Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Anemia Hemolitik
Kembali ke Artikel & Berita

Anemia Hemolitik: Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

SBAOthers

Apakah Anda pernah merasa cepat lelah dan lemas, padahal sudah cukup makan dan istirahat? Pada saat yang sama, apakah kulit Anda juga terlihat pucat atau sedikit menguning tanpa sebab yang jelas? Keluhan ini, apabila tidak kunjung hilang, kemungkinan menandakan adanya gangguan anemia, khususnya jenis anemia hemolitik. 

Sayangnya, banyak orang awam masih kurang mengenal jenis anemia ini dan gejalanya. Orang awam umumnya hanya mengenal anemia sebagai satu jenis gangguan darah. Padahal, ada banyak jenis anemia yang bisa terjadi pada seseorang, dan anemia ini adalah salah satunya.

Apa Itu Anemia Hemolitik?

Anemia hemolitik adalah kondisi yang terjadi ketika sel darah merah hancur lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk memproduksinya. 

Istilah “hemolitik” dalam anemia ini berasal dari kata hemolisis, yaitu proses penghancuran sel darah merah yang berlebihan. Proses ini bisa terjadi di dalam pembuluh darah atau di organ, seperti limpa dan hati, dan berlangsung mendadak dalam waktu singkat atau perlahan dalam jangka panjang.

Dalam keadaan normal, sel darah merah hidup sekitar 4 bulan sebelum tubuh menggantinya dengan yang baru. Tapi jika anemia ini terjadi, sel darah merah akan hancur dalam kurun waktu yang jauh lebih cepat. 

Sebagai respons, sumsum tulang akan berusaha meningkatkan produksi sel darah merah. Sayangnya, kecepatan produksi tersebut sering kali tidak mampu mengejar laju penghancuran sel darah merah yang rusak.

Kondisi ini perlu diwaspadai karena sel darah merah bertugas membawa oksigen ke seluruh jaringan dan organ tubuh. Apabila tubuh mengalami kekurangan sel darah merah, semua bagian tubuh akan kekurangan oksigen dan tidak bisa berfungsi dengan baik.

Gejala Anemia Hemolitik

Ciri-ciri anemia hemolitik sering mirip dengan anemia lain, terutama pada tahap awal. Rasa lelah, lemah, dan kulit yang terlihat pucat adalah keluhan yang paling sering terjadi.

Banyak penderitanya juga bisa merasa pusing, kepala terasa ringan, dan jantung berdebar lebih cepat. Bahkan aktivitas ringan sekalipun bisa membuat tubuh terasa lebih cepat lelah dan kurang bertenaga.

Ada gejala khas yang membedakan anemia ini dari jenis lainnya, yaitu kulit dan mata menguning. Warna kuning ini muncul karena penghancuran sel darah merah menghasilkan zat bernama bilirubin.

Urine yang keluar saat mengalami anemia ini juga bisa berwarna lebih gelap dari biasanya. Secara bersamaan, penderitanya juga merasa tidak nyaman di perut bagian kiri atas karena membesarnya limpa.

Tergantung seberapa cepat sel darah merah hancur, gejala di atas bisa muncul secara tiba-tiba atau perlahan. Jika hemolisisnya berlangsung cepat, penderitanya bisa mengalami demam dan menggigil. Tapi jika berlangsung perlahan, gejalanya akan terasa ringan.

Penyebab dan Faktor Risikonya

Pakar kesehatan membagi penyebab anemia hemolitik menjadi dua jenis umum, yaitu bawaan dan didapat. 

Jenis bawaan berasal dari orang tua, seperti penyakit sel sabit dan talasemia. Kedua kondisi itu membuat penderitanya memiliki bentuk atau isi sel darah merah yang tidak normal sejak lahir. Kelainan ini membuat sel darah merah penderitanya lebih rapuh dan mudah hancur.

Sementara itu, anemia hemolitik didapat muncul kemudian akibat berbagai faktor dari luar maupun dari dalam tubuh. Salah satu contohnya adalah anemia hemolitik autoimun yang terjadi saat sistem imun keliru menyerang sel darah merah sendiri.

Penyakit autoimun seperti lupus dapat memicu kondisi ini pada sebagian orang. Infeksi, penggunaan obat tertentu, dan reaksi transfusi darah juga dapat menjadi pemicu kerusakan sel darah merah.

Beberapa jenis kanker darah dan infeksi virus juga bisa menyebabkan anemia autoimun ini. Obat seperti antibiotik tertentu, obat antikanker, dan beberapa pereda nyeri kadang dapat berperan sebagai pemicunya.

Anemia hemolitik didapat dapat bersifat sementara atau berlangsung jangka panjang. Kondisi yang sementara umumnya membaik setelah penyebabnya ditangani, sedangkan bentuk kronis dapat berlangsung dalam waktu lama dan memerlukan pemantauan serta pengobatan berkelanjutan.

Diagnosis Anemia Hemolitik

Dokter akan mendiagnosis anemia hemolitik dengan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan gejala serta riwayat kesehatan pasien. Di tengah pemeriksaan ini, dokter biasanya menganjurkan tes darah lengkap untuk menilai jumlah dan kondisi sel darah.

Lewat tes ini, dokter dapat melihat kadar sel darah merah serta sel darah lainnya, termasuk limfosit dan monosit. Informasi tersebut membantu dokter menilai kondisi darah dan mencari kemungkinan penyebab anemia yang dialami.

Ketika menghadapi anemia ini, dokter kadang perlu melakukan tes tambahan untuk memastikan apa sebenarnya yang membuat sel darah merah hancur lebih cepat. Tes tambahan tersebut meliputi pemeriksaan bilirubin, hitung retikulosit, dan tes Coombs untuk mencari penyebab pastinya.

Penghitungan retikulosit ini berguna untuk mengetahui seberapa aktif sumsum tulang bekerja memproduksi sel darah merah baru. Sementara itu, tes Coombs berguna untuk mendeteksi apakah anemia ini bersifat autoimun atau tidak.

Jika ingin melakukan pemeriksaan darah, Anda bisa mempertimbangkan layanan cek Hematologi Lengkap dari Bumame. Layanan ini bisa membantu Anda melihat gambaran semua sel darah dalam satu tes saja.

Dalam tes ini, dokter akan menilai berbagai komponen darah, mulai dari jumlah sel darah merah hingga kadar hemoglobin. Pemeriksaan dapat dilakukan di rumah atau di klinik Bumame terdekat.

Dengan harga mulai dari Rp145.000, Anda bisa mendapatkan hasil pemeriksaan darah dalam 1x24 jam untuk membantu mendeteksi anemia serta kelainan darah lainnya.

Pilihan Pengobatan Anemia Hemolitik

Pengobatan anemia hemolitik sangat bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan kondisinya. Jika penyebabnya adalah obat tertentu, dokter biasanya akan menghentikan atau mengganti obat tersebut.

Pada kasus anemia hemolitik autoimun, dokter sering menggunakan kortikosteroid untuk menekan respons sistem imun yang menyerang sel darah merah. Jika anemia sudah tergolong berat dan mengganggu fungsi tubuh, transfusi darah mungkin juga diperlukan.

Beberapa pasien mungkin membutuhkan obat penekan sistem imun jika kortikosteroid ternyata tidak cukup efektif. Pada kondisi tertentu, dokter bisa mempertimbangkan pengangkatan limpa sebagai salah satu pilihan, karena limpa adalah tempat sel darah merah yang rusak dihancurkan.

Pemberian suplemen zat besi dan asam folat dapat menjadi langkah pendukung selama mengalami anemia. Asupan ini membantu tubuh meningkatkan kemampuannya dalam memproduksi sel darah merah baru.

Pada kasus anemia hemolitik kronis yang tidak membaik dengan pengobatan lain, dokter dapat menyarankan cangkok sumsum tulang. Tindakan ini bertujuan membantu memulihkan kemampuan tubuh dalam memproduksi sel darah merah.

Cara Mencegah Anemia Hemolitik

Tidak semua gangguan sel darah merah ini bisa dicegah, terutama apabila kondisi tersebut merupakan jenis bawaan yang diturunkan dalam keluarga sejak lahir. Namun, risiko terjadinya kelainan ini masih bisa ditekan jika pemicunya tergolong sebagai faktor eksternal atau kondisi yang didapat di kemudian hari.

Anda bisa mulai dengan menghindari obat yang pernah memicu reaksi sebelumnya. Selain itu, sampaikan kepada dokter mengenai riwayat alergi atau reaksi obat yang pernah Anda alami.

Menjaga kebersihan dan daya tahan tubuh bisa membantu menurunkan risiko infeksi yang bisa memicu kondisi ini. Bagi penderita jenis tertentu, perlu menghindari cuaca dingin yang bisa memperberat gejala.

Apabila Anda atau pasangan memiliki riwayat keluarga penyakit darah bawaan, sebaiknya lakukan konseling genetik bersama dokter. Langkah ini penting sekali untuk membantu Anda memahami risiko menurunkan kelainan darah kepada buah hati di kemudian hari.

Menerapkan gaya hidup yang sehat secara konsisten juga bisa Anda lakukan untuk menjaga kesehatan darah. Walau terlihat sepele, langkah ini merupakan salah satu pencegahan gangguan darah yang paling mudah dilakukan.

Kapan Harus ke Dokter?

Sebaiknya segera menemui dokter jika rasa lelah tidak kunjung hilang meskipun Anda sudah cukup istirahat. Waspadai juga apabila kulit atau bagian putih mata mulai menguning tanpa penyebab yang jelas.

Gejala lain seperti urine berwarna gelap, napas pendek, dan jantung berdebar juga perlu diwaspadai sebagai tanda anemia hemolitik. Jika muncul sesak napas berat atau pingsan, segeralah mencari pertolongan medis untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat. 

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Johns Hopkins Medicine. Hemolytic Anemia. 

  2. Cleveland Clinic. (2025). Autoimmune Hemolytic Anemia. 

  3. MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine. (2026). Hemolytic anemia. 

  4. National Heart, Lung, and Blood Institute. (2022). Hemolytic Anemia. 

  5. Harvard Health Publishing. (2025). Hemolytic anemia.

Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed

Frequently Asked Question

Apa itu anemia hemolitik?

Anemia hemolitik adalah kondisi ketika sel darah merah hancur lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk memproduksinya. Akibatnya, tubuh kekurangan sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh jaringan dan organ.

Apa saja gejala anemia hemolitik?

Gejalanya meliputi mudah lelah, lemas, pusing, jantung berdebar, kulit dan mata menguning, urine berwarna gelap, serta rasa tidak nyaman di perut kiri atas akibat pembesaran limpa. Pada kondisi tertentu, demam dan menggigil juga dapat terjadi.

Apa penyebab anemia hemolitik?

Anemia hemolitik dapat bersifat bawaan, seperti pada penyakit sel sabit dan talasemia, atau didapat akibat faktor tertentu. Pemicu yang disebutkan dalam artikel meliputi penyakit autoimun, infeksi, obat-obatan, reaksi transfusi darah, dan beberapa jenis kanker darah.

Bagaimana anemia hemolitik didiagnosis?

Dokter mengevaluasi gejala, riwayat kesehatan, dan hasil pemeriksaan fisik, kemudian dapat menyarankan tes darah lengkap. Pemeriksaan tambahan seperti kadar bilirubin, hitung retikulosit, dan tes Coombs membantu menilai penghancuran sel darah merah serta mencari penyebabnya.

Bagaimana cara mengobati anemia hemolitik?

Pengobatan disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan kondisi. Penanganannya dapat mencakup penghentian obat pemicu, pemberian kortikosteroid atau obat penekan sistem imun, transfusi darah, suplemen zat besi dan asam folat, hingga pengangkatan limpa atau cangkok sumsum tulang pada kondisi tertentu.