Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

TBC Tulang Belakang: Gejala dan Pengobatan
Kembali ke Artikel & Berita

TBC Tulang Belakang: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

SBAOthers

Nyeri punggung bagian bawah yang muncul berulang hingga menjalar ke leher sering dianggap sebagai akibat duduk terlalu lama, salah posisi, atau kelelahan setelah beraktivitas. Padahal, jika nyeri tidak kunjung membaik dan disertai gejala lain, kondisi seperti TBC tulang belakang juga perlu diwaspadai.

Apa Itu TBC Tulang Belakang?

Tuberkulosis (TBC) tulang belakang, yang juga dikenal penyakit Pott, adalah kondisi peradangan kronis pada torakal dan lumbal (punggung bawah) akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Bakteri ini muncul dari organ lain yang sebelumnya terkena TBC, misalnya paru-paru, kemudian membentuk koloni dan ikut mengalir bersama darah melalui jalur hematogen lalu menginfeksi organ lainnya, yakni tulang belakang. Perluasan bakteri ini memicu reaktivasi infeksi yang pernah muncul akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh.

TBC tulang belakang tergolong berbahaya karena bakteri menyebar ke bagian tubuh lain kemudian memicu peradangan yang merusak struktur tulang vertebrata (leher sampai tulang ekor) dan cakram intervertebralis (bantalan tulang rawan pada tulang belakang). Apabila tidak segera mendapat penanganan tepat, TBC ini dapat merusak jaringan di persendian tulang belakang sampai saraf di sekitarnya.

Penyakit Pott bisa dialami oleh siapa saja. Penelitian Universitas Airlangga menunjukkan bahwa mayoritas penderita adalah perempuan dewasa usia 26–35 tahun. Di samping itu, penyakit ini juga menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan pada anak-anak, terutama mereka yang tinggal di daerah berpendapatan menengah sampai rendah.

Penyebab dan Penularan TBC Tulang Belakang

Penyebab utama jenis penyakit TBC ini adalah menyebarnya bakteri Mycobacterium tuberculosis pada paru melalui aliran darah lalu menyerang organ lainnya dan mengalami reaktivasi, sehingga merusak area tulang belakang hingga sendi.

International Journal of Infectious Diseases menunjukkan bahwa dari seluruh pasien TBC, hampir 20% di antaranya mengalami manifestasi ekstra paru, yaitu tuberkulosis yang menyerang bagian tubuh lain selain paru-paru. Sebesar 10–20% pengidap TBC ekstra paru mengalami gangguan fungsi tulang belakang.

Dari sini menunjukkan bahwa banyak kasus TBC tulang belakang berasal dari riwayat TBC paru-paru sebelumnya, baik aktif maupun tidak aktif. Pasien TBC ekstra paru bisa saja tidak mengalami gejala pernapasan karena kondisi paru-paru mereka sudah tenang dan bakterinya tidak aktif.

Akan tetapi, karena sistem kekebalan tubuh melemah, bakteri tersebut bisa aktif kembali dan menyerang organ lainnya, seperti tulang belakang. Inilah yang disebut reaktivasi bakteri TBC atau TBC laten.

Lantas, apakah penyakit TBC ini dapat menular? Secara umum, penyakit ini terjadi di organ tertutup sehingga tidak menular secara langsung. Akan tetapi, kondisinya bisa mudah menyebar akibat komplikasi TBC paru yang menular melalui bersin, batuk, atau air liur penderita.

Faktor Risiko TBC Tulang Belakang

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Kurang Asupan Nutrisi (Malnutrisi)

Tuberkulosis adalah infeksi bakteri yang erat kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh. Jika Anda kekurangan nutrisi, maka mekanisme kekebalan tubuh dapat menurun sehingga lebih rentan terhadap berbagai infeksi, termasuk bakteri Mycobacterium tuberculosis yang mudah menular ke orang lain.

2. Lingkungan dan Ekonomi

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa ketidakstabilan ekonomi dapat menghambat diagnosa dan pengobatan penyakit menular seperti TBC. Sebab, ekonomi rendah membuat masyarakat tidak mendapat pengetahuan cukup dan akses kesehatan memadai. Selain itu, berada di lingkungan padat yang tinggi kasus TBC berperan secara langsung terhadap penyebaran TBC.

3. Sistem Imun Lemah

Menurunnya sistem imun mengganggu kinerja tubuh dalam membunuh mikroba bakteri akibat berkurangnya atau tidak tercukupinya asupan gizi dengan baik. Akibatnya, penyakit menjadi semakin parah dan mengganggu penyerapan obat antituberkulosis.

4. Riwayat TBC yang Tidak Ditangani dengan Baik

Gejala TBC yang tidak tertangani dengan baik lambat laun bisa memparah kondisi pasien sehingga berujung pada komplikasi dan menularkan orang-orang sekitar.

5. Penyakit Kronis yang Membuat Sistem Imun Menurun

Penderita penyakit kronis, seperti HIV, juga rentan terkena TBC tulang belakang. Ini karena HIV menyerang sistem imun yang berperan penting membunuh virus dan bakteri dalam tubuh.

6. Merokok dan Kecanduan Alkohol

Kecanduan alkohol dan kebiasaan merokok pun mampu mengganggu sistem kekebalan tubuh dalam mengendalikan infeksi mikobakteri. Dalam sebuah penelitian, terbukti bahwa rokok menjadi faktor risiko kuat terhadap paparan TBC aktif.

Gejala TBC Tulang Belakang

Tuberkulosis tulang umumnya menyebar secara perlahan, bahkan tidak disadari sejak awal. Namun, Anda bisa memantau gejala TBC ini dengan melihat ciri-ciri sebagai berikut.

  • Nyeri punggung yang tidak biasa selama beberapa minggu hingga bulan. Nyeri ini berada di area tertentu (tulang belakang) hingga bahkan menjalar akibat saraf yang tertekan dan mengalami peradangan.

  • Tulang belakang kaku dan bengkak sampai susah untuk digerakkan. Pasien juga merasakan tulang belakang bungkuk karena bakteri berhasil merusak ruas tulang belakang dan membatasi gerakan pinggul.

  • Nyeri tulang dan sendi karena bakteri berhasil merusak jaringan dan bantalan ruas tulang. Rusaknya kekuatan tulang ini membuat saraf tertekan sehingga pasien merasakan nyeri hebat.

  • Muncul benjolan bernama cold abscess yang berisi nanah. Salah satu tandanya adalah berkurangnya rasa sakit pada peradangan, kecuali ada tekanan kuat pada area sekitar.

  • Demam dan sering berkeringat di malam hari karena sistem imun bekerja keras melawan bakteri penyebab TBC. Beberapa pasien juga mengalami dahak berdarah.

  • TBC memengaruhi nafsu makan, sehingga berat badan semakin turun akibat meningkatnya metabolisme tubuh karena sistem imun terus melawan infeksi bakteri.

Diagnosis TBC Tulang Belakang

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah berkonsultasi ke dokter dengan memberi tahu riwayat penyakit, keluhan yang dirasakan, dan perubahan fisik yang terjadi. Setelah itu, dokter akan melakukan beberapa tindakan, seperti:

  • X-ray, CT scan, atau MRI guna mendeteksi lesi tulang belakang dan jaringan di sekitarnya;

  • Pemeriksaan laboratorium yang mencakup tes laju endap darah dan mantoux (menyuntikkan cairan khusus bernama purified protein derivative); serta

  • Biopsi tulang belakang untuk mendeteksi sekaligus melihat sejauh mana tuberkulosis menginfeksi tulang belakang.

Cara Mengobati TBC Tulang Belakang

Pengobatan TBC tulang memerlukan waktu bertahap dengan menyesuaikan tingkat keparahan penyakit. Berikut adalah langkah pengobatan yang akan pasien jalani.

  • Pengobatan menggunakan antibiotik atau obat antituberkulosis, seperti isoniazid, etambutol, rifampisin, dan pirazinamid untuk membasmi virus TBC. Pengobatan ini berlangsung selama 9–18 bulan agar penyebaran tidak terjadi.

  • Terapi operatif untuk mengurangi penekanan saraf tulang belakang, komplikasi kelainan tulang, dan mengeluarkan benjolan cold abscess menggunakan metode drainage.

  • Pada kasus yang lebih parah, dokter akan melakukan pembedahan untuk mengangkat jaringan terinfeksi guna mencegah kerusakan lebih lanjut pada sumsum tulang belakang.

Komplikasi TBC Tulang Belakang Jika Tidak Ditangani

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa kondisi TBC tulang yang tidak segera ditangani bisa memicu terjadinya komplikasi neurologis, salah satunya adalah kerusakan tulang belakang bungkuk atau kifosis.

Karena bakteri ini bisa melemahkan tulang dan mengganggu saraf persendian, lama kelamaan bisa mengakibatkan kelumpuhan. TBC tulang parah juga bisa mengganggu fungsi hati dan ginjal sebagai organ utama pencernaan. Penyebaran infeksi bahkan bisa sampai ke selaput otak yang menimbulkan penyakit kronis meningitis.

Pemeriksaan Kesehatan Pendukung Penanganan TBC

TBC tulang belakang adalah penyakit kronis yang sebenarnya bisa dicegah dengan cara menghentikan penularan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis dan rutin memantau kondisi kesehatan secara menyeluruh.

Bumame menyediakan layanan MCU Plus yang membantu Anda mengetahui gambaran kesehatan secara lengkap. Mulai dari kondisi sel darah merah, sel darah putih, trombosit, serta komponen darah lainnya, memantau asam urat, kolesterol, fungsi hati, kadar gula darah, hingga kecukupan kadar vitamin D dalam tubuh.

MCU Plus sangat cocok untuk Anda yang memiliki riwayat penyakit tertentu atau berada di lingkungan rentan, seperti TBC. Anda juga bisa memilih paket Vitamin D 25-OH Total untuk memantau kekurangan vitamin D, penyakit tulang, maupun masalah penyerapan nutrisi pada usus.

Layanan spesifik Paket MCU Kesehatan Tulang mungkin juga bisa menjadi pilihan tepat untuk kesehatan tulang. Paket medical check up ini akan memantau kondisi tulang secara menyeluruh, termasuk risiko osteoporosis dan gangguan metabolisme lainnya.

Kapan Harus ke Dokter?

Anda wajib memahami gejala TBC dengan baik, terlebih apabila berada di lingkungan rentan. Apabila gejala semakin memburuk, seperti muncul demam berkepanjangan, nyeri tak tertahankan di bagian tulang belakang disertai bengkak dan kaku, sebaiknya segera datang ke dokter untuk mendapat penanganan tepat.

Cegah Penularan TBC dengan Skrining Kesehatan

Kesimpulannya, TBC tulang belakang adalah kondisi serius yang akan memengaruhi kesehatan secara keseluruhan apabila tidak segera dideteksi dan ditangani dengan baik. Skrining kesehatan adalah pilihan tepat supaya masalah kesehatan apapun lebih cepat terdeteksi dan mendapat penanganan lebih lanjut oleh tenaga medis.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Indonesian Orthopedic Association. (.n.d). Tuberculosis (TBC) Tulang Belakang.

  2. Honestdocs. (2019). Mengenal TBC Tulang: Saat Bakteri Tuberkulosis Sudah Menyebar ke Tulang.

  3. Honestdocs. (2019). TBC Tulang Belakang: Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati.

  4. Neurospine. (2021). Spinal Tuberculosis: Always Understand, Often Prevent, Sometime Cure.

  5. World Health Organization. (2026). Tuberkulosis.

  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Pentingnya Mengenali Gejala Spondilitis Tuberkulosis.

  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Pott Disease.

  8. UPT Puskesmas Perampuan “Cantik” Kabupaten Lombok Barat. (2025). TBC Tulang Belakang.

  9. Universitas Airlangga. (2019). Efek Infeksi Tuberculosis Tulang Belakang pada Sistem Saraf dan Pencernaan.

  10. UPTD Puskesmas Perawatan Jambur Lak-Lak Aceh Tenggara. (2023). Tuberkulosis (TBC), Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Penularan.

  11. International Journal of Infectious Diseases. (2010). Is Spinal Tuberculosis Contagious?

  12. BMJ Open Respiratory Research. (2017). Alcohol drinking and cigarette smoking in relation to risk of active tuberculosis: prospective cohort study.

  13. Journal of Universitas Airlangga. (2019). Karakteristik Pasien Tuberkulosis Tulang Belakang di RSUD Dr.Soetomo Surabaya.

  14. Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2025). Disrupsi Ekonomi Berdampak pada Risiko Penularan Tuberkulosis.

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apa itu TBC tulang belakang?
TBC tulang belakang atau penyakit Pott adalah infeksi Mycobacterium tuberculosis yang menyerang tulang belakang dan dapat merusak tulang, cakram intervertebralis, serta saraf di sekitarnya. 
Apa saja gejala TBC tulang belakang?
Gejalanya dapat berupa nyeri punggung berkepanjangan, tulang belakang kaku dan bengkak, nyeri tulang atau sendi, cold abscess, demam, keringat malam, serta penurunan berat badan. 
Bagaimana cara mendiagnosis TBC tulang belakang?
Diagnosis dapat dilakukan melalui pemeriksaan X-ray, CT scan atau MRI, pemeriksaan laboratorium seperti laju endap darah dan Mantoux, serta biopsi tulang belakang bila diperlukan. 
Bagaimana cara mengobati TBC tulang belakang?
Pengobatan meliputi obat antituberkulosis seperti isoniazid, etambutol, rifampisin, dan pirazinamid. Pada kondisi tertentu, pasien juga dapat memerlukan tindakan operasi untuk mengurangi tekanan saraf, mengeluarkan cold abscess, atau mengangkat jaringan yang terinfeksi. 
Apakah TBC tulang belakang menular?
TBC tulang belakang yang berada pada organ tertutup umumnya tidak menular secara langsung, tetapi penularan dapat terjadi jika pasien juga mengalami TBC paru yang menyebar melalui batuk, bersin, atau air liur.