Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Anemia Megaloblastik
Kembali ke Artikel & Berita

Anemia Megaloblastik: Gejala dan Penyebab

SBAOthers

Rasa lelah yang tidak kunjung hilang sering dianggap sebagai hal wajar bagi orang yang sibuk bekerja. Padahal, keluhan tersebut juga dapat menjadi tanda anemia, termasuk anemia megaloblastik.

Masyarakat awam masih jarang mengenal istilah anemia ini, meskipun gejalanya bisa terjadi apabila tubuh kekurangan vitamin tertentu. Mengenali gejala anemia megaloblastik sejak awal penting agar penanganan dapat segera dilakukan. Dengan begitu, rasa lelah yang berkepanjangan tidak hanya dianggap sebagai akibat kelelahan kerja, tetapi juga dapat diperiksa lebih lanjut bila disertai gejala lain.

Apa Itu Anemia Megaloblastik?

Anemia megaloblastik adalah jenis anemia yang terjadi ketika sumsum tulang menghasilkan sel darah merah berukuran besar yang abnormal. Sel-sel ini disebut megaloblas dan bentuknya tidak matang serta tidak berfungsi dengan baik.

Karena ukurannya terlalu besar, sel-sel ini sulit keluar dari sumsum tulang menuju aliran darah. Akibatnya, jumlah sel darah merah sehat akan berkurang dan tubuh kekurangan pembawa oksigen.

Kondisi ini umumnya terjadi ketika tubuh kekurangan vitamin B12 atau folat. Kedua vitamin ini sangat penting untuk membantu tubuh membentuk sel darah merah yang sehat. Apabila asupannya tidak mencukupi, tubuh sulit menghasilkan sel darah merah yang mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

Pada masalah anemia ini, istilah megaloblastik sendiri mengacu pada sel darah merah yang ukurannya jauh lebih besar daripada sel darah merah normal. Kondisi ini membuat anemia megaloblastik tergolong sebagai salah satu gangguan pembentukan darah, karena sel darah merah yang dihasilkan tidak berbentuk dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. 

Pada umumnya, sel darah merah yang sehat seharusnya berumur sekitar empat bulan sebelum tubuh menggantinya dengan yang baru. Pada penderita anemia ini, sel sel darah merah yang tidak normal cenderung rusak dan mati lebih cepat. Akibatnya, jumlah sel darah merah yang sehat dalam tubuh menjadi tidak cukup.

Gejala Anemia Megaloblastik 

Gejala anemia ini sering muncul perlahan, sehingga banyak orang tidak langsung menyadarinya. Rasa lelah dan lemah yang terus-menerus adalah gejala yang paling umum.

Kulit yang terlihat pucat dan napas yang mudah tersengal biasanya terjadi pada penderitanya. Di sisi lain, beberapa orang bisa merasa pusing atau kepala terasa ringan saat beraktivitas sehari-hari.

Saat anemia ini terjadi karena kekurangan vitamin B12, gejalanya bisa meluas sampai ke sistem saraf tubuh. Penderita bisa merasa kesemutan, mati rasa, atau kelemahan otot di tangan dan kaki. Selain itu, penderita juga bisa mengeluhkan lidah yang terasa perih serta detak jantung yang lebih cepat.

Jika penderitanya tidak segera menanganinya, kondisi ini bisa memengaruhi daya ingat dan keseimbangan tubuh. Penanganan segera ini penting karena banyak orang masih sering salah mengartikan gejalanya sebagai kelelahan biasa akibat aktivitas harian.

Penyebab dan Faktor Risikonya

Penyebab utama anemia megaloblastik adalah kekurangan vitamin B12 dan folat di dalam tubuh. Tubuh bisa kekurangan B12 apabila jarang makan daging, ikan, telur, dan produk susu.

Gangguan penyerapan nutrisi, seperti anemia pernisiosa, juga bisa membuat tubuh kesulitan menyerap vitamin B12 dengan baik. Selain itu, operasi pada lambung atau usus halus dapat mengurangi kemampuan tubuh dalam menyerap vitamin ini.

Selain vitamin B12, masalah kesehatan ini juga bisa muncul akibat kekurangan asupan folat. Kondisi tersebut umumnya dipicu oleh pola makan yang kurang sehat, seperti minimnya konsumsi sayuran hijau dan buah, serta kebiasaan memasak sayuran terlalu lama yang dapat merusak kandungan nutrisinya. 

Selain itu, penyerapan folat di dalam tubuh juga bisa terganggu akibat gaya hidup seperti konsumsi alkohol berlebihan, adanya menderita penyakit celiac, maupun efek samping penggunaan obat-obatan tertentu seperti sulfasalazin, fenitoin, karbamazepin, dan metotreksat.

Terkait dengan faktor risiko anemia ini, beberapa kelompok lebih berisiko mengalami kondisi anemia megaloblastik. Salah satunya adalah kalangan lansia karena kemampuan tubuh mereka untuk menyerap nutrisi dan vitamin sudah berkurang jauh dibandingkan dengan ketika masih muda.

Kondisi serupa juga kerap dialami oleh ibu hamil yang membutuhkan asupan folat jauh lebih tinggi untuk mendukung kehamilannya, sehingga kekurangan sedikit saja bisa langsung berdampak besar. Tak hanya itu, orang dengan gangguan pencernaan berat juga sangat rentan mengalami kondisi ini karena saluran cerna mereka tidak mampu menyerap nutrisi dengan efektif.

Diagnosis dan Pemeriksaan Anemia Megaloblastik

Anemia megaloblastik biasanya diketahui lewat pemeriksaan darah lengkap atau hitung darah lengkap. Dari tes ini, dokter akan melihat jumlah serta ukuran sel darah merah menggunakan acuan MCV (mean corpuscular volume). Jika ukuran sel darah merah ditemukan jauh lebih besar dari normal, dokter dapat mengonfirmasi adanya kondisi anemia.

Selain melihat ukuran sel darah merah yang membesar, dokter terkadang juga mengevaluasi komponen sel darah lain, seperti limfosit, untuk mendeteksi kemungkinan penurunan sel darah secara menyeluruh akibat kekurangan nutrisi yang sudah parah.

Guna memastikan akar masalahnya, dokter juga akan menelusuri riwayat pola makan serta daftar obat yang sedang dikonsumsi, sekaligus merekomendasikan tes tambahan seperti pengukuran kadar vitamin B12 dan folat untuk memastikan apakah kondisi tersebut murni anemia megaloblastik atau dipicu oleh faktor lain.

Jika Anda mengalami gejala anemia, pemeriksaan menyeluruh lewat layanan Hematologi Lengkap dari Bumame dapat menjadi langkah awal untuk menilai kondisi darah. Pemeriksaan ini membantu menilai sel darah merah, sel darah putih, trombosit, hingga kadar hemoglobin (Hb).

Dibandingkan dengan tes darah lainnya, pemeriksaan ini tidak memerlukan puasa. Anda hanya perlu memberi tahu tenaga kesehatan mengenai obat, vitamin, atau suplemen yang sedang dikonsumsi. 

Selain itu, tes hematologi ini juga dapat dilakukan di rumah melalui layanan home care atau di klinik Bumame sesuai kenyamanan Anda. Jika tertarik, Anda bisa melakukan tes ini dengan harga mulai dari Rp145.000. Hasil pemeriksaan dapat membantu memberikan gambaran awal mengenai kondisi darah Anda, termasuk leukimia dan hemofilia. Untuk diagnosis dan penanganan yang tepat, konsultasikan hasilnya dengan dokter.

Cara Menangani Anemia Megaloblastik

Pengobatan anemia megaloblastik umumnya disesuaikan dengan penyebab kekurangan vitamin yang dialami. Jika kondisi ini disebabkan oleh kekurangan vitamin B12, dokter biasanya memberikan suntikan vitamin B12 selama beberapa waktu.

Namun, orang dengan gangguan penyerapan vitamin B12 atau anemia pernisiosa mungkin membutuhkan suntikan B12 dalam jangka panjang. Kondisi anemia pernisiosa membuat tubuh sulit menyerap vitamin B12 melalui saluran pencernaan, sehingga pemberian vitamin melalui mulut saja sering tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Kemudian terkait kekurangan folat, dokter biasanya meresepkan tablet asam folat sesuai kebutuhan tubuh. Dokter juga akan terus memantau kadar vitamin B12 secara berkala karena pemberian asam folat terkadang dapat menutupi gejala kekurangan vitamin B12, sehingga kerusakannya pada sistem saraf bisa luput dari deteksi jika tidak diawasi dengan cermat.

Selain memenuhi asupan vitamin B12 dan folat, pengobatan anemia ini juga mencakup perbaikan pola makan serta penanganan penyakit yang menjadi penyebabnya. Dokter biasanya akan memeriksa ulang darah beberapa minggu setelah pengobatan dimulai untuk memastikan kondisi tubuh membaik.

Walau banyak orang mulai merasa lebih bugar beberapa minggu setelah memulai pengobatan, gejala saraf akibat kekurangan vitamin B12 dapat membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama. Karena itu, pengobatan perlu dijalani hingga tuntas sesuai anjuran dokter sampai semua gejalanya benar-benar menghilang.

Cara Mencegah Anemia Megaloblastik

Anda bisa mencegah anemia megaloblastik dengan menjalani pola makan yang seimbang setiap hari. Untuk memulainya, Anda bisa mengonsumsi secara teratur makanan kaya vitamin B12 seperti daging, ikan, telur, dan produk susu.

Sayuran hijau, kacang-kacangan, dan buah bisa menjadi sumber folat yang baik untuk tubuh. Selain itu, sereal yang sudah difortifikasi juga bisa menjadi pilihan tambahan untuk memenuhi kebutuhan vitamin harian.

Bagi yang menjalani pola makan vegetarian ketat, kebutuhan vitamin B12 perlu diperhatikan lebih cermat. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengonsumsi suplemen agar dosis dan jenisnya sesuai dengan kondisi tubuh.

Ibu hamil juga membutuhkan asupan folat yang cukup untuk mendukung kesehatan diri dan pertumbuhan janin. Selain itu, membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi sejak dini dapat membantu menjaga kesehatan darah dan menurunkan risiko anemia.

Supaya kandungan folat di makanan tetap terjaga, olah sayuran dengan cara yang tepat. Mengukus atau memasak sebentar bisa membuat sayur matang dan membantu menjaga kandungan folatnya.

Selain menjaga pola makan, lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk memantau kadar vitamin B12 dan folat dalam tubuh.

Kapan Harus ke Dokter?

Sebaiknya segera menemui dokter jika rasa lelah tidak kunjung hilang meski sudah cukup istirahat. Periksakan juga segera bila muncul gejala seperti kulit pucat, napas pendek, atau jantung berdebar terus-menerus. Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki yang tidak membaik, serta rasa ingin pingsan yang berulang.

Jangan menunda pemeriksaan jika gejala tersebut berlangsung terus-menerus atau semakin berat. Dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya dan memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Cleveland Clinic. (2022). Megaloblastic Anemia.

  2. Johns Hopkins Medicine. (2026). Vitamin B12 Deficiency Anemia.

  3. StatPearls, National Center for Biotechnology Information. (2025). Macrocytic Anemia.

  4. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. (2023). Vitamin B12: Fact Sheet for Consumers.

  5. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. (2022). Folate: Fact Sheet for Consumers.

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apa itu anemia megaloblastik?
Anemia megaloblastik adalah jenis anemia ketika sumsum tulang menghasilkan sel darah merah berukuran besar yang abnormal dan tidak berfungsi dengan baik. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 atau folat.
Apa saja gejala anemia megaloblastik?
Gejalanya meliputi kelelahan berkepanjangan, tubuh lemah, kulit pucat, napas pendek, pusing, jantung berdebar, dan lidah terasa perih. Jika disebabkan oleh kekurangan vitamin B12, kondisi ini juga dapat menimbulkan kesemutan, mati rasa, kelemahan otot, serta gangguan daya ingat dan keseimbangan.
Apa penyebab anemia megaloblastik?
Penyebab utamanya adalah kekurangan vitamin B12 atau folat. Kondisi ini dapat berkaitan dengan pola makan yang kurang bergizi, gangguan penyerapan nutrisi, operasi lambung atau usus halus, konsumsi alkohol berlebihan, dan penggunaan obat-obatan tertentu.
Bagaimana cara mendiagnosis anemia megaloblastik?
Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan darah lengkap untuk menilai jumlah dan ukuran sel darah merah. Dokter juga dapat memeriksa kadar vitamin B12 dan folat serta mengevaluasi riwayat pola makan dan penggunaan obat.
Bagaimana cara mengobati anemia megaloblastik?
Pengobatan disesuaikan dengan penyebabnya, seperti pemberian vitamin B12 melalui suntikan atau asam folat dalam bentuk tablet sesuai resep dokter. Penanganan juga mencakup perbaikan pola makan, pengobatan penyakit penyebab, dan pemantauan kondisi darah secara berkala.