Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Restless Leg Syndrome: Penyebab Kaki Sulit Diam
Kembali ke Artikel & Berita

Restless Leg Syndrome: Penyebab Kaki Sulit Diam

SBAOthers

Setelah lelah beraktivitas seharian dan bersiap untuk tidur, pernahkah Anda tiba-tiba merasakan ada tarikan ringan di bagian otot kaki yang membuat Anda ingin terus menggerakan kaki? Kondisi ini tentu dapat mengganggu waktu tidur. Jika terus berlanjut, Anda pun perlu waspada terhadap gangguan bernama restless leg syndrome.

Gerakan kaki yang terkadang sulit berhenti ini sering kali muncul saat seseorang duduk atau berbaring dalam waktu lama. Sehingga menjadi salah satu penyebab gangguan tidur, yang bisa berdampak pada kesehatan. Oleh karena itu, penting bagi Anda mengenali kondisi ini agar mendapat penanganan yang sesuai.

Apa Itu Restless Leg Syndrome?

Restless leg syndrome adalah gangguan neurologis atau sistem saraf yang menyebabkan seseorang berkeinginan kuat untuk terus menggerakkan kakinya. Dorongan kuat tersebut diakibatkan adanya sensasi yang tidak nyaman, seperti nyeri, kesemutan, serasa terbakar, berdenyut, atau tarikan di bagian otot betis dan paha.

Biasanya gejala tersebut terjadi pada sore atau malam hari saat sedang beristirahat, baik dalam keadaan duduk atau berbaring. Dengan menggerakkan kaki, rasa sakit dan tidak nyaman di kaki akan mereda untuk sementara waktu. Namun, jika kaki terpaksa harus bergerak terus, tentu saja istirahat Anda menjadi terganggu, bahkan susah tidur. 

Meski restless leg syndrome (RLS) tidak mengancam jiwa, kesulitan tidur nyenyak di malam hari akan berdampak signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental. Selain itu, produktivitas kerja sehari-hari akan menurun akibat kelelahan ekstrem dan rasa kantuk berlebih di siang hari.

RLS atau sindrom kaki gelisah, juga dikenal sebagai penyakit Willis-Ekbom, termasuk gangguan kronis yang dapat berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia. Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak dan orang dewasa. Namun, lebih sering terjadi pada orang berusia 50 tahun.

Gejala dan Tanda-tanda Restless Leg Syndrome

Gejala RLS pada setiap orang dapat berbeda-beda, mulai dari gejala yang ringan hingga berat, tergantung dari penyebabnya. Berikut beberapa tanda-tanda khas yang sering penderita rasakan.

  • Adanya dorongan kuat dan tak tertahankan untuk terus menggerakkan kaki, akibat rasa tidak nyaman di dalam otot kaki.

  • Sensasi tidak nyaman terjadi di kedua kaki secara bersamaan, yaitu berupa rasa nyeri yang merayap atau menjalar, gatal, tertarik, berdenyut, atau terasa panas. 

  • Gejala dapat memburuk saat beristirahat di malam hari karena tidak banyak aktivitas, seperti saat duduk diam lama maupun berbaring di tempat tidur. Namun, gejala cenderung menghilang ketika pagi atau siang hari di mana lebih banyak aktivitas.

  • Rasa sakit dan tidak nyaman dapat berkurang dan mereda seketika saat kaki sering digerakkan, diregangkan, atau untuk berjalan.

  • Saat tidur tiba-tiba bisa muncul gerakan kaki yang tak sadar atau disebut periodic limb movement disorder (PLMD), sehingga membuat penderita terbangun dan sulit untuk tidur kembali dengan tenang.

Penyebab dan Faktor Risiko Restless Leg Syndrome

Belum diketahui secara pasti penyebab dari munculnya RLS. Namun, sebagian besar kondisi ini menyerang wanita yang berusia 50 tahun ke atas. Selain itu, para ahli meyakini bahwa RLS disebabkan oleh berbagai faktor, seperti sebagai berikut.

  • Ketidakseimbangan dopamin: Dopamin adalah zat kimia di dalam otak, yang berfungsi untuk mengatur pergerakan otot-otot tubuh. Apabila kadar dopamin tidak seimbang, maka akan menyebabkan gerakan otot menjadi tak terkendali, salah satunya di bagian kaki.

  • Faktor genetik: Sindrom ini dapat menurun secara genetik dari keluarga inti. Jadi, jika memiliki orang tua atau saudara kandung yang pernah mengidap gangguan RLS, kemungkinan besar Anda juga berisiko mengalami hal yang serupa.

  • Kekurangan zat besi: Otak selalu membutuhkan zat besi yang cukup untuk memproduksi dan mengatur dopamin. Jika kekurangan zat besi, maka dopamin menjadi terganggu dan berdampak pada gangguan komunikasi antara saraf dan otot-otot kaki. Sehingga muncul gejala khas dari restless leg syndrome.

  • Kondisi medis tertentu: Seseorang yang memiliki penyakit gagal ginjal kronis, diabetes, penyakit Parkinson, atau gangguan sistem saraf tepi (saraf yang menyambungkan otak dan sumsum tulang belakang), lebih rentan terkena RLS.

  • Kehamilan: Ibu hamil rentan mengalami kekurangan nutrisi seperti, zat besi, magnesium, dan asam folat, karena nutrisi banyak yang diserap oleh bayi. Kondisi ini dapat menyebabkan RLS terutama di trimester terakhir. Selain itu, lonjakan kadar hormon estrogen saat hamil juga akan memperburuk gejala RLS. 

  • Gaya hidup yang tidak sehat: Konsumsi kafein dan alkohol yang berlebihan, merokok, kurang aktif bergerak, dan pola makan yang rendah nutrisi.

Diagnosis dan Tes Medis

Penegakan diagnosis pada restless leg syndrome umumnya melalui evaluasi riwayat medis secara mendalam dan keluhan apa saja yang dirasakan. Jika keluhan tersebut mengarah ke gejala RLS, maka selanjutnya dokter spesialis saraf akan melakukan pemeriksaan fisik dan analisis laboratorium untuk mencari penyebab pastinya.

Apabila akar masalahnya berupa kekurangan zat besi dalam tubuh, maka dokter merekomendasikan tes kadar ferritin dalam tubuh. Ferritin sendiri ibarat brankas zat besi, yaitu protein yang berfungsi menyimpan cadangan zat besi dan dapat melepaskannya sesuai kebutuhan tubuh.

Anda dapat memanfaatkan layanan cek ferritin di Bumame sebagai solusi pemeriksaan yang relevan guna mengetahui jumlah cadangan zat besi dalam tubuh secara akurat. Dengan demikian, dokter dapat memberikan tindakan medis sesuai hasil data tes tersebut. 

Pilihan Pengobatan dan Penanganan

Penanganan pada kasus restless leg syndrome disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala yang pasien alami. Untuk kasus ringan hingga sedang, dokter akan menyarankan Anda untuk menerapkan gaya hidup sehat, meliputi.

  • Tidak mengonsumsi kafein dan alkohol, serta tidak merokok, terutama menjelang tidur.

  • Tidur yang cukup dan teratur.

  • Olahraga yang teratur dengan intensitas sedang, dan hindari latihan fisik yang berat saat menjelang malam hari.

  • Pola makan yang sehat, dengan rutin mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan makanan yang mengandung tinggi zat besi. Contohnya, daging merah, hati, makanan laut, bayam, dan kacang-kacangan.

  • Mandi air hangat dan melakukan pijatan lembut pada kaki sebelum tidur agar otot lebih rileks.

  • Mengompres kaki dengan air hangat atau dingin secara bergantian apabila gejala mulai kambuh.

Sementara untuk kasus RLS yang berat, dokter dapat meresepkan obat-obatan yang pasien perlukan, seperti:

  • Suplemen zat besi: Jika hasil tes ferritin membuktikan bahwa kadar ferritin rendah, pemberian suplemen zat besi sangat penting untuk menaikkan cadangan zat besi. Suplemen dapat berbentuk pil oral (minum) maupun melalui infus jika suplemen oral tidak terserap dengan baik.

  • Obat-obatan: Jika perubahan gaya hidup sudah pasien lakukan tetapi tidak ada perubahan, maka dokter akan memberikan resep obat-obatan untuk meredakan gejala. Misal, golongan obat agonis dopamin untuk meningkatkan dopamin, obat saluran kalsium untuk menenangkan saraf, serta obat tidur dan relaksan otot. 

Strategi Pencegahan

Langkah pencegahan sangat berguna untuk menghindari terkena restless leg syndrome. Namun, jika faktor penyebabnya karena turunan genetik, tentu saja tidak dapat Anda cegah. Tapi setidaknya dengan melakukan tindakan pencegahan, frekuensi dan intensitas munculnya gejala akan jauh berkurang. Langkah tersebut antara lain.

  • Menjaga pola makan seimbang, khususnya makanan yang kaya akan sumber zat besi agar tidak kekurangan nutrisi.

  • Mengelola stress dengan baik, sebab kelelahan fisik dan mental dapat memperparah gejala.

  • Menghindari kebiasaan duduk atau berdiri terlalu lama dalam posisi yang sama tanpa melakukan peregangan secara berkala.

  • Menghentikan kebiasaan merokok, minum alkohol, dan begadang. 

  • Rutin berolahraga dan menjaga berat badan tetap ideal.

  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala guna mendeteksi sejak dini adanya masalah metabolik sebelum keluhan menjadi parah.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika gejala restless leg syndrome yang Anda alami semakin parah hingga mengganggu kualitas tidur malam dan produktivitas harian semakin menurun, maka sudah waktunya untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf. Penanganan yang tepat dapat membantu mengembalikan kenyamanan tubuh, khususnya kaki Anda.

Untuk mempermudah dokter menganalisis penyakit dari keluhan yang Anda rasakan, Anda dapat melakukan pemeriksaan kesehatan, seperti tes ferritin di laboratorium yang akurat dan terpercaya seperti Bumame. Selain itu, Anda juga dapat melakukan tes darah lengkap guna memberikan gambaran kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) — Restless Leg Syndrome

  2. National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS) — Restless Legs Syndrome

  3. Cleveland Clinic — Restless Leg Syndrome

  4. Mayo Clinic — Restless Legs Syndrome: Symptoms and Causes

  5. Mayo Clinic — Restless Legs Syndrome: Diagnosis and Treatment

Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani

Frequently Asked Question

Apa itu restless leg syndrome?

Restless leg syndrome (RLS), atau sindrom kaki gelisah, adalah gangguan sistem saraf yang menimbulkan dorongan kuat untuk menggerakkan kaki akibat sensasi tidak nyaman, seperti nyeri, kesemutan, rasa terbakar, berdenyut, atau tarikan pada otot betis dan paha. Gejalanya sering muncul saat beristirahat pada sore atau malam hari.

Apa saja gejala restless leg syndrome?

Gejalanya meliputi dorongan kuat untuk terus menggerakkan kaki, sensasi tidak nyaman pada kedua kaki, gejala yang memburuk saat duduk atau berbaring, serta rasa tidak nyaman yang mereda ketika kaki digerakkan atau diregangkan. Sebagian penderita juga mengalami gerakan kaki tanpa sadar saat tidur yang dapat mengganggu istirahat.

Apa penyebab restless leg syndrome?

Penyebab pasti RLS belum diketahui. Faktor yang diduga berperan meliputi ketidakseimbangan dopamin, faktor genetik, kekurangan zat besi, kondisi medis tertentu seperti gagal ginjal kronis dan diabetes, kehamilan, serta gaya hidup seperti konsumsi kafein atau alkohol berlebihan dan merokok.

Mengapa pemeriksaan ferritin penting bagi penderita restless leg syndrome?

Ferritin merupakan protein yang menyimpan cadangan zat besi dalam tubuh. Pemeriksaan kadar ferritin dapat membantu dokter mengetahui apakah cadangan zat besi rendah dan perlu ditangani. Hasil pemeriksaan membantu dokter menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Bagaimana cara menangani restless leg syndrome?

Penanganan RLS dapat meliputi tidur teratur, olahraga dengan intensitas sedang, menghindari kafein dan alkohol menjelang tidur, tidak merokok, serta melakukan peregangan, pijatan lembut, atau kompres hangat dan dingin pada kaki. Jika gejala berat atau mengganggu tidur, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan zat besi, suplemen bila diperlukan, atau obat sesuai kondisi pasien.