Pernahkah Anda melihat bibir atau ujung kuku menjadi kebiruan setelah berenang lama atau kedinginan? Biasanya warna itu langsung kembali normal begitu badan terasa hangat lagi. Tapi kadang-kadang warna kebiruan muncul tanpa alasan yang jelas, misalnya setelah minum obat tertentu. Ini pun bisa jadi tanda methemoglobinemia.
Kelainan darah ini memang jarang terjadi, tapi Anda perlu mengenalinya karena kadar yang tinggi bisa membahayakan nyawa. Kabar baiknya, banyak kasus yang muncul karena terpapar zat tertentu biasanya membaik setelah mengenali pemicunya dan menanganinya dengan tepat. Mari memahami gejalanya, penyebabnya, hingga cara memeriksanya lebih dalam!
Apa Itu Methemoglobinemia?
Bayangkan hemoglobin sebagai truk pengangkut oksigen. Normalnya truk akan jalan mulus, muatannya penuh, lalu pintu baknya terbuka di tujuan supaya oksigen bisa dibongkar dan disalurkan ke jaringan tubuh.
Namun, pada methemoglobinemia (MetHb) truknya tetap jalan dan muatannya tetap penuh. Hanya saja, pintu bak macet total, sehingga oksigen yang sudah diangkut tidak bisa dilepas. Secara sederhana, MetHb terjadi ketika zat besi di dalam hemoglobin berubah bentuk.
Jadi, dari besi fero (Fe²⁺) yang seharusnya bisa mengikat dan melepaskan oksigen, ia berubah menjadi besi feri (Fe³⁺). Perubahan ini menghasilkan molekul baru yang disebut methemoglobin. Tubuh manusia normal pun hanya punya methemoglobin kurang dari 1–2%. Begitu kadarnya naik di atas batas itu, masalah mulai muncul.
Methemoglobin memang masih bisa mengikat oksigen, tapi ia tidak mampu melepaskannya secara efektif ke jaringan yang membutuhkannya. Hasilnya, meski paru-paru berfungsi dengan baik dan udara yang dihirup cukup, organ-organ tubuh tetap mengalami kekurangan oksigen (hipoksia jaringan).
Gejala dan Tanda Methemoglobinemia
Gejala methemoglobinemia sangat bergantung pada seberapa tinggi kadar methemoglobin di dalam darah. Kalau kadarnya masih sangat rendah, biasanya Anda tidak merasakan apa-apa. Tapi begitu kadarnya naik, tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan oksigen. Berikut beberapa gejala yang sering muncul.
Sianosis: Kulit, bibir, atau kuku Anda berubah menjadi kebiruan atau keabu-abuan. Ciri khasnya: warna biru ini tidak kunjung membaik meskipun sudah diberi oksigen tambahan.
Darah berwarna cokelat: Saat diambil sampel, darah Anda tampak cokelat tua kehitaman seperti cokelat leleh, bukan merah segar seperti biasa.
Gejala hipoksia ringan hingga sedang: Anda bisa merasakan sesak napas saat beraktivitas, pusing, sakit kepala, badan lemas, jantung berdebar kencang, dan merasa bingung.
Gejala berat: Jika kadar methemoglobin sudah melebihi 50–70%, Anda berisiko mengalami kejang, penurunan kesadaran, gangguan irama jantung yang serius, bahkan gagal organ.
Perlu diingat, warna kebiruan di bibir atau kulit belum tentu berarti MetHb. Bayi yang bibirnya kebiruan, misalnya, bisa saja sedang mengalami gangguan jantung bocor. Jadi, jangan langsung menyimpulkan sendiri, segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Penyebab dan Faktor Risiko
Methemoglobinemia dibagi menjadi dua jenis utama berdasarkan penyebab utamanya, yaitu bawaan sejak lahir dan yang didapat setelah seseorang lahir. Penyebab yang paling sering terjadi adalah seseorang terpapar zat yang mampu mengoksidasi hemoglobin.
Zat-zat tersebut membuat zat besi di dalam hemoglobin berubah bentuk. Beberapa contohnya:
Obat-obatan seperti anestesi lokal benzocaine dan lidocaine, antibiotik dapson, obat malaria klorokuin dan primakuin, serta nitrogliserin.
Zat kimia seperti pewarna anilin, nitrobenzena, dan naftalena (bahan yang biasa ada di kamper barus).
Nitrat dan nitrit yang sering muncul di air sumur tercemar, bahan pengawet daging olahan, atau inhalan rekreasional yang orang kenal sebagai poppers.
Kasus ini sebenarnya tergolong langka. Data dari National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa dari sekitar 28.000 sampai 30.000 prosedur ekokardiografi lewat kerongkongan, kejadian methemoglobinemia hanya sekitar 0,067 persen.
Di antara kasus yang berhubungan dengan anestesi lokal, benzocaine menjadi biang kerok di sekitar dua pertiga di antaranya. Kalau jenisnya bawaan, penyebabnya ada di gen. Ada satu bentuk yang muncul karena tubuh kekurangan enzim yang biasanya mengubah methemoglobin menjadi hemoglobin normal.
Bentuk lainnya, yaitu hemoglobin M, muncul karena protein hemoglobinnya sendiri sudah berubah. Pola pewarisan sifat seperti ini tentu ada hubungannya dengan kromosom yang dimiliki manusia. Lalu, siapa yang paling rentan? Jawabannya, bayi di bawah enam bulan.
Orang yang sudah punya anemia, gagal jantung, atau penyakit paru kronis juga bisa merasakan gejala lebih berat, padahal kadar methemoglobinnya masih tergolong rendah. Khusus anak-anak, FDA Amerika Serikat sudah mengingatkan agar orang tua tidak memakai produk benzocaine untuk sakit gigi pada anak di bawah dua tahun.
Diagnosis dan Pemeriksaan Methemoglobinemia
Mendiagnosis MetHb memang butuh ketelitian tinggi dari tenaga medis karena gejalanya sering kali mirip dengan gejala penyakit jantung atau paru-paru. Dokter biasanya memulai dengan menelusuri riwayat kesehatan pasien, mengecek apakah ada paparan obat-obatan tertentu, lalu melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
Pemeriksaan laboratorium juga sangat membantu karena bisa menilai kondisi sel darah secara lebih lengkap. Salah satu yang paling dasar dan penting adalah uji darah tepi. Melalui pemeriksaan ini, dokter bisa melihat langsung kadar hemoglobin dan kondisi sel darah merah.
Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya memakai dua pemeriksaan khusus:
Ko-oksimetri (Co-oximetry): Metode ini paling akurat. Dokter menganalisis gas darah arteri secara khusus sehingga bisa mengukur persentase methemoglobin secara spesifik di dalam darah.
Uji Saturasi Oksigen Arteri: Pemeriksaan ini mengukur tekanan parsial oksigen. Hasilnya membantu dokter membedakan apakah masalahnya murni di paru-paru atau justru ada gangguan pada ikatan hemoglobin.
Semakin cepat dokter mengetahui kelainan pada komponen sel darah, semakin tepat pula langkah pengobatan yang bisa diambil. Kalau Anda ingin memeriksa kondisi sel darah secara lebih mendalam sejak awal, Anda bisa memanfaatkan layanan pemeriksaan hematologi lengkap di Bumame.
Pilihan Penanganan Methemoglobinemia
Penanganan sangat bergantung pada seberapa berat gejala yang muncul dan seberapa tinggi kadar methemoglobin dalam darah pasien. Dokter akan fokus pada dua hal utama: segera menghentikan paparan zat pemicu dan mengembalikan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen.
Berikut beberapa langkah yang biasanya dilakukan tim medis:
Menghentikan pemicu: Dokter segera menghentikan obat atau menghentikan paparan bahan kimia yang menyebabkan reaksi oksidasi di dalam darah.
Memberikan terapi oksigen: Tim medis memberi oksigen dengan konsentrasi tinggi agar sel darah merah yang masih normal bisa mengangkut oksigen sebaik mungkin.
Memberikan metilen biru (methylene blue): Ini obat penawar utama untuk kasus methemoglobinemia sedang hingga berat. Metilen biru bekerja cepat untuk membantu enzim tubuh mengubah methemoglobin kembali menjadi hemoglobin normal.
Memilih terapi alternatif: Jika pasien tidak bisa menerima metilen biru (misalnya karena defisiensi enzim G6PD), dokter bisa memberi asam askorbat (vitamin C dosis tinggi) atau melakukan transfusi tukar darah pada kasus darurat yang sangat berat.
Strategi Pencegahan
Meskipun kelainan bawaan genetik tidak dapat dicegah secara total, methemoglobinemia tipe dapatan (acquired) yang dipicu oleh faktor luar dapat diantisipasi dengan langkah-langkah pencegahan sederhana berikut.
Jangan pernah mengoleskan gel atau obat benzocaine ke gusi bayi yang sedang tumbuh gigi. Cukup pijat saja gusinya dengan jari yang bersih, atau berikan cincin gigitan dari karet.
Selalu baca label obat dengan teliti dan sampaikan kepada dokter atau dokter gigi kalau Anda pernah mengalami reaksi terhadap obat tertentu.
Untuk bayi di bawah enam bulan, jangan berikan makanan buatan sendiri yang terbuat dari sayuran kaya nitrat alami seperti wortel, bit, dan bayam.
Kalau Anda memakai air sumur untuk bayi, pastikan dulu kualitas airnya benar-benar aman.
Pekerja yang terpapar bahan kimia seperti pewarna anilin sebaiknya selalu memakai alat pelindung diri sesuai prosedur kerja yang berlaku.
Pasangan yang punya riwayat keluarga MetHb sebaiknya berkonsultasi dulu dengan konselor genetik sebelum merencanakan kehamilan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera ke dokter kalau Anda atau orang di sekitar Anda tiba-tiba mengalami kulit membiru, sesak napas tanpa sebab jelas, pusing hebat, atau lemas. Tetap waspada juga kalau bentuk gejala-gejala methemoglobinemia tersebut muncul setelah Anda minum obat tertentu atau terkena bahan kimia.
Ingat satu hal! Tes laboratorium, seperti tes darah atau medical check-up, membantu Anda memantau dan menyaring kondisi kesehatan, tetapi tidak menyembuhkan penyakit. Dokter memakai hasil tes darah sebagai pegangan untuk menentukan diagnosis dan memilih perawatan yang paling tepat.
Ingin mengecek kesehatan secara menyeluruh atau sekadar memantau kondisi sel darah Anda? Jadwalkan pemeriksaannya sekarang, praktis dan nyaman. Booking tes hematologi lengkap di Bumame hari ini dan dapatkan layanan laboratorium yang terpercaya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Chen, R. J., & Nappe, T. M. — Methemoglobinemia. StatPearls Publishing
Cleveland Clinic — Methemoglobinemia (MetHb)
MedlinePlus — Methemoglobinemia
National Organization for Rare Disorders — Hereditary Methemoglobinemia
U.S. Food and Drug Administration — FDA Takes Action Against the Use of OTC Benzocaine Teething Products Due to Serious Safety Risk, Lack of Benefit
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
Frequently Asked Question
Apakah methemoglobinemia bisa sembuh?
Methemoglobinemia yang didapat akibat obat atau bahan kimia dapat membaik setelah pemicu dihentikan dan mendapat penanganan yang sesuai. Pemulihan bergantung pada tingkat keparahan dan kondisi pasien.
Apakah makanan bisa menyebabkan methemoglobinemia?
Bisa. Paparan nitrat atau nitrit, termasuk dari air sumur yang tercemar, dapat memicu methemoglobinemia. Bayi kecil lebih rentan terhadap kondisi ini.
Apakah methemoglobinemia diturunkan dalam keluarga?
Methemoglobinemia bawaan dapat diturunkan melalui faktor genetik. Sementara itu, methemoglobinemia yang didapat akibat paparan obat atau bahan kimia umumnya tidak diwariskan.
Apakah pemeriksaan darah biasa bisa mendeteksi methemoglobinemia?
Pemeriksaan darah rutin dapat memberikan gambaran awal tentang kondisi darah, tetapi pengukuran kadar methemoglobin secara spesifik memerlukan pemeriksaan ko-oksimetri atau co-oximetry.
Siapa yang paling berisiko mengalami methemoglobinemia?
Bayi di bawah enam bulan, orang dengan kelainan genetik tertentu, serta orang yang terpapar obat pemicu atau air tercemar nitrat memiliki risiko lebih tinggi.
