Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Dermatitis Kontak Alergi: Gejala, Pemicu Sehari-hari, dan Cara Mengatasinya
Kembali ke Artikel & Berita

Dermatitis Kontak Alergi: Gejala, Pemicu Sehari-hari, dan Cara Mengatasinya

SBAOthers

Anting baru dipakai pada akhir pekan, lalu daun telinga gatal dan memerah dua hari kemudian. Atau, kelopak mata terasa gatal setelah mewarnai rambut dengan merek yang sudah lama dipakai.

Pola seperti ini sering mengarah ke dermatitis kontak alergi. Karena reaksinya muncul belakangan, produk pemicunya sering luput dicurigai, dan ruam bisa terus kembali setiap kali kulit menyentuhnya lagi.

Artikel ini membahas cara reaksi ini terbentuk, bahan pemicunya, gejala, cara dokter melacak penyebabnya, serta perawatan dan pencegahannya.

Apa Itu Dermatitis Kontak Alergi?

Dermatitis kontak alergi adalah peradangan kulit karena sistem imun bereaksi terhadap bahan yang menyentuh kulit, yang disebut alergen. DermNet menggolongkannya sebagai hipersensitivitas tipe IV atau reaksi alergi tipe lambat. Laporan di jurnal PERDOSKI menyebut reaksi ini terjadi akibat paparan berulang terhadap bahan pemicu dari luar tubuh.

Kondisi ini termasuk salah satu jenis dermatitis. Kemenkes membedakannya dari dermatitis kontak iritan, yang terjadi karena zat seperti sabun atau deterjen langsung merusak lapisan luar kulit. Keduanya tidak menular. Karena tampilannya bisa mirip ruam merah pada kulit akibat sebab lain, riwayat kontak menjadi petunjuk penting.

Mengapa Ruam Baru Muncul Beberapa Hari Setelah Kontak?

Reaksi ini berjalan dalam dua tahap. Pada tahap sensitisasi, sistem imun mulai mengenali suatu bahan sebagai ancaman tanpa menimbulkan keluhan. DermNet mencatat proses ini bisa terjadi setelah bertahun-tahun bersentuhan dengan bahan yang sama.

Saat kulit kembali menyentuh bahan itu, jumlah yang sangat sedikit sudah cukup memicu ruam. Menurut DermNet, ruam biasanya muncul 24 sampai 72 jam setelah kontak, sehingga parfum atau krim yang dipakai dua hari sebelumnya sering tidak dicurigai.

Ruam umumnya muncul di kulit yang bersentuhan langsung, tetapi bahan pemicu juga bisa terbawa jari ke kelopak mata atau area kelamin. Kepekaan ini biasanya bertahan seumur hidup.

Bahan Sehari-hari yang Bisa Memicu Alergi Kulit

AAD mencatat lebih dari 15.000 bahan bisa memicu alergi kulit. Kemenkes dan DermNet menyebut kelompok berikut sering menjadi pemicu:

Bahan pemicu

Contoh sumber

Area yang sering terkena

Nikel dan kobalt

Perhiasan, tindik, casing ponsel

Telinga, jari, dan area tindik

Pewangi

Parfum, kosmetik, produk rumah tangga

Kulit yang terkena produk

Pengawet metilisotiazolinon

Produk rambut yang dibilas, tisu basah bayi

Wajah

Parafenilendiamin (PPD)

Pewarna rambut permanen, tato henna hitam

Kelopak mata, tepi telinga, wajah, dan leher

Karet dan lateks

Sarung tangan karet

Tangan

Akrilat

Kosmetik kuku, sambungan rambut

Ujung jari

Obat oles dan plester

Salep antibiotik, perekat plester medis

Kulit yang diolesi atau ditempeli

Tumbuhan

Tanaman, buah, dan sayur mentah

Tangan dan kulit yang terbuka

Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.

Menurut DermNet, pewarna rambut warna gelap mengandung kadar PPD lebih tinggi, dan reaksi ringannya sering berupa ruam kering yang gatal di kelopak mata atas atau tepi telinga.

Pekerjaan dan Kondisi yang Menaikkan Risiko

DermNet menyebut kondisi ini umum di masyarakat dan lebih sering ditemui pada kelompok berikut:

  • Pekerja yang rutin terpapar bahan kimia. Contohnya pekerja logam, penata rambut, ahli kecantikan, dan tenaga kesehatan. Kajian di jurnal PERDOSKI menyebut 95% penyakit kulit akibat kerja berupa dermatitis kontak, dengan risiko lebih tinggi pada tenaga kesehatan.

  • Perempuan. Paparannya cenderung lebih banyak, misalnya dari nikel pada perhiasan dan akrilat pada kosmetik kuku. Karena itu, perempuan lebih sering mengalaminya.

  • Kulit yang pelindungnya lemah. Anak lebih berisiko alergi nikel karena lapisan pelindung kulitnya belum matang dan eksim lebih banyak ditemui pada usia ini. Kulit yang lama mengalami dermatitis kontak iritan juga lebih mudah mengalami alergi kontak.

  • Lansia. Pada usia di atas 70 tahun, alergi terhadap antibiotik oles cukup sering ditemukan. Ruam yang justru muncul di area yang diolesi obat perlu disampaikan kepada dokter.

Gejala yang Muncul di Kulit yang Terpapar

Menurut Kemenkes, gejala umumnya muncul di bagian tubuh yang terpapar langsung.

1. Ruam Merah dengan Batas yang Jelas

DermNet menyebut ruamnya umumnya berbatas tegas di area kontak, dan pada kulit berwarna lebih sering tampak sebagai bercak gelap yang menebal. NHS mencatat kulit gelap bisa tampak cokelat tua, keunguan, atau keabuan.

2. Gatal yang Mengganggu

Kemenkes menyebut gatalnya bisa sangat mengganggu, dan garukan berulang bisa membuat kulit terbuka serta menebal. Karena gatal pada kulit punya banyak penyebab, riwayat kontak membantu dokter membedakannya.

3. Bentol Kecil dan Lepuhan Berair

Kulit bisa memunculkan benjolan kecil dan lepuhan yang mengeluarkan cairan, lalu berkerak. Lepuhan sering terlihat pada fase awal reaksi. Lepuhan yang luas atau nyeri sebaiknya segera diperiksakan.

4. Kulit Kering, Pecah-pecah, dan Bersisik

Tanda ini lebih sering muncul bila paparan terus berulang. DermNet menyebut ruam yang menahun bisa berubah menjadi bercak tebal dan bersisik.

5. Bengkak dan Rasa Terbakar

Kemenkes juga mencatat bengkak, rasa terbakar, atau nyeri. Pada reaksi berat terhadap pewarna rambut, kelopak mata, kulit kepala, wajah, dan leher bisa memerah, melepuh, dan bengkak.

Komplikasi bila Kulit Terus Terpapar Pemicunya

Kemenkes dan DermNet mencatat beberapa komplikasi berikut:

  • Infeksi sekunder. Kulit yang terbuka bisa dimasuki bakteri atau jamur. Kondisi ini memerlukan obat antibiotik atau antijamur dari dokter.

  • Perubahan warna kulit. Setelah peradangan reda, kulit bisa menjadi lebih gelap (hiperpigmentasi) atau lebih terang (hipopigmentasi). DermNet mencatat perubahan ini lebih sering pada kulit gelap.

  • Ruam meluas. Pada reaksi berat, ruam bisa menyebar dari area kontak ke bagian tubuh lain. Kondisi ini perlu ditangani dokter.

Kapan Sebaiknya Memeriksakan Ruam ke Dokter?

NHS menyarankan konsultasi bila keluhan menetap, sering kambuh, atau berat. Kemenkes menganjurkan segera mencari pertolongan medis bila gejala memburuk atau muncul komplikasi, misalnya luka garukan yang terinfeksi.

Bengkak dan lepuh di wajah atau kelopak mata setelah mewarnai rambut juga perlu segera diperiksakan, begitu pula ruam di area yang sedang diobati salep. Bila ruam tetap kembali walau produk sudah diganti, NHS menyebut dokter bisa merujuk ke dokter spesialis kulit untuk pemeriksaan lanjutan.

Uji Tempel untuk Melacak Bahan Penyebabnya

Dokter akan melihat pola ruam dan menanyakan pekerjaan, hobi, serta produk yang Anda pakai. AAD mencatat dokter juga bisa meminta Anda berhenti memakai produk tertentu untuk sementara.

Bila ruam terus kambuh, dokter bisa menyarankan uji tempel atau patch test, yang menurut DermNet menjadi standar utama diagnosis. Prosesnya seperti berikut:

  • Penempelan. Sejumlah kecil alergen diletakkan pada plester dan ditempel di kulit, biasanya di punggung. Plester dibiarkan 48 jam dan perlu tetap kering, karena plester yang lepas, basah, atau digaruk bisa membuat hasil tidak akurat.

  • Pembacaan pertama. Setelah 48 jam, dokter melepas plester dan menilai reaksi kulit di bawahnya. Area yang bereaksi menunjukkan bahan yang kemungkinan menjadi pemicu.

  • Pembacaan ulang. AAD menyebut kunjungan berikutnya dilakukan 4 sampai 7 hari kemudian. Jadwal ini penting karena reaksi alergi kulit bisa butuh waktu untuk muncul.

Plester bisa mengiritasi sebagian kulit, dan pada kulit gelap bekasnya bisa tampak lebih terang atau lebih gelap untuk sementara. Bila Anda memiliki psoriasis, sampaikan kepada dokter karena plester bisa memicu kekambuhannya.

AAD menjelaskan uji tempel berbeda dari uji tusuk kulit yang memeriksa reaksi cepat, sehingga pilihan di antara berbagai jenis tes alergi ditentukan dokter. Laporan kasus di jurnal PERDOSKI menunjukkan uji tempel bisa melacak alergi plester medis hingga ke bahan perekatnya.

Cara Mengatasi Dermatitis Kontak Alergi

Langkah utama adalah menemukan dan menghindari pemicunya. NHS menyebut kondisi ini biasanya membaik atau sembuh bila penyebabnya dihindari, dan Kemenkes mencatat ruam umumnya sembuh dalam dua hingga empat minggu. Perawatan lainnya meliputi:

  • Bilas dan lembapkan kulit. NHS menyarankan membilas kulit yang terpapar dengan air hangat dan emolien atau pelembap sesegera mungkin. Pelembap sebaiknya dioleskan sering dan dalam jumlah banyak.

  • Kompres dingin. AAD menyebut kompres dingin membantu meredakan gatal. Dokter bisa menjelaskan cara pemakaiannya.

  • Obat dari dokter. Untuk gejala berat, dokter bisa meresepkan krim atau salep kortikosteroid. Pada kasus parah, Kemenkes menyebut dokter bisa memberi obat antiinflamasi atau antialergi yang diminum.

Hindari mengoles salep sembarangan, karena obat oles seperti antibiotik juga bisa memicu alergi kontak.

Membaca Label dan Langkah Pencegahan Lainnya

Setelah pemicunya diketahui, pencegahan berfokus pada menghindari bahan tersebut:

  • Baca label bahan. Banyak bahan kimia punya beberapa nama di label. Orang yang alergi nikel juga bisa bereaksi terhadap kobalt.

  • Coba produk baru di area kecil. DermNet menyarankan mengoleskan sedikit produk baru di area kulit yang kecil lebih dulu. Untuk pewarna rambut, ikuti anjuran tes kulit di kemasan, tetapi hasil negatif belum menjamin bebas reaksi.

  • Gunakan pelindung saat bekerja. Kemenkes menganjurkan sarung tangan, masker, dan alat pelindung diri lain. NHS menyarankan melepas sarung tangan sesekali karena keringat bisa memperburuk gejala.

  • Hindari tato henna hitam. DermNet menganjurkan orang dengan alergi PPD menghindari tato ini. Kadar PPD yang tinggi bisa memicu lepuh di area tato dalam 1 sampai 2 hari.

Bila ruam terus berulang, memahami pola alergi yang sering kambuh membantu Anda dan dokter menyusun langkah pencegahan.

Catat Pemicunya, Beri Kulit Kesempatan Pulih

Catatan sederhana tentang produk baru, waktu munculnya ruam, dan lokasinya sangat membantu saat konsultasi. Dengan catatan itu, pemicu alergi lebih mudah ditelusuri dan perawatan bisa dimulai lebih awal. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.

Untuk memantau kondisi tubuh secara umum, medical check up berkala bisa menjadi pilihan. Bila ada pertanyaan seputar layanan ini di klinik Bumame, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Dermatitis Kontak.

  2. Batubara IS, Hardjodipuro A, Widaty S, Media Dermato-Venereologica Indonesiana (PERDOSKI). Hubungan antara Pekerjaan sebagai Tenaga Kesehatan dengan Kejadian Dermatitis Kontak Akibat Kerja.

  3. Pusadan SH, Sakka Z, Media Dermato-Venereologica Indonesiana (PERDOSKI). Dermatitis Kontak Alergi yang Diduga Disebabkan oleh Zinc Oxide.

  4. American Academy of Dermatology. Patch Testing Can Find What's Causing Your Rash.

  5. American Academy of Dermatology. Eczema Types: Contact Dermatitis Diagnosis and Treatment.

  6. DermNet (Oakley A, Post R, Fuller JS). Allergic Contact Dermatitis.

  7. DermNet (Ngan V, Gomez J). Allergy to Paraphenylenediamine.

  8. NHS. Contact Dermatitis.

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apakah dermatitis kontak alergi menular?

Tidak. Dermatitis kontak alergi tidak menular ke orang lain. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun bereaksi terhadap bahan tertentu yang menyentuh kulit.

Berapa lama ruam muncul setelah kulit menyentuh alergen?

Ruam biasanya muncul 24–72 jam setelah kulit bersentuhan dengan alergen. Karena reaksinya tertunda, produk yang digunakan beberapa hari sebelumnya bisa menjadi pemicu yang tidak langsung disadari.

Apa saja pemicu dermatitis kontak alergi yang sering ditemui?

Pemicu yang umum meliputi nikel pada perhiasan, pewangi dalam parfum dan kosmetik, pengawet dalam produk perawatan, PPD pada pewarna rambut, karet atau lateks, akrilat pada kosmetik kuku, obat oles, perekat plester, serta bahan dari tumbuhan.

Bagaimana cara dokter mengetahui bahan penyebab dermatitis kontak alergi?

Dokter akan memeriksa pola ruam dan menanyakan riwayat penggunaan produk, pekerjaan, serta aktivitas sehari-hari. Jika diperlukan, dokter melakukan uji tempel dengan menempelkan sejumlah kecil alergen pada kulit selama 48 jam, kemudian mengevaluasi reaksinya dan melakukan pembacaan ulang beberapa hari kemudian.

Apakah dermatitis kontak alergi bisa sembuh total?

Ruam umumnya membaik jika bahan pemicu ditemukan dan dihindari, disertai perawatan yang sesuai. Namun, kepekaan terhadap alergen biasanya bertahan seumur hidup, sehingga kontak ulang dapat menyebabkan ruam muncul kembali.