Kehamilan merupakan momen yang sangat ditunggu banyak pasangan suami-istri. Untuk mewujudkan kehamilan yang sehat, banyak upaya dilakukan untuk menjaga kehamilannya. Namun, dalam perjalanannya, sebagian calon ibu mengalami perdarahan saat hamil, yang tentu membuat mereka khawatir.
Apa yang Dimaksud dengan Perdarahan saat Hamil?
Perdarahan saat hamil merujuk pada keluarnya darah dari vagina pada masa kehamilan. Kondisi ini bisa terjadi pada trimester pertama, kedua, dan ketiga kehamilan dengan volume yang bervariasi.
Perdarahan juga memiliki penyebab dan tingkat keparahan yang bervariasi. Misalnya, spotting (flek) dikategorikan sebagai perdarahan ringan karena darah yang keluar dari vagina berupa bercak atau flek dengan waktu yang sebentar. Darah spotting biasanya berwarna cokelat atau merah muda dan terjadi pada trimester 1 kehamilan.
Meskipun membuat khawatir, perdarahan ringan dialami sebagian wanita hamil dan tidak selalu mengindikasikan masalah serius. Namun, terdapat kondisi-kondisi tertentu yang dapat mengarah pada masalah kehamilan berbahaya seperti keguguran.
Penyebab Pendarahan saat Hamil Berdasarkan Usia Kehamilan
Penyebab perdarahan bisa berbeda-beda sesuai tingkat keparahannya. Pada setiap trimester, perdarahan akan sangat mungkin terjadi. Berikut adalah penyebab-penyebab yang mungkin terjadi agar Anda tahu kapan harus menghubungi tenaga kesehatan.
1. Trimester Pertama (0-13 Minggu)
Di usia kehamilan ini, perdarahan bisa disebabkan oleh kondisi-kondisi berikut ini.
Implantasi: Merupakan kondisi perdarahan ringan pada rentang 10–14 hari setelah pembuahan terjadi. Hal ini terjadi ketika sel telur menempel pada lapisan rahim, bukan di saluran rahim, sehingga mengakibatkan perdarahan.
Iritasi serviks: Saat hamil, serviks menjadi sensitif dan pembuluh darah lebih banyak dan aktif. Selain itu, kondisi ini juga disebabkan oleh kurangnya pelumasan saat penetrasi sehingga gesekan menimbulkan perdarahan ringan.
Keguguran: Kondisi di mana janin tidak berkembang sebelum usia 20 minggu. Gejala yang ditimbulkan adalah perdarahan ringan atau berat, dengan atau tanpa rasa sakit, bersamaan dengan keluarnya gumpalan darah atau jaringan, serta sakit panggul dan detak jantung yang meningkat.
Kehamilan ektopik: Kelainan kehamilan yang terjadi di luar dinding rahim, yaitu di saluran tuba falopi atau indung telur. Embrio di kehamilan ini tidak berkembang karena tidak mendapatkan aliran darah. Gejala yang dirasakan adalah nyeri hebat di pundak dan area panggul disertai perdarahan.
Kehamilan anggur (mola hydatidosa): Kondisi di mana terjadi perkembangan jaringan plasenta secara abnormal selama kehamilan. Abnormalitas pertumbuhan jaringan ini dapat mengganggu jaringan lain di dalam rahim dan menyebabkan perdarahan.
2. Trimester Kedua (14-27 Minggu)
Apabila Anda hamil tapi keluar darah dari vagina di usia kehamilan trimester kedua, kemungkinan penyebab yang harus diwaspadai adalah sebagai berikut.
Gangguan serviks: Contohnya ektropion serviks; kondisi di mana jaringan lunak sensitif tumbuh meluas dari bagian dalam leher rahim ke luar rahim; polip serviks atau benjolan pada leher rahim; dan peradangan serviks setelah berhubungan seksual.
Infeksi di area serviks-rahim atau servisitis: Kondisi di mana mulut rahim mengalami peradangan dan bengkak. Penyebab umumnya adalah penyakit menular seksual, seperti gonore (kencing nanah) akibat bakteri Neisseria gonorrhoeae.
Komplikasi kehamilan: Contohnya anemia, preeklampsia (tekanan darah terlalu tinggi), diabetes gestasional (gula darah tinggi saat kehamilan), atau hiperemesis gravidarum (mual dan muntah parah yang mengganggu asupan nutrisi ibu hamil).
3. Trimester Ketiga (28 Minggu hingga Persalinan)
Sementara pada trimester ketiga kehamilan, perdarahan yang terjadi bisa disebabkan beberapa kondisi berikut.
Masalah pada plasenta: Seperti plasenta previa (sebagian atau seluruh plasenta berada di bawah dan menutupi jalan lahir yang mengganggu rahim dan memicu perdarahan) dan solusio plasenta (seluruh atau sebagian plasenta terlepas sehingga merusak pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan).
Kelahiran prematur: Umumnya terjadi saat persalinan dilakukan sebelum waktunya, yaitu pada rentang 20-37 minggu kehamilan. Kontraksi yang datang sebelum waktunya membuat serviks menipis dan membuka, memancing darah dan lendir keluar dari vagina.
Tanda kelahiran normal: Bagi sebagian wanita hamil, tanda awal melahirkan berupa perdarahan ringan disertai lendir (bloody show) karena kontraksi membuat leher rahim menipis dan terbuka sebelum bayi dilahirkan. Namun, perdarahan yang terjadi berupa darah segar bisa mengindikasikan komplikasi.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Perdarahan saat Hamil
Di samping penyebab-penyebab di atas, kondisi perdarahan mungkin terjadi jika ibu hamil memiliki faktor risiko berikut ini.
Hamil di usia yang terlalu muda: Secara medis, pada usia di bawah 20 tahun, tubuh masih dalam tahap perkembangan. Sehingga, jika perempuan hamil di usia tersebut, kebutuhan nutrisi tubuhnya harus berbagi dengan kehamilan yang dialami, sehingga meningkatkan risiko komplikasi.
Riwayat Keguguran: Sebagian ibu hamil yang memiliki riwayat keguguran berulang kali berisiko mengalami hal serupa di kehamilan yang sedang dialami.
Merokok: Asap rokok mengandung zat beracun yang berbahaya bagi ibu hamil. Nikotin dan karbon monoksida, misalnya, dapat mengganggu aliran darah dan plasenta.
Penggunaan Obat Terlarang: Kokain dan metamfetamin bisa memicu risiko perdarahan saat hamil karena zat-zat tersebut mengganggu aliran darah dalam tubuh. Hal ini berkaitan dengan risiko solusio plasenta.
Trauma atau Cedera Perut: Benturan atau cedera perut saat hamil dapat mengganggu rahim sehingga berisiko terjadinya solusio plasenta yang menyebabkan perdarahan.
Penyakit Autoimun dan Kronis: Penyakit lupus dapat mengganggu fungsi plasenta atau hipertensi kronis yang meningkatkan risiko solusio plasenta. Namun, risiko ini bergantung pada jenis penyakit, tingkat keparahan dan kondisi kesehatan ibu.
Tanda Bahaya Perdarahan saat Hamil
Secara umum, semua kondisi perdarahan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter, sekalipun spotting yang termasuk perdarahan ringan dan cenderung tidak berbahaya. Sebab, perdarahan saat hamil bisa berbahaya jika disertai dengan:
Perdarahan hebat yang memenuhi pembalut dalam waktu singkat;
Sakit terus-menerus di area perut dan pundak;
Demam;
Pusing atau hilang kesadaran;
Keluar lendir dari vagina yang berbau tidak sedap; dan
Perdarahan di pertengahan trimester 2.
Apa yang Harus Dilakukan saat Mengalami Perdarahan ketika Hamil?
Saat perdarahan terjadi, mungkin Anda akan merasa khawatir terhadap kondisi tubuh dan janin. Khawatir adalah hal yang normal, tapi usahakan agar tetap tenang sambil melakukan hal-hal berikut ini.
Gunakan pembalut saat perdarahan, lalu amati warna, volume, dan kemungkinan jaringan yang terbawa. Hindari menggunakan menstrual cup.
Perbanyak istirahat bila terjadi spotting.
Tunda berhubungan seksual agar tidak memicu perdarahan lanjutan.
Jangan konsumsi obat tanpa arahan dokter.
Catat kondisi dan gejala yang terjadi saat perdarahan saat berkonsultasi dengan dokter.
Jika keluhan semakin memburuk, perdarahan tak kunjung reda, nyeri di area perut dan pundak, atau merasa pusing dan kehilangan kesadaran, segera pergi ke IGD untuk penanganan.
Diagnosis Perdarahan saat Hamil
Jika Anda merasakan gejala memburuk dan pergi ke dokter, berikut adalah diagnosis yang biasanya dilakukan untuk mengetahui penyebab perdarahan dan mengevaluasi kondisi Anda.
Wawancara medis akan dilakukan pertama kali untuk mengevaluasi kondisi dan gejala perdarahan, usia kehamilan, hingga riwayat kesehatan atau kehamilan sebelumnya.
Setelah itu, dilakukan pemeriksaan fisik untuk menilai stabilitas organ seperti detak jantung dan tekanan darah. Bila diperlukan, dokter juga akan memeriksa perut dan leher rahim.
USG biasanya dilakukan lewat perut atau vagina untuk memeriksa posisi dan detak jantung janin serta kondisi rahim untuk kemungkinan adanya kelainan pada rahim.
Bila dibutuhkan, dokter juga akan melakukan tes darah untuk memeriksa kadar hormon beta-hCG guna mengevaluasi kondisi kehamilan. Selain itu, dilakukan juga tes hemoglobin untuk menilai kemungkinan anemia akibat kehilangan darah, serta tes golongan darah dan Rhesus.
Jika dokter juga menilai adanya risiko infeksi saluran kemih, infeksi pada leher rahim, atau penyebab lain, pemeriksaan urine atau sampel tambahan dapat dilakukan sesuai gejala dan hasil pemeriksaan awal.
Jaga Kesehatan Ibu dan Janin dengan Pemeriksaan yang Tepat
Menjaga kesehatan selama kehamilan perlu dilakukan melalui pemeriksaan rutin sesuai anjuran dokter atau bidan. Pemeriksaan dilakukan untuk membantu memantau kondisi ibu, mendeteksi faktor risiko tertentu, dan mendukung pemantauan perkembangan janin. Jika mengalami perdarahan, Anda tentu perlu mendapatkan evaluasi medis.
Bumame menyediakan layanan pemeriksaan Ibu Hamil yang dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan pemeriksaan kesehatan. Layanan yang terdiri dari 17 pemeriksaan ini dilakukan untuk memberikan informasi terkait kehamilan, risiko genetik, serta kondisi tertentu.
Kapan Harus ke Dokter?
Saat Anda mengalami perdarahan saat hamil, baik itu ringan maupun berat, sebaiknya segera menghubungi tenaga kesehatan seperti dokter kandungan atau bidan agar mendapatkan pemeriksaan serta evaluasi kondisi ibu dan janin sehingga penyebab perdarahan bisa diketahui.
Bila perdarahan terjadi berulang dan terjadi pada trimester kedua atau ketiga, disertai kram, kontraksi, dan keluarnya lendir dari vagina, segera hubungi tenaga kesehatan. Perhatikan volume darah yang keluar, juga bila merasakan nyeri perut hebat, pusing bahkan pingsan.
Perdarahan saat Hamil Jangan Diabaikan, Kenali Penyebabnya Sejak Dini
Perdarahan saat hamil dapat terjadi karena berbagai penyebab, mulai dari perubahan pada serviks hingga komplikasi kehamilan yang membutuhkan penanganan segera. Karena itu, penting bagi ibu hamil untuk mengenali gejala yang menyertai perdarahan dan tidak langsung menyimpulkan bahwa kondisi tersebut normal atau pasti menandakan keguguran.
Jika mengalami perdarahan, segera konsultasi dengan dokter atau bidan untuk mengetahui penyebabnya. Pemeriksaan kehamilan secara rutin membantu memantau kondisi ibu dan mendeteksi faktor risiko yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Dengan pemeriksaan yang tepat, ibu dapat memperoleh penanganan sesuai kondisi kehamilannya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Health Service (NHS) — Vaginal Bleeding in Pregnancy
Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) — What Are Some Common Complications of Pregnancy?
University of Utah Health — Bleeding in Early Pregnancy: What’s Normal, What Isn’t, and When to Seek Care
Mayo Clinic — Bleeding During Pregnancy: CausesApakah perdarahan saat hamil selalu menandakan keguguran?
Better Health Channel — Pregnancy: Bleeding Problems
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Pendarahan Ibu
World Health Organization (WHO) — Adolescent Pregnancy
North Tees and Hartlepool NHS Foundation Trust — Cervical Ectropion
Harvard Health Publishing — Cervical Polyps
Mayo Clinic — Cervicitis: Symptoms and Causes
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
Frequently Asked Question
Apakah perdarahan saat hamil selalu menandakan keguguran?
Tidak. Perdarahan saat hamil dapat disebabkan oleh perubahan pada serviks, perdarahan implantasi, atau kondisi lainnya. Namun, perdarahan juga dapat menandakan komplikasi, sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Apa penyebab keluar darah saat hamil muda?
Penyebabnya dapat meliputi perdarahan implantasi, iritasi serviks, keguguran, kehamilan ektopik, atau kehamilan anggur. Penyebabnya tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan warna atau jumlah darah, sehingga konsultasi dengan dokter diperlukan.
Apakah berhubungan seksual dapat menyebabkan perdarahan saat hamil?
Ya. Perubahan selama kehamilan dapat membuat serviks lebih sensitif sehingga mudah mengalami perdarahan setelah berhubungan seksual. Meski demikian, perdarahan tetap perlu dikonsultasikan dengan dokter atau bidan untuk memastikan penyebabnya.
Apa yang harus dilakukan ketika mengalami perdarahan saat hamil?
Gunakan pembalut untuk memantau warna dan jumlah darah, catat gejala yang menyertai, hindari konsumsi obat tanpa arahan dokter, dan segera hubungi tenaga kesehatan. Jika perdarahan banyak, nyeri perut hebat, pusing berat, atau pingsan, segera pergi ke IGD.
Apakah perlu ke dokter jika perdarahan saat hamil berhenti sendiri?
Ya. Meskipun perdarahan telah berhenti, pemeriksaan oleh dokter atau bidan tetap diperlukan untuk mengevaluasi penyebabnya dan kondisi kehamilan, terutama jika perdarahan berulang atau disertai nyeri.
