Tubuh mudah lelah, siklus menstruasi berantakan, berat badan naik, hingga jerawat yang membandel merupakan problematika yang sering terjadi pada wanita. Namun, mengalaminya dalam satu waktu sekaligus tentu terasa lebih berat. Hal itu mungkin terjadi bila Anda mengidap PMOS, yang dulunya disebut PCOS.
Apa itu PMOS?
PMOS adalah istilah baru yang merupakan akronim dari Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome. Masing-masing kata di dalamnya memiliki deskripsi tersendiri, yaitu:
Polyendocrine artinya “banyak sistem kelenjar pembentuk hormon”, yang mencakup insulin, androgen, hingga reproduksi.
Metabolic merujuk pada “sistem metabolisme tubuh”, tepatnya cara sel mengelola glukosa dan energi.
Ovarian berkaitan dengan indung telur “ovarium”.
Syndrome maknanya sekumpulan gejala klinis.
Sebagai kesatuan kata, PMOS berarti gangguan keseimbangan hormon dan sistem metabolisme tubuh. Menariknya, penyakit ini hanya terjadi pada wanita dan sebelumnya telah dikenal luas sebagai PCOS (Polycystic Ovary Syndrome).
Alasan penggantian istilah tersebut adalah karena pakar kesehatan internasional merasa kata “polycystic” pada PCOS sering menimbulkan kesalahan persepsi. Banyak orang berpikir bahwa pasien mengidap kista tepat di indung telur (kista ovarium).
Padahal, hasil USG yang mirip kista pada kondisi tersebut hanyalah kumpulan kantong sel telur setengah matang yang gagal berkembang. Selain itu, fokus nama lama yang terlalu berpusat pada ovarium juga kerap membuat risiko penyakit gangguan metabolisme jadi terabaikan.
Penyebab dan Faktor Risiko PMOS
Melansir Mayo Clinic, kompleksitas gangguan kesehatan yang satu ini juga dipengaruhi oleh banyaknya faktor pemicu dan risiko, mulai dari genetik, hormon, hingga gaya hidup. Berikut ini penjelasan selengkapnya.
Resistensi insulin akibat tubuh kurang responsif terhadap hormon insulin yang mengontrol gula darah. Pankreas berusaha menjaga glukosa tubuh tetap stabil dengan memproduksi insulin, tapi justru memicu hormon androgen yang mengacaukan siklus menstruasi.
Peradangan ringan tapi berlangsung lama sehingga memicu indung telur memproduksi lebih banyak hormon androgen yang semakin memperburuk resistensi insulin. Dampaknya, tubuh jadi mudah lelah karena kadar gula darah tidak terkendali.
Faktor keturunan dari keluarga, terutama ibu dan saudara perempuan, yang memiliki riwayat gangguan PMOS.
Gaya hidup yang tidak sehat, seperti mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula, jarang berolahraga, dan kurang istirahat.
Manajemen emosional yang buruk, sehingga mudah stres dan meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap penyakit.
Gejala PMOS
Berbagai sumber ilmiah menyebutkan bahwa gejala dari gangguan hormon dan metabolisme pada wanita ini cukup bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Di antaranya adalah sebagai berikut.
Siklus menstruasi tidak teratur, misalnya jarang haid, jarak periode datang bulan lebih dari 35 hari, sampai tidak haid sama sekali (amenore).
Pertumbuhan rambut berlebihan di area tubuh yang biasanya didominasi pria, seperti di atas bibir, dagu, dada, dan bagian bawah perut.
Timbul jerawat parah dan membandel serta kulit menjadi sangat berminyak.
Rambut kepala rontok hingga mulai menipis dan mengarah pada kebotakan.
Berat badan naik drastis dan sulit turun, bahkan setelah diet ketat.
Bercak kulit gelap dan agak tebal di bagian belakang leher, ketiak, ataupun lipatan paha.
Perubahan suasana hati ekstrem (mood swings) yang memicu kelelahan fisik dan emosional, hingga kecemasan berlebih (anxiety).
Diagnosis PMOS
Diagnosis PMOS tentu tidak bisa dilakukan sembarangan. Hanya karena menunjukkan gejala-gejala di atas, tidak serta merta memastikan gangguan hormon dan metabolisme tubuh tersebut yang menjadi alasannya. Berikut adalah langkah-langkah penegakan diagnosis yang umumnya dokter lakukan.
Pemeriksaan riwayat kesehatan melalui wawancara (anamnesis) untuk mengulik siklus menstruasi, perubahan berat badan, keluhan fisik, riwayat kehamilan, dan genetik keluarga.
Pemeriksaan fisik dari pengukuran tekanan darah, berat badan, lingkar pinggang, serta kulit dan rambut untuk memeriksa ciri kelebihan androgen.
Pemeriksaan laboratorium, terutama tes hormon, seperti pemeriksaan AMH, karena ketidakstabilan hormon menjadi salah satu faktor pemicu utama.
USG panggul dan transvaginal untuk memeriksa struktur indung telur dan ketebalan lapisan rahim.
Jika kriteria utama haid tidak teratur, hormon androgen berlebih, dan banyak kantong kecil di indung telur terpenuhi, maka diagnosis PMOS bisa ditegakkan.
Komplikasi PMOS
Ketika diagnosis sudah terkonfirmasi tapi pasien tidak lekas mendapatkan penanganan medis yang tepat, gangguan kesehatan ini bisa memicu berbagai komplikasi, seperti:
Diabetes, akibat lonjakan kadar gula darah yang tidak terkendali;
Penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah seperti hipertensi, jantung koroner, hingga stroke;
Gangguan kesuburan karena jarang terjadi proses pelepasan sel telur, sehingga pembuahan alami juga sulit terjadi;
Penebalan lapisan rahim yang meningkatkan ancaman kanker serviks;
Gangguan fungsi hati akibat penumpukan lemak berlebih pada organ hati; dan
Kesulitan tidur (insomnia) hingga gangguan tidur (sleep apnea) atau terhentinya napas sejenak saat tidur.
Cara Mencegah dan Mengatasi PMOS
Gangguan hormon dan sistem metabolisme ini bisa Anda cegah dan atasi secara mandiri maupun medis. Berikut ini langkah-langkahnya.
Pencegahan dan Penanganan PMOS Mandiri
Menjaga asupan nutrisi seimbang yang kaya serat, tinggi protein tapi tanpa lemak, serta mengandung karbohidrat kompleks.
Rutin melakukan aktivitas fisik, terutama olahraga ringan seperti jogging, berenang, dan latihan beban.
Mengelola manajemen stres dengan baik melalui istirahat yang cukup dan bermeditasi.
Pencegahan dan Penanganan PMOS secara Medis
Pemberian obat untuk melancarkan siklus menstruasi dan menjaga stabilitas hormon.
Terapi obat untuk meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga gula darah dapat terkendali.
Konsumsi obat pemicu ovulasi atau pematangan sel telur, tetapi khusus untuk pasien yang tengah merencanakan program kehamilan.
Gangguan kesehatan yang satu ini memang tidak bisa sembuh total atau permanen. Meski begitu, penanganan secara mandiri dan medis sangat efektif untuk mengontrol gejala-gejala yang muncul agar tidak semakin parah atau berkembang menjadi komplikasi berbahaya.
Dampak Penggantian Nama dari PCOS
Meskipun tampak sepele, tetapi realitanya penggantian nama PCOS menjadi PMOS membawa dampak besar bagi tenaga medis maupun pasien.
Dampak bagi Tenaga Medis
Penggunaan istilah baru mendorong tenaga medis untuk memberi perawatan yang lebih menyeluruh, tidak lagi hanya fokus pada indung telur seperti sebelumnya. Kini, perawatan pada ketidakstabilan hormon dan sistem metabolisme menjadi fokus utama, berikut risiko komplikasinya seperti diabetes dan penyakit jantung.
Dampak Bagi Pasien
Pasien menjadi lebih tenang karena tidak terbebani dengan label “kista” yang identik dengan diagnosis PCOS. Sering kali, kata “kista” memicu kepanikan, apalagi bagi orang awam dan menganggapnya sebagai diagnosis mematikan. Pasien juga berkesempatan mendapatkan penanganan menyeluruh dengan perubahan istilah tersebut.
Skrining Hormon Wanita untuk Deteksi Dini
Mempertimbangkan pemicu utama PMOS adalah gangguan ketidakseimbangan hormon, maka menjalani skrining MCU Hormon Wanita Basic dari Bumame bisa menjadi langkah awal yang tepat. Layanan ini memeriksa kadar hormon ovulasi, sel telur, dan estrogen utama secara lengkap.
Manfaatnya adalah untuk memastikan penyebab siklus menstruasi tidak teratur, mendeteksi masalah kesuburan, dan juga menegakkan diagnosis Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome. Hasil laporannya dapat menjadi panduan untuk penanganan medis yang tepat sesuai kondisi Anda.
Kapan Harus ke Dokter?
Bila Anda menemukan tanda-tanda penyerta berikut, jangan menunda untuk segera berkonsultasi dengan dokter.
Pendarahan berat saat menstruasi, hingga pembalut harus diganti setiap 1–2 jam.
Haid berkepanjangan yang berlangsung lebih dari 10 hari tanpa pengurangan volume sedikitpun.
Nyeri panggul hebat yang muncul mendadak.
Rasa kehausan ekstrem, peningkatan frekuensi buang air kecil di malam hari, dan kelelahan hebat yang menjadi sinyal kuat ketidakstabilan gula darah pemicu diabetes.
Perubahan suasana hati yang terlalu drastis atau munculnya rasa cemas berlebih sampai mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan produktivitas.
Selain keterlambatan penanganan, sikap abai atau menunda-nunda meskipun sudah mendapati kondisi di atas juga dapat menyebabkan komplikasi. Tentu Anda tidak menginginkan hal tersebut sampai terjadi, bukan?
Menjaga Keseimbangan Hormon Melalui Gaya Hidup Sehat
PMOS merupakan gangguan hormon dan sistem metabolisme tubuh yang dapat memicu masalah kesuburan maupun penyakit lainnya. Namun, hal itu hanya terjadi sebagai bentuk komplikasi saat tidak mendapatkan penanganan medis segera. Selain itu, peluang pencegahan juga sangat lebar.
Anda hanya perlu menerapkan gaya hidup sehat dan melakukan skrining kesehatan rutin seperti MCU Plus dari Bumame untuk meminimalisir risiko melalui langkah deteksi dini. Kesehatan organ reproduksi merupakan investasi jangka panjang, terutama bagi wanita. Sebab itu, jaga dengan sebaik-baiknya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Natural Medicine of Denver — PMOS is the new PCOS: Why This Name Change Matters for Women’s Health
Mayo Clinic — Polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) Symptoms and causes
Cleveland Clinic — Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS)
Kosambi Maternal and Children Center (KMNC) — PCOS dengan PMOS Apakah Sama? Ini Penjelasan Lengkapnya
EMC Healthcare — PMOS pada Wanita: Penyebab Haid Tidak Teratur dan Berat Badan Sulit Turun
National Library of Medicine (NLM) — Polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS)/polycystic ovary syndrome (PCOS): current and future trends
Continental Hospitals — Mengapa PCOS Kini Disebut PMOS: Apa yang Perlu Diketahui Wanita
UCLA Health — PMOS vs. PCOS - What is the difference
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
Frequently Asked Question
Apa itu PMOS?
PMOS merupakan singkatan dari Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome, istilah yang digunakan dalam artikel untuk menggambarkan kondisi yang sebelumnya dikenal sebagai PCOS dan melibatkan aspek hormon, metabolisme, serta reproduksi.
Apa perbedaan PMOS dan PCOS?
Menurut artikel, PMOS merupakan istilah baru untuk kondisi yang sebelumnya disebut PCOS. Perubahan istilah ini bertujuan menekankan keterlibatan sistem hormon dan metabolisme, bukan hanya ovarium.
Apa saja gejala PMOS yang perlu dikenali?
Gejala yang disebutkan dalam artikel meliputi menstruasi tidak teratur, pertumbuhan rambut berlebihan, jerawat membandel, rambut kepala menipis, berat badan sulit turun, bercak kulit gelap, serta perubahan suasana hati. Gejala tersebut tidak cukup untuk memastikan diagnosis tanpa pemeriksaan medis.
Bagaimana PMOS didiagnosis dan ditangani?
Artikel menjelaskan bahwa evaluasi dapat mencakup riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, tes laboratorium, dan USG panggul sesuai kebutuhan. Penanganan dapat melibatkan perubahan gaya hidup dan obat-obatan yang ditentukan dokter berdasarkan kondisi pasien.
Apakah wanita dengan PMOS masih bisa hamil?
Ya, peluang kehamilan tetap ada. Namun, sebagian wanita mungkin mengalami gangguan ovulasi sehingga perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan kesuburan yang sesuai.
