Ketidakmampuan merespons aroma secara maksimal seperti aroma minuman hangat atau kelezatan makanan mengindikasikan terjadinya penurunan fungsi penciuman yang disebut hiposmia. Gejala ini umumnya tidak langsung disadari dalam rutinitas harian dan dapat bersifat sementara maupun menetap.
Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor seperti sumbatan ringan pada saluran napas hingga infeksi penyakit. Meskipun tidak bersifat darurat, gangguan penciuman yang berlangsung lama tetap memerlukan perhatian serius. Untuk itulah, pemahaman terhadap akar masalah serta konsultasi medis yang akurat sangat penting.
Mengenal Hiposmia dan Pengaruhnya
Hiposmia merujuk pada melemahnya kemampuan seseorang dalam menangkap aroma. Meski masih mampu mencium bau, penderitanya merasakan intensitas aroma yang jauh berkurang atau kesulitan mengenali wewangian tertentu.
Keadaan ini berlainan dengan anosmia (kehilangan daya cium secara total) maupun parosmia (kekeliruan persepsi bau, di mana wewangian yang biasa justru terasa aneh atau tidak sedap).
Memiliki indra penciuman yang berfungsi baik sangatlah berarti bagi kita sebagai manusia. Selain menambah kenikmatan saat menyantap hidangan, fungsi ini menjadi alarm alami untuk mengendus ancaman sekitar, seperti bau gas bocor atau asap kebakaran.
Oleh sebab itu, ketika sensitivitas penciuman menurun, dampaknya tak hanya membuat cita rasa makanan berkurang, tetapi juga berisiko membahayakan keselamatan dan mengganggu kualitas hidup secara keseluruhan.
Gejala Hiposmia yang Perlu Dikenali Sejak Awal
Gejala hiposmia dapat berkembang secara bertahap atau muncul setelah seseorang mengalami infeksi saluran pernapasan. Berikut beberapa gejala yang umum terjadi.
Aroma terasa lebih lemah, misal bau parfum, kopi, sabun, atau masakan terasa samar meskipun sumbernya dekat.
Kesulitan mengenali bau tertentu. Terjadi ketika beberapa aroma masih tercium, tetapi sulit membedakan atau mengenali aroma lainnya.
Perubahan selera makan. Terjadi akibat berkurangnya kenikmatan saat menyantap makanan mengingat cita rasa hidangan sangat dipengaruhi oleh fungsi penciuman. Oleh sebab itu, kepekaan hidung yang menurun dapat membuat makanan terasa hambar.
Sulit mendeteksi sinyal bahaya. Daya penciuman yang menurun dapat membuat seseorang sulit mencium bau gas bocor, asap, atau makanan yang sudah rusak.
Kendati begitu, gejala ini tidak serta-merta menandakan hiposmia. Gangguan sementara akibat hidung tersumbat, alergi, atau infeksi juga dapat menurunkan sensitivitas penciuman untuk sementara waktu.
Segera cari bantuan medis jika penurunan penciuman muncul mendadak atau tidak membaik setelah infeksi mereda. Waspadai pula jika kondisi ini disertai tubuh lemas, wajah menyenget atau terlihat miring, gangguan bicara, atau sakit kepala hebat.
Mengapa Hiposmia Bisa Terjadi?
Hiposmia dapat disebabkan oleh gangguan pada aliran udara menuju area penciuman, peradangan, kerusakan sel penciuman, atau gangguan pada jalur saraf yang membawa informasi bau ke otak. Berikut beberapa faktor yang dapat berperan.
1. Pilek, Flu, dan Infeksi Saluran Pernapasan
Ketika mengalami pilek atau flu, lapisan dalam hidung bisa membengkak dan menghasilkan lebih banyak lendir. Kondisi tersebut menghambat aroma mencapai reseptor penciuman.
Pada sebagian orang, infeksi virus juga dapat memengaruhi sistem penciuman sehingga kemampuan mencium bau membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
2. COVID-19 dan Infeksi Virus Lainnya
Gangguan penciuman merupakan salah satu gejala yang dikenal terkait dengan COVID-19. Namun, hiposmia tidak hanya berkaitan dengan COVID-19. Infeksi virus lain juga dapat memengaruhi saluran pernapasan bagian atas dan memicu gangguan penciuman sementara.
3. Alergi dan Masalah pada Hidung atau Sinus
Rhinitis alergi, sinusitis, polip hidung, dan kondisi lain yang menyebabkan pembengkakan atau penyumbatan hidung juga dapat mengganggu kemampuan mencium bau. Pada situasi tertentu, penanganan peradangan atau penyumbatan yang mendasarinya dapat membantu memperbaiki kemampuan penciuman.
4. Cedera Kepala dan Gangguan Saraf
Benturan kepala dapat mengganggu saraf penciuman atau jalur saraf yang memproses informasi bau. Selain itu, gangguan penciuman dapat ditemukan pada beberapa penyakit neurologis, termasuk penyakit Parkinson dan Alzheimer.
Meski demikian, hiposmia saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami penyakit saraf tertentu. Diagnosis perlu mempertimbangkan gejala lain, riwayat kesehatan, dan hasil pemeriksaan.
5. Usia, Kebiasaan Merokok, dan Paparan Lingkungan
Kemampuan penciuman dapat menurun seiring bertambahnya usia. Kebiasaan merokok serta paparan bahan kimia atau iritan tertentu juga berpotensi memengaruhi fungsi penciuman.
Faktor risiko lain mencakup riwayat operasi hidung, penggunaan obat tertentu, dan kondisi kesehatan yang mendasari. Hubungan setiap faktor dengan hiposmia dapat berbeda pada tiap individu.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Hiposmia?
Diagnosis gangguan hiposmia tidak cukup hanya berdasarkan perasaan bahwa aroma menjadi lebih lemah. Dokter perlu menilai kapan keluhan dimulai, seberapa besar perubahan yang terjadi, serta kemungkinan penyebabnya.
Pemeriksaan biasanya dimulai dengan wawancara mengenai riwayat kesehatan, infeksi sebelumnya, alergi, cedera kepala, kebiasaan merokok, dan obat yang sedang digunakan. Selanjutnya, dokter dapat memeriksa kondisi hidung untuk melihat apakah terdapat peradangan, polip, atau sumbatan yang menghambat penciuman.
Jika dibutuhkan, dokter juga dapat melakukan tes penciuman menggunakan aroma tertentu untuk menilai kemampuan mengenali atau membedakan bau. Pemeriksaan lanjutan, seperti endoskopi hidung atau pencitraan, dipertimbangkan berdasarkan temuan klinis dan dugaan penyebabnya.
Selain pemeriksaan organ hidung, menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh juga penting untuk mendeteksi infeksi atau penyakit sistemik yang dapat memicu gangguan penciuman. Sebagai langkah awal, Anda bisa memilih Medical Check Up Basic Bumame dengan harga mulai dari Rp695.000.
Paket tersebut mencakup pemeriksaan darah dan urine untuk menilai indikator kesehatan umum, termasuk profil lipid atau kolesterol, gula darah, asam urat, serta parameter terkait anemia dan infeksi.
Namun, ini bukan pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis hiposmia. Jika kemampuan penciuman menurun atau tidak kunjung membaik, konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya dapat dievaluasi dan penanganan yang sesuai bisa ditentukan.
Pilihan Pengobatan Hiposmia Sesuai Penyebabnya
Penanganan hiposmia bergantung pada faktor pemicunya. Tidak ada satu pengobatan yang cocok untuk semua orang, sehingga langkah pertama adalah mengetahui penyebab penurunan penciuman. Berikut langkah yang dapat dipertimbangkan.
Mengatasi alergi atau peradangan hidung. Pengobatan dapat dilakukan dengan penggunaan semprotan hidung atau obat tertentu sesuai rekomendasi dokter.
Menangani infeksi atau masalah sinus. Pengobatan difokuskan pada penyakit yang mendasarinya. Antibiotik hanya diberikan jika memang terdapat indikasi infeksi bakteri, bukan untuk infeksi virus.
Evaluasi penggunaan obat. Jika obat tertentu diduga menyebabkan gangguan penciuman, dokter perlu menilai kembali penggunaannya. Obat resep tidak boleh dihentikan sendiri tanpa arahan dokter.
Latihan penciuman. Tujuannya membantu proses pemulihan pada gangguan penciuman tertentu, terutama yang terjadi setelah infeksi virus.
Sebagai tambahan, latihan penciuman atau olfactory training dilakukan dengan mencium beberapa aroma yang berbeda secara teratur, misalnya aroma bunga, jeruk, rempah, atau kayu putih. Pilih aroma yang aman dan familiar, lalu cium dengan lembut sambil memusatkan perhatian pada aroma tersebut.
Latihan ini umumnya dilakukan secara konsisten selama beberapa bulan. Hasilnya bervariasi dan tidak selalu membuat penciuman pulih sepenuhnya. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memastikan apakah metode ini aman dan sesuai dengan kondisi yang dialami.
Perlu diingat pula untuk hindari memasukkan bahan iritan ke dalam hidung atau menghirup zat kimia pekat dengan tujuan memulihkan penciuman. Tindakan tersebut justru dapat menyebabkan iritasi atau cedera.
Kebiasaan Sehari-hari untuk Membantu Menjaga Indra Penciuman
Tidak semua penyebab hiposmia bisa dicegah. Meski begitu, terdapat beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan hidung dan mengurangi risiko gangguan tertentu, di antaranya sebagai berikut.
Jaga kebersihan hidung dengan menggunakan larutan pembilas yang tepat beserta air steril, distilasi, atau air yang telah direbus dan didinginkan.
Kelola alergi sejak dini dengan mengenali pemicunya seperti debu atau asap serta berkonsultasi jika gejala sering berulang.
Hindari rokok dan paparan iritan lainnya seperti debu atau bahan kimia yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.
Lindungi kepala dari cedera dengan mengenakan perlengkapan keselamatan yang sesuai saat berkendara atau beraktivitas berisiko.
Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk memantau kondisi tubuh secara umum meskipun tidak menjamin pencegahan hiposmia.
Gunakan detektor asap yang berfungsi baik serta pastikan keamanan makanan dengan memeriksa tanggal kedaluwarsa atau meminta bantuan orang lain saat indra penciuman sedang menurun.
Kapan Sebaiknya Konsultasi dengan Dokter?
Konsultasikan dengan dokter jika penurunan penciuman tidak membaik setelah pilek atau infeksi mereda, sering terjadi secara berulang, mengganggu aktivitas, muncul tanpa sebab jelas, disertai hidung tersumbat berkepanjangan, atau terjadi setelah cedera kepala.
Lebih jauh, segera cari pertolongan medis darurat jika penurunan penciuman disertai kelemahan satu sisi tubuh, gangguan bicara, atau sakit kepala hebat yang tidak biasa. Jika gejala ringan muncul saat flu dan pilek, pantau perkembangannya dan periksakan diri ke dokter apabila tidak kunjung membaik.
Kenali Perubahan Penciuman dan Mulai dari Langkah yang Tepat
Hiposmia adalah penurunan kemampuan mencium bau yang dapat disebabkan oleh infeksi, alergi, gangguan hidung dan sinus, cedera kepala, penuaan, atau kondisi kesehatan tertentu. Meski terkadang ringan, kondisi ini perlu diperhatikan karena dapat mengurangi kenikmatan makan dan memengaruhi keselamatan sehari-hari.
Untuk menentukan penanganan yang tepat, penting mengenali gejala dan mencari tahu penyebabnya. Dokter dapat menyarankan tes penciuman, pemeriksaan hidung, atau pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan. Selain itu, pemeriksaan kesehatan rutin juga dapat membantu memberikan gambaran kondisi tubuh secara menyeluruh.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
References:
National Library of Medicine. (2021). Diagnosis of Anosmia and Hyposmia: A Systematic Review.
Airway Diseases. (2023). Hyposmia and Anosmia: Causes and Treatment.
Journal of Otology & Rhinology. (2023). Hyposmia: Diagnosis, and Management of Reduced Sense of Smell.
National Library of Medicine. (2023). Hyposmia in COVID-19: Temporal Recovery of Smell: A Preliminary Study.
NPJ Parkinson's Disease. (2025). Hyposmia in Parkinson’s disease; exploring selective odour loss.
Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna
