Menyambut kelahiran seorang bayi adalah momen yang penuh kebahagiaan bagi orang tua. Namun, jika bayi mengalami masalah saat menelan atau kesulitan mengeluarkan air liur, adalah hal yang wajar bagi orang tua untuk merasa cemas.
Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan di balik gejala tersebut adalah atresia esofagus. Kelainan bawaan ini menyebabkan kerongkongan tidak terhubung dengan benar ke lambung, sehingga memerlukan penanganan medis.
Lalu, apa saja gejala yang harus diwaspadai dan bagaimana cara penanganannya? Mari pelajari penyebab, cara diagnosis, serta pilihan pengobatan dalam artikel ini!
Apa Itu Atresia Esofagus?
Ketika esofagus, saluran yang mengangkut makanan dan minuman dari mulut ke lambung, tidak terbentuk secara sempurna, kelainan ini bisa disebut dengan istilah atresia esofagus. Kelainan ini menyebabkan adanya segmen esofagus yang tidak terhubung dengan baik, sehingga menghalangi makanan dan cairan untuk melewati saluran tersebut dengan normal.
Beberapa kasus atresia esofagus dapat disertai fistula trakeoesofagus (saluran abnormal yang menghubungkan esofagus dengan trakea atau saluran pernapasan). Jika fistula ini ada, cairan atau isi saluran pencernaan dapat masuk ke saluran pernapasan dan berpotensi menimbulkan komplikasi pada paru-paru.
Ada beberapa tipe atresia esofagus berdasarkan bentuk kerongkongan serta ada atau tidaknya fistula trakeoesofagus. Perbedaan tipe ini penting diketahui karena dapat memengaruhi pemeriksaan dan pilihan penanganan yang diberikan kepada penderita.
Gejala Atresia Esofagus
Gejala atresia esofagus pada bayi umumnya terlihat segera setelah kelahiran, terutama saat bayi mulai menelan air liur atau berusaha untuk menyusui. Namun, gejala yang timbul bisa berbeda-beda. Beberapa gejalanya meliputi:
1. Produksi Air Liur yang Berlebih atau Berbusa
Bayi biasanya akan memproduksi air liur lebih banyak karena esofagus atau kerongkongan tidak tersambung dengan benar ke lambung, sehingga air liur susah tertelan dan mengumpul di bagian atas kerongkongan. Air liur ini dapat tampak sebagai busa atau mengalir terus dari mulut bayi.
2. Batuk atau Tersedak saat Menelan
Bayi dapat batuk, tersedak, atau kesulitan menelan saat mencoba minum ASI. Kondisi ini terjadi karena hambatan pada jalan makanan ke perut. Pada bayi dengan fistula trakeoesofagus, batuk atau tersedak dapat terjadi karena susu atau cairan masuk ke saluran napas. Gejala tersebut umumnya muncul berulang setiap kali bayi mulai diberi makan atau minum.
3. Kesulitan Minum Susu atau Menelan
Tanda lainnya yaitu ketika bayi susah menelan ASI, susu formula, atau bahkan air liurnya sendiri. Ini terjadi karena ada bagian kerongkongan yang terputus, sehingga cairan tak bisa lewat saluran tersebut ke lambung seperti seharusnya. Akibatnya, bayi mungkin tidak bisa menyusu dengan baik atau terlihat susah saat mencoba menelan.
4. Gangguan Pernapasan
Masalah pernapasan bisa muncul pada bayi yang lahir dengan atresia esofagus, terutama bila kondisi ini juga melibatkan fistula trakeoesofagus. Jalur yang tidak normal antara kerongkongan dan saluran pernapasan memudahkan cairan masuk ke jalur napas, sehingga menambah risiko aspirasi, yaitu masuknya benda cair atau padat ke dalam jalur napas.
5. Kulit Tampak Kebiruan (Sianosis)
Sianosis adalah keadaan di mana kulit atau bibir tampak membiru karena kadar oksigen dalam darah rendah. Tanda ini dapat terlihat saat bayi mencoba menyusu atau saat mengalami kesulitan bernapas, apalagi jika ada fistula yang memungkinkan cairan masuk ke saluran pernapasan.
6. Perut Tampak Membuncit
Udara dari saluran pernapasan bisa saja masuk ke lambung lewat celah yang tidak normal. Hasilnya, perut bayi bisa tampak membesar lantaran tertimbun udara. Gambaran ini dapat membantu para profesional medis mengenali kemungkinan jenis kelainan yang sedang diderita bayi.
7. Selang Makan Tidak Dapat Dimasukkan ke Lambung
Tenaga medis mungkin menemukan pada pemeriksaan awal bahwa selang nasogastrik atau orogastrik atau selang yang dimasukkan ke lambung melalui mulut atau hidung tidak dapat melewati kerongkongan dengan benar. Pada bagian kerongkongan yang tertutup, selang tersebut bisa tersangkut.
Penyebab dan Faktor yang Dapat Meningkatkan Risikonya
Atresia esofagus terjadi akibat gangguan perkembangan kerongkongan selama masa kehamilan. Beberapa faktor dapat menyebabkan hal ini, seperti:
1. Gangguan Perkembangan Janin
Pada embrio, kerongkongan dan saluran pernapasan berkembang secara bersamaan. Kegagalan salah satu proses ini dapat menyebabkan fistula trakeoesofagus atau kerongkongan tidak lengkap.
2. Riwayat Kesehatan Ibu
Dalam studi, ibu yang memiliki anak dengan atresia esofagus memiliki riwayat alergi dan penyakit yang berbeda dari kelompok kontrol. Namun demikian, karena keterbatasannya, penelitian ini belum menunjukkan hubungan sebab-akibat.
3. Pola Makan dan Faktor Lingkungan
Pola makan dan paparan lingkungan juga masih menjadi faktor yang diteliti. Meskipun demikian, tidak ada bukti yang memadai untuk menyimpulkan bahwa komponen tertentu secara langsung menyebabkan kelainan ini.
Pemeriksaan dan Diagnosis untuk Mengetahui Kondisi Esofagus
Atresia esofagus bisa terdeteksi melalui pemeriksaan sewaktu ibu sedang hamil atau sesudah bayi lahir. Dokter akan memilih tes yang sesuai berdasarkan petunjuk yang ada demi memastikan kondisi kerongkongan serta mengidentifikasi potensi kelainan lain yang mungkin ada. Beberapa diagnosisnya seperti:
1. Pengawasan Sebelum Kelahiran
Pemeriksaan USG tidak selalu dapat memastikan adanya atresia esofagus. Namun, pemeriksaan ini dapat menunjukkan beberapa petunjuk, seperti cairan ketuban yang berlebih atau lambung janin yang tampak kecil maupun tidak terlihat.
Pemeriksaan kehamilan rutin juga membantu memantau kesehatan ibu. Anda dapat mempertimbangkan Paket Pemeriksaan Ibu Hamil dari Bumame untuk melengkapi pemeriksaan kesehatan selama kehamilan. Namun, paket pemeriksaan laboratorium ini tidak menggantikan USG atau konsultasi dengan dokter.
2. Pemasangan Selang setelah Bayi Lahir
Ketika terdapat kecurigaan klinis pada bayi baru lahir yang menunjukkan gejala khas seperti air liur berlebih atau tersedak saat diberi makan, dokter biasanya akan mencoba memasukkan selang kecil melalui hidung atau mulut menuju lambung. Jika selang tidak dapat melewati kerongkongan, dokter akan mencurigai adanya kelainan dan melakukan pemeriksaan lanjutan.
3. Pemantauan dengan Alat Rontgen
Dokter akan memanfaatkan pencitraan rontgen untuk mengevaluasi struktur anatomi serta bentuk kerongkongan bayi. Hasil pemindaian ini juga sekaligus memberikan gambaran mengenai pola udara di dalam saluran pencernaan.
4. Evaluasi Saluran Pernapasan
Dokter melakukan bronkoskopi atau pemeriksaan dengan melihat bagian dalam saluran pernapasan, pada beberapa kasus. Prosedur ini sangat membantu dokter untuk memetakan detail anatomi bayi serta mendeteksi ada tidaknya kelainan penyerta seperti fistula trakeoesofagus.
5. Pemeriksaan Penunjang untuk Kelainan Bawaan Lain
Mengingat atresia esofagus terkadang berkaitan dengan kondisi kongenital lainnya, dokter mungkin akan menganjurkan pemeriksaan lanjutan guna menilai organ tubuh lain, seperti ginjal, tulang belakang, atau jantung. Jenis pemeriksaan ini harus sesuai dengan keadaan bayi.
Prosedur Medis untuk Mengatasi Kelainan
Penanganan atresia esofagus perlu disesuaikan dengan tipe kelainan dan kondisi bayi. Tujuan pengobatan adalah memperbaiki sambungan kerongkongan, menjaga kecukupan nutrisi, serta mencegah komplikasi. Berikut beberapa pilihan penanganannya.
1. Operasi Penyambungan Kerongkongan
Penanganan dilakukan melalui prosedur bedah untuk menyambungkan kembali kedua ujung kerongkongan yang terputus, dan menutup saluran abnormal (fistula) yang menghubungkannya dengan saluran pernapasan.
2. Operasi Bertahap
Dokter merencanakan operasi secara bertahap jika jarak antara kedua ujung kerongkongan terlalu jauh atau kondisi bayi belum stabil. Namun, kondisi bayi tetap harus diperhatikan terlebih dahulu.
3. Perawatan Sebelum Operasi
Sebelum tindakan bedah dilakukan, fokus utama tim medis adalah menjaga agar jalan napas bayi tetap bersih dan terbuka, mengurangi penumpukan air liur, serta mencukupi kebutuhan cairan serta nutrisinya melalui jalur intravena. Orang tua diimbau untuk tidak memberikan makanan atau minuman apapun melalui mulut sampai dokter menyatakan langkah tersebut aman bagi bayi.
4. Pemberian Nutrisi
Apabila bayi belum dapat menelan secara aman, tim medis akan menentukan metode pemberian nutrisi yang paling tepat, seperti menggunakan selang lambung atau infus khusus. Evaluasi dan pemantauan terhadap asupan gizi ini akan terus dilanjutkan selama masa perawatan hingga proses pemulihan pasca-operasi.
5. Pemantauan Setelah Operasi
Setelah prosedur pembedahan selesai, tim medis akan memantau secara ketat kemampuan bayi dalam menelan, bernapas, serta tumbuh kembangnya secara keseluruhan. Evaluasi ini sangat penting untuk mendeteksi dini potensi komplikasi, seperti kebocoran pada area sambungan kerongkongan maupun risiko penyempitan saluran.
Upaya Pencegahan Atresia Esofagus
Tidak obat khusus yang terbukti dapat mencegah atresia esofagus. Namun, pemeriksaan kehamilan rutin dan konsultasi dengan dokter tetap penting untuk mengawasi kesehatan ibu dan janin.
1. Menjalani Pemeriksaan Kehamilan Rutin
Pemeriksaan membantu mengawasi perkembangan janin dan menemukan tanda-tanda yang memerlukan pemeriksaan tambahan, tetapi tidak menjamin bahwa atresia esofagus dapat dicegah.
2. Berkonsultasi tentang Kondisi Kesehatan
Ibu hamil perlu diskusi tentang riwayat penyakit, obat-obatan yang digunakan, dan masalah apa pun yang dimiliki selama kehamilan. Meskipun langkah ini mendukung pengobatan kehamilan yang sesuai, belum terbukti dapat mencegah atresia esofagus secara khusus.
3. Menjalani Pemeriksaan Lanjutan jika Diperlukan
Sebelum menentukan evaluasi dan persiapan perawatan setelah lahir, dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi tanda-tanda kelainan bawaan.
Kapan Harus ke Dokter?
Penanganan sejak dini sangat menentukan keberhasilan perawatan bayi dengan atresia esofagus. Selain itu, pemantauan berkala pasca-operasi juga sangat diperlukan untuk mengevaluasi proses pemulihan, tumbuh kembang, serta mengantisipasi potensi komplikasi. Segera cari pertolongan medis jika bayi menunjukkan tanda-tanda darurat, seperti kesulitan bernapas atau kulit yang tampak kebiruan.
Untuk mencegah kemunculan gejala, dapat dimulai dari pemeliharaan kesehatan yang optimal sejak masa kehamilan. Bagi para ibu yang ingin memantau kondisi kesehatan diri dan janin secara berkala, Klinik Bumame menyediakan Paket Ibu Hamil yang dirancang khusus untuk mendampingi setiap tahap kehamilan agar berjalan lebih aman dan terpantau dengan baik. Hubungi tim Bumame untuk informasi layanan lebih lanjut.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. Studi Literatur: Diagnosis dan Tatalaksana Atresia Esofagus.
Medicina Udayana. Artikel tentang Manajemen Perioperatif pada Atresia Esofagus Tipe C.
Baldwin, D. L., & Yadav, D. Esophageal Atresia. StatPearls Publishing, NCBI Bookshelf.
Lucia, P. R. Tantangan Dalam Diagnosis Atresia Esofagus Tipe C: Sebuah Laporan Kasus. KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran.
Manajemen Anestesi pada Neonatus dengan Atresia Oesophagus. Jurnal Komplikasi Anestesi, Universitas Gadjah Mada.
Doucet et al. Esophageal Atresia: From Worry to Wisdom—Parental Information Needs and Considerations on Etiology, Care, and Parental Support.
Kapapa, M., Weber, D., & Serra, A. Parental Risk Factors for Oesophageal Atresia.
Feng, C., Li, L., Zhang, Y., Zhao, Y., & Huang, J. Diagnosis and Management of Congenital Type D Esophageal Atresia. Pediatric Surgery International.
Shchapov, N. F., Ekimovskaya, E. V., Kulikov, D. V., Shatova, S. M., & Sergeeva, S. V. Diagnostic and Surgical Challenges in Atypical Forms of Esophageal Atresia: A Case Series. Pediatrics & Neonatology.
Bayev, M. M., Kanbulatova, K. D., Farajov, I., Alvandyan, K. B., Agaev, T. A., Magomedova, D. E., & Shirshova, R. A. Prediction and Prevention of Complications After Surgical Correction of Esophageal Atresia in Newborns. Journal of Neonatal Surgery.
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apakah bayi dengan atresia esofagus masih bisa menyusu?
Bayi dengan atresia esofagus umumnya mengalami kesulitan menyusu karena makanan atau cairan tidak dapat mengalir secara normal menuju lambung. Sebelum perbaikan melalui operasi, bayi memerlukan penanganan medis dan metode pemberian nutrisi khusus sesuai arahan dokter.
Apakah atresia esofagus bisa sembuh?
Atresia esofagus dapat ditangani melalui prosedur pembedahan untuk menyambungkan kembali bagian kerongkongan yang terputus. Perawatan dan pemantauan lanjutan tetap diperlukan sesuai kondisi bayi.
Apakah atresia esofagus dapat muncul kembali setelah operasi?
Kelainan yang telah diperbaiki tidak muncul kembali dalam bentuk yang sama, tetapi bayi dapat mengalami komplikasi setelah operasi, seperti penyempitan sambungan esofagus, refluks asam lambung, atau kesulitan menelan. Pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan sesuai anjuran dokter.
Apa saja gejala atresia esofagus pada bayi?
Gejalanya dapat berupa air liur berlebih atau berbusa, batuk dan tersedak saat menyusu, kesulitan menelan, gangguan pernapasan, kulit kebiruan, serta perut membuncit. Gejala tertentu memerlukan pemeriksaan medis segera.
Bagaimana atresia esofagus didiagnosis pada bayi?
Dokter dapat mencurigai atresia esofagus ketika selang yang dimasukkan melalui hidung atau mulut tidak dapat mencapai lambung. Pemeriksaan lanjutan dapat meliputi rontgen, evaluasi saluran pernapasan, dan pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan bawaan lain.
.jpg&w=3840&q=75)