Ketika menjalani kemoterapi, pilihan makanan sehari-hari harus benar-benar diperhatikan oleh setiap pasien. Ada sejumlah pantangan makanan setelah kemoterapi yang berisiko membawa kuman, mengiritasi tubuh, atau kurang sesuai dengan kondisi tubuh.
Akan tetapi, bukan berarti pasien harus menghindari banyak makanan tanpa alasan. Hal ini karena setiap kebutuhan orang tidaklah sama, sehingga pola makan sebaiknya disesuaikan dengan efek samping, kondisi tubuh, dan anjuran ahli gizi atau dokter.
Kenapa Pola Makan Penting Setelah Kemoterapi?
Melansir National Cancer Institute (NCI), efek obat kemoterapi bisa berpengaruh terhadap sel-sel sehat yang tumbuh cepat, termasuk sel di saluran pencernaan dan mulut. Akibatnya, banyak pasien mengalami muntah, mual, sembelit, diare, luka di mulut, perubahan rasa, sulit menelan, atau nafsu makan yang menurun.
Kondisi tersebut bisa menyebabkan asupan makanan berkurang. Sementara tubuh tetap memerlukan energi dan protein agar bisa mempertahankan massa otot, berat badan, dan menjalani proses pemulihan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga sudah menekankan bahwa makanan bagi pasien kanker haruslah bergizi, aman, bervariasi, dan disesuaikan dengan kemampuan tubuhnya. Maka dari itu, pola makan sehat bukan berarti pasien harus memaksakan diri untuk mengonsumsi makanan tertentu.
Prinsipnya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan nutrisi dengan pilihan yang aman dan dapat ditoleransi oleh tubuh. Pola makan yang kaya sayuran, biji-bijian, buah, dan sumber protein juga sejalan dengan anjuran pola makan sehat untuk mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Daftar Pantangan Makanan Setelah Kemoterapi
Berikut ini beberapa makanan dan minuman yang sebaiknya pasien batasi atau hindari setelah kemoterapi. Tingkat pembatasan pantangan makanan setelah kemoterapi bisa berbeda, khususnya ketika jumlah sel darah putih pasien sedang dalam tingkat rendah atau mengalami keluhan tertentu.
1. Olahan Daging, Ikan, dan Telur Setengah Matang
Dalam pernyataan American Cancer Society, pasien kemoterapi sebaiknya menghindari olahan ayam, daging, ikan, kerang, dan telur yang kurang matang atau masih mentah. Termasuk sushi, telur setengah matang, sashimi, telur mata sapi dengan kuning telur yang masih cair, dan makanan yang menggunakan telur mentah.
Makanan tersebut bisa membawa mikroorganisme atau bakteri penyebab infeksi. Risiko ini bahkan lebih penting saat daya tahan tubuh pasien menurun karena pengobatan. Pilih ikan, telur, dan daging yang dimasak sampai matang agar risiko penyakit akibat makanan bisa dihindari.
2. Susu dan Produk yang Tidak Dipasteurisasi
Susu mentah, keju atau produk olahan susu, hingga jus sayuran atau buah yang tidak melalui proses pasteurisasi juga sebaiknya dihindari. Sebab, proses pasteurisasi umumnya membantu mengurangi mikroorganisme berbahaya. Maka dari itu, perhatikan label produk dan pilih keju, yogurt, susu, atau makanan kemasan yang sudah dipasteurisasi.
3. Kecambah Mentah dan Makanan yang Kurang Higienis
Kecambah mentah, seperti kecambah alfalfa atau tauge, bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri sehingga harus dihindari saat risiko infeksi meningkat. Makanan yang disimpan di suhu tinggi, tidak dicuci dengan baik, atau dibiarkan terlalu lama di luar lemari pendingin juga sebaiknya dihindari.
4. Daging Olahan atau Makanan Tinggi Garam
Nugget, kornet, sosis, bacon, maupun daging olahan sejenis sebaiknya tidak menjadi pilihan utama sehari-hari. WHO menjelaskan bahwa mengonsumsi daging olahan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker usus besar (kolorektal).
Sementara itu, pola makan sehat menganjurkan pembatasan konsumsi daging olahan dan makanan tinggi garam. Namun, bukan berarti satu kali mengonsumsi makanan tersebut otomatis menyebabkan masalah. Pembatasan lebih dimaksudkan agar pola makan sehari-hari diisi oleh lebih banyak makanan segar dan bergizi.
5. Alkohol
Minuman beralkohol tentu masuk dalam daftar pantangan makanan setelah kemoterapi yang harus dihindari selama masa pengobatan dan pemulihan kemoterapi, kecuali dokter telah menyatakan aman.
Sebab, alkohol bisa memperburuk iritasi pada mulut yang terkena luka karena terapi dan berinteraksi dengan obat-obatan tertentu. Jika Anda masih mengalami luka mulut, mual, sariawan, atau gangguan menelan, alkohol juga bisa menyebabkan keluhan tersebut terasa lebih tidak nyaman.
6. Makanan Pedas, Asam, atau Terlalu Keras saat Mulut Sensitif
Tidak semua pasien kemoterapi tidak boleh mengonsumsi makanan pedas atau asam. Akan tetapi, makanan seperti sambal, makanan yang sangat asin, jeruk, keripik, dan makanan bertekstur sebaiknya dibatasi jika pasien memiliki luka atau iritasi pada mulut.
Pilih makanan yang teksturnya lebih lembut, mudah dikunyah, dan tidak terlalu panas. Ini penting agar tidak menyebabkan rasa nyeri atau sakit di area mulut sampai kondisi mulut membaik.
7. Suplemen atau Herbal Tanpa Persetujuan Dokter
Suplemen vitamin, obat herbal, jamu, atau produk yang diklaim bisa meningkatkan imunitas tubuh tidak selalu aman ketika Anda mengonsumsinya bersamaan dengan obat kanker. Beberapa bahan, termasuk grapefruit dan tanaman herbal tertentu, bisa berpengaruh terhadap bagaimana tubuh memproses obat.
Maka dari itu, jangan langsung menambahkan suplemen hanya karena menganggapnya alami. Informasikan semua jamu, vitamin, atau suplemen yang dikonsumsi kepada dokter atau ahli gizi.
Menu Makanan Sehat untuk Pasien Kemoterapi
Selain memperhatikan pantangan makanan setelah kemoterapi, pasien juga harus memperoleh cukup energi, vitamin, protein, mineral, dan cairan. Di bawah ini adalah beberapa pilihan menu makanan sehat setelah kemoterapi.
1. Sumber Protein Sehat
Pasien bisa mendapatkan asupan protein dari ayam tanpa kulit, ikan matang, tahu, telur matang, kacang-kacangan, tempe, yoghurt pasteurisasi, dan susu sesuai toleransi tubuh. Protein berperan dalam mempertahankan massa otot dan mendukung kekebalan tubuh selama masa pemulihan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memasukkan daging tanpa lemak, tempe, tahu, susu dan olahannya, ikan, serta telur sebagai sumber protein yang bisa digunakan dalam diet pasien kanker.
2. Sayur dan Buah
Sayur dan buah menyediakan beragam vitamin, serat, mineral, dan komponen penting lainnya. Oleh karenanya, pilih buah dan sayuran yang segar, dicuci dengan air mengalir, dan diolah dengan cara yang aman. Jika mulut pasien sedang luka atau pencernaannya sensitif, masaklah sayuran sampai lebih lunak dan pilih buah berdasarkan tekstur yang mudah ditoleransi.
3. Karbohidrat sebagai Sumber Energi
Nasi, ubi, kentang, roti, oatmeal, dan sumber karbohidrat sejenis bisa membantu memenuhi kebutuhan energi. Pasien kemoterapi tidak perlu menghilangkan karbohidrat hanya karena sedang menjalani pemulihan.
Pilih sumber karbohidrat yang sesuai dengan kondisi pencernaan dan kemampuan makan pasien. Jika cepat kenyang, pilih porsi kecil tetapi makan lebih sering sebagai pilihan yang tepat.
4. Cairan yang Cukup
Air putih adalah pilihan utama untuk membantu tubuh pasien memenuhi kebutuhan cairan. Jika muntah atau mual membuat sulit minum dalam jumlah banyak, cobalah untuk minum sedikit demi sedikit tetapi lebih sering.
Namun, sejatinya kebutuhan cairan bisa berbeda pada setiap orang, khususnya ketika terdapat kondisi tertentu pada jantung, ginjal, atau saluran pencernaan. Untuk itu, ikuti jumlah cairan yang dianjurkan oleh tim medis.
Tips Mengatasi Mual dan Nafsu Makan Menurun
Mual dan nafsu makan berkurang adalah keluhan yang bisa terjadi setelah menjalani kemoterapi. Di samping mengetahui pantangan makanan setelah kemoterapi, adapun beberapa langkah sederhana yang bisa membantu tubuh tetap memperoleh asupan makanan adalah sebagai berikut.
Makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, misalnya 4–6 kali sehari.
Pilih makanan yang memiliki aroma tidak terlalu kuat jika bau makanan tersebut bisa memicu mual.
Sediakan makanan ringan yang mudah dikonsumsi, seperti roti, biskuit tawar, bubur, atau yoghurt pasteurisasi.
Minum secara perlahan dan lebih banyak di antara waktu makan jika cepat merasa kenyang.
Pilih makanan yang mengandung protein dan energi tinggi saat nafsu makan sedang baik.
Jika pasien kesulitan mengonsumsi makanan padat, sebaiknya pertimbangkan untuk memilih makanan bertekstur lunak atau cairan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Jangan memaksakan diri untuk mengonsumsi makanan yang justru membuat mual semakin parah.
Jika berat badan pasien terus menurun atau sulit untuk mempertahankan asupan makanan, segera berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.
Pentingnya Cek Kesehatan Setelah Kemoterapi
Menjaga pola makanan memang sangatlah penting, tetapi pasien juga harus memantau kondisi tubuh setelah kemoterapi. Pemeriksaan kesehatan bisa memberi gambaran tentang beberapa parameter tubuh yang harus diperhatikan.
Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah Medical Check Up Plus dari Bumame. Paket ini sudah mencakup pemeriksaan hematologi lengkap, fungsi ginjal melalui ureum, fungsi hati melalui SGPT dan SGOT, profil lipid, HbA1c, gula darah puasa, kreatinin dan eGFR, vitamin D 25-OH, dan urine lengkap.
Bumame juga menyediakan pemeriksaan melalui layanan Walk-In atau Home Care. Bagi Anda yang memerlukan pemantauan kesehatan setelah menjalani beragam tahapan pengobatan, hasil pemeriksaan bisa menjadi informasi tambahan untuk Anda bicarakan dengan dokter.
Untuk waktu dan jenis pemeriksaan juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan rekomendasi tenaga medis yang menangani Anda.
Kapan Perlu Konsultasi ke Ahli Gizi?
Konsultasi dengan ahli gizi bisa pasien lakukan saat mengalami kesulitan dalam mengikuti pantangan makanan setelah kemoterapi. Beberapa indikasi yang harus Anda perhatikan adalah nafsu makan menurun, mual atau muntah berulang, sembelit, diare, atau cepat merasa kenyang.
Ahli gizi bisa membantu menyesuaikan menu makanan sehat untuk pasien kemoterapi dengan kondisi dan efek samping yang dialami. Konsultasi tersebut juga penting agar sebelum mengonsumsi vitamin, suplemen, atau obat herbal tertentu, penggunaannya tidak sampai mengganggu pengobatan.
Menjaga Asupan, Mendukung Masa Pemulihan
Mengetahui apa saja pantangan makanan setelah kemoterapi bukan berarti pasien harus menghindari banyak makanan tanpa alasan. Fokus utamanya yaitu memilih makanan sehat setelah kemoterapi yang bergizi, aman, mengandung cukup energi dan protein, dan sesuai dengan kondisi tubuh.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala juga diperlukan untuk memberi gambaran tentang kondisi tubuh selama masa pemulihan kemoterapi. Jika pasien mengalami keluhan yang menetap atau asupan makanan semakin sulit untuk terpenuhi, segera berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Cancer Institute (NCI). (2024). Nutrition During Cancer.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2026). RS M. Djamil Edukasi Pentingnya Asupan Gizi Selama Pengobatan Kanker.
World Health Organization/IARC. (2015). European Code against Cancer 4th Edition: Diet and Cancer.
American Cancer Society. (2026). Food Safety During Cancer Treatment.
World Health Organization. (2026). Carcinogenicity of the Consumption of Red Meat and Processed Meat.
National Cancer Institute. (2024). Alcohol and Cancer Risk Fact Sheet.
National Cancer Institute. (2024). Cancer Therapy Interactions With Foods and Dietary Supplements.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2025). Diet Tinggi Protein.
Bumame. (2026). Medical Check Up Plus: Isi Paket, Harga & Prosedur.
Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna
_(1).jpg&w=3840&q=75)