Kehilangan kemampuan menikmati aroma kopi pagi atau wangi masakan tentu dapat mengganggu kenyamanan hidup sehari-hari. Masalah ini bisa mengarah pada anosmia. Anosmia adalah kondisi medis ketika seseorang kehilangan kemampuan penciumannya, baik secara parsial maupun total, akibat gangguan kesehatan tertentu.
Kondisi tersebut bisa dipicu oleh infeksi saluran pernapasan, peradangan rongga hidung, hingga gangguan pada sistem saraf. Selain menurunkan nafsu makan, hilangnya daya cium juga dapat membahayakan keselamatan. Oleh sebab itu, mengenali penyebabnya sangatlah penting untuk menentukan langkah berikutnya dengan lebih tepat.
Apa Itu Anosmia dan Bagaimana Indra Penciuman Bekerja?
Saat Anda menghirup udara, molekul aroma masuk ke rongga hidung dan merangsang sel-sel sensorik penciuman. Sel tersebut mengirimkan sinyal melalui saraf menuju otak, kemudian otak mengolahnya menjadi pengalaman mengenali bau tertentu, seperti aroma buah, makanan, atau bunga.
Apabila ada gangguan pada jalur tersebut, mulai dari rongga hidung, sel penciuman, saraf, hingga bagian otak yang memproses aroma, kemampuan mencium bau dapat menurun atau bahkan menghilang. Hal inilah yang disebut anosmia.
Selain anosmia, terdapat juga gangguan penciuman lainnya yaitu:
Hiposmia: kemampuan mencium bau berkurang, tetapi belum hilang seluruhnya.
Parosmia: aroma tercium berbeda dari bau sebenarnya, misalnya kopi terasa seperti terbakar.
Fantosmia: muncul sensasi mencium bau yang sebenarnya tidak ada di lingkungan.
Perbedaan ini penting karena setiap kondisi memiliki penyebab dan penanganan berbeda.
Anosmia juga memengaruhi rasa makanan. Akibatnya, penderita tidak bisa mencium bau dan merasa setiap makanan rasanya hambar, meskipun lidah masih normal.
Gejala Anosmia yang Perlu Dikenali
Tanda utama anosmia adalah ketidakmampuan mencium bau. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, perubahan ini terkadang baru disadari setelah seseorang mengalami beberapa kejadian yang tidak biasa. Berikut beberapa gejalanya.
Tidak bisa mencium aroma yang biasanya mudah dikenali.
Makanan terasa hambar.
Kesulitan membedakan bau.
Perubahan persepsi terhadap aroma.
Keluhan hidung atau saluran pernapasan.
Selain memengaruhi pengalaman makan, anosmia dapat membuat seseorang lebih sulit mendeteksi asap, kebocoran gas yang diberi bahan berbau, atau makanan yang sudah basi. Karena itu, jangan mengabaikan perubahan indra penciuman terutama jika menetap atau muncul tanpa penyebab yang jelas.
Mengapa Anosmia Bisa Terjadi? Ini Penyebab dan Faktor Risikonya
Secara medis, anosmia adalah gangguan pada penciuman yang dapat muncul karena berbagai kondisi, yakni sebagai berikut.
1. Infeksi Saluran Pernapasan
Pilek, influenza, COVID-19, dan infeksi saluran pernapasan lainnya dapat mengganggu indra penciuman. Pada sebagian kasus, pembengkakan di rongga hidung dapat menghambat molekul aroma untuk mencapai area penciuman.
Sementara pada kasus lain, infeksi dapat memengaruhi sel atau jalur penciuman itu sendiri. Meski begitu, indra penciuman dapat pulih seiring membaiknya infeksi, walaupun pada sebagian orang pemulihannya membutuhkan waktu lebih lama.
2. Alergi dan Sinusitis
Rhinitis alergi atau peradangan pada lapisan hidung dapat menyebabkan pembengkakan, produksi lendir berlebih, bersin, dan hidung tersumbat. Sinusitis juga dapat menimbulkan peradangan di rongga hidung dan sinus, sehingga penciuman terganggu.
3. Polip Hidung
Polip hidung merupakan pertumbuhan jaringan lunak yang biasanya tidak bersifat kanker di dalam rongga hidung atau sinus. Jika ukurannya atau lokasinya menghalangi jalur udara menuju area penciuman, kemampuan mencium bau dapat menurun.
4. Cedera Kepala
Benturan pada kepala dapat merusak saraf penciuman atau jalur yang menghubungkannya dengan otak. Gangguan penciuman setelah cedera tidak selalu langsung terlihat, sehingga perubahan yang muncul setelah benturan perlu diperhatikan.
5. Pengaruh Obat dan Paparan Zat Tertentu
Beberapa obat dan paparan bahan kimia tertentu dapat memengaruhi fungsi penciuman. Jika keluhan muncul setelah mulai mengonsumsi obat atau setelah terpapar zat tertentu, sampaikan informasi tersebut kepada dokter. Jangan menghentikan obat resep tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
6. Pertambahan Usia dan Kondisi Neurologis
Kemampuan mencium bau dapat menurun seiring bertambahnya usia. Dalam situasi tertentu, gangguan penciuman juga dapat berkaitan dengan kondisi neurologis, seperti penyakit Parkinson atau Alzheimer. Namun, munculnya anosmia tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami penyakit tersebut.
Berkaitan dengan faktor risiko, kelompok orang yang lebih berisiko mengalami gangguan penciuman meliputi mereka yang memiliki riwayat infeksi pernapasan, alergi kronis, sinusitis berulang, kebiasaan merokok, paparan bahan iritan, cedera kepala, dan kondisi kesehatan tertentu.
Diagnosis Anosmia
Pemeriksaan dimulai dengan wawancara medis mengenai riwayat pilek, alergi, infeksi, cedera kepala, penggunaan obat, serta perubahan kemampuan mencium bau, mengingat anosmia adalah hilangnya indra penciuman.
Selanjutnya, dokter kemudian memeriksa hidung untuk mencari pembengkakan, polip, atau sumbatan lain. Jika diperlukan, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan berikut:
Tes penciuman dengan menggunakan aroma tertentu untuk menilai kemampuan mengenali atau membedakan bau.
Pemeriksaan hidung lebih lanjut, termasuk endoskopi hidung, yaitu pemeriksaan bagian dalam hidung menggunakan alat tipis berkamera.
Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI pada kondisi tertentu, terutama jika dicurigai terdapat kelainan struktural atau penyebab neurologis.
Kondisi anosmia sering kali menjadi pengingat pentingnya memantau kondisi tubuh secara rutin. Jika ingin mulai memerhatikan kesehatan, pemeriksaan kesehatan berkala dapat membantu memberikan gambaran umum tentang kondisi tubuh. Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah Paket MCU Basic dari Bumame.
Paket ini mencakup pemeriksaan profil darah dan urine lengkap untuk membantu mendeteksi tanda awal sejumlah kondisi, seperti perubahan profil lipid atau kolesterol, gula darah, asam urat, anemia, infeksi, serta gangguan umum lainnya.
Perlu diingat, ini buka tes khusus untuk anosmia. Jika keluhan utamanya adalah tidak bisa mencium bau, pemeriksaan dokter umum atau dokter spesialis THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) tetap menjadi langkah yang lebih tepat untuk mengevaluasi fungsi penciuman secara langsung.
Pilihan Pengobatan Anosmia Sesuai Penyebabnya
Penanganan anosmia bergantung pada penyebab, durasi keluhan, dan kondisi kesehatan masing-masing orang. Berikut beberapa pilihan penanganan yang dapat dipertimbangkan bersama dokter.
1. Mengatasi Penyebab yang Mendasari
Jika penyebab anosmia adalah alergi, peradangan hidung, atau sinusitis, dokter dapat merekomendasikan pengobatan sesuai kondisi tersebut. Obat semprot hidung tertentu, misalnya, dapat membantu mengurangi peradangan apabila memang diindikasikan.
2. Latihan Penciuman
Latihan penciuman atau olfactory training merupakan salah satu pendekatan yang dapat membantu sebagian orang dengan gangguan penciuman menetap, termasuk setelah infeksi virus.
Metode ini umumnya dilakukan dengan mencium beberapa aroma yang berbeda secara teratur dan penuh perhatian. Contoh aroma yang sering digunakan antara lain bunga, lemon, cengkih, dan kayu putih.
3. Menangani Sumbatan atau Kelainan pada Hidung
Jika ditemukan polip atau kelainan struktural yang menghambat penciuman, dokter THT dapat mempertimbangkan terapi obat atau tindakan tertentu. Jenis tindakan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan, tingkat gangguan, serta manfaat dan risikonya.
4. Meninjau Penggunaan Obat dan Faktor Pemicu
Untuk mengetahui berapa lama anosmia sembuh, hal itu tergantung penyebabnya. Ada yang pulih dalam hitungan minggu, namun ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.
Jika gangguan diduga berkaitan dengan obat atau paparan zat tertentu, dokter dapat mengevaluasi kemungkinan penyebabnya dan menyarankan penyesuaian yang sesuai. Jangan mencoba obat, suplemen, atau terapi alternatif yang menjanjikan pemulihan instan tanpa bukti yang memadai.
Kebiasaan Sehari-hari untuk Menjaga Fungsi Penciuman
Perlu diketahui bahwa anosmia adalah gangguan penciuman yang tidak selalu dapat dicegah. Namun, ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan hidung dan mengurangi risikonya, yakni sebagai berikut.
Hindari rokok dan asap iritan.
Konsultasikan gejala alergi hidung.
Rutin cuci tangan untuk cegah infeksi.
Gunakan pelindung diri di tempat kerja, terlebih saat terpapar bahan kimia atau debu.
Hindari mengorek hidung atau memasukkan benda ke dalamnya.
Gunakan helm dan alat keselamatan untuk mencegah cedera kepala.
Jika penciuman sudah terganggu, lakukan penyesuaian di rumah.
Memasang detektor asap.
Memastikan keamanan instalasi gas.
Memerhatikan tanggal kedaluwarsa makanan.
Minta bantuan orang lain untuk memeriksa kesegaran makanan jika diperlukan.
Kapan Sebaiknya Memeriksakan Diri ke Dokter?
Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter umum atau spesialis THT jika mengalami kondisi berikut.
Penciuman tak kunjung membaik setelah infeksi/flu mereda.
Penciuman berkurang tanpa sebab yang jelas.
Gangguan berlangsung berulang atau semakin memburuk.
Disertai hidung tersumbat lama, mimisan, atau nyeri wajah.
Muncul setelah mengalami cedera kepala.
Segera cari pertolongan medis jika anosmia muncul mendadak setelah cedera kepala berat atau disertai gejala stroke/saraf berikut.
Kelemahan pada satu sisi tubuh.
Wajah mencong.
Kesulitan berbicara atau kebingungan.
Sakit kepala hebat secara tiba-tiba.
Saatnya Lindungi Diri dari Dampak Anosmia
Anosmia adalah hilangnya kemampuan indra penciuman yang dapat disebabkan oleh infeksi, alergi, sinusitis, polip hidung, cedera kepala, maupun kondisi lainnya. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali aroma, tetapi juga pengalaman makan, aktivitas sehari-hari, dan keselamatan.
Jika mengalaminya, jangan terburu-buru menyimpulkan penyebabnya sendiri karena setiap kasus membutuhkan penilaian yang sesuai.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Library of Medicine — Anosmia—A Clinical Review
Cleveland Clinic — Anosmia (Loss of Sense of Smell)
British Journal of Medical Practice — Anosmia: An Evidence-Based Approach to Diagnosis and Management in Primary Care
Allied Academics — Anosmia: Its Signs, Symptoms, Causes and Treatment for the People
National Library of Medicine — Anosmia: An Evidence-Based Approach to Diagnosis and Management in Primary Care
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
Frequently Asked Question
Apa itu anosmia?
Anosmia adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kemampuan mencium bau, baik sementara maupun berkepanjangan. Kondisi ini dapat terjadi akibat infeksi saluran pernapasan, alergi, sinusitis, polip hidung, cedera kepala, atau gangguan pada sistem saraf.
Apa saja penyebab anosmia?
Anosmia dapat disebabkan oleh pilek, influenza, COVID-19, alergi, sinusitis, polip hidung, cedera kepala, efek obat atau paparan zat kimia tertentu, serta kondisi neurologis. Penyebabnya perlu dievaluasi berdasarkan gejala dan riwayat kesehatan.
Berapa lama anosmia sembuh?
Lama pemulihan anosmia bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Sebagian orang pulih dalam beberapa minggu setelah infeksi membaik, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih lama. Konsultasikan dengan dokter jika penciuman tidak kunjung pulih atau semakin memburuk.
Bagaimana cara mengatasi anosmia?
Penanganan anosmia disesuaikan dengan penyebabnya, misalnya mengatasi alergi atau peradangan hidung, menangani polip, dan mengevaluasi obat yang digunakan. Latihan penciuman juga dapat membantu sebagian orang dengan gangguan penciuman menetap, termasuk setelah infeksi virus.
Kapan anosmia perlu diperiksakan ke dokter?
Periksakan diri jika penciuman tidak membaik setelah flu mereda, berkurang tanpa penyebab jelas, semakin memburuk, atau disertai hidung tersumbat berkepanjangan, mimisan, maupun nyeri wajah. Segera cari pertolongan medis jika anosmia muncul setelah cedera kepala berat atau disertai kelemahan satu sisi tubuh dan kesulitan berbicara.
