Memasuki usia 40 tahun ke atas, tubuh pria dapat mengalami perubahan, mulai dari stamina yang menurun, mudah lelah, tidur tidak nyenyak, hingga gairah seksual yang berkurang. Jika Anda mengalaminya, andropause adalah kondisi yang mungkin melatarbelaknginya.
Meski kerap dianggap sebagai bagian normal dari penuaan, perubahan tersebut tetap perlu Anda pahami agar tidak mengganggu kualitas hidup. Pahami selengkapnya di artikel ini!
Apa Itu Andropause?
Andropause adalah istilah populer yang mana menggambarkan perubahan yang berkaitan dengan penurunan kadar testosteron, hormon utama pria, seiring dengan pertambahan usia.
Namun, istilah ini bukanlah diagnosis medis yang sepenuhnya memiliki level sama dengan menopause pada wanita. Pada pria, kadar testosteron yang berperan dalam perkembangan produksi sperma, massa otot, kepadatan, hingga fungsi seksual akan menurun secara bertahap sejak usia dewasa, namun dengan kecepatan berbeda-beda.
Dengan kata lain, sebagian pria bisa memiliki kadar testosteron yang masih dalam rentang normal di usia lanjut. Sementara di kelompok lain ada yang mengalami penurunan sehingga mengalami sejumlah keluhan fisik, seksual, hingga bahkan emosional.
Dalam dunia medis, kondisi ini juga dikenal sebagai late-onset hypogonadism, atau hipogonadisme yang muncul pada usia dewasa atau lanjut. Diagnosis andropause tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan usia atau keluhan, melainkan membutuhkan gejala yang sesuai dan hasil pemeriksaan testosteron yang rendah secara konsisten.
Penyebab Andropause
Penyebab utama andropause adalah penurunan produksi atau ketersediaan testosteron. Namun, perlu Anda ketahui bahwa perubahan hormon ini tidak selalu terjadi karena faktor usia. Lebih lengkapnya, berikut adalah beberapa faktor penyebab andropause pada kebanyakan kasus.
1. Penurunan Produksi Testosteron
Testosteron diproduksi oleh testis dengan pengaturan dari otak. Hipotalamus melepaskan hormon GnRH yang merangsang kelenjar pituitari untuk menghasilkan luteinizing hormone (LH). Selanjutnya, LH memberi sinyal kepada sel Leydig di testis untuk memproduksi testosteron.
Seiring bertambahnya usia, sistem pengaturan hormon ini mengalami perubahan. Pada pria dewasa, rata-rata kadar testosteron total cenderung menurun secara bertahap, namun besar penurunannya tidak seragam.
2. Perubahan Testosteron Bebas
Sebagian besar testosteron dalam darah terikat pada protein, terutama sex hormone-binding globulin (SHBG). Kadar SHBG bisa meningkat seiring bertambahnya usia yang membuat kadar testosteron total dan testosteron bebas tidak selalu menunjukkan gambaran yang sama.
Dalam kondisi tertentu, dokter perlu mempertimbangkan pemeriksaan testosteron bebas, terutama jika hasil testosteron total berada di batas bawah atau terdapat kondisi yang mempengaruhi SHBG.
3. Gangguan pada Testis atau Pengaturan Hormon
Gangguan produksi testosteron juga bisa terjadi karena penyakit atau cedera pada testis, kemoterapi, radioterapi, maupun gangguan pada hipotalamus dan kelenjar pituitari.
Pada kondisi tersebut, penurunan testosteron tidak semata-mata terjadi karena proses penuaan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah masalah berasal dari testis atau sistem pengaturan hormon di otak.
Faktor Risiko Andropause
Tidak semua pria mengalami penurunan testosteron yang menimbulkan gangguan kesehatan. Risiko late-onset hypogonadism bisa meningkat ketika proses penuaan disertai sejumlah faktor tertentu. Beberapa faktor risiko tersebut adalah sebagai berikut.
Usia dan faktor biologis: Penuaan bisa memengaruhi fungsi testis dan sistem pengaturan hormon. Di lain sisi, pria yang lebih muda juga bisa mengalami testosteron rendah akibat gangguan medis atau kondisi bawaan.
Obesitas dan gangguan metabolisme: Berat badan berlebih, terutama penumpukan lemak di area perut, berkaitan dengan penurunan kadar testosteron. Pada sebagian pria, penurunan kadar testosteron ini bisa membaik ketika berat badan dan kondisi metabolik terkendali.
Penyakit kronis: Penyakit akut tertentu, seperti ginjal kronis, gangguan hati, HIV, serta masalah pada kelenjar pituitari juga bisa menyebabkan terganggunya kadar testosteron.
Konsumsi obatan dan zat tertentu: Ada beberapa obat yang memiliki efek mengganggu produksi testosteron, seperti steroid anabolik dan obat kanker prostat.
Pola hidup: Kurang tidur, minim aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, dan pola makan yang tidak seimbang bisa semakin memperburuk kesehatan metabolik dan fungsi seksual. Selain itu, stres berkepanjangan juga menjadi kondisi lain yang bisa menurunkan kadar testosteron dan gairah seksual.
Gejala Andropause
Gejala andropause bisa muncul dalam bentuk keluhan fisik, fungsi seksual, emosional, dan kemampuan kognitif. Berikut ini penjelasannya.
1. Gejala Fisik
Kondisi late-onset hypogonadism kerap menghadirkan sejumlah keluhan atau perubahan fisik tertentu, seperti:
Penurunan stamina (mudah lelah);
Berkurangnya massa dan kekuatan otot;
Peningkatan lemak, terutama di area perut;
Penurunan kepadatan tulang;
Rambut tubuh atau rambut di area ketiak dan kemaluan berkurang; serta
Pada sebagian pria, muncul pembesaran jaringan payudara (ginekomastia) atau rasa panas mendadak.
Perubahan di atas bisa berlangsung perlahan, sehingga sulit dibedakan dari proses penuaan biasa.
2. Gejala Seksual
Andropause adalah kondisi yang juga bisa menghadirkan sejumlah gejala atau keluhan seksual. Beberapa keluhan tersebut antara lain:
Penurunan gairah seksual;
Ereksi spontan, termasuk pada pagi hari, menjadi lebih jarang terjadi.
Kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi; dan
Produksi sperma atau kesuburan terganggu pada kondisi tertentu.
Gejala di atas tidak selalu menandakan bahwa seseorang mengalami andropause. Pasalnya, ada beberapa kondisi medis yang bisa menyebabkan gejala serupa, seperti gangguan pembuluh darah, diabetes, efek konsumsi obat tertentu, dan faktor psikologis. Oleh karena itu, diagnosis tepat akan membutuhkan evaluasi medis.
3. Gejala Emosional
Andropause adalah hal yang bisa melatarbelakangi perubahan emosional pada pria, termasuk emosi dan depresi. Meskipun demikian, keluhan emosional ini tidak hanya untuk andropause. Oleh karena itu, evaluasi medis menjadi hal yang perlu Anda pertimbangkan ketika mencari penyebab dari gejala emosional ini.
4. Gejala Kognitif
Testosteron rendah bisa berkaitan dengan kesulitan berkonsentrasi atau merasa lebih mudah lupa pada sebagian pria. Meski demikian, keluhan tersebut juga bisa terjadi karena kurang tidur, depresi, efek obat, dan gangguan kesehatan lainnya.
Diagnosis Andropause
Andropause adalah kondisi yang tidak hanya didiagnosis hanya berdasarkan usia, penurunan stamina, atau perubahan gairah seksual. Diagnosis memerlukan gejala yang sesuai dan kadar testosteron yang terbukti rendah melalui pemeriksaan darah. Untuk selengkapnya, berikut adalah tahapan diagnosisnya.
Wawancara: Dokter akan menanyakan keluhan yang Anda alami, kapan keluhan mulai terjadi, perubahan fungsi seksual, kualitas tidur, kondisi emosional, riwayat penyakit, serta konsumsi obat-obatan dan suplemen.
Pemeriksaan fisik: Pemeriksaan ini umumnya mencakup berat badan, lingkar perut, tekanan darah, karakteristik rambut tubuh, massa otot, dan kondisi organ reproduksi.
Tes darah testosteron: Pemeriksaan testosteron melalui sampel darah umumnya dilakukan pada pagi hari, saat kadar testosteron relatif tinggi.
Pemeriksaan hormon tambahan: Jika kadar testosteron terbukti rendah, dokter bisa menyarankan pemeriksaan hormon LH dan FSH (follicle-stimulating hormone). Pemeriksaan ini bertujuan untuk membedakan gangguan yang berasal dari testis dengan gangguan pada sistem pengaturan hormon di otak.
Komplikasi Andropause
Kadar testosteron yang rendah dan berlangsung lama dapat berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan. Risiko komplikasinya bergantung pada penyebab, tingkat kekurangan hormon, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Adapun beberapa komplikasi yang umumnya terjadi, antara lain:
Penurunan massa dan kekuatan otot;
Osteoporosis;
Gangguan kesuburan;
Anemia; serta
Gangguan fungsi seksual dan kualitas hidup.
Cara Mengatasi Andropause
Andropause adalah kondisi yang penanganannya bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan gejala. Umumnya, pengobatannya mencakup terapi hormon, pengendalian berat badan, olahraga teratur, perbaikan kualitas tidur, dan pengelolaan stres.
1. Menjalani Terapi Testosteron Sesuai Indikasi
Terapi pengganti testosteron (testosterone replacement therapy atau TRT) menjadi salah satu pengobatan untuk mengatasi gejala andropause yang mengganggu. Terapi ini tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari gel, suntikan, hingga transdermal.
Fokus utama terapi ini adalah memperbaiki gejala akibat kekurangan testosteron. Sebelum memulai terapi, dokter biasanya akan mengevaluasi manfaat dan risikonya, termasuk kondisi prostat, kadar sel darah merah, gangguan tidur, dan riwayat kesehatan lainnya.
2. Berolahraga secara Teratur
Aktivitas fisik membantu mempertahankan massa otot, kesehatan tulang, dan kebugaran tubuh. Anda bisa mengombinasikan latihan aerobik, seperti berjalan cepat atau bersepeda, dengan latihan kekuatan sesuai kemampuan.
3. Memperbaiki Kualitas Tidur
Usahakan tidur cukup dan teratur setiap malam. Jika Anda sering mendengkur keras, terbangun seperti kehabisan napas, atau tetap mengantuk meski sudah tidur, pertimbangkan untuk segera memeriksakan gejala tersebut ke dokter. Usahakan untuk tidak menunda karena gangguan tidur juga bisa mempengaruhi kesehatan metabolik.
4. Mengelola Stres dan Kesehatan Mental
Luangkan waktu untuk beristirahat, lakukan aktivitas yang menyenangkan, dan menjaga hubungan sosial. Jika perubahan suasana hati berlangsung lama atau mengganggu pekerjaan dan hubungan, pertimbangkan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Langkah ini bisa membantu mengatasi keluhan emosional, meskipun tidak selalu meningkatkan kadar testosteron secara langsung.
5. Memeriksa Obat dan Penyakit Penyerta
Jika Anda memiliki diabetes, obesitas, penyakit kronis, atau sedang menggunakan obat yang mungkin mempengaruhi hormon, diskusikan penanganannya dengan dokter. Dalam hal ini, dokter bertugas menilai apakah perlu ada penyesuaian dosis obat dan pemeriksaan tambahan. Jangan mencoba menghentikan konsumsi obat hanya berdasarkan inisiatif.
Kenali Kadar Hormon melalui Pemeriksaan Kesuburan Pria
Perubahan gairah seksual, kelelahan, dan gangguan fungsi reproduksi bisa terjadi karena berbagai penyebab. Pemeriksaan hormon membantu dokter menilai apakah keluhan tersebut berkaitan dengan testosteron rendah atau membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Bumame menyediakan Paket Kesuburan Pria yang mencakup pemeriksaan testosteron, LH, FSH, prolaktin, dan urine rutin. Pemeriksaan ini bisa menjadi solusi untuk mengevaluasi aspek hormonal yang berkaitan dengan fungsi reproduksi pria.
Jika Ada indikasi bahwa gejala terjadi karena kondisi lain, dokter bisa menyarankan pemeriksaan tambahan sesuai kondisi Anda. Misalnya, dokter bisa menyarankan paket pemeriksaan hormon tiroid jika ada gejala kelelahan yang identik dengan gangguan tiroid.
Kapan Harus ke Dokter?
Berkonsultasilah dengan dokter jika Anda mengalami penurunan gairah seksual yang menetap, gangguan ereksi, kelelahan berkepanjangan, penurunan massa otot tanpa sebab yang jelas, atau perubahan emosi yang mengganggu aktivitas harian. Pemeriksaan sangatlah penting jika Anda sedang merencanakan program hamil, namun mengalami gangguan seksual.
Segera cari pertolongan medis jika muncul sakit kepala berat, gangguan penglihatan mendadak, atau gejala neurologis lainnya, terutama jika disertai perubahan fungsi hormonal. Pasalnya, keluhan tersebut bukan gejala khas andropause dan bisa mengindikasikan kondisi medis lain yang membutuhkan penanganan segera.
Jangan menunda konsultasi hanya karena menganggap keluhan sebagai bagian normal dari penuaan. Pemeriksaan yang tepat membantu membedakan perubahan terkait usia dari kondisi medis serius lainnya.
Memahami Perubahan Hormon = Menjaga Kualitas Hidup
Andropause adalah istilah populer untuk perubahan yang berkaitan dengan penurunan testosteron pada pria. Umumnya, kondisi ini akan memunculkan sejumlah gejala tertentu seperti penurunan stamina, fungsi seksual, atau perubahan suasana hati.
Meskipun demikian, Anda tidak bisa langsung memvonis kondisi ini hanya berdasarkan gejala di atas. Butuh adanya evaluasi medis dan pemeriksaan testosteron berkala untuk bisa menilainya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Cleveland Clinic — Low Testosterone (Low T): Hypogonadism
Bhasin, S., Brito, J. P., Cunningham, G. R., et al. — Testosterone Therapy in Men With Hypogonadism: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline
Munari, E. V., Amer, M., Amodeo, A., et al. — The Complications of Male Hypogonadism: Is It Just a Matter of Low Testosterone?
Bumame — Kesuburan Pria
Bumame — Hormon Tiroid
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apa ciri-ciri andropause?
Ciri-ciri andropause dapat berupa penurunan gairah seksual, gangguan ereksi, mudah lelah, berkurangnya massa otot, perubahan suasana hati, dan kesulitan berkonsentrasi.
Andropause mulai umur berapa?
Andropause umumnya dikaitkan dengan pria berusia 40 tahun ke atas. Namun, penurunan testosteron bervariasi dan tidak semua pria mengalaminya.
Apakah andropause bisa disembuhkan?
Gejala akibat testosteron rendah bisa membaik melalui penanganan yang tepat. Hasilnya bergantung pada penyebab, kondisi kesehatan, dan respons terhadap terapi.
Bagaimana cara mengatasi andropause secara alami?
Jaga berat badan ideal, rutin berolahraga, tidur cukup, konsumsi makanan bergizi seimbang, dan kelola stres untuk mendukung kesehatan hormon.
Kapan pria dengan gejala andropause perlu ke dokter?
Konsultasikan dengan dokter jika mengalami penurunan gairah seksual menetap, gangguan ereksi, kelelahan berkepanjangan, penurunan massa otot tanpa sebab jelas, atau perubahan emosi yang mengganggu aktivitas harian.
