Kulit di sekitar kuku terasa bengkak, nyeri, dan bernanah? Jangan terus sepelekan karena itu bisa menjadi tanda paronikia. Ini adalah peradangan pada kulit di sekitar kuku yang biasanya muncul disertai dengan kemerahan dan nyeri. Kondisi ini biasanya dapat terjadi karena luka kecil, infeksi, maupun iritasi.
Pada sebagian orang, masalah ini dapat membaik hanya dengan penanganan sederhana. Namun, jika kondisinya semakin parah hingga muncul nanah, pemeriksaan dokter diperlukan untuk mencegah infeksi semakin meluas. Mari memahami gejala, penyebab, serta cara penanganannya!
Apa Itu Paronikia?
Sederhananya, paronikia (paronychia) adalah kondisi ketika kulit di sekitar kuku tangan atau kaki mengalami peradangan. Kondisi ini biasanya menyerang lipatan kulit di bagian samping atau pangkal kuku, terutama ketika lapisan kulit ini mengalami kerusakan yang membuatnya lebih mudah terkena iritasi atau infeksi.
Berdasarkan lamanya peradangan berlangsung, paronychia terbagi menjadi dua jenis.
Acute Paronychia
Jenis ini adalah peradangan yang muncul secara tiba-tiba dan biasanya berlangsung kurang dari enam minggu. Penyebabnya yang paling umum adalah infeksi bakteri yang masuk melalui luka kecil pada kulit di sekitar kuku.
Chronic Paronychia
Jenis kronis merupakan peradangan di sekitar kuku yang berlangsung lebih dari enam minggu. Berbeda dengan acute paronychia, kondisi ini lebih sering disebabkan oleh iritasi akibat paparan air, deterjen, atau bahan kimia. Infeksi bakteri atau jamur juga dapat menjadi penyebab dari jenis ini.
Gejala dan Tanda Paronikia
Gejala biasanya akan muncul pada bagian kulit yang ada di sekitar kuku, baik kuku tangan maupun kaki. Pada jenis acute paronychia, gejalanya bisa berkembang dalam hitungan jam atau beberapa hari. Sedangkan untuk jenis chronic, cenderung berlangsung lebih lama. Berikut beberapa gejalanya.
Kulit di sekitar kuku membengkak dan memerah.
Nyeri di bagian sekitar kuku saat Anda sentuh.
Kulit terasa hangat.
Muncul benjolan yang berisi nanah.
Kulit terasa menebal atau mengelupas.
Mulai terlihat perubahan bentuk dan warna di permukaan kuku.
Pada jenis acute paronychia, pembengkakan dan rasa nyeri biasanya akan lebih terasa, terlebih jika muncul nanah. Di sisi lain, jenis chronic dapat menyebabkan kutikula, yaitu lapisan kulit tipis di pangkal kuku, mengalami kerusakan. Hasilnya, kuku akan tampak benjol dan warnanya pun berubah.
Jika sampai tidak mendapat penanganan yang tepat, infeksi dari gangguan ini bisa menyebar ke jaringan kulit sekitar. Namun, tidak semua gejala di atas disebabkan oleh paronychia. Karena itu, diperlukan pemeriksaan dokter untuk memastikan penyebabnya.
Penyebab dan Faktor Risiko Paronikia
Secara umum, penyebab paronychia berbeda tergantung dari jenisnya, apakah itu akut atau kronis. Paronikia jenis akun umumnya terjadi karena ada infeksi saat kulit terluka, sedangkan kronis lebih sering terjadi karena iritasi di kulit di sekitar kuku. Beberapa penyebab dan faktor risikonya adalah sebagai berikut.
1. Infeksi Bakteri
Infeksi karena bakteri merupakan salah satu penyebab utama acute paronychia, terutama oleh bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri ini biasanya masuk lewat luka kecil di sekitar kuku yang menyebabkan peradangan. Infeksi dari bakteri inilah yang akhirnya menyebabkan kulit menjadi bengkak, merah, nyeri, bahkan bernanah.
2. Kebiasaan Menggigit Kuku
Penyebab umum lainnya dari paronychia adalah kebiasaan menggigit kuku. Menggigit kuku atau menarik kulit di sekitar kuku dapat menyebabkan luka kecil yang membuka jalan masuk bagi bakteri. Tidak hanya bakteri, kebiasaan ini juga dapat merusak lapisan pelindung kulit di sekitar kuku.
3. Paparan Air dan Bahan Kimia
Terlalu sering mencuci tangan atau menggunakan deterjen dan bahan kimia juga bisa menjadi salah satu penyebab paronikia. Paparan air dan bahan kimia bisa merusak kutikula dan membuatnya iritasi, sehingga meningkatkan risiko jenis chronic paronychia.
4. Kebiasaan Memotong Kuku
Selain kebiasaan menggigit kuku, memotong kuku terlalu pendek juga dapat membuat seseorang mengalami paronychia. Bagaimanapun, potongan kuku yang terlalu pendek dapat melukai kulit di sekitar kuku. Luka tersebut yang kemudian menyebabkan iritasi dan membuka jalan masuk bakteri ke kulit.
5. Infeksi Jamur
Selain bakteri, jamur Candida juga dapat ditemukan di kulit yang mengalami paronychia chronic. Kondisi ini biasanya dipicu iritasi yang terlalu lama, hingga akhirnya merusak lapisan pelindung kulit di sekitar kuku. Kerusakan tersebut juga dapat memudahkan jamur berkembang dan ikut memperparah peradangan.
6. Kondisi Kesehatan Tertentu
Orang yang memiliki penyakit diabetes melitus atau daya tahan tubuh lemah biasanya memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi. Sebab, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan tubuh melawan infeksi dan memperlambat proses penyembuhan luka.
Pada penderita diabetes, kadar gula darah tinggi bisa meningkatkan risiko infeksi dan menyebabkan luka lebih sulit untuk sembuh. Kondisi ini juga perlu Anda perhatikan, terutama saat muncul gejala diabetes pada kulit, seperti infeksi yang sering kambuh.
Diagnosis dan Pemeriksaan
Diagnosis umumnya akan dokter lakukan lewat pemeriksaan langsung pada kuku dan kulit sekitar kuku. Dokter akan melihat gejala dan menanyakan kapan gejala muncul. Beberapa pemeriksaan untuk mendiagnosisnya adalah sebagai berikut.
1. Pemeriksaan Fisik
Dokter akan memeriksa kondisi kulit sekitar kuku untuk mengetahui apakah ada kemerahan, pembengkakan, nyeri, atau nanah. Pemeriksaan ini biasanya sudah cukup untuk dapat membantu mengenali dan menentukan penanganan awal.
2. Pemeriksaan Sampel Cairan
Jika muncul infeksi berat, tidak membaik, dan sering kambuh, dokter bisa mempertimbangkan pengambilan sampel cairan atau nanah. Sampel akan dokter periksa untuk mengetahui mikroorganisme yang menyebabkan infeksi dan menentukan pengobatan.
3. Pemeriksaan Jamur
Pada jenis chronic yang sulit sembuh, dokter bisa mempertimbangkan pemeriksaan jamur atau mencari kemungkinan penyakit kulit lain. Pemeriksaan didasari oleh keluhan dan hasil pemeriksaan fisik, dan bukan prosedur utama untuk semua penderita.
4. Pemeriksaan Kesehatan Tambahan
Jika paronikia sering kambuh atau luka sulit sembuh, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan kesehatan lain. Salah satunya pemeriksaan gula darah apabila terdapat faktor risiko atau gejala yang mengarah pada diabetes.
Ini karena kadar gula darah tinggi dapat mengganggu proses penyembuhan luka dan meningkatkan risiko infeksi. Kondisi ini juga dapat berkaitan dengan luka diabetes dan cara perawatannya, meskipun tidak semua penderita membutuhkan pemeriksaan gula darah.
Untuk membantu mengevaluasi faktor kesehatan yang mungkin menyertai keluhan kulit berulang, tersedia MCU Skin Panel Core di Bumame. Paket ini mencakup pemeriksaan gula darah puasa, HbA1c, serta beberapa parameter kesehatan lain sebagai informasi pendukung bagi dokter, bukan untuk memastikan diagnosis.
Pengobatan dan Penanganan Paronikia
Pengobatan akan tergantung pada jenis, penyebab, dan tingkat keparahan. Kondisi yang ringan bisa membaik dengan perawatan sederhana, sedangkan paronychia akut dan kronis membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Berikut beberapa caranya.
1. Merendam Jari di Air Hangat
Merendam jari dalam air hangat selama 10–15 menit dapat membantu meredakan nyeri dan pembengkakan. Lakukan beberapa kali sehari, kemudian keringkan dengan lembut agar kulit tidak terlalu lembap. Cara ini dapat membantu meredakan gejala yang masih ringan.
2. Pemberian Obat Antibiotik
Jika penyebabnya adalah infeksi bakteri, dokter nisa memberikan antibiotik untuk membantu mengatasi infeksi. Namun, tidak semua kasus akan memerlukan antibiotik. Pemberian antibiotik harus disesuaikan dengan tingkat keparahan dan kondisi infeksi.
3. Mengeluarkan Nanah
Jika paronikia menyebabkan munculnya nanah, dokter dapat melakukan tindakan medis untuk mengeluarkan nanah tersebut. Prosedur ini bertujuan mengurangi nyeri pada bagian yang mengalami infeksi. Ingat! Anda tidak boleh melakukannya sendiri karena bisa berisiko memperburuk infeksi.
4. Mengurangi Iritasi pada Kulit
Pada jenis kronis, penanganan utamanya adalah menghindari paparan air, deterjen, dan bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi. Selain itu, dokter dapat memberikan obat antiradang dalam bentuk krim untuk membantu meredakan peradangan pada kulit.
5. Penanganan Kondisi yang Menyertai
Jika berkaitan dengan masalah kesehatan lain, dokter akan menyarankan penanganan yang sesuai dengan penyebabnya. Contohnya, penderita diabetes mungkin membutuhkan pengelolaan kadar gula darah yang lebih baik untuk mendukung kesehatan dan penyembuhan luka.
Cara Mencegah
Paronikia dapat Anda cegah dengan menjaga kebersihan kuku dan menghindari kebiasaan yang dapat melukai kulit sekitarnya. Selain itu, Anda harus menjaga tangan tetap kering, terutama bagi orang yang sering mencuci tangan atau menggunakan deterjen sehari-hari. Berikut cara pencegahan yang dapat Anda lakukan.
Hindari kebiasaan menggigit kuku.
Memotong kuku tidak terlalu pendek.
Menggunakan sarung tangan saat mencuci atau menggunakan bahan kimia.
Jaga tangan bersih dan keringkan setelah terkena air.
Hingga menggunakan alat perawatan kuku yang kotor.
Di samping itu, menjaga kelembapan kulit di sekitar kuku juga dapat membantu mengurangi risiko. Jika kulit kering atau pecah-pecah, gunakan pelembap seperti dalam perawatan kulit yang mengalami eksim kering. Penggunaan pelembap dapat membantu menjaga kesehatan kulit dan mengurangi iritasi yang berisiko memicu paronychia.
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?
Paronikia ringan bisa membaik dengan perawatan sederhana. Namun, jika pembengkakan semakin besar, rasa nyeri bertambah, atau keluhan tidak membaik setelah satu hingga dua hari, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.
Jika muncul nanah yang semakin banyak, kemerahan menyebar ke bagian jari lainnya, atau disertai demam, segera cari pertolongan medis. Kondisi tersebut dapat menunjukkan infeksi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, terutama pada orang dengan diabetes atau daya tahan tubuh lemah.
Untuk membantu menilai faktor kesehatan yang mungkin berkaitan dengan infeksi kulit berulang atau luka yang sulit sembuh, dokter dapat menyarankan pemeriksaan laboratorium. Anda dapat mempertimbangkan MCU Skin Panel Core di Bumame sesuai anjuran dokter sebagai pemeriksaan pendukung, bukan pengganti pengobatan.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Cleveland Clinic — Paronychia (Nail Infection): Symptoms, Causes and Treatment
American Academy of Family Physicians — Acute and Chronic Paronychia
DermNet — Paronychia
Harvard Health Publishing — Paronychia
Dulski, Anne, dan Edwards, Christopher W. — Paronychia
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apa itu paronikia?
Paronikia adalah peradangan pada kulit di sekitar kuku tangan atau kaki, terutama pada lipatan samping dan pangkal kuku. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi atau iritasi.
Apa saja gejala paronikia?
Gejalanya meliputi kulit sekitar kuku yang membengkak, memerah, terasa nyeri atau hangat, munculnya nanah, kulit menebal atau mengelupas, serta perubahan bentuk dan warna kuku.
Apa penyebab paronikia?
Paronikia akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri yang masuk melalui luka kecil. Paronikia kronis lebih sering berkaitan dengan iritasi akibat paparan air atau bahan kimia, meskipun infeksi jamur juga dapat berperan.
Bagaimana cara mengobati paronikia?
Paronikia ringan dapat ditangani dengan merendam jari dalam air hangat selama 10–15 menit, beberapa kali sehari, lalu mengeringkannya. Dokter dapat memberikan antibiotik jika diperlukan atau mengeluarkan nanah melalui prosedur medis. Hindari memencetnya sendiri.
Bagaimana cara mencegah paronikia?
Hindari menggigit kuku, memotong kuku terlalu pendek, dan menarik kulit di sekitarnya. Jaga tangan tetap bersih dan kering, gunakan sarung tangan saat terpapar deterjen atau bahan kimia, serta pastikan alat perawatan kuku bersih.
