Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Brugada Syndrome: Gejala dan Risiko Henti Jantung
Kembali ke Artikel & Berita

Apa itu Brugada Syndrome? Penyebab, Gejala, dan Risikonya

SBAOthers

Aktivitas sehari-hari seperti berolahraga, beristirahat, atau mengalami demam biasanya terasa biasa saja. Namun, pada kondisi tertentu, perubahan irama jantung dapat terjadi tanpa gejala yang jelas dan berisiko menimbulkan gangguan serius. Salah satunya adalah sindrom Brugada (Brugada syndrome).

Apa Itu Sindrom Brugada?

Sindrom Brugada adalah kelainan genetik yang memengaruhi sistem listrik jantung. Kondisi ini dapat mengganggu pengaturan detak jantung sehingga jantung dapat berdetak terlalu cepat atau tidak teratur (takikardia).

Sindrom Brugada juga dapat menyebabkan gangguan keseimbangan ion yang berperan dalam penghantaran sinyal listrik jantung. Gangguan tersebut dapat memicu aritmia atau kelainan irama jantung, meskipun struktur dan bentuk jantung terlihat normal saat pemeriksaan.

Dalam kondisi tertentu, sindrom ini bisa menyebabkan aritmia berbahaya yang meningkatkan risiko henti jantung dan kematian jantung mendadak. Salah satu gangguan irama yang dapat terjadi adalah fibrilasi ventrikel (VF), yaitu kondisi ketika bilik jantung hanya bergetar dan tidak mampu memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh.

Kematian jantung mendadak akibat sindrom Brugada umumnya tidak disebabkan oleh kelainan struktur jantung atau kekurangan aliran darah ke otot jantung (iskemia miokard). Kondisi tersebut terutama berkaitan dengan gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang dapat memicu aritmia berat.

Penyebab dan Faktor Risiko Brugada Syndrome

Penyebab sindrom Brugada belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini berkaitan dengan gangguan pada sistem kelistrikan jantung. Selain itu, terdapat berbagai faktor risiko dan pemicu yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan irama jantung pada orang yang rentan.

1. Mutasi Gen

Sindrom Brugada merupakan kelainan kanal ion jantung yang diturunkan secara genetik (inherited cardiac channelopathy). Kondisi ini bisa berhubungan dengan mutasi gen SCN5A, yaitu gen yang berperan dalam pembentukan subunit alfa saluran natrium NaV1.5 pada sel otot jantung.

Mutasi pada gen SCN5A dapat menyebabkan saluran natrium NaV1.5 tidak berfungsi secara normal. Gangguan tersebut dapat memengaruhi aliran listrik di dalam jantung sehingga mengganggu proses pembentukan dan penghantaran sinyal listrik yang mengatur detak jantung.

2. Riwayat Keluarga

Riwayat kematian jantung mendadak dalam keluarga dapat menjadi salah satu petunjuk adanya kecenderungan genetik terhadap Brugada syndrome. Namun, tidak semua penderita sindrom ini memiliki anggota keluarga dengan kondisi yang sama.

3. Jenis Kelamin Laki-Laki

Sindrom ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan. Perbandingannya sekitar 8 kasus pada laki-laki untuk setiap 1 kasus pada perempuan.

4. Demam

Demam bukanlah penyebab utama sindrom Brugada, tetapi kondisi ini bisa menjadi salah satu faktor yang memicu gejalanya. Suhu tubuh yang tinggi dapat memengaruhi aktivitas listrik jantung pada penderita, sehingga memicu detak jantung tidak normal yang dapat menyebabkan pingsan atau bahkan henti jantung mendadak.

5. Obat-Obatan Tertentu

Obat yang memengaruhi saluran natrium, terutama obat penghambat saluran natrium, bisa memperburuk atau memicu pola EKG Brugada pada orang yang rentan. Oleh karena itu, pasien sindrom ini perlu berhati-hati dalam menggunakan obat tertentu dan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya.

6. Konsumsi Alkohol

Konsumsi alkohol secara berlebihan juga bisa menjadi salah satu faktor yang memicu gangguan pada penderita sindrom Brugada. Pada sebagian penderita, konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya fibrilasi ventrikel hingga henti jantung mendadak.

7. Penggunaan Ganja dan Kokain

Ganja dan kokain pun bisa menyebabkan perubahan pada hasil elektrokardiogram (EKG) yang menyerupai pola pada sindrom Brugada. Selain itu, tetrahydrocannabinol (THC), yaitu zat psikoaktif utama dalam ganja, dapat memengaruhi cara kerja jantung dan berpotensi memicu gangguan irama jantung yang berbahaya.

Tanda dan Gejala Brugada Syndrome

Tanda dan gejala sindrom Brugada  dapat muncul secara tiba-tiba, bahkan ketika kondisi tubuh sebelumnya terasa baik-baik saja. Mengenali gejalanya sejak awal membantu menentukan kapan pemeriksaan jantung perlu dilakukan.

1. Temuan Grafik EKG yang Khas

Elektrokardiogram (EKG) merupakan pemeriksaan medis yang digunakan untuk merekam aktivitas listrik jantung. Pada pasien dengan sindrom Brugada, dokter dapat menemukan karakteristik tertentu pada hasil EKG yang membantu mengenali pola kelainan pada aktivitas listrik jantung.

Salah satu karakteristik yang paling penting adalah pola EKG tipe 1. Pada pola ini, segmen ST mengalami elevasi dengan bentuk yang menurun, kemudian diikuti gelombang T yang terbalik. Pola tersebut terkadang dapat terlihat secara spontan, tetapi pada kondisi tertentu baru muncul ketika pasien mengalami demam atau setelah dokter memberikan obat tertentu yang dapat memengaruhi saluran natrium pada jantung.

2. Kejang

Kejang juga bisa menjadi tanda dan gejala Brugada syndrome. Kondisi ini dapat terjadi ketika jantung mengalami gangguan irama sehingga kemampuan jantung untuk memompa darah ke otak menurun.

Akibatnya, otak kekurangan pasokan darah dan oksigen untuk sementara waktu, sehingga tubuh dapat menunjukkan gerakan yang menyerupai kejang. Namun, kejang tidak selalu disebabkan oleh gangguan pada otak karena gangguan irama jantung juga dapat memicu kondisi serupa.

3. Henti Jantung Mendadak

Tanda lain yang dapat muncul adalah henti jantung secara mendadak. Kondisi ini termasuk komplikasi serius yang dapat terjadi dan jika tidak segera mendapatkan pertolongan dapat menyebabkan kematian jantung mendadak. Pada penderita sindrom, henti jantung dapat terjadi ketika tubuh sedang beristirahat, termasuk saat tidur.

Diagnosis Brugada Syndrome

Sebelum menentukan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis dengan menanyakan gejala yang dialami serta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya. Kemudian, dokter melakukan langkah-langkah pemeriksaan berikut ini.

1. Pemeriksaan EKG

Pemeriksaan EKG menghasilkan rekaman aktivitas listrik jantung yang dapat menunjukkan pola khas sindrom Brugada. Jika hasil EKG menunjukkan pola yang mengarah pada sindrom, dokter akan melakukan evaluasi lebih lanjut dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut.

  • Riwayat berhasil diselamatkan dari henti jantung mendadak, yaitu pasien pernah mengalami kondisi yang mengancam nyawa tetapi berhasil mendapatkan pertolongan.

  • Riwayat sinkop non vagal, yaitu pasien pernah mengalami pingsan yang tidak disebabkan oleh respons vasovagal.

  • Riwayat keluarga, terutama jika terdapat anggota keluarga yang meninggal secara mendadak pada usia di bawah 45 tahun tanpa penyebab yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner.

2. Pemeriksaan EKG + Obat

Pemeriksaan EKG dengan bantuan obat dilakukan ketika hasil EKG awal menunjukkan pola tipe 2 atau tipe 3. Tahap pemeriksaan ulang ini bertujuan untuk melihat apakah pola tersebut dapat berubah menjadi pola tipe 1.

3. Pemeriksaan Gen

Tes genetik yang dimaksud umumnya menggunakan sampel air liur untuk pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut bertujuan mengetahui apakah terdapat variasi genetik tertentu yang berkaitan dengan sindrom Brugada.

4. Pengujian Elektrofisiologi (EP)

Tenaga kesehatan akan memasukkan kateter ke dalam jantung melalui vena femoralis di area kaki. Kateter tersebut digunakan untuk merekam dan mengukur aktivitas listrik jantung secara langsung dari dalam jantung. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan ketika hasil pemeriksaan sebelumnya belum dapat memberikan diagnosis yang jelas.

Cara Mengatasi Brugada Syndrome

Penanganan sindrom Brugada perlu disesuaikan dengan kondisi dan risiko gangguan irama jantung yang dialami. Dokter dapat menentukan langkah yang tepat melalui pemeriksaan dan pemantauan kondisi jantung secara berkala. Berikut ini penjelasan selengkapnya.

1. Memperbaiki Pola Sehari-hari

Sindrom Brugada terkadang tidak menimbulkan gejala yang jelas. Namun, jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan sindrom Brugada atau pernah mengalami kondisi ini, sebaiknya lakukan beberapa perubahan gaya hidup untuk membantu mengurangi faktor yang dapat memicu gangguan irama jantung, seperti:

  • Hindari obat-obatan tertentu yang dapat memicu atau memperburuk perubahan pada hasil EKG;

  • Hindari amfetamin dan obat yang mengandung amfetamin, karena zat tersebut dapat memengaruhi kerja jantung;

  • Batasi konsumsi alkohol, terutama dalam jumlah berlebihan;

  • Cegah peningkatan suhu tubuh yang terlalu tinggi, termasuk dengan segera menangani demam sesuai anjuran dokter; dan

  • Pastikan tidur yang cukup, karena kurang tidur dapat memengaruhi kondisi tubuh dan kesehatan jantung.

2. Pemasangan Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD)

ICD dapat mendeteksi gangguan irama jantung berbahaya, seperti ventricular tachycardia (VT) dan ventricular fibrillation (VF), kemudian memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung ke kondisi yang normal.

Dokter biasanya mempertimbangkan pemasangan ICD pada pasien yang pernah mengalami henti jantung mendadak atau memiliki risiko tinggi mengalami kondisi tersebut. Namun, pada kondisi tertentu, dokter dapat memilih pemantauan rutin terlebih dahulu dan memberi pengobatan jika gejala atau gangguan irama jantung muncul.

3. Terapi Obat-Obatan

Selain menerapkan perubahan gaya hidup dan menggunakan implantable cardioverter-defibrillator (ICD), dokter dapat mempertimbangkan terapi obat untuk membantu menangani Brugada syndrome. Pilihan penanganannya dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien, antara lain:

  • Quinidine, yang dapat dipertimbangkan pada pasien dengan aritmia ventrikel berulang;

  • Isoproterenol, yang biasanya digunakan untuk menangani kondisi akut dan diberikan di rumah sakit dengan pemantauan medis; dan

  • Ablasi, yang dapat menjadi pilihan pada kasus tertentu, terutama jika pasien mengalami aritmia yang berulang meskipun sudah mendapatkan penanganan lain.

Kenali Risiko Kesehatan Lewat Medical Check Up

Medical check-up (MCU) merupakan salah satu langkah untuk memantau kondisi kesehatan dan mengenali faktor risiko penyakit sejak dini, termasuk gangguan irama jantung seperti Brugada syndrome. Bumame menyediakan paket MCU Plus yang bisa digunakan untuk pemeriksaan kesehatan rutin bagi Anda dan keluarga.

Dengan dukungan tenaga kesehatan Bumame, hasil pemeriksaan dapat tersedia dalam waktu 1x24 jam. Hasil tersebut melalui proses skrining dan interpretasi, serta dilengkapi dengan saran kesehatan dari dokter sehingga Anda dapat memahami kondisi kesehatan dan menentukan langkah pemeriksaan lanjutan jika diperlukan.

Sindrom Brugada juga bisa muncul tanpa gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat membantu memantau kondisi tubuh. Dengan melakukan MCU secara berkala, Anda dan keluarga dapat lebih memahami kondisi kesehatan serta mendeteksi faktor risiko tertentu sejak dini.

Kapan Harus ke Dokter?

Sindrom Brugada sering kali tidak menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Namun, apabila mengalami henti jantung, jantung berdebar hebat, kejang, atau pingsan, segera hubungi tenaga kesehatan atau layanan darurat untuk mendapatkan pertolongan.

Anda juga bisa membuat janji dengan dokter apabila gejala yang muncul tergolong ringan atau berulang. Beberapa tanda yang perlu diperiksa antara lain pusing berulang, hampir pingsan, atau munculnya keluhan setelah mengonsumsi obat tertentu.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Keslan Kemkes. (2024). Kenali Sindrom Brugada, Salah Satu Penyebab Kematian Jantung Mendadak.

  2. Naseef Et Al. (2014). Electrocardiographic Methods For Diagnosis And Risk Stratification In The Brugada Syndrome. J Saudi Heart Assoc. 2015;27:96–108.

  3. Xu T, Wang S, Wang J and Xing J. (2025). Brugada syndrome update. Front. Physiol. 15:1520008.

  4. Faisal, E. (2014). Diagnosis Sindrom Brugada. J Kardiol Indones. 35:96-101.

  5. Mayo Clinic. (2026). Brugada Syndrome.

  6. Health Direct. (2024). Brugada Syndrome.

  7. Cleveland Clinic. (2026). Brugada Syndrome.

  8. Leedsth. (2025). Brugada Syndrome.

Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed

Frequently Asked Question

Apa itu Sindrom Brugada?
Sindrom Brugada merupakan kelainan genetik yang memengaruhi sistem listrik jantung dan dapat memicu gangguan irama jantung berbahaya. 
Apa pemicu utama sindrom Brugada?
Beberapa pemicu yang dapat memperburuk gangguan irama pada penderita Brugada antara lain demam, obat-obatan tertentu, konsumsi alkohol berlebihan, serta kurang tidur. 
Apakah sindrom Brugada merupakan penyakit keturunan?
Ya. Sindrom Brugada merupakan kelainan genetik yang dapat berkaitan dengan mutasi gen SCN5A dan riwayat keluarga dengan kematian jantung mendadak. 
Apakah sindrom Brugada bisa disembuhkan?
Saat ini belum terdapat terapi atau obat yang menghilangkan dasar genetik sindrom Brugada secara permanen. Namun, risiko komplikasinya dapat dikelola melalui perubahan gaya hidup, obat-obatan, atau pemasangan ICD sesuai kondisi pasien. 
Apa saja tanda dan gejala sindrom Brugada?

Tanda dan gejalanya dapat berupa pola khas pada EKG, kejang, hingga henti jantung mendadak. Kondisi ini juga dapat muncul secara tiba-tiba tanpa gejala yang jelas sebelumnya.