Pernahkah Anda merasa tubuh tetap sehat meski jarang memeriksakan diri? Beberapa gangguan kesehatan sering kali tidak menimbulkan keluhan di awal. Salah satunya adalah varises esofagus, kondisi pembuluh darah membengkak yang berkembang diam-diam. Namun jika dibiarkan, kondisi ini berisiko memicu komplikasi serius.
Kondisi ini erat kaitannya dengan gangguan aliran darah menuju organ hati. Pembuluh darah kerongkongan yang membesar berisiko pecah dan memicu perdarahan hebat. Namun, pemeriksaan rutin dan penanganan dokter dapat menekan risiko tersebut.
Lalu, bagaimana gejala dan kapan harus memeriksakan diri? Berikut ulasannya!
Apa Itu Varises Esofagus?
Varises esofagus atau varises kerongkongan adalah kondisi ketika pembuluh darah vena di kerongkongan membesar akibat hipertensi portal, yaitu meningkatnya tekanan darah pada vena porta yang membawa darah dari organ pencernaan menuju hati.
Hambatan aliran darah menuju hati memaksa darah mencari jalur alternatif, sehingga pembuluh darah berdinding tipis di kerongkongan melebar dan berisiko pecah serta memicu perdarahan
Berbeda dengan varises kaki, varises kerongkongan ini tidak terlihat dari luar, tidak menimbulkan rasa sakit, dan tidak selalu berdarah, namun tetap memerlukan pemantauan rutin pada penderita penyakit hati kronis karena berpotensi mengarah ke komplikasi serius.
Gejala Varises Esofagus
Salah satu tantangan dalam mengenali varises esofagus adalah tidak adanya gejala khas pada tahap awal. Seseorang dapat menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa tanpa menyadari adanya pembesaran pembuluh darah di kerongkongannya. Berikut beberapa tanda yang dapat menyertai kondisi ini:
Kulit dan bagian putih mata menguning.
Perut membesar akibat penumpukan cairan.
Kaki atau pergelangan kaki membengkak.
Tubuh mudah lelah atau terasa lemas.
Rasa tidak nyaman di bagian kanan atas perut.
Mudah mengalami memar atau perdarahan.
Gejala varises esofagus sering kali baru terlihat ketika terjadi perdarahan atau ketika penyakit hati yang mendasarinya sudah menimbulkan keluhan. Pembuluh darah yang pecah dapat menyebabkan perdarahan mendadak.
Meskipun gejala tersebut tidak selalu menandakan varises esofagus, penderita penyakit hati yang mengalaminya tetap membutuhkan pemeriksaan medis segera. Waspadai tanda-tanda berikut:
Muntah darah berwarna merah segar atau menyerupai bubuk kopi.
Buang air besar berwarna hitam pekat seperti aspal.
Pusing berat, lemas mendadak, atau hampir pingsan.
Jantung berdebar cepat, kulit terasa dingin, atau muncul keringat dingin.
Penyebab dan Faktor Risikonya
Penyebab varises esofagus adalah peningkatan tekanan pada sistem vena porta atau pembuluh darah vena besar yang membawa darah kaya nutrisi dari organ pencernaan menuju hati. Namun terdapat beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risikonya, yakni sebagai berikut.
1. Sirosis Hati
Sirosis merupakan salah satu penyebab paling umum. Kondisi ini dapat berkembang akibat berbagai penyakit hati yang berlangsung lama, termasuk hepatitis kronis dan penyakit hati terkait konsumsi alkohol.
2. Hepatitis B dan Hepatitis C Kronis
Infeksi virus hepatitis yang berlangsung lama dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan hati. Jika berkembang menjadi sirosis, risiko hipertensi portal dan varises esofagus juga meningkat.
3. Penyakit Hati Berlemak
Penumpukan lemak di hati yang disertai peradangan dan kerusakan jaringan dapat berkembang menjadi fibrosis atau sirosis pada sebagian orang. Karena itu, kesehatan hati perlu diperhatikan, khususnya pada orang dengan faktor risiko metabolik.
4. Gangguan Aliran Darah pada Vena Porta
Penyumbatan atau gangguan aliran darah pada vena porta juga dapat meningkatkan tekanan dalam pembuluh tersebut, bahkan pada kondisi tertentu tanpa sirosis.
5. Riwayat Penyakit Hati dan Faktor Risiko Terkait
Orang dengan penyakit hati kronis, riwayat gangguan pembuluh darah hati, atau kondisi lain yang meningkatkan tekanan vena porta perlu berkonsultasi mengenai kebutuhan pemeriksaan lebih lanjut.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Varises Esofagus?
Karena varises esofagus sering tidak menimbulkan gejala, diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan apa yang dirasakan seseorang. Dokter akan menilai riwayat kesehatan, faktor risiko, dan hasil pemeriksaan yang sesuai.
1. Wawancara dan Pemeriksaan Fisik
Dokter akan menanyakan riwayat penyakit hati, konsumsi obat-obatan, serta keluhan yang dialami. Pemeriksaan fisik juga dapat membantu menemukan tanda penyakit hati atau perdarahan.
2. Pemeriksaan Darah
Tes darah dapat membantu mengevaluasi kondisi tubuh dan gangguan hati. Hasil tes darah dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi yang mendasari varises esofagus, tetapi tidak dapat memastikan ada atau tidaknya varises secara langsung.
3. USG dan Pemeriksaan Pencitraan
Dokter dapat menyarankan USG perut, termasuk USG Doppler, untuk menilai struktur hati dan aliran darah pada pembuluh tertentu. Pada kondisi tertentu, CT scan atau MRI juga dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci.
4. Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas
Endoskopi adalah prosedur untuk melihat varises esofagus di dalam tubuh dengan menggunakan selang lentur berkamera dari saluran kerongkongan hingga ke lambung. Metode ini efektif menilai ukuran varises sekaligus mendeteksi risiko perdarahannya. Jika diperlukan, tindakan pencegahan bisa dilakukan dalam prosedur yang sama.
Untuk penderita sirosis atau gangguan hati, disarankan menjalani tes ini secara rutin. Hal tersebut penting dilakukan meskipun pasien belum merasakan gejala apa pun. Jadwal endoskopi akan ditentukan dokter sesuai dengan kondisi kesehatan hati pasien. Langkah pencegahan ini sangat diperlukan guna mencegah bahaya komplikasi sejak dini.
Selain endoskopi, pemantauan kesehatan tubuh juga bisa dilakukan lewat tes rutin. Paket Medical Check Up Plus Bumame dengan harga mulai dari Rp950.000 dapat menjadi salah satu pilihan praktis. Layanan ini tersedia melalui home care maupun walk-in dan mencakup pemeriksaan fungsi hati lengkap.
Meski demikian, paket ini hanya berfungsi untuk evaluasi kesehatan umum saja. Hasil tes fungsi hati juga belum dapat memastikan keberadaan varises esofagus. Jika memiliki riwayat penyakit hati, sebaiknya langsung konsultasikan ke dokter. Dokter akan menentukan apakah membutuhkan pemeriksaan spesifik seperti endoskopi.
Pilihan Pengobatan Varises Esofagus
Penanganan varises esofagus disesuaikan dengan kondisi pasien, ukuran varises, risiko perdarahan, serta penyakit hati yang mendasarinya. Berikut beberapa pilihan pengobatannya.
1. Pemberian Obat untuk Mengurangi Tekanan Pembuluh Darah
Dokter dapat meresepkan obat golongan beta-blocker nonselektif, seperti propranolol atau carvedilol, pada pasien yang memenuhi kriteria. Obat ini dapat menurunkan tekanan pada sistem vena porta untuk menekan risiko perdarahan. Penggunaan harus berdasarkan penilaian dokter karena tidak semua pasien cocok menggunakannya.
2. Ligasi Varises Melalui Endoskopi
Ligasi varises adalah prosedur memasang gelang elastis kecil pada pembuluh darah yang membesar. Gelang tersebut bertugas menghentikan aliran darah pada bagian varises sehingga pembuluh darah perlahan mengering dan jaringan dapat pulih. Prosedur ini dapat digunakan untuk menangani perdarahan aktif maupun mencegah perdarahan pada pasien tertentu.
3. Penanganan Perdarahan Darurat
Jika terjadi perdarahan, pasien perlu mendapatkan penanganan di rumah sakit. Dokter dapat memberikan cairan intravena, transfusi darah jika diperlukan, obat untuk mengurangi aliran darah ke sistem vena porta, serta antibiotik sesuai indikasi.
4. Tindakan Lanjutan untuk Kondisi Tertentu
Pada pasien dengan perdarahan berulang, dokter dapat mempertimbangkan prosedur TIPS (Transjugular Intrahepatic Portosystemic Shunt) yang membuat jalur aliran darah alternatif di dalam hati untuk membantu menurunkan tekanan pada vena porta.
Selain menangani varises, pengobatan penyakit hati yang mendasari juga perlu dikelola sesuai arahan dokter spesialis berdasarkan kebutuhan spesifik setiap pasien.
Strategi Pencegahan Varises Kerongkongan
Tidak semua kasus dapat dicegah, terutama jika berkaitan dengan kondisi pembuluh darah tertentu. Namun, menghindari berbagai pantangan serta mengelola faktor risiko dapat membantu mencegah kerusakan hati yang lebih parah. Berikut beberapa langkah dan pantangan varises esofagus yang dapat dilakukan:
Hindari konsumsi alkohol untuk mencegah kerusakan organ hati.
Lakukan skrining hepatitis B dan C sesuai kebutuhan.
Jaga berat badan ideal melalui pola makan seimbang.
Gunakan obat serta suplemen hanya sesuai petunjuk dokter.
Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk deteksi dini.
Ikuti jadwal kontrol rutin bagi penderita penyakit hati.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter jika memiliki riwayat penyakit hati kronis, terutama saat muncul gejala perut membesar, kulit kuning, atau tubuh memar. Dokter akan menentukan pemeriksaan yang tepat, sekaligus memantau jadwal kontrol dan dosis obat jika Anda telah terdiagnosis varises esofagus.
Namun, segera cari pertolongan medis darurat apabila timbul gejala perdarahan mendadak seperti muntah darah, BAB hitam, lemas parah, hingga pingsan. Penanganan cepat pada kondisi darurat ini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang berisiko fatal.
Lindungi Kesehatan Hati Mulai dari Sekarang
Varises esofagus adalah pembesaran pembuluh darah kerongkongan akibat hipertensi portal pada penderita penyakit hati kronis, yang sering kali tidak bergejala hingga terjadi perdarahan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan hati, menjalani pemeriksaan rutin, dan berkonsultasi dengan dokter sangat penting untuk mencegah risiko komplikasi sejak dini.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Passing the General Surgery Oral Board Exam — Esophageal Varices
Harvard Health Publishing — Esophageal Varices
National Library of Medicine — Esophageal Varices
National Library of Medicine — Diagnosis and Management of Esophagogastric Varices
National Library of Medicine — Esophageal Varices: Pathophysiology, Approach, and Clinical Dilemmas
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apakah varises esofagus bisa sembuh?
Varises esofagus tidak selalu dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi penanganan medis dapat mengendalikan kondisi dan mengurangi risiko perdarahan serta komplikasi serius.
Apakah varises esofagus selalu menimbulkan gejala?
Tidak. Varises esofagus sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal dan dapat baru terdeteksi ketika terjadi perdarahan atau penyakit hati yang mendasarinya memburuk.
Apakah varises esofagus bisa dideteksi melalui tes darah?
Tes darah membantu mengevaluasi fungsi hati dan dampak penyakit, tetapi tidak dapat memastikan keberadaan varises esofagus. Pemeriksaan endoskopi digunakan untuk melihat varises secara langsung.
Apakah varises esofagus sama dengan varises di kaki?
Tidak. Varises esofagus terjadi pada pembuluh darah kerongkongan akibat peningkatan tekanan vena porta, sedangkan varises kaki terjadi pada pembuluh darah di tungkai.
Apa saja gejala varises esofagus yang perlu diwaspadai?
Tanda yang perlu diwaspadai meliputi muntah darah, tinja hitam pekat, lemas mendadak, pusing berat, dan hampir pingsan. Gejala tersebut dapat menandakan perdarahan serius dan membutuhkan pertolongan medis darurat.
