Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Akromegali: Kenali Gejala dan Penanganannya
Kembali ke Artikel & Berita

Akromegali: Kenali Gejala dan Penanganannya

SBATips Kesehatan

Pernah tidak merasa cincin yang biasa dipakai malah semakin sempit atau ukuran sepatu semakin tidak pas saja? Perubahan ini bukan semata-mata karena berat badan naik, tapi bisa saja karena akromegali. Terutama jika ukuran tangan, kaki, ataupun bentuk wajah tiba-tiba berubah secara perlahan tanpa ada sebab jelas.

Gangguan langka ini bisa berkembang ketika tubuh menghasilkan hormon-hormon pertumbuhan secara berlebihan dalam waktu yang lama. Karena gejala-gejalanya muncul bertahap, maka perubahan fisik terkadang baru disadari setelah bertahun-tahun. Mari kenali lebih dalam gejala dan penyebabnya!

Apa Itu Akromegali?

Acromegaly atau akromegali adalah suatu gangguan hormonal yang bisa terjadi ketika tubuh memproduksi banyak hormon pertumbuhan atau growth hormone (GH) secara berlebihan setelah terjadinya lempeng pertumbuhan tulang menutup, umumnya akan terjadi pada orang dewasa. 

Kelebihan GH akan merangsang peningkatan insulin-like growth factor 1 (IGF-1), hormon yang berperan dalam pertumbuhan tulang dan jaringan tubuh. Akibatnya, tangan, kaki, rahang, dan bagian wajah tertentu bisa saja membesar. Acromegaly juga akan memengaruhi organ dalam bahkan metabolisme tubuh. 

Perlu Anda pahami, kondisi ini berbeda dengan gigantisme meski terlihat sama. Sebab, gigantisme umumnya muncul pada anak-anak dan cukup langka, membuat tinggi dan ukuran tubuh anak tidak sesuai usianya. Progresnya pun cenderung lebih cepat.

Sedangkan acromegaly umumnya akan memengaruhi orang dewasa dengan progres yang lambat. Selain itu, gangguan ini akan tampak di bagian ujung-ujung tubuh seperti jari dan wajah.

Acromegaly yang tidak cepat-cepat ditangani bisa saja meningkatkan risiko masalah kesehatan yang lain, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, nyeri sendi, atau hingga sleep apnea atau henti napas berulang pada saat tidur. Namun, risiko dan gejalanya bisa berbeda pada setiap orang.

Gejala dan Tanda Akromegali

Gejala acromegaly bisa berkembang bertahun-tahun lamanya. Secara umum, gangguan ini dapat muncul antara usia 30 hingga 50 tahun, namun gejalanya bisa terasa di usia berapapun. Berikut tanda yang perlu Anda perhatikan.

  • Perhatikan ukuran tangan atau kaki yang bertambah. Contohnya seperti cincin yang terasa sempit maupun sepatu yang sebelumnya pas malah mulai terasa sesak.

  • Perubahan bentuk wajah. Seperti, hidung dan bibir yang membesar, rahang bawah semakin menonjol, atau jarak antargigi melebar.

  • Perubahan kulit dan suara. Kulit bisa menjadi lebih tebal dan bahkan berminyak, keringat terus bertambah, dan suara terdengar lebih berat dari sebelumnya.

  • Nyeri sendi dan kesemutan. Perubahan jaringan bisa memicu nyeri sendi atau menekan saraf, termasuk juga pada sindrom terowongan karpal (carpal tunnel syndrome).

  • Sakit kepala atau gangguan penglihatan. Tumor yang ada pada kelenjar pituitari bisa menekan jaringan di sekitarnya bahkan memengaruhi penglihatan.

  • Gangguan tidur dan metabolisme. Pada sebagian orang, mereka akan mendengkur keras, mudah lelah, atau bahkan peningkatan kadar gula darah.

Gejala-gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami acromegaly. Jika perubahan fisik terus berlangsung, terutama disertai sakit kepala atau gangguan penglihatan, seharusnya konsultasikan kepada dokter untuk evaluasi lebih lanjut.

Penyebab dan Faktor Risiko Akromegali

Penyebab acromegaly yang paling sering dijumpai adalah tumor jinak pada kelenjar pituitari atau hipofisis. Tumor ini mengarah pada kelenjar kecil di dasar otak yang menghasilkan dan mengatur sejumlah hormon-hormon. Di mana tumor tersebut dapat memproduksi GH secara berlebihan. 

Walaupun umumnya bukan kanker, tapi ukuran dan lokasinya bisa menimbulkan masalah akibat kelebihan hormon ataupun tekanan pada struktur di sekitarnya. Dalam kasus yang lebih jarang lainnya, tumor di bagian tubuh lain bisa menghasilkan GH atau hormon yang merangsang produksi GH. 

Pada sebagian besar kasus akromegali, gangguan ini tidak diwariskan secara langsung dalam keluarga. Tapi, kondisi genetik tertentu yang langka bisa saja meningkatkan risiko tumor pada kelenjar pituitari.

Selain itu, acromegaly ini umumnya tidak hanya disebabkan oleh pola makan, kurang olahraga, ataupun kebiasaan sehari-hari. Karena penyebabnya berkaitan dengan produksi hormon, yang mana perubahan penampilan saja tidak cukup untuk bisa memastikan diagnosis.

Diagnosis dan Pemeriksaan Akromegali

Dokter akan menilai riwayat kesehatan, perubahan fisik, maupun gejala yang dialami sebelum bisa menentukan pemeriksaan yang sesuai. Beberapa pemeriksaan yang bisa digunakan meliputi.

  • Tes Darah IGF-1

Pemeriksaan IGF-1 dapat membantu menilai aktivitas hormon pertumbuhan. Untuk kadar IGF-1 yang tinggi bisa mengarah pada dugaan acromegaly, tapi hasilnya masih perlu ditafsirkan sesuai usia, rentang rujukan, hingga kondisi kesehatan pasien.

  • Tes Toleransi Glukosa Oral

Dokter bisa melakukan tes toleransi glukosa oral untuk membantu mengonfirmasi diagnosis. Pasien akan meminum larutan glukosa, kemudian kadar GH bisa terukur pada waktu tertentu. 

Pada orang tanpa akromegali, glukosa biasanya menekan produksi GH. Tapi jika penekanan tersebut tidak terjadi sebagaimana mestinya, maka hasilnya dapat mendukung diagnosis. 

  • MRI Kelenjar Pituitari

Jika hasil pemeriksaan hormon telah menunjukkan dugaan acromegaly, maka dokter dapat menyarankan Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk bisa melihat lokasi dan ukuran tumor pada kelenjar pituitari. Pemeriksaan tambahan mungkin perlu jika penyebabnya tidak ditemukan pada kelenjar tersebut.

Anda pun bisa mencoba paket MCU General Basic Bumame untuk menilai kesehatan secara umum jika belum memiliki gambaran jelas tentang keluhan yang Anda alami. Namun, MCU tetap tidak bisa memastikan atau menangani acromegaly karena diagnosisnya tetap memerlukan evaluasi hormon khusus.

Jika memang mengalami gejala yang mengarah pada gangguan hormon ini, tetap konsultasikan pada dokter untuk bisa menentukan pemeriksaan lanjutan yang sesuai.

Pilihan Penanganan Akromegali

Penanganan acromegaly sendiri bertujuan untuk mengendalikan kadar hormon pertumbuhan, menangani tumor penyebabnya, dan juga mengurangi risiko komplikasi. Maka dari itu, rencana perawatan ditentukan berdasarkan kondisi pasien, ukuran serta lokasi tumor, hingga respons terhadap terapi.

  • Operasi: Pengangkatan suatu tumor pituitari bisa menjadi pilihan utama pada pasien tertentu. Nantinya, prosedur sering dilakukan melalui hidung menuju dasar otak. Dan hasilnya akan bergantung pada karakteristik tumor dan kondisi pasien.

  • Obat-obatan: Untuk obat tertentu bisa menekan produksi GH atau menghambat efeknya. Pastinya dokter akan memilih jenis obat berdasarkan kadar hormon, kondisi tumor, dan juga respons pasien.

  • Radioterapi: Terapi radiasi juga bisa dipertimbangkan jika memang operasi atau obat sendiri belum cukup untuk mengendalikan penyakit. Efek dapat muncul secara bertahap dan pemantauan tetap perlu.

Bisakah Akromegali Dicegah?

Masih belum ada cara yang terbukti mampu mencegah akromegali. Karena kondisi ini umumnya berkaitan dengan tumor penghasil hormon, sehingga kebanyakan kasus tidak memiliki faktor-faktor risiko yang bisa diubah melalui gaya hidup.

Meski begitu jangan putus asa dan langsung menyimpulkan. Memperhatikan perubahan tubuh dan berkonsultasi ketika muncul gejala menetap juga penting. Pemeriksaan kesehatan rutin sendiri bisa membantu menilai kondisi umum, akan tetapi tetap tidak bisa menggantikan pemeriksaan hormon khusus.

Anda bisa mencari tips memilih Medical Check Up yang tepat. Sehingga, jenis pemeriksaannya sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan saran dari tenaga medis.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Konsultasi bisa Anda lakukan jika ukuran tangan atau kaki terus bertambah, bentuk wajah berubah bertahap, atau muncul keluhan seperti keringat berlebihan, nyeri sendi, sakit kepala, hingga mendengkur keras. Dokter bisa menilai apakah gejala memerlukan pemeriksaan hormon ataupun rujukan ke dokter spesialis endokrinologi.

Sehingga cari pertolongan medis jika memang mengalami sakit kepala berat yang muncul mendadak ataupun gangguan penglihatan baru, terutama jika terjadi secara tiba-tiba. Karena gejala tersebut bisa menandakan kondisi serius yang akan membutuhkan evaluasi dan tidak boleh langsung dianggap sebagai akromegali.

Kenali Perubahan Tubuh dan Periksakan dengan Tepat!

Akromegali bisa berkembang perlahan sehingga perubahan fisik terkadang sulit dikenali sedari awal. Anda sebaiknya pahami gejalanya dan segera berkonsultasi ketika muncul keluhan agar memperoleh evaluasi medis yang tepat. Ayo, lakukan pemeriksaan rutin untuk pencegahan penyakit sejak dini!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) — Acromegaly

  2. Katznelson, L., et al. — Acromegaly: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline

  3. National Health Service (NHS) — Acromegaly

  4. Melmed, S. — Acromegaly Pathogenesis and Treatment

  5. Mayo Clinic — Acromegaly: Symptoms and Causes; Diagnosis and Treatment

  6. Healthline — What Are the Differences Between Acromegaly and Gigantism?

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Akromegali penyakit apa?

Akromegali adalah gangguan hormon akibat produksi hormon pertumbuhan berlebihan setelah lempeng pertumbuhan tulang menutup. Kondisi ini dapat menyebabkan pembesaran tangan, kaki, rahang, dan jaringan tubuh tertentu.

Apa penyebab utama akromegali?

Penyebab utama akromegali adalah tumor jinak pada kelenjar pituitari atau hipofisis yang menghasilkan hormon pertumbuhan secara berlebihan. Dalam kasus yang lebih jarang, tumor di bagian tubuh lain juga dapat memicu kondisi ini.

Apakah akromegali bisa disembuhkan?

Penanganan akromegali bertujuan mengendalikan kadar hormon pertumbuhan dan mengurangi risiko komplikasi. Pilihannya meliputi operasi, obat-obatan, atau radioterapi sesuai kondisi pasien. Hasil terapi berbeda pada setiap orang dan pemantauan jangka panjang mungkin diperlukan.

Pemeriksaan apa yang digunakan untuk mendiagnosis akromegali?

Diagnosis akromegali dapat melibatkan tes darah IGF-1, tes toleransi glukosa oral untuk menilai respons hormon pertumbuhan, serta MRI kelenjar pituitari untuk melihat lokasi dan ukuran tumor jika diperlukan.

Apakah medical check-up (MCU) biasa dapat mendeteksi akromegali?

MCU umum tidak dapat memastikan atau menyingkirkan akromegali. Jika terdapat gejala yang mengarah pada gangguan ini, dokter dapat menyarankan pemeriksaan hormon khusus berdasarkan hasil evaluasi medis.