Banyak orang menyimpan hasil cek darah kantor di laci meski angka SGPT, salah satu enzim hati, tercetak sedikit di atas batas. Badan terasa sehat, jadi angka itu dianggap tidak berarti.
Hati memang jarang mengeluh, dan kerusakannya bisa berjalan lama tanpa tanda. Kabar baiknya, sejumlah penyebab kerusakan hati berkaitan dengan kebiasaan yang bisa diubah, misalnya alkohol, berat badan berlebih, dan infeksi virus penyebab peradangan hati atau hepatitis.
Artikel ini membahas tugas hati, alasan kerusakannya jarang terasa, delapan cara menjaga kesehatan hati, kesalahan umum, dan tanda kapan hati perlu diperiksa.
Apa Saja yang Dikerjakan Hati Setiap Hari?
Hati terletak di perut kanan atas, di bawah tulang rusuk. Organ ini menjalankan banyak tugas sekaligus, dan fungsi hati yang pokok antara lain:
Menyaring darah. Darah dari lambung dan usus melewati hati sebelum beredar ke seluruh tubuh. Zat sisa dan racun diolah di sini agar bisa dibuang.
Mengolah zat gizi, obat, dan alkohol. Hati mengubah zat gizi menjadi bentuk yang bisa dipakai tubuh. Obat dan alkohol juga diurai di organ ini.
Membuat empedu dan protein darah. Cairan empedu membantu mencerna lemak, sedangkan protein buatan hati membantu darah membeku saat terjadi luka. Karena itu, gangguan hati yang berat bisa membuat seseorang mudah memar.
Menyimpan cadangan. Hati menyimpan gula dalam bentuk glikogen, juga vitamin dan mineral seperti zat besi. Cadangan ini dilepas saat tubuh membutuhkannya.
Hati juga bisa memperbaiki diri setelah cedera ringan. Kemampuan ini ada batasnya, dan cedera yang berulang membuat jaringan parut perlahan terbentuk.
Mengapa Kerusakan Hati Sering Tidak Terasa?
Hati tetap bisa bekerja meski sebagian jaringannya rusak. Akibatnya, banyak jenis penyakit hati tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, dan keluhan baru muncul ketika kerusakan sudah cukup luas.
Kerusakan jangka panjang biasanya berjalan bertahap. Peradangan yang berulang memicu jaringan parut, dan bila berlanjut bisa menjadi sirosis, yaitu kondisi ketika jaringan hati yang sehat berganti menjadi jaringan parut sehingga hati sulit bekerja. Pemicunya antara lain alkohol, infeksi hepatitis B atau hepatitis C yang menahun, dan penumpukan lemak di hati.
Semakin awal gangguan diketahui, semakin banyak yang bisa dilakukan untuk membatasi kerusakan. Karena itu, kebiasaan sehari-hari dan pemeriksaan berkala sama-sama berperan.
8 Cara Menjaga Kesehatan Hati dalam Keseharian
Langkah berikut menyasar penyebab kerusakan hati yang bisa dikendalikan.
1. Batasi Minuman Beralkohol
Alkohol diurai di hati, sehingga kebiasaan minum dalam jumlah banyak secara rutin membuat hati terus bekerja keras. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa memicu penumpukan lemak, peradangan, lalu jaringan parut yang berujung sirosis. Sisihkan beberapa hari dalam seminggu tanpa alkohol, dan pilih air putih saat berkumpul. Bila dokter sudah menemukan gangguan hati, berhenti minum alkohol sama sekali adalah langkah yang dianjurkan.
2. Jaga Berat Badan di Kisaran Sehat
Berat badan berlebih, khususnya lemak di sekitar perut, berkaitan erat dengan perlemakan hati, yaitu penumpukan lemak berlebih di dalam sel hati. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang dengan obesitas, diabetes tipe 2, atau kadar lemak darah yang tinggi, dan umumnya tidak bergejala. Pada sebagian orang, lemak tersebut memicu peradangan yang bisa berlanjut menjadi jaringan parut. Penurunan berat badan secara bertahap membantu mengurangi lemak di hati, dan targetnya bisa ditentukan bersama dokter.
3. Makan Seimbang dan Kurangi Gula Tambahan
Pola makan ikut menentukan berapa banyak lemak yang tersimpan di tubuh, termasuk di hati. Kalori berlebih dari minuman manis dan camilan tinggi gula mudah menambah berat badan tanpa disadari. Isi piring dengan sayur, buah, biji-bijian utuh, sumber protein, dan lemak sehat dari ikan atau kacang-kacangan. Baca label gizi untuk mengetahui kandungan gula tambahan, dan ganti minuman manis kemasan dengan air putih.
4. Cermat Memakai Obat Bebas dan Suplemen Herbal
Hati ikut mengolah obat yang Anda minum, termasuk obat bebas. Sebagian obat dan suplemen, termasuk suplemen herbal, bisa merusak hati, dan risikonya naik bila dipakai melebihi aturan. Ikuti dosis di kemasan, khususnya untuk obat pereda nyeri tertentu yang mudah dibeli tanpa resep. Beri tahu dokter atau apoteker tentang semua obat dan suplemen yang Anda minum, apalagi bila sudah ada gangguan hati.
5. Lengkapi Vaksinasi Hepatitis A dan B
Hepatitis A umumnya menular lewat makanan atau minuman yang tercemar, sedangkan hepatitis B menular lewat darah dan cairan tubuh. Infeksi hepatitis B yang menahun bisa merusak hati secara perlahan tanpa keluhan. Vaksin untuk keduanya membantu menurunkan risiko infeksi. Bila Anda lupa riwayat vaksin, tanyakan kebutuhan vaksin hepatitis B untuk orang dewasa kepada dokter. Vaksinasi berjalan bersama langkah lain dalam pencegahan hepatitis di Indonesia, seperti mencuci tangan dengan sabun serta menjaga kebersihan makanan dan air minum.
6. Hindari Berbagi Jarum dan Alat Pribadi
Penularan hepatitis B dan hepatitis C bisa terjadi lewat kontak dengan darah orang yang terinfeksi. Jalurnya antara lain jarum suntik bersama, alat tato atau tindik yang tidak steril, serta pisau cukur dan sikat gigi yang dipakai bergantian. Gunakan jarum, alat tato, dan alat tindik yang baru atau steril. Biasakan setiap anggota keluarga memakai alat cukur dan sikat gigi masing-masing.
7. Terapkan Hubungan Seksual yang Aman
Hepatitis B juga bisa menular lewat hubungan seksual tanpa pengaman. Risikonya meningkat saat berhubungan dengan pasangan baru atau berganti-ganti pasangan. Setia pada satu pasangan dan memakai kondom membantu menurunkan risiko penularan. Bila Anda atau pasangan pernah memiliki perilaku berisiko, bicarakan pemeriksaan hepatitis B dengan dokter agar status kesehatan masing-masing diketahui.
8. Bergerak Aktif secara Teratur
Aktivitas fisik membantu menjaga berat badan dan mengurangi lemak tubuh, dua hal yang berkaitan dengan perlemakan hati. Pilih kegiatan yang bisa dijalani rutin, misalnya jalan cepat, bersepeda, atau berenang, dan usahakan bergerak aktif hampir setiap hari. Bila Anda jarang berolahraga atau punya penyakit jantung, konsultasikan dengan dokter sebelum menambah intensitas latihan.
Kesalahan Umum yang Justru Membebani Hati
Niat menjaga hati kadang berujung pada kebiasaan yang kurang tepat, misalnya:
Mengandalkan produk "detoks hati". Hati sudah menyaring zat sisa dari darah setiap hari. Produk berlabel detoks biasanya berisi campuran herbal atau suplemen yang juga perlu diolah hati.
Minum suplemen dosis tinggi tanpa anjuran. Vitamin, mineral, dan suplemen lain ikut diolah hati, sehingga dosis tinggi yang diminum terus-menerus menambah beban kerjanya. Konsultasikan kebutuhannya dengan dokter.
Minum jamu tanpa tahu isinya. Ramuan tanpa label komposisi menyulitkan dokter menelusuri penyebab bila hasil pemeriksaan hati berubah. Pilih produk yang terdaftar di BPOM dan sampaikan semua ramuan yang Anda minum saat berobat.
Kebiasaan Mana yang Membebani Hati?
Tabel berikut membandingkan kebiasaan yang membebani dan yang mendukung hati.
Tabel ini hanya gambaran umum dan tidak menggantikan saran dokter.
Tanda Hati Perlu Diperiksa Dokter
Karena tahap awal sering tanpa keluhan, gejala yang akhirnya muncul layak diperhatikan. Tanda berikut bisa berkaitan dengan gangguan fungsi hati:
Kulit dan bagian putih mata menguning. Warna kuning ini sering disertai urine gelap seperti teh dan tinja pucat, dan juga termasuk gejala hepatitis A serta infeksi virus hati lain. Segera periksakan diri meski tidak ada nyeri.
Lelah berkepanjangan dan nafsu makan turun. Keluhan ini kerap disertai mual atau berat badan turun tanpa sebab jelas. Periksakan diri bila keluhan menetap beberapa minggu.
Perut atau tungkai membengkak. Penumpukan cairan di perut dan bengkak di kaki termasuk tanda gangguan hati yang sudah lanjut. Tanda lanjut lain seperti muntah darah atau tinja hitam perlu segera ditangani di IGD.
Rasa tidak nyaman di perut kanan atas. Keluhan ini kadang muncul pada perlemakan hati atau peradangan hati. Periksakan diri bila rasa penuh atau nyeri di area ini berulang.
Tanpa keluhan pun, pemeriksaan layak dipertimbangkan bila ada faktor risiko seperti obesitas, diabetes tipe 2, kebiasaan minum alkohol, atau riwayat hepatitis. Dokter biasanya memulai dengan tes darah yang mengukur enzim hati, seperti SGOT dan SGPT.
Memantau Fungsi Hati lewat Pemeriksaan Darah
Gangguan hati sering berjalan tanpa keluhan, sementara kadar enzim hati dalam darah bisa sudah berubah lebih dulu. Karena itu, pemeriksaan darah membantu mengetahui kondisi hati sebelum gejala muncul.
Medical Check Up Fungsi Hati di Bumame adalah pemeriksaan untuk menilai fungsi hati lewat kadar enzim hati dalam darah. Pemeriksaan ini bisa menjadi pilihan bila Anda punya faktor risiko di atas atau ingin memantau kondisi hati secara berkala. Untuk jadwal dan persiapan, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Mulai Rawat Hati dari Kebiasaan Hari Ini
Banyak langkah perawatan hati bisa dimulai dari rumah. Batasi alkohol, jaga berat badan, makan seimbang, bergerak teratur, lengkapi vaksinasi hepatitis, dan cermati obat, suplemen, serta jamu yang Anda minum.
Kepastian lebih awal memberi lebih banyak pilihan untuk melangkah. Bila ada faktor risiko atau keluhan yang mengganjal, bicarakan dengan dokter atau chat CS Bumame untuk mengatur jadwal pemeriksaan.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Sirosis. Retrieved 23 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/penyakit-pencernaan/sirosis
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Perlemakan Hati : Selayang Pandang. Retrieved 23 September 2026 from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1420/perlemakan-hati-selayang-pandang
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Pentingnya Pencegahan Hepatitis di Hari Hepatitis Sedunia 2024. Retrieved 23 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/hari-hepatitis-sedunia-2024
NHS. Liver disease. Retrieved 23 September 2026 from https://www.nhs.uk/conditions/liver-disease/
Mayo Clinic. Fatty liver disease (MASLD) - Symptoms and causes. Retrieved 23 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/fatty-liver-disease-masld/symptoms-causes/syc-20354567
Cleveland Clinic. Liver. Retrieved 23 September 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/body/21481-liver
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
