Rasa perih saat makan atau menyikat gigi akibat luka putih kekuningan sering kali dipicu oleh berbagai faktor penyebab sariawan di lidah. Kondisi umum ini biasanya bersifat ringan dan bisa sembuh sendiri dalam waktu satu hingga dua minggu tanpa penanganan medis khusus.
Meskipun demikian, luka yang sering kambuh atau berukuran besar patut diwaspadai karena mungkin menandakan masalah kesehatan lain yang lebih serius. Memahami pemicunya secara tepat sangat penting agar langkah pengobatan efektif dan Anda tahu kapan harus segera berkonsultasi dengan dokter.
Apa Itu Sariawan di Lidah?
Sariawan atau stomatitis adalah luka nyeri pada jaringan lunak mulut yang tidak menular. Bentuknya bulat keputihan dengan tepi kemerahan. Gangguan ini umumnya dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus. Proses pemulihan total biasanya berlangsung dalam waktu satu hingga dua minggu.
Berbagai faktor pemicu utama penyebab sariawan di lidah atau bagian mulut sangatlah beragam. Mulai dari luka akibat tergigit, alergi makanan, hingga faktor kekurangan nutrisi penting. Selain itu, kondisi stres emosional serta perubahan hormon tubuh juga turut memicu kemunculannya.
Masalah kesehatan ini sering kali kambuh kembali jika faktor pemicunya tidak dihindari. Penanganan tepat tetap diperlukan meskipun sariawan umumnya dapat membaik dengan sendirinya. Segera konsultasikan ke dokter jika keluhan tidak kunjung sembuh dalam waktu lama.
Penyebab Sariawan di Lidah
Tidak selalu mudah menentukan satu penyebab sariawan karena kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor. Pada sariawan berulang, penyebab spesifiknya terkadang tidak dapat ditemukan. Berikut daftar penyebab sariawan di lidah atau faktor yang dapat memicunya.
1. Cedera atau Iritasi pada Mulut
Sariawan dapat muncul akibat lidah yang mengalami luka entah karena tidak sengaja tergigit, terkena makanan yang terlalu keras, menyikat gigi terlalu kuat, atau mengalami gesekan dari gigi yang tajam maupun alat ortodonti.
2. Stres dan Perubahan Kondisi Tubuh
Stres, pola makan, dan riwayat keluarga dapat menjadi faktor yang memicu sariawan berulang. Meski demikian, stres tidak selalu selalu menjadi penyebab langsung pada setiap orang.
3. Kekurangan Nutrisi Tertentu
Kekurangan zat besi, folat, zinc, vitamin B1, B2, B6, dan B12 dapat berkaitan dengan terjadinya sariawan atau ulkus mulut berulang. Bila sariawan sering muncul, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut berdasarkan gejala dan riwayat kesehatan.
4. Makanan Tertentu
Makanan pedas, asam, terlalu asin, terlalu panas, atau bertekstur kasar tidak selalu menjadi penyebab utama sariawan, tetapi dapat mengiritasi luka yang sudah ada dan membuat rasa sakit semakin terasa. Karena itu, jenis makanan yang memicu keluhan dapat berbeda pada setiap orang.
5. Kondisi atau Penyakit Tertentu
Sariawan berulang dapat ditemukan bersamaan dengan sejumlah kondisi, termasuk gangguan darah, penyakit autoimun, penyakit saluran cerna tertentu, infeksi, dan gangguan sistem imun.
Karena penyebabnya beragam, sariawan yang sering kambuh sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai akibat kekurangan vitamin tanpa pemeriksaan oleh ahli kesehatan.
Gejala dan Ciri-Ciri Sariawan di Lidah
Ciri sariawan di lidah yang umum meliputi:
Luka kecil berbentuk bulat atau oval.
Bagian tengah luka berwarna putih, abu-abu, atau kekuningan.
Tepi luka tampak kemerahan.
Terasa perih atau nyeri, terutama saat makan dan minum.
Jumlah luka ada satu atau beberapa sekaligus.
Sariawan dapat mengganggu berbicara atau makan bila ukurannya cukup besar.
Sariawan ringan biasanya membaik dalam 1–2 minggu. Jenis sariawan tertentu juga dapat berukuran lebih besar atau bertahan lebih lama.
Perlu diingat bahwa tidak semua luka pada lidah merupakan sariawan. Perubahan pada mulut juga dapat disebabkan oleh infeksi jamur, cedera, peradangan, efek obat tertentu, atau kondisi lainnya.
Cara Mengobati Sariawan di Lidah
Sebagian besar sariawan ringan dapat sembuh sendiri. Perawatan biasanya ditujukan untuk mengurangi rasa nyeri dan mencegah iritasi tambahan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Menjaga kebersihan mulut dengan sikat gigi secara perlahan menggunakan sikat berbulu lembut.
Menghindari makanan yang mengiritasi. Untuk sementara, pilih makanan yang tidak terlalu pedas, asam, asin, maupun panas.
Minum cukup air karena cairan membantu menjaga mulut tetap nyaman, terutama bila mulut terasa kering.
Berkumur dengan larutan garam, karena larutan air garam dapat digunakan untuk membantu menjaga kebersihan dan meredakan ketidaknyamanan.
Menggunakan obat pereda nyeri atau obat sariawan sesuai kebutuhan. Apoteker atau dokter dapat merekomendasikan produk yang sesuai, termasuk obat topikal untuk membantu mengurangi nyeri.
Meski begitu, jangan mengoleskan bahan atau obat secara sembarangan, terutama bila sariawan berulang atau bentuk lukanya tidak biasa. Bila diperlukan, dokter dapat memberikan terapi tertentu sesuai penyebab dan tingkat keparahannya.
Pantangan Makanan saat Sariawan
Saat lidah sedang mengalami sariawan, beberapa makanan dapat membuat luka semakin perih. Untuk sementara, batasi beberapa makanan seperti berikut:
Berasa pedas.
Sangat asam, seperti makanan dengan banyak cuka atau minuman citrus.
Terlalu asin.
Sangat panas.
Bertekstur keras dan renyah yang dapat menggesek luka.
Sebagai gantinya, pilih makanan yang lebih lembut dan tidak terlalu panas untuk menjaga daya tahan tubuh tetap optimal. Hindari pantangan secara berlebihan jika makanan tersebut sebenarnya tidak menimbulkan keluhan. Tujuan utamanya adalah mengurangi iritasi sampai luka membaik.
Kapan Sariawan Perlu Diwaspadai? Kaitan dengan Diabetes dan Imunitas
Sariawan sesekali biasanya bukan tanda penyakit serius. Namun, bila penyebab sariawan di lidah dan area lain sulit diketahui atau sering muncul dan disertai keluhan lain, dokter mungkin perlu mencari faktor yang mendasarinya. Berikut detailnya.
1. Sariawan dan Diabetes
Diabetes tidak berarti setiap sariawan disebabkan oleh gula darah tinggi. Namun, kadar gula darah yang tinggi dapat memengaruhi kesehatan mulut. Diabetes dapat meningkatkan risiko mulut kering dan infeksi jamur (thrush), serta dapat memperlambat proses penyembuhan luka atau infeksi di dalam mulut.
Karena itu, seseorang dengan sariawan berulang yang juga memiliki faktor risiko diabetes dapat mendiskusikan pemeriksaan gula darah dengan dokter. Pemeriksaan tersebut bukan berarti sariawan dapat digunakan sebagai alat diagnosis diabetes secara langsung.
2. Sariawan dan Sistem Imun
Sistem imun berperan dalam kesehatan jaringan mulut. Sariawan berulang dapat ditemukan pada beberapa kondisi yang berkaitan dengan sistem imun, penyakit autoimun, gangguan darah, maupun infeksi tertentu.
Meski demikian, adanya satu sariawan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami gangguan imunitas. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan pola keluhan, apakah luka terus berulang, jumlahnya semakin banyak, penyembuhannya lama, atau disertai gejala lain.
Kapan Harus ke Dokter?
Karena penyebab sariawan di lidah dan area lain bermacam-macam, jadi pertimbangkan pemeriksaan ke dokter atau dokter gigi jika:
Sariawan tidak kunjung sembuh setelah sekitar 2–3 minggu.
Sariawan sering kambuh.
Luka berukuran sangat besar atau jumlahnya banyak.
Nyeri membuat sulit makan atau minum.
Sariawan disertai demam.
Luka mudah berdarah atau semakin membesar.
Terdapat perubahan lain pada mulut yang tidak biasa.
Muncul luka di bagian tubuh lain atau keluhan seperti diare, penurunan berat badan, atau nyeri sendi.
Sariawan yang menetap tidak otomatis berarti penyakit serius. Namun, luka pada mulut yang tidak sembuh perlu diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui.
Cek Kesehatan secara Menyeluruh untuk Kenyamanan
Sariawan umumnya dapat membaik dengan sendirinya, terutama jika dipicu oleh iritasi ringan atau faktor sementara. Namun, jika sariawan menetap, sering kambuh, atau disertai keluhan lain, pemeriksaan langsung oleh dokter atau dokter gigi tetap perlu dilakukan untuk mengetahui penyebabnya.
Selain menangani keluhan yang muncul, menjaga kesehatan secara menyeluruh juga dapat dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan berkala. Jika Anda ingin memantau kesehatan metabolik sekaligus melakukan pemeriksaan dasar, Paket Gula Darah & MCU Basic Bumame dengan harga mulai dari Rp790.000,00 layak dicoba.
Paket ini terdiri dari 13 pemeriksaan, yaitu HbA1c, glukosa puasa, hematologi lengkap, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, asam urat, kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida, dan urine lengkap.
HbA1c memberikan gambaran rata-rata kadar gula darah dalam sekitar 2–3 bulan terakhir, sedangkan glukosa puasa mengukur kadar gula darah setelah periode puasa. Pemeriksaan lainnya membantu mengevaluasi kondisi darah, fungsi hati dan ginjal, kadar lemak darah, serta urine.
Pemeriksaan kesehatan dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi tubuh untuk mengetahui penyebab sariawan di lidah atau area lain. Namun, hasilnya tetap perlu diinterpretasikan dengan mempertimbangkan kondisi dan riwayat kesehatan masing-masing.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
References:
Journal of the Irish Dental Association. (2023). Oral Ulceration - Clinical Feature.
Open Access Macedonian Journal of Medical Sciences. (2019). Oral Ulcers Presentation in Systemic Diseases: An Update.
International Journal of Oral Science. (2022). Difficult and complicated oral ulceration: an expert consensus guideline for diagnosis.
MDPI. (2026). Oral Ulcers and Associated Factors in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus: A Cross-Sectional Study in the Bangladesh Population.
National Library of Medicine. (2023). The peripheral immune cell counts and mouth ulcers: A two-sample Mendelian randomization study.
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
