Di lembar hasil laboratorium, hs-CRP kerap muncul di dekat angka kolesterol. Banyak orang melewatinya karena istilahnya asing dan tubuh terasa baik-baik saja.
Angka ini menggambarkan peradangan tingkat rendah di dalam tubuh. Menurut American Heart Association (AHA), penanda ini berkaitan dengan risiko serangan jantung dan stroke, sehingga membantu dokter menimbang langkah pencegahan.
Artikel ini membahas pengertian hs-CRP, bedanya dengan CRP biasa, kapan tes ini diminta, persiapan, hingga cara membaca hasilnya.
Apa Itu hs-CRP?
hs-CRP adalah singkatan dari high-sensitivity C-reactive protein, yaitu pemeriksaan protein C-reaktif dengan kepekaan tinggi. Protein C-reaktif atau CRP dibuat oleh hati, dan kadarnya naik saat ada peradangan di tubuh.
Peradangan adalah cara tubuh melindungi jaringan dari cedera, infeksi, atau penyakit lain. Menurut MedlinePlus, peradangan yang berlangsung terlalu lama bisa merusak jaringan yang sehat.
Tes hs-CRP mampu menangkap kenaikan CRP yang jauh lebih kecil daripada tes standar. Menurut Testing.com, peradangan tingkat rendah yang menahun berperan dalam aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di dinding pembuluh darah.
Mayo Clinic menyebut tes ini membantu menunjukkan risiko penyakit jantung koroner. Pada kondisi ini, pembuluh darah jantung menyempit dan bisa berujung pada serangan jantung.
Bedanya hs-CRP dengan CRP Standar
Tes CRP standar dan hs-CRP mengukur protein yang sama. Menurut StatPearls, istilah high-sensitivity merujuk pada teknik pengukuran yang lebih teliti pada kadar rendah. MedlinePlus mencatat keduanya dipakai untuk kondisi yang berbeda.
Tes CRP standar menangkap peradangan yang jelas, misalnya akibat infeksi bakteri, virus, atau cedera. Dokter biasanya memintanya saat ada demam, menggigil, atau napas cepat. Tes ini juga dipakai untuk memantau pengobatan lupus atau rheumatoid arthritis dan mengawasi infeksi setelah operasi.
Sementara itu, menurut Testing.com, hs-CRP membantu memperkirakan risiko penyakit jantung pada orang yang tampak sehat, sebelum gejala muncul.
Tabel ini merangkum perbedaannya secara umum. Pemeriksaan yang diperlukan ditentukan oleh dokter.
Kapan Dokter Meminta Tes hs-CRP?
Menurut AHA, risiko penyakit jantung dinilai dari tekanan darah, berat badan, gula darah, dan kolesterol. Tes hs-CRP menjadi pemeriksaan tambahan pada situasi berikut.
1. Perkiraan Risiko Jantung Berada di Tingkat Menengah
AHA menyebut dokter bisa menyarankan tes ini bila perkiraan risiko penyakit jantung dalam 10 tahun berada di garis batas. Menurut Mayo Clinic, tes ini berguna khususnya bagi orang dengan peluang serangan jantung 10 sampai 20 persen dalam 10 tahun, yang disebut risiko menengah.
2. Ada Riwayat Penyakit Jantung atau Stroke dalam Keluarga
Menurut Testing.com, riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau stroke termasuk alasan untuk mempertimbangkan tes ini. Mayo Clinic juga menyebut riwayat keluarga sebagai bagian dari perhitungan risiko yang dilakukan dokter.
3. Ada Faktor Risiko Metabolik
Testing.com menyebut tes ini berguna bagi orang yang tampak sehat namun memiliki faktor risiko metabolik seperti obesitas, tekanan darah tinggi, atau resistensi insulin. Gabungan faktor ini dikenal sebagai sindrom metabolik. Menurut StatPearls, kondisi tersebut dan diabetes juga bisa menaikkan CRP, jadi hasilnya perlu dibaca dengan cermat.
4. Kolesterol Tinggi atau Kebiasaan Merokok
Kolesterol tinggi dan riwayat merokok juga termasuk alasan yang disebut Testing.com. Menurut sumber yang sama, kolesterol yang normal belum menyingkirkan risiko jantung, dan hs-CRP menambah informasi yang tidak tampak pada tes lemak darah.
5. Setelah Mengalami Serangan Jantung
Menurut Mayo Clinic, tes ini juga dipakai untuk mengetahui risiko serangan jantung kedua. Orang yang pernah mengalaminya lebih mungkin mengalami serangan lagi bila hs-CRP tinggi, dan risikonya turun saat kadarnya kembali ke kisaran biasa. Perlu tidaknya tes ditentukan oleh dokter jantung yang menangani.
Persiapan Sebelum Tes hs-CRP
Persiapan tes ini umumnya sederhana. Perhatikan beberapa hal berikut:
Puasa. Tes hs-CRP umumnya tidak memerlukan puasa. Bila sampel darah juga dipakai untuk cek kolesterol total atau tes lain, dokter bisa meminta Anda berpuasa lebih dulu.
Olahraga berat. Menurut Mayo Clinic, angkat beban intens atau lari jarak jauh bisa membuat kadar CRP melonjak. Tunda latihan semacam ini menjelang tes.
Obat dan suplemen. Beberapa obat dan suplemen, termasuk magnesium, bisa memengaruhi hasil. Sampaikan semuanya kepada dokter atau petugas, dan jangan menghentikan obat resep tanpa arahan dokter.
Kondisi badan. Menurut Testing.com, pilek ringan, infeksi yang baru sembuh, atau cedera bisa membuat hs-CRP melonjak sehingga hasilnya kurang tepat untuk menilai risiko jantung. Bila sedang sakit atau baru cedera, bicarakan dengan dokter untuk menunda tes sampai pulih.
Bagaimana Pemeriksaan hs-CRP Dilakukan?
Petugas mengambil sampel darah dari pembuluh darah di lipatan siku dengan jarum kecil. Prosesnya sama seperti cek darah pada umumnya dan biasanya selesai kurang dari lima menit.
Menurut Mayo Clinic, risikonya kecil, berupa nyeri atau memar di bekas tusukan. Anda bisa langsung kembali beraktivitas setelahnya. Sampel kemudian diperiksa di laboratorium, dan dokter akan menjelaskan arti hasilnya.
Cara Membaca Hasil hs-CRP
Hasil hs-CRP dilaporkan dalam satuan miligram per liter (mg/L). Menurut Mayo Clinic, hasilnya umumnya dikelompokkan seperti berikut:
Di bawah 2,0 mg/L. Kelompok ini tergolong risiko penyakit jantung yang lebih rendah. Hasil ini tetap dibaca bersama faktor lain, seperti LDL atau kolesterol jahat, tekanan darah, dan gula darah.
2,0 mg/L atau lebih. Kelompok ini tergolong risiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Nilai di atas 2,0 mg/L bisa menandakan kenaikan risiko serangan jantung, termasuk serangan berulang.
Nilai rujukan bergantung pada laboratorium dan dokter. Sebagian laboratorium memakai pembagian atau satuan yang berbeda, jadi cocokkan angka dan satuannya dengan keterangan di laporan hasil.
Kadar CRP bisa berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, menurut Mayo Clinic, penilaian risiko biasanya memakai rata-rata dua tes hs-CRP berjarak sekitar dua minggu. Bila dua pengukuran berturut-turut tinggi, AHA menyebut dokter akan berusaha menyingkirkan penyebab peradangan lain lebih dulu.
Satu hasil tinggi tidak sama dengan diagnosis penyakit jantung. Menurut Mayo Clinic, kadar tinggi bisa berasal dari infeksi berat, cedera, atau penyakit menahun. StatPearls juga mencatat peran tes ini untuk skrining jantung masih diperdebatkan karena kenaikannya tidak spesifik. Dokter membacanya bersama faktor risiko lain.
Kondisi yang Bisa Menaikkan Kadar hs-CRP
CRP naik sebagai respons terhadap peradangan dari sumber apa pun. Menurut MedlinePlus, tes ini tidak menunjukkan penyebab atau letak peradangan. Kondisi berikut bisa ikut menaikkan hasil:
Infeksi. Infeksi bakteri atau virus, termasuk pilek biasa, menaikkan CRP. Bila darah diambil saat sedang sakit, dokter biasanya meminta tes ulang setelah pulih.
Cedera. Cedera baru, khususnya yang berat, bisa menaikkan CRP secara nyata. Menurut StatPearls, kenaikan ini bisa mengacaukan penilaian risiko jantung.
Obesitas dan kurang gerak. Kelebihan berat badan berkaitan dengan kenaikan CRP. StatPearls juga mencatat kadar yang lebih tinggi pada orang yang jarang bergerak dan banyak duduk.
Merokok dan polusi. Menurut MedlinePlus, merokok dan udara tercemar bisa menaikkan CRP. Iritasi berulang pada jaringan memicu peradangan yang berlangsung lama.
Kurang tidur. Gangguan tidur dan insomnia berkaitan dengan kenaikan CRP. Sampaikan kepada dokter bila sulit tidur sudah berlangsung lama.
Kehamilan. Kehamilan bisa menaikkan CRP sedikit. Dokter mempertimbangkan kondisi ini saat membaca hasil.
Terapi hormon. Terapi hormon untuk menopause berkaitan dengan kadar CRP yang lebih tinggi. Menurut Testing.com, dokter perlu memperhitungkan terapi ini saat membaca hs-CRP.
Penyakit autoimun dan radang menahun. Lupus, rheumatoid arthritis, vaskulitis, dan penyakit radang usus bisa membuat CRP tinggi dalam waktu lama. Menurut StatPearls, kondisi ini menyulitkan pemakaian hs-CRP sebagai penanda risiko jantung.
Kadar CRP juga cenderung sedikit lebih tinggi pada perempuan dan orang lanjut usia. Sebaliknya, beberapa obat dan suplemen bisa menurunkan hasil.
Tes hs-CRP untuk Melengkapi Cek Kolesterol dan Tensi
hs-CRP menangkap peradangan tingkat rendah yang tidak terlihat pada hasil kolesterol. Karena itu, dokter memakainya untuk menilai risiko jantung bersama kolesterol dan tekanan darah.
Di Bumame, tes hs-CRP dilakukan dari sampel darah tanpa puasa. Tes ini juga termasuk dalam Paket Jantung Basic bersama delapan pemeriksaan lain, di antaranya kolesterol total dan trigliserida, dan paket ini memerlukan puasa. CRP Kuantitatif adalah tes berbeda yang mengukur CRP standar. Untuk pertanyaan seputar persiapan dan jadwal, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi ke Dokter?
Bawa hasil hs-CRP saat berkonsultasi, khususnya bila angkanya tinggi. Dokter membacanya bersama kolesterol, tekanan darah, gula darah, dan riwayat keluarga, lalu menentukan perlu tidaknya tes ulang.
Konsultasi juga bermanfaat bila Anda merokok, memiliki kolesterol atau tekanan darah tinggi, atau punya keluarga dengan penyakit jantung. AHA menganjurkan untuk membicarakan perkiraan risiko jantung dengan tenaga kesehatan.
Tes hs-CRP dirancang untuk orang yang tampak sehat. Bila muncul sinyal awal jantung tidak sehat, dokter yang menentukan pemeriksaan berikutnya. Segera ke IGD bila merasakan nyeri dada hebat, sesak napas berat, atau keringat dingin.
Lengkapi Gambaran Kesehatan Jantung Anda
hs-CRP menambah informasi tentang peradangan yang tidak tampak dari angka kolesterol dan tensi. Dibaca bersama faktor risiko lain, hasilnya membantu Anda dan dokter memilih langkah pencegahan yang sesuai.
Menurut AHA dan Testing.com, aktif bergerak, berhenti merokok, menjaga berat badan, dan mengendalikan tekanan darah tinggi membantu menurunkan risiko. Semakin dini diketahui, semakin luas pilihan penanganannya.
Jika ada pertanyaan seputar pemeriksaan jantung, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
StatPearls, NCBI Bookshelf. C-Reactive Protein: Clinical Relevance and Interpretation. Retrieved 24 September 2026 from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441843/
MedlinePlus. C-Reactive Protein (CRP) Test: MedlinePlus Medical Test. Retrieved 24 September 2026 from https://medlineplus.gov/lab-tests/c-reactive-protein-crp-test/
Cleveland Clinic. C-Reactive Protein (CRP) Test: What It Is, Purpose & Results. Retrieved 24 September 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/diagnostics/23056-c-reactive-protein-crp-test
Testing.com. C-Reactive Protein High Sensitivity Test: Order Online. Retrieved 24 September 2026 from https://www.testing.com/tests/high-sensitivity-c-reactive-protein-hs-crp/
American Heart Association. An hsCRP test can add clarity to your heart health picture. Retrieved 24 September 2026 from https://www.heart.org/en/health-topics/cholesterol/how-to-get-your-cholesterol-tested/high-sensitivity-c-reactive-protein
Mayo Clinic. C-reactive protein test. Retrieved 24 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/c-reactive-protein-test/about/pac-20385228
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
