Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bisa tumbuh tinggi dengan sehat. Karena itu menandakan bahwa anak tidak mengalami stunting. Namun, ternyata ada beberapa kasus di mana anak tumbuh terlalu cepat dan di luar normal. Hal tersebut merupakan tanda awal dari kondisi langka yang biasa dikenal sebagai gigantisme.
Untuk mengetahui lebih lanjut apa itu gigantisme, penting bagi orang tua mengenali gejala-gejala apa saja yang muncul. Sehingga dapat membedakan mana pertumbuhan normal dan abnormal. Dengan begitu, jika suatu saat orang tua mendapati anaknya mengalami kelainan tersebut, bisa segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Apa Itu Gigantisme?
Gigantisme adalah suatu kondisi di mana tubuh memproduksi hormon pertumbuhan (growth hormone/GH) secara berlebihan. Sehingga menyebabkan seorang anak tumbuh tinggi dengan sangat cepat dan melebihi tinggi normal anak-anak seusianya. Gigantisme termasuk kasus langka, secara global hanya sekitar ratusan orang saja.
Kondisi ini tidak terlepas dari peran kelenjar hipofisis (pituitari) yang berada di dasar otak. Kelenjar tersebut mempunyai peran penting dalam mengendalikan produksi hormon pertumbuhan. Produksi hormon ini tetap terus berjalan selama lempeng epifisis atau lempeng tulang pertumbuhan menyatu secara permanen.
Namun, apabila sel-sel pada kelenjar hipofisis mengalami pembesaran yang tidak normal seperti tumbuhnya tumor jinak (adenoma), maka produksi hormon pertumbuhan menjadi tak terkendali. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel pada tulang, otot, dan organ tubuh akan terus meningkat hingga melebihi batas normal.
Gigantisme Adalah (Definisi Singkat)
Secara singkat, gigantisme adalah pertumbuhan abnormal yang disebabkan oleh kelebihan hormon pertumbuhan pada masa kanak-kanak hingga remaja. Sebelum masa pubertas berakhir, laju pertumbuhan tinggi badan dan ukuran tubuh masih dapat berlangsung secara drastis hingga melebihi ukuran tubuh teman-temannya.
Kondisi ini berbeda dengan tinggi badan di atas rata-rata yang disebabkan oleh faktor genetik atau keturunan. Karena proporsi tubuh dan ukuran organ tubuh berkembang secara teratur dan tergolong normal. Sementara pada kasus ini, peningkatan laju pertumbuhan disebabkan gangguan hormon yang berdampak pada metabolisme tubuh.
Gejala Gigantisme
Gejala yang paling mudah terlihat pada gigantisme adalah bertambahnya tinggi badan yang sangat cepat, sehingga terlihat jauh lebih tinggi dibanding teman-teman sebayanya. Selain itu, ukuran tubuh juga ikut membesar, termasuk tangan, kaki, jari-jari, dan semua organ tubuh. Berikut ciri fisik dan gejala metabolik lainnya.
Perubahan pada wajah: Fitur wajah mengalami penebalan seperti, dahi terlihat sangat menonjol, rahang bawah membesar, dan jarak antar gigi yang melebar sehingga terdapat celah.
Keringat berlebih dan kulit berminyak: Laju pertumbuhan yang cepat dapat mempercepat laju metabolisme dalam tubuh, sehingga produksi keringat menjadi berlebihan serta kulit lebih berminyak dan tebal.
Nyeri sendi dan kelemahan otot: Meski ukuran otot ikut membesar, kekuatannya justru melemah akibat beban tulang yang tumbuh sangat cepat dan menjadi lebih berat. Akibat beban berat tersebut, membuat persendian lebih mudah nyeri.
Sakit kepala dan gangguan penglihatan: Tumor kelenjar hipofisis yang terus membesar menyebabkan penekanan pada struktur otak. Sehingga memicu sakit kepala yang berulang, penglihatan menjadi ganda, dan sulit melihat ke arah sisi.
Gangguan tidur dan kelelahan: Anak mudah merasa lelah saat beraktivitas karena pengaruh dari badan yang berat. Lalu, ketika tidur bisa mengalami henti napas sejenak (sleep apnea), akibat jaringan lunak di saluran pernapasan menebal.
Pubertas tertunda dan haid tidak teratur: Tumor hipofisis yang membesar dapat merusak sel-sel yang bertugas menghasilkan hormon LH (luteinizing hormone) dan FSH (follicle-stimulating hormone). Padahal kedua hormon tersebut yang berperan dalam merangsang pubertas dan siklus haid.
Penyebab Gigantisme
Penyebab utama gigantisme adalah kelenjar hipofisis atau pituitari yang ada di dalam otak melepas hormon pertumbuhan yang sangat banyak. Lalu, hormon ini bekerja merangsang hati untuk memproduksi IGF-1 (insulin-like growth factor 1), yaitu suatu protein yang bekerja merangsang pertumbuhan tulang panjang dan jaringan tubuh.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan hormon pertumbuhan diproduksi secara berlebihan, antara lain:
Tumor jinak di kelenjar hipofisis: Sekitar 90% kasus gigantisme disebabkan oleh tumor jinak non-kanker (adenoma) yang tumbuh pada kelenjar hipofisis. Anak-anak dengan kelainan gigantisme, hampir selalu memiliki tumor hipofisis sebesar 10 milimeter atau lebih (makroadenoma).
Pembesaran kelenjar hipofisis: Selain tumor, kelenjar hipofisis bisa mengalami pembesaran sendiri (hiperplasia hipofisis). Ini terjadi ketika hipotalamus, yaitu bagian otak yang memberi perintah kepada kelenjar hipofisis terlalu berlebihan, sehingga kelenjar akan terus menerus memproduksi hormon pertumbuhan.
Kelainan genetik langka: Pada sebagian kecil kasus, ada beberapa jenis sindrom atau penyakit bawaan yang memengaruhi tumbuhnya tumor di hipofisis atau memperbesar kelenjar hipofisis. Sindrom tersebut yakni Mc Cune-Albright Syndrome, Carney Complex, dan Multiple Endocrine Neoplasia type 1 (MEN1).
Apa Perbedaan Akromegali dengan Gigantisme?
Gigantisme dan akromegali merupakan dua kondisi langka yang sama-sama disebabkan oleh kelebihan hormon pertumbuhan. Lantas, apa perbedaannya? Perbedaan utamanya ada pada usia awitan atau usia saat gejala pertama kali muncul. Untuk lebih jelasnya, berikut tabel perbedaan di antara keduanya.
Diagnosis dan Tes Hormon
Diagnosis awal pada kelainan gigantisme dimulai dengan mengevaluasi kurva pertumbuhan fisik anak yaitu pengukuran tinggi badan, apakah masih tergolong normal bagi anak seusianya atau tidak. Selanjutnya, dokter juga akan menanyakan riwayat medis secara menyeluruh, termasuk riwayat kesehatan keluarganya.
Apabila dokter telah mencurigai adanya gangguan produksi hormon pada anak, maka selanjutnya dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan berupa analisis di laboratorium dan pemindaian tubuh. Berikut beberapa diagnostiknya.
Tes kadar IGF-1 darah: Mengukur kadar Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) melalui sampel darah anak. Kadar IGF-1 ini cenderung stabil daripada kadar GH (Growth Hormone) yang jumlahnya naik turun sepanjang hari. Sehingga hasil yang didapat lebih akurat.
Tes toleransi glukosa oral (Oral Glucose Tolerance Test/OGTT): Jika kadar IGF-1 tinggi, dokter melanjutkan tes OGTT. Caranya dengan meminta anak minum gula pekat, lalu sampel darah dianalisis untuk melihat gula bisa menekan hormon pertumbuhan atau tidak. Normalnya, gula dapat menekan hormon tersebut.
Pemindaian MRI (Magnetic Resonance Imaging) otak: Untuk melihat keberadaan dan ukuran dari tumor hipofisis.
Evaluasi hormon lain: Karena kelenjar hipofisis mengontrol berbagai fungsi tubuh, perlu juga mengevaluasi hormon lain seperti tiroid, kortisol, dan hormon reproduksi. Serupa dengan pemeriksaan gangguan endokrin seperti penyakit hashimoto, yang juga membutuhkan evaluasi ketidakseimbangan hormon lain.
Pengobatan Gigantisme
Tujuan dari pengobatan gigantisme adalah untuk mengembalikan kadar hormon pertumbuhan ke batas normal. Selain itu, untuk meredakan gejala akibat tekanan tumor di jaringan otak, dan meminimalkan dampak komplikasi metabolik. Penanganan medisnya antara lain.
Tindakan pembedahan: Dokter akan melakukan operasi pengangkatan tumor hipofisis dengan teknik transsphenoidal surgery, yaitu pembedahan melalui rongga hidung. Jika pengangkatan tumor berhasil, maka kadar hormon dapat kembali normal secara bertahap.
Terapi obat-obatan: Apabila tindakan pembedahan tidak bisa membersihkan tumor seluruhnya, dokter dapat memberikan obat yang dapat menghambat kerja GH pada jaringan, sehingga produksi GH berkurang. Jenis golongan obatnya yakni, analog somatostatin, antagonis reseptor GH, dan agonis dopamin.
Radioterapi: Jika pembedahan dan obat-obatan belum memberikan hasil yang optimal, maka dokter akan melakukan terapi radiasi guna mengecilkan ukuran tumor hipofisis.
Ayo, Lebih Perhatikan Tumbuh Kembang Anak Anda!
Pengobatan medis di atas tentu harus melalui pengawasan ketat dari tim dokter spesialis endokrinologi anak agar efektivitas terapi tetap terpantau. Karena itu, penting untuk melakukan deteksi dini ketidakseimbangan hormon pertumbuhan pada anak agar bisa mendapat penanganan medis lebih cepat sebelum timbul komplikasi lebih berat.
Sebagai solusi awal pemeriksaan kesehatan menyeluruh pada anak, Anda dapat memanfaatkan layanan MCU basic dan cek hormon, termasuk paket hormon tiroid. Dengan pemeriksaan secara berkala, Anda akan mendapatkan data kadar hormon dan parameter lain secara akurat, guna mendukung diagnosis dokter selanjutnya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Cleveland Clinic. (2022). Gigantism: What It Is, Causes, Symptoms & Treatment.
Medline Plus. (2025). Gigantism.
Health Direct. (2025). Gigantism.
Barrow Neurological Institute. Gigantism.
Children’s Hospital of Philadelphia. (2026). Gigantism.
National Institute of Child Health and Human Development (NICHD). (2021). Gigantism and Acromegaly.
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
_(1).jpg&w=3840&q=75)