Naik tangga, jalan cepat, atau sekadar beraktivitas seharian seharusnya tidak membuat napas terasa terlalu berat. Namun, napas pendek, mudah terengah-engah, atau batuk yang tidak kunjung sembuh bisa menjadi tanda bahwa fungsi paru perlu diperiksa. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah melalui pemeriksaan spirometri.
Apa Itu Pemeriksaan Spirometri?
Menurut American Thoracic Society (ATS), pemeriksaan spirometri adalah pemeriksaan fisiologis paru yang digunakan untuk mengukur volume atau jumlah udara yang dapat dihirup dan dihembuskan secara maksimal.
Pemeriksaan ini juga menilai seberapa cepat udara dapat keluar dari paru-paru dengan melihat perubahan volume dan aliran udara berdasarkan waktu. Hasil pengukuran tersebut dapat membantu dokter menilai kondisi saluran pernapasan dan fungsi paru secara lebih objektif.
Dalam pemeriksaan ini, pasien diminta menarik napas sedalam mungkin, kemudian menghembuskannya sekuat dan secepat mungkin melalui alat spirometer untuk mengukur jumlah serta aliran udara yang keluar dari paru-paru. Dengan hasil tersebut, dokter dapat menilai seberapa baik paru-paru bekerja dan membantu mengidentifikasi gangguan pernapasan tertentu.
Tujuan Pemeriksaan Spirometri
Fungsi paru-paru yang baik sangat penting untuk memastikan tubuh mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, baik saat melakukan aktivitas sehari-hari maupun ketika berolahraga atau melakukan aktivitas fisik yang berat. Oleh karena itu, pemeriksaan spirometri dilakukan untuk mengukur seberapa baik paru-paru bekerja.
Secara umum, spirometri memiliki beberapa tujuan, di antaranya adalah sebagai berikut.
Menilai fungsi paru-paru: Mengukur volume dan aliran udara yang dapat masuk dan keluar dari paru-paru untuk mengetahui apakah fungsi pernapasan berjalan normal.
Membantu mendiagnosis penyakit paru-paru: Hasil spirometri dapat membantu dokter mendeteksi atau mengevaluasi gangguan seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan kondisi lain yang memengaruhi aliran udara.
Mengetahui pengaruh penyakit terhadap fungsi paru: Pemeriksaan dapat menunjukkan seberapa besar suatu penyakit atau gangguan pernapasan memengaruhi kemampuan paru-paru bekerja.
Memantau perkembangan penyakit: Spirometri dapat dilakukan secara berkala untuk melihat apakah fungsi paru membaik, tetap stabil, atau mengalami penurunan dari waktu ke waktu.
Mengevaluasi respons terhadap pengobatan: Dokter dapat membandingkan hasil pemeriksaan sebelum dan sesudah pengobatan untuk mengetahui apakah terapi yang diberikan membantu meningkatkan fungsi paru-paru.
Membantu menilai risiko sebelum tindakan medis tertentu: Dalam kondisi tertentu, hasil spirometri bisa menjadi pertimbangan dokter untuk menilai kesiapan fungsi paru sebelum menjalani operasi atau prosedur medis tertentu.
Prosedur dan Cara Kerja Pemeriksaan Spirometri
Agar hasil pemeriksaan akurat, Anda perlu memahami tahapan-tahapan pemeriksaan spirometri berikut ini.
1. Sebelum Pemeriksaan
Sebelum menjalani spirometri, ikuti beberapa persiapan agar kondisi tubuh tidak memengaruhi hasil pengukuran. Dokter juga akan menanyakan dan mencatat informasi penting mengenai kondisi Anda serta memastikan tidak ada persiapan yang terlewat.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan meliputi:
Sebaiknya berada dalam kondisi tenang dan beristirahat sebelum hingga selama pemeriksaan;
Kenakan pakaian yang longgar, terutama pada bagian dada dan perut, agar tidak menghambat gerakan saat menarik dan menghembuskan napas;
Jika Anda pengguna gigi palsu, umumnya gigi tidak perlu dilepas selama bisa membantu Anda menutup mulut dengan baik di sekitar mouthpiece;
Hindari merokok, menggunakan vape, atau mengisap pipa air (water pipe) setidaknya satu jam sebelum pemeriksaan;
Hindari konsumsi alkohol atau zat lain yang bisa menyebabkan intoksikasi dalam waktu yang telah ditentukan oleh dokter sebelum pemeriksaan;
Hindari olahraga atau aktivitas fisik berat setidaknya satu jam sebelum tes karena aktivitas tersebut dapat memengaruhi fungsi pernapasan sementara; serta
Beri tahu dokter jika sedang mengonsumsi obat tertentu, terutama obat yang bisa memengaruhi fungsi saluran pernapasan. Nantinya, dokter akan menentukan apakah obat tersebut perlu dihentikan sementara sebelum pemeriksaan.
2. Tahapan Pemeriksaan Spirometri
Selama spirometri, Anda (pasien) dan dokter memiliki peran penting untuk memastikan hasil pengukuran dapat diandalkan. Anda perlu mengikuti instruksi dengan tepat, sementara dokter atau perawat harus memberi penjelasan dan contoh gerakan pernapasan sebelum pemeriksaan dimulai.
Untuk dokter:
Beri pasien kesempatan untuk mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer sebelum pemeriksaan.
Konfirmasikan identitas pasien, termasuk nama, usia, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan. Data tersebut diperlukan untuk membantu menilai hasil spirometri sesuai karakteristik pasien.
Tanyakan apakah pasien merokok atau menggunakan vape serta apakah terdapat konsumsi obat atau zat tertentu yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.
Tanyakan mengenai gejala pernapasan yang sedang atau pernah dialami pasien, seperti batuk, sesak napas, atau napas berbunyi.
Jelaskan tujuan dan tahapan pemeriksaan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Peragakan teknik bernapas yang benar agar pasien mengetahui cara menarik dan menghembuskan napas selama pemeriksaan.
Pastikan pasien berada dalam posisi yang nyaman dan aman sebelum manuver pernapasan dilakukan.
Untuk pasien (Anda):
Jawab pertanyaan dari dokter atau petugas mengenai kondisi kesehatan, gejala pernapasan, kebiasaan merokok, dan obat yang sedang dikonsumsi secara jujur.
Perhatikan dengan baik penjelasan dan peragaan teknik spirometri yang diberikan petugas.
Duduk dengan posisi tegak dan nyaman selama pemeriksaan untuk membantu menghasilkan pengukuran yang optimal.
Dokter akan memasang penjepit hidung agar udara tidak keluar melalui hidung. Selanjutnya, tempatkan mouthpiece di dalam mulut dan rapatkan bibir di sekelilingnya agar tidak terjadi kebocoran udara.
Bernapaslah secara normal terlebih dahulu sesuai instruksi petugas.
Tarik napas sedalam dan secepat mungkin hingga paru-paru terisi penuh, kemudian segera lakukan pengembusan napas.
Hembuskan napas dengan sekuat dan selama mungkin sampai tidak ada lagi udara yang dapat dikeluarkan. Selama proses ini, pertahankan posisi tubuh tetap tegak dan ikuti arahan petugas.
Setelah mengeluarkan udara sebanyak mungkin, tarik kembali napas sedalam mungkin hingga paru-paru terisi penuh jika petugas meminta langkah tersebut.
Manuver pernapasan biasanya perlu diulangi setidaknya tiga kali untuk memperoleh hasil yang konsisten. Jumlah pengulangan dapat berbeda pada setiap pasien dan umumnya dibatasi agar pasien tidak terlalu lelah atau mengalami keluhan selama pemeriksaan.
3. Setelah Pemeriksaan
Setelah seluruh rangkaian spirometri selesai, Anda biasanya bisa kembali bernapas secara normal dan beristirahat sejenak. Dokter mungkin akan memantau kondisi Anda untuk memastikan tidak ada keluhan setelah melakukan beberapa kali tarikan dan hembusan napas dengan usaha maksimal.
Beberapa hal yang bisa dilakukan setelah pemeriksaan antara lain:
Bernapas secara normal dan beristirahat selama beberapa saat;
Tetap duduk dengan tenang sampai tubuh terasa nyaman;
Segera beritahu dokter atau perawat jika mengalami pusing, sesak napas, nyeri dada, atau keluhan lain setelah pemeriksaan;
Ikuti instruksi apabila dokter memerlukan pemeriksaan lanjutan atau pengulangan spirometri; serta
Jika kondisi tubuh dalam keadaan baik dan tidak ada instruksi khusus dari dokter, Anda bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa.
Interpretasi Hasil Pemeriksaan Spirometri
Hasil tes spirometri memberikan gambaran mengenai fungsi paru-paru, terutama kemampuan paru-paru dalam menarik dan mengeluarkan udara. Dokter biasanya menilai beberapa parameter utama, seperti FVC (Forced Vital Capacity), FEV₁ (Forced Expiratory Volume in One Second), dan rasio FEV₁/FVC.
1. Forced Vital Capacity (FVC)
Forced Vital Capacity (FVC) adalah jumlah udara maksimal yang dapat dikeluarkan dengan kuat dan sampai tuntas setelah Anda menarik napas sedalam mungkin. Parameter ini membantu menggambarkan kapasitas paru-paru dalam mengeluarkan udara setelah pengisian paru secara maksimal.
Dalam interpretasi spirometri, nilai FVC dibandingkan dengan Lower Limit of Normal (LLN). Berdasarkan pendekatan yang digunakan dalam pedoman ATS, nilai FVC dianggap berada dalam kisaran normal apabila hasilnya sama dengan atau berada di atas LLN.
LLN umumnya ditetapkan pada persentil ke-5, yang setara dengan z-score −1,645. Nilai acuan tersebut tidak sama untuk setiap orang karena perhitungannya mempertimbangkan beberapa faktor, seperti usia, tinggi badan, jenis kelamin, dan populasi referensi.
2. Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV₁)
Forced Expiratory Volume in One Second (FEV₁) adalah jumlah udara yang dikeluarkan secara paksa dalam satu detik pertama setelah Anda menarik napas sedalam mungkin. Parameter ini memberi gambaran mengenai seberapa lancar udara bisa keluar dari paru-paru, terutama saat terdapat hambatan pada saluran pernapasan.
Dokter biasanya menginterpretasikan FEV₁ bersama dengan FVC dan menghitung rasio FEV₁/FVC. Perbandingan kedua parameter tersebut membantu menentukan apakah terdapat hambatan aliran udara dan membantu mengidentifikasi pola gangguan ventilasi pada paru-paru.
Berdasarkan parameter tersebut, pola hasil spirometri secara umum dapat dikelompokkan menjadi normal, obstruktif, atau restriktif.
Normal: Apabila nilai FVC dan rasio FEV₁/FVC berada pada atau di atas batas normal (LLN). Namun, hasil normal tidak selalu berarti seseorang pasti terbebas dari penyakit paru tertentu. Penderita asma, contohnya, bisa memiliki hasil spirometri normal ketika pemeriksaan dilakukan saat gejala sedang tidak muncul.
Obstruktif: Ditandai dengan rasio FEV₁/FVC yang berada di bawah LLN. Kondisi ini menunjukkan adanya hambatan aliran udara sehingga udara menjadi lebih sulit dikeluarkan dari paru-paru, terutama saat menghembuskan napas dengan kuat.
Restriktif: Umumnya dicurigai ketika FVC berada di bawah LLN, sedangkan rasio FEV₁/FVC tetap berada pada atau di atas LLN. Pola ini menunjukkan adanya kemungkinan keterbatasan volume udara yang dapat ditampung dan dikeluarkan.
Lengkapi Pemeriksaan Paru dengan Prosedur MCU
Mulai sekarang, jagalah kesehatan paru-paru dengan melakukan pemeriksaan Medical Check Up (MCU) Paru Premium dari Bumame. Pemeriksaan ini bisa memberi gambaran mengenai kondisi fungsi pernapasan dan mendeteksi atau mengevaluasi berbagai gangguan pernapasan, seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), fibrosis paru, dan kondisi lainnya.
Biaya pemeriksaan MCU khusus paru memang lebih tinggi ketimbang medical check up pada umum karena mencakup sejumlah pemeriksaan untuk mengevaluasi kondisi tubuh secara lebih menyeluruh. Di Bumame, MCU Paru tersedia dengan harga Rp4.375.000,00 dan dilengkapi berbagai fasilitas pemeriksaan unggulan.
Dengan melakukan pemeriksaan di Bumame, Anda bisa mendapatkan hasil pemeriksaan yang menjadi dasar bagi dokter untuk menilai kondisi kesehatan paru-paru secara lebih menyeluruh. Anda juga bisa berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai hasil pemeriksaan dan langkah selanjutnya yang perlu dilakukan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.
Kapan Perlu Melakukan Pemeriksaan Spirometri?
Tes spirometri bisa Anda pertimbangkan ketika mengalami keluhan pernapasan yang menetap atau berulang, seperti sesak napas, napas berbunyi (mengi), batuk yang berlangsung lama, maupun dada terasa berat.
Dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan ini sebagai bagian dari evaluasi fungsi paru, terutama ketika terdapat dugaan gangguan pernapasan tertentu, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau kondisi paru lainnya, termasuk paru-paru basah.
Jika keluhan pernapasan muncul berulang, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter. Dokter akan menentukan apakah spirometri diperlukan dan membantu memastikan pemeriksaan dilakukan dengan tepat.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Stanojevic S, Kaminsky DA, Miller MR, et al. (2022). ERS/ATS technical standard on interpretive strategies for routine lung function tests. Eur Respir J 2022; 60: 2101499.
Brian L. Graham, et al. (2019). An Official American Thoracic Society and European Respiratory Society Technical Statement, American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, Volume 200, Issue 8.
JM Haynes. (.n.d). Basic spirometry testing and interpretation for the primary care provider. Can J Respir Ther 2018;54(4):92–98.
Cleveland Clinic. (2024). Spirometry.
Mayo Clinic. (2024). Spirometry.
NHS UK. (2025). Spirometry Test.
EMC. (2026). Understanding Spirometry: A Pulmonary Function Test for Early Detection of Respiratory Disorders.
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
_(1).jpg&w=3840&q=75)