meredakan keluhan dan mencegah lengkung bertambah, sesuai usia, jenis, dan beratnya lengkung. Pilihannya antara lain:
Pemantauan berkala. Lengkung ringan tanpa keluhan cukup dipantau lewat kunjungan rutin ke dokter. Rontgen ulang menunjukkan apakah lengkungnya bertambah.
Fisioterapi. Latihan menguatkan otot perut dan punggung, meregangkan otot paha belakang, dan memperbaiki postur. Pada kifosis postural, latihan harian sering berhasil mengurangi nyeri dan memperbaiki tampilan punggung.
Penyangga punggung (brace). Brace dipakai remaja dengan penyakit Scheuermann yang tulangnya masih tumbuh, untuk mencegah lengkung bertambah. Ambang derajat lengkung dan lama pemakaiannya ditentukan dokter.
Terapi osteoporosis. Pada lansia dengan tulang keropos, obat penguat tulang dari dokter membantu mencegah patah tulang baru. Lengkung yang sudah terbentuk umumnya menetap.
Operasi. Operasi jarang diperlukan, umumnya untuk kifosis kongenital, lengkung berat yang terus bertambah, nyeri hebat yang menetap, atau saraf terjepit. Tindakan yang umum adalah fusi tulang belakang, yaitu menyatukan beberapa ruas tulang dalam posisi lebih lurus.
Langkah Menjaga Tulang Belakang Tetap Sehat
Sebagian jenis kifosis, misalnya penyakit Scheuermann, belum bisa dicegah. Untuk jenis lain, kebiasaan berikut membantu:
Jaga postur. Duduk dan berdiri tegak mengurangi regangan pada otot punggung. Untuk buku sekolah yang berat, gunakan ransel yang kokoh atau tas beroda.
Latih otot inti. Olahraga yang menguatkan otot perut dan punggung membantu menopang tulang belakang. Pada lansia dengan tulang rapuh, StatPearls menyarankan latihan menegakkan punggung dan membatasi gerakan membungkuk, dengan panduan fisioterapis.
Rawat kesehatan tulang. MedlinePlus menyebut pencegahan dan pengobatan osteoporosis bisa mencegah banyak kasus kifosis pada lansia. Asupan kalsium dan vitamin D ikut menjaga kekuatan tulang, dan pemeriksaan vitamin D 25-OH membantu mengetahui apakah kadarnya cukup.
Kenali Penyebabnya, Rawat Tulang Belakang Sejak Dini
Penyebab punggung bungkuk berbeda di tiap usia, dari kebiasaan postur pada remaja hingga tulang keropos pada lansia. Sebagian besar kasus bisa ditangani tanpa operasi, apalagi bila dikenali lebih awal. Makin awal diketahui, makin banyak pilihan penanganan yang tersedia.
Jika ada pertanyaan seputar kesehatan tulang, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Kifosis. Retrieved 23 September 2026 from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2513/kifosis
Mayo Clinic. Kyphosis - Symptoms and causes. Retrieved 23 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/kyphosis/symptoms-causes/syc-20374205
Cleveland Clinic. Kyphosis: What It Is, Causes, Symptoms, Types & Treatment. Retrieved 23 September 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17671-kyphosis
MedlinePlus. Kyphosis. Retrieved 23 September 2026 from https://medlineplus.gov/ency/article/001240.htm
Johns Hopkins Medicine. Kyphosis. Retrieved 23 September 2026 from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/kyphosis
StatPearls, NCBI Bookshelf. Kyphosis. Retrieved 23 September 2026 from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558945/
Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna
