Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Diabetes Gestasional: Penyebab, Gejala, dan Cara Pencegahan
Kembali ke Artikel & Berita

Diabetes Gestasional: Penyebab, Gejala, dan Cara Pencegahan

SBATips Kesehatan

Kehamilan adalah masa yang cukup mendebarkan bagi para ibu lantaran ada banyak tantangan demi menjaga kesehatan diri dan janin. Perasaan ini mungkin paling sering dialami oleh ibu dengan riwayat gula darah tinggi, yang mana berisiko mengalami diabetes gestasional.

Apa itu Diabetes Gestasional?

Melansir Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, diabetes gestasional merupakan kondisi di mana tubuh ibu hamil kurang memproduksi atau tidak mampu menggunakan semua insulin (resistensi insulin) untuk mengatur gula darah (glukosa) selama kehamilan.

Kondisi ini membuat kadar glukosa meningkat sehingga menumpuk di dalam darah yang kemudian disebut hiperglikemia. Padahal, insulin sangat penting supaya glukosa dapat terpisah dari aliran darah dan mengubahnya menjadi energi.

Menariknya, meningkatnya kadar glukosa ini bisa dialami semua ibu hamil meski sebelumnya tidak pernah mempunyai riwayat diabetes. Biasanya, kondisi ini terjadi pada fase kehamilan trimester ke-2 atau ke-3 setelah tubuh bayi terbentuk dan akan sembuh pasca persalinan.

Oleh karena itu, diabetes gestasional berbeda dengan diabetes melitus tipe 1 dan 2.  Diabetes melitus gestasional hanya terjadi saat masa kehamilan dan akan membaik setelah persalinan.

Kemudian, diabetes melitus tipe 1 adalah penyakit autoimun bawaan akibat sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel pankreas penghasil insulin. Sedangkan diabetes tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin yang dipengaruhi faktor usia maupun gaya hidup. Kedua tipe diabetes ini terjadi sebelum masa kehamilan dan kondisinya lebih kompleks ketimbang gestasional.

Penyebab Diabetes Gestasional

Dokter Martha Rosana dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyebutkan bahwa belum ada sebab pasti mengapa jenis diabetes ini bisa terjadi. Tapi, diagnosis diabetes bisa muncul meskipun sebelumnya tidak ada riwayat karena tubuh tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah cukup selama hamil.

Tubuh justru memproduksi lebih banyak hormon estrogen, kortisol, dan human placental lactogen (hPL) sehingga ibu hamil mengalami penambahan berat badan. Perubahan inilah yang akhirnya menghambat kerja insulin dalam tubuh. Akibatnya, tubuh kewalahan mengontrol gula darah kemudian menyebabkan kadar gulanya tinggi.

Faktor Risiko Diabetes Gestasional

Adapun faktor risiko yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah selama masa kehamilan adalah sebagai berikut.

  • Obesitas: Lemak yang menumpuk menghasilkan zat-zat penyebab resistensi insulin, sehingga tubuh kurang optimal dalam mengatur gula darah.

  • Pernah melahirkan bayi besar dengan bobot lebih dari 4 kg: Ini karena tubuh ibu masih resisten terhadap insulin sehingga di kehamilan berikutnya rentan terjadi kembali.

  • Riwayat diabetes gestasional sebelumnya: Ini terjadi karena plasenta ibu kembali menghasilkan hormon yang mengganggu kerja insulin akibat riwayat kehamilan sebelumnya.

  • Punya riwayat diabetes tipe 2 dari keluarga: Diabetes adalah penyakit yang diturunkan, sehingga ibu dengan riwayat penyakit gula dari keluarga ikut rentan.

  • Kondisi polycystic ovary syndrome (PCOS): Perempuan dengan PCOS mempunyai kadar sex hormone binding globulin (SHBG) relatif rendah sehingga tubuh mengalami resistensi insulin.

  • Umur ibu hamil: Biasanya terjadi pada kehamilan di atas usia 35 tahun akibat penurunan metabolisme tubuh.

Gejala Diabetes Gestasional 

Ibu hamil dengan kondisi diabetes ini umumnya tidak merasakan gejala. Gejala yang muncul sering kali hanya tingkat ringan, seperti sering merasa haus dari biasanya, karena banyak minum jadi sering buang air kecil, mulut ibu tampak kering, mudah lelah, dan terkadang membuat penglihatan buram.

Gejala tersebut sebenarnya mirip seperti kehamilan normal. Oleh karena itu, Anda perlu menjalani pemeriksaan untuk mendapat diagnosis yang tepat.

Diagnosis Diabetes Gestasional

Untuk memastikan apakah ibu hamil mengalami diabetes selama kehamilan atau tidak, penting menjalani beberapa pemeriksaan berikut ini.

  • Tes gula darah: Untuk memastikan kadar glukosa berada di angka normal.

  • Tes toleransi glukosa oral (TTGO): Untuk melihat kemampuan tubuh dalam menyerap glukosa. Di sini, pasien harus puasa selama 8–10 jam terlebih dahulu untuk selanjutnya pengambilan darah melalui vena.

  • Tes urine: Pasien akan menjalani pemeriksaan urine untuk melihat kadar keton, protein, dan kreatinin.

  • USG: Dokter juga akan melakukan pemeriksaan USG untuk melihat kondisi janin.

  • Tes HbA1c: Untuk mengukur kadar glukosa rata-rata selama 3 bulan terakhir. Pada pemeriksaan ini, pasien tidak perlu puasa atau melakukan persiapan khusus, karena dokter hanya akan mengambil sampel darah dari vena.

  • Rekam jantung: Dibutuhkan apabila dokter mencurigai ada komplikasi akibat tingginya gula darah.

Komplikasi Diabetes Gestasional pada Ibu dan Janin

Naiknya kadar gula darah selama kehamilan yang terus dibiarkan akan memicu komplikasi, baik saat persalinan maupun setelahnya. Beberapa komplikasi tersebut adalah:

  • Preeklamsia, adalah kondisi komplikasi kehamilan akibat hipertensi;

  • Keguguran;

  • Persalinan caesar karena berat badan bayi berlebihan;

  • Bayi lahir prematur;

  • Bayi mengalami penyakit kuning dan gangguan pernapasan;

  • Hipoglikemia alias kadar gula rendah pada bayi baru lahir;

  • Makrosomia alias bayi lahir dengan berat badan berlebihan;

  • Diabetes pada anak;

  • Muncul penyakit jantung, ginjal, gangguan penglihatan, infeksi kandung kemih, dan saraf pada ibu;

  • Risiko menderita diabetes melitus tipe 2; dan

  • Kematian pada bayi di dalam kandungan usia di atas 20 minggu kehamilan.

Cara Mengatasi Diabetes Gestasional

Ibu yang mengalami diabetes selama hamil akan menjalani beberapa pengobatan untuk menurunkan kadar gula darah, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Menerapkan pola makan khusus seperti diet DM. Misalnya makan teratur tepat waktu, mengurangi konsumsi karbohidrat sederhana dan gula, mengonsumsi camilan bergizi seperti buah apel, jeruk, pir, edamame, yogurt, oatmeal dan jus tanpa tambahan gula.

  • Olahraga secara teratur selama 150 menit per minggu. Ibu bisa melakukan senam hamil, jalan kaki, atau berenang untuk menjaga berat badan ideal.

  • Konsumsi obat jika diperlukan, contohnya Diabit, Forbetes, dan insulin suntik sesuai anjuran dokter.

  • Pemantauan peningkatan berat badan pada ibu hamil oleh dokter untuk menghindari risiko obesitas.

Pencegahan Diabetes Gestasional

Diabetes selama kehamilan bisa dialami oleh siapa saja, termasuk ibu hamil yang tidak ada riwayat penyakit gula sama sekali. Oleh karena itu, langkah tepat untuk mencegah terjadinya lonjakan gula selama hamil adalah:

  • Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan untuk melihat kondisi janin dan mengetahui adanya risiko penyakit;

  • Melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara rutin, terutama bagi ibu yang berisiko;

  • Mengatur pola makan dan berolahraga;

  • Membatasi makanan atau minuman yang mengandung tinggi gula; serta

  • Mengurangi junk food dan makanan kolesterol tinggi.

Cek Kondisi Kehamilan bersama Bumame

Kondisi kehamilan yang rentan membutuhkan pemeriksaan dan penanganan secara rutin dari tim medis. Di sini, Anda bisa memanfaatkan Paket Ibu Hamil dari Bumame yang akan memeriksa kondisi kehamilan secara komprehensif.

Mulai dari melihat kadar sel darah, gula darah, zat besi sampai temuan dari tes urine. Ibu juga akan mendapatkan informasi penting selama masa kehamilan dan mempersiapkan persalinan melalui golongan darah dan rhesus.

Bagi ibu dengan riwayat penyakit tertentu, paket pemeriksaan Bumame membantu skrining HIV, hepatitis B, sifilis, dan reaksi antibodi terhadap beberapa infeksi yang dapat memengaruhi kehamilan. Untuk pemeriksaan menyeluruh, Anda bisa memilih Paket Gula Darah & MCU Basic. Semua layanan Bumame ini bisa Anda dapatkan secara praktis melalui fasilitas home care.

Kapan Harus ke Dokter? 

Apabila ibu mengalami gejala yang mengarah pada diabetes, seperti mual dan muntah parah, dehidrasi berat, bibir kering, sakit kepala hebat, sering buang air kecil, sampai merasakan pergerakan yang berbeda dari janin, segera datangi layanan kesehatan untuk pengecekan kadar gula darah. Pemeriksaan ke dokter kandungan sebaiknya dilakukan sejak awal kehamilan.

Pahami Risiko Diabetes pada Ibu Hamil demi Keselamatan Janin

Diabetes gestasional adalah kondisi yang banyak dialami ibu hamil selama kehamilan dan bisa hilang setelah melahirkan. Akan tetapi, memahami ciri-ciri diabetes pada wanita secara keseluruhan adalah langkah preventif untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin.

Untuk mendukung kesehatan, pastikan Anda rutin melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan minimal enam kali selama masa kehamilan. Pemeriksaan ini penting untuk melihat kondisi apakah janin tumbuh optimal dan mendapat gizi cukup di dalam kandungan.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Mengenal Diabetes pada Kehamilan

  2. Kimia Farma — Ibu Hamil Perlu Tahu! Bahaya Diabetes Gestasional untuk Ibu dan Bayi

  3. CDC — Gestational Diabetes

  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Diabetes pada Kehamilan, Apakah yang Terjadi pada Bayi?

  5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia — Mengenal Diabetes Gestasional yang Menyerang Ibu Hamil

  6. American Diabetes Association — Gestational Diabetes

  7. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia — Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Hiperglikemia dalam Kehamilan

  8. Internal Medicine — The Oral Glucose Tolerance Test (OGTT) Revisited

  9. Diabetes Self Management — Weight Gain and Gestational Diabetes

  10. CDC — Diabetes and Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

  11. National Library of Medicine — Gestational Diabetes Mellitus in the Setting of Polycystic Ovary Syndrome: A Systematic Review

  12. Jurnal Ilmiah Mahasiswa & Penelitian Keperawatan — Literature Review: Faktor yang Mempengaruhi Diabetes Mellitus Gestasional

Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing

Frequently Asked Question

Apakah diabetes gestasional bisa sembuh setelah melahirkan?

Kadar gula darah pada diabetes gestasional sering membaik setelah persalinan. Namun, ibu tetap perlu melakukan pemeriksaan lanjutan karena risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari dapat meningkat.

Apa penyebab diabetes gestasional pada ibu hamil?

Diabetes gestasional terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi insulin yang cukup atau mengalami resistensi insulin selama kehamilan. Perubahan hormon kehamilan dapat mengganggu kerja insulin sehingga kadar gula darah meningkat.

Apa saja gejala diabetes gestasional?

Sebagian besar ibu hamil tidak mengalami gejala yang jelas. Gejala yang mungkin muncul meliputi sering haus, lebih sering buang air kecil, mulut kering, mudah lelah, dan penglihatan buram. Pemeriksaan gula darah diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Bagaimana cara menurunkan gula darah pada ibu hamil dengan diabetes gestasional?

Penanganan dapat mencakup pengaturan pola makan, aktivitas fisik yang sesuai kondisi kehamilan, pemantauan gula darah, dan obat atau insulin jika diperlukan. Seluruh langkah sebaiknya mengikuti arahan dokter yang menangani kehamilan.

Apakah diabetes gestasional berbahaya bagi ibu dan janin?

Jika tidak terkontrol, diabetes gestasional dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti preeklamsia, bayi lahir dengan berat badan berlebihan, kelahiran prematur, dan gula darah rendah pada bayi baru lahir. Pemeriksaan serta penanganan rutin membantu mengurangi risiko tersebut.