Rasa haus setelah berolahraga atau seharian berada di bawah terik matahari memang normal. Namun, bagaimana jika rasa hausnya tidak hilang meski Anda telah banyak minum? Polidipsia adalah kondisi dengan gejala seperti itu. Jika Anda ingin tahu gejala, penyebab, hingga diagnosisnya, perhatikan penjelasan di bawah ini!
Apa Itu Polidipsia?
Polydipsia atau polidipsia adalah istilah untuk kondisi medis yang membuat seorang merasa haus berlebihan atau dorongan abnormal untuk terus minum. Anehnya, rasa haus ini bisa berlangsung selama berhari-hari hingga berbulan-bulan, tidak mereda walau sudah banyak minum.
Apa bedanya dengan rasa haus biasa? Anda pasti akan merasa keanehannya karena tubuh memiliki takaran kebutuhan cairan. Namun, polidipsia akan membuat rasanya menetap terus. Apa yang terjadi bila terus minum? Kondisi yang sering menyertai polidipsia akan muncul juga, yakni poliuria yang membuat produksi urin sangat banyak.
Gejala dan Tanda-Tanda Peringatan
Gejala utama polidipsia adalah rasa haus berlebihan yang menetap, seringkali mulut akan terasa kering juga. Selain itu, rasa ingin kencing yang sering, termasuk bangun di malam hari dengan urine yang banyak, pucat, dan encer. Di sisi lain, polydipsia karena penyakit diabetes insipidus juga bisa menyebabkan dehidrasi.
Selain itu, perhatikan lebih lanjut jika terjadi pada anak-anak. Gejalanya juga sama, banyak minta minum dan kencing. Segera cari tahu penyakit penyebabnya, sering kali ada penyakit lain. Apalagi, efeknya bisa menghambat pertumbuhan atau berat badan yang tidak mengingkat.
Untuk penyakit diabetes melitus, penderita tak hanya rasa haus. Akan ada kelelahan berlebihan, penurunan berat badan yang abnormal, dan nafsu makan meningkat. Penyebabnya adalah gula darah tinggi yang membuat ginjal membuang kelebihan glukosa lewat urine dan air ikut keluar bersama glukosa.
Terlalu banyak minum air pun bisa kadar natrium dalam darah turun atau hiponatremia. Masalah baru dengan gejala lain pun bisa muncul, seperti mual, muntah, penglihatan kabur, tremor, pusing, lemah, bingung, kehilangan koordinasi, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Perlu Anda pahami, hiponatremia adalah salah satu komplikasi serius dari polidipsia primer. Pada kasus berat, hiponatremia bisa menyebabkan kerusakan saraf permanen, koma, hingga kematian bila penanganannya tidak tepat.
Penyebab dan Faktor Risiko
Sebenarnya, tidak semua rasa haus berarti mengalami gangguan medis. Namun, ada juga penyebab yang memang butuh penanganan medis. Beberapa penyebab rasa haus dan polidipsia adalah sebagai berikut.
1. Penyebab Sementara (Paling Umum)
Banyak hal sehari-hari yang dapat menyebabkan rasa haus berlebih, misalnya banyak berkeringat, cuaca panas, olahraga berat, demam, diare, atau muntah. Makanan asin dan pedas atau kafein juga bisa membuat Anda sering buang air kecil.
Kehamilan pun bisa memicu rasa haus karena ada perubahan kebutuhan cairan dan hormon. Selain itu, beberapa pilihan obat dapat berefek mulut kering, efek diuretik (sering buang air kecil), serta obat kejiwaan juga efeknya serupa. Jadi, bukan semua kehausan adalah tanda masalah serius.
2. Diabetes Melitus
Inilah salah satu penyebab polidipsia yang perlu perhatian. Seperti yang telah dijelaskan di atas, kondisinya berkaitan dengan kelebihan glukosa yang harus dibuang melalui urine. Jadi, tubuh membuang banyak air juga.
3. Diabetes Insipidus
Hormon vasopresin dan ADH berperan membantu ginjal dalam menyimpan air. Kalau hormon ini kurang, atau ginjal tidak merespons keberadaannya, air akan terus keluar lewat urine. Ada 2 tipe utama, yaitu:
Tipe AVP deficiency terjadi ketika hipotalamus atau kelenjar pituitari tidak memproduksi cukup vasopresin. Penyebabnya bisa infeksi, operasi otak, tumor otak, cederea kepala, atau idiopatik.
Tipe AVP resistance terjadi ketika vasopresin sudah cukup, tetapi ginjal tidak merespons. Penyebabnya bisa kerusakan ginjal, kelainan bawaan, atau penggunaan obat tertentu, terutama litium.
4. Polidipsia Primer
Psychogenic polydipsia kaitannya lebih dekat dengan gangguan kejiwaan, terutama skizofrenia. Selain itu, bisa juga muncul pada gangguan bipolar, depresi psikotik, gangguan perkembangan, autisme, dan stabilitas intelektual. Sementara dipsogenic polydipsia atau primary dapat terjadi karena ada gangguan pada hipotalamus.
Ada pula polidipsia habitual, berkembangnya dari kebiasaan minum sangat banyak. Jadi, batas kebutuhan air semakin banyak juga. Namun seiring waktu, ambang rasa haus bisa menurun, saat itulah merasa perlu terus-menerus minum.
5. Penyebab Lain
Kondisi lain yang membuat cairan berpindah dari pembuluh darah ke jaringan tubuh dapat memicu haus berlebih. Contohnya seperti gangguan ginjal, penyakit hati, gagal jantung, sepsis, atau luka bakar.
Dokter biasanya juga harus mempertimbangkan kadar kalium darah, kalsium, gangguan tiroid, gangguan kelenjar adrenal, dan penyakit hormonal.
Diagnosis dan Tes
Dengan banyaknya penyebab di atas, mendiagnosis penyakit ini harus melewati beberapa tahap. Tujuan pemeriksaannya adalah mencari tahu apakah penyebabnya dari kebiasaan, salah satu penyakit tubuh, atau kondisi kejiwaan. Pemeriksaan polidipsia adalah sebagai berikut.
1. Anamnesis
Wawancara dan pemeriksaan fisik terlebih dahulu. Dokter akan menanyakan sejak kapan, konsumsinya apa saja, perubahan berat badan, nafsu makan, atau riwayat penyakit.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Setelah itu, sejumlah tes laboratorium untuk memahami kinerja organ dalam Anda:
Tes gula darah: Glukosa darah puasa, glukosa sewaktu, atau HbA1c, untuk mencari diabetes melitus.
Elektrolit darah: Terutama natrium dan kalium, untuk melihat ketidakseimbangan cairan atau hiponatremia.
Osmolalitas darah dan urine: Pengukuran konsentrasi zat terlarut dalam cairan tubuh.
Urine lengkap dan volume urine 24 jam: Untuk menilai apakah terjadi poliuria serta mendeteksi glukosa, protein, infeksi, atau kelainan ginjal.
Pemeriksaan kalsium, fungsi ginjal, dan hitung darah lengkap, untuk menyingkirkan penyebab lain seperti gangguan ginjal atau kalsium tinggi.
3. Tes Khusus
Jika hasil awal masih belum memberi jawaban, dokter bisa melanjutkan ke tes khusus lain. Salah satunya adalah uji pembatasan minum untuk membedakan antara polidipsia primer atau diabetes insipidus. Pada kasus kompleks di antara kedua kondisi tersebut, dokter juga mungkin mengukur kopeptin.
Lalu, tes desmopresin akan membantu membedakan diabetes insipidus sentral atau nefrogenik. Bila ada kecurigaan kelainan di hipotalamus atau kelenjar pituitari, CT scan atau MRI kepala akan menjadi pertimbangan.
Pilihan Pengobatan dan Perawatan
Prinsip utama pengobatan polidipsia adalah mengobati penyebab dasarnya, bukan hanya meredakan haus. Maka dari itu, terdapat beberapa metode.
Jika Dehidrasi atau Kebiasaan
Kalau penyebabnya hanyalah dehidrasi, maka solusi tepatnya adalah minum untuk mengganti cairan secara teratur. Mungkin juga bisa mengurangi kafein atau konsumsi lain yang memperparah kehilangan cairan.
Kalau polidipsia habitual, penanganannya menggunakan edukasi tentang jumlah cairan yang cukup dan pencatatan asupan minum harian.
Diabetes Melitus
Solusinya adalah pengendalian gula darah. Misalnya dengan perubahan pola makan, aktivitas fisik, obat, atau penyesuaian insulin.
Diabetes Insipidus
Pada kasus ringan, dokter mungkin hanya akan menyarankan menambah asupan air. Pada AVP deficiency, desmopressin dapat digunakan untuk meniru fungsi vasopresin dan mengurangi produksi urine berlebihan. Dan pada AVP resistance, dokter dapat meresepkan diuretik tiazida.
Psikogenik
Pendekatan utamanya adalah mengendalikan asupan cairan yang terukur dan terawasi, terutama pada pasien kejiwaan atau risiko hiponatremia. Pada psychogenic polydipsia, penanganan dapat melibatkan psikiater, psikolog, atau terapis perilaku. Tujuannya meningkatkan kesadaran jumlah minum dan mengurangi kebiasaan minum kompulsif.
Penanganan Hiponatremia
Hiponatremia berat atau gejala neurologis seperti kebingungan, kejang, atau penurunan kesadaran adalah keadaan darurat yang perlu penanganan di rumah sakit. Perawatannya mencakup pembatasan cairan dan pemberian cairan saline hipertonis di unit perawatan intensif dengan pemantauan natrium darah yang ketat.
Strategi Pencegahan
Kabar baiknya, ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu menurunkan risiko polidipsia dan komplikasinya, meski cara terbaiknya tetap bergantung pada penyebab.
Minum sesuai kebutuhan tubuh.
Batasi alkohol dan kafein.
Kelola kondisi kronis.
Periksa obat bersama dokter atau apoteker.
Pada gangguan kejiwaan atau psychogenic polydipsia, catat jumlah minum harian, libatkan keluarga, dan sampaikan perubahan gejala.
Jangan membatasi minum secara drastis tanpa pemeriksaan.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Sekarang, kita mulai sadar akan asupan cairan sehari-hari. Jika berlangsung lebih dari berhari-hari, tidak membaik meski minum, atau ada gejala lain yang mencurigakan, sebaiknya segeralah ke dokter. Selain itu, periksakan juga jika:
Haus terus-menerus meski sudah minum banyak cairan.
Sering kencing, kencing dalam jumlah sangat banyak, atau sering bangun malam untuk kencing.
Kelelahan berlebihan, penurunan berat badan tanpa sebab, nafsu makan meningkat, atau penglihatan kabur.
Urine sangat pucat dan encer dalam jumlah besar, yang dapat menandakan diabetes insipidus.
Mulut sangat kering, pusing, lemas, atau tanda dehidrasi lainnya.
Rekomendasi ini berlaku untuk dewasa yang mulai haus terus-menerus, kencing lebih sering, atau kencing sangat kecil tapi sering. Bagi anak-anak, segera evaluasikan jika kencing sudah lebih dari 10 kali sehari.
Sudah Memutuskan Langkah Anda Selanjutnya?
Rasa haus yang wajar membantu tubuh tetap seimbang, tetapi haus yang menetap perlu Anda perhatikan. Ingat! Polidipsia adalah sinyal yang bisa menandakan banyak kondisi. Jika keluhan tidak kunjung reda, Anda dapat melakukan medical check up di Bumame sangat cocok untuk solusi mendeteksi gejala sakit sejak dini.
Meski tidak bisa mengobati polidipsia secara langsung, hasilnya dapat menjadi panduan untuk Anda memahami kondisi kesehatan tubuh. Serta dapat menjadi solusi untuk mencegah berbagai kemungkinan masalah penyakit sejak dini!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Cleveland Clinic — Polydipsia: Causes & Treatment
Kotagiri, R. & Kutti Sridharan, G. — Primary Polydipsia
National Health Service (NHS) — Diabetes Insipidus: Symptoms
NHS inform — Thirst
National Health Service (NHS) — Diabetes Insipidus
StatPearls — Diabetes: Treatment & Management
Cleveland Clinic — Nephrogenic Diabetes Insipidus
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apakah polidipsia termasuk penyakit?
Polidipsia bukan penyakit tersendiri, melainkan gejala berupa rasa haus berlebihan atau dorongan abnormal untuk terus minum. Kondisi ini dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang mendasari.
Apa saja penyebab polidipsia?
Polidipsia dapat disebabkan oleh dehidrasi, cuaca panas, olahraga berat, diabetes melitus, diabetes insipidus, polidipsia primer, efek obat, serta gangguan ginjal, hati, atau hormon tertentu.
Apakah rasa haus terus-menerus selalu menjadi tanda diabetes?
Tidak selalu. Diabetes merupakan salah satu penyebab polidipsia, tetapi rasa haus berlebihan juga dapat berkaitan dengan dehidrasi, diabetes insipidus, efek obat, kebiasaan minum berlebihan, atau kondisi medis lainnya.
Bagaimana polidipsia didiagnosis?
Dokter akan mengevaluasi riwayat kesehatan, pola minum, perubahan berat badan, dan gejala lain. Pemeriksaan dapat meliputi tes gula darah, elektrolit, osmolalitas darah dan urine, serta pengukuran volume urine. Tes khusus dilakukan jika diperlukan.
Kapan rasa haus berlebihan perlu diperiksakan ke dokter?
Periksakan diri jika rasa haus menetap meski sudah minum, sering buang air kecil, sering terbangun malam untuk berkemih, atau mengalami kelelahan dan penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Kebingungan, kejang, atau penurunan kesadaran memerlukan pertolongan medis segera.
