Pulang dari Posyandu, banyak orang tua membandingkan angka timbangan dengan anak tetangga yang seumuran. Selisih satu kilogram saja sering memunculkan pertanyaan, apakah berat badan Si Kecil sudah ideal.
Jawabannya jarang cukup dari satu angka. Berat badan adalah penanda gizi dan kesehatan anak, dan maknanya baru terlihat bila dibandingkan dengan standar, tinggi badan, dan hasil penimbangan sebelumnya.
Artikel ini membahas rentang berat badan anak 1 sampai 5 tahun menurut WHO, penilaian anak di atas 5 tahun, cara membaca grafik pertumbuhan, dan tanda yang perlu dibicarakan dengan dokter.
Apakah WHO Menetapkan Satu Angka Berat Badan Ideal?
WHO menyusun standar pertumbuhan berupa kurva dengan garis tengah atau median dan beberapa garis z-score di atas serta di bawahnya. Standar 2006 untuk usia 0 sampai 5 tahun menggambarkan pertumbuhan normal dalam lingkungan yang optimal, termasuk pemberian ASI sesuai anjuran WHO. Standar ini berlaku untuk semua anak, apa pun etnis, status sosial ekonomi, dan jenis makanannya.
Datanya berasal dari 8.440 anak di enam negara yang dibesarkan dengan pola makan baik dan risiko infeksi yang ditekan. Indonesia mengadopsinya lewat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020, dengan standar WHO 2006 untuk usia 0 sampai 5 tahun dan WHO Reference 2007 untuk usia 5 sampai 18 tahun.
Karena itu, berat badan ideal lebih tepat dibaca sebagai rentang. Pada indeks berat badan menurut umur (BB/U), kategori normal berada di antara -2 dan +1 standar deviasi (SD). Median hanyalah nilai tengah, jadi anak yang sedikit di bawahnya tetap tergolong normal.
Rentang Berat Badan Anak Usia 1 sampai 5 Tahun
Tabel berikut merangkum median dan rentang normal BB/U dari standar antropometri Kemenkes. Angkanya sama dengan tabel z-score WHO.
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Usia dihitung dalam bulan penuh, jadi anak berusia 2 tahun 11 bulan 20 hari dibaca 35 bulan. Berat di bawah -2 SD masuk kategori berat badan kurang atau sangat kurang, sedangkan di atas +1 SD masuk risiko berat badan lebih yang perlu dikonfirmasi dengan indeks lain. Ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.
Untuk anak usia 0 sampai 24 bulan, Kemenkes juga memakai tabel kenaikan berat badan untuk mengenali risiko gagal tumbuh.
Mengapa Berat Badan Perlu Dibaca Bersama Tinggi Badan?
Standar Kemenkes memakai BB/U untuk menemukan anak dengan berat badan kurang. Penilaian anak gemuk memakai berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) atau indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U), dan anak dengan BB/U rendah juga dikonfirmasi lewat kedua indeks ini.
Anak yang pendek wajar memiliki berat lebih ringan dari teman seusianya. Kemenkes mencatat anak dengan berat badan kurang belum tentu mengalami gizi kurang bila ia tergolong pendek, sehingga status gizi ditentukan dari keempat indeks sekaligus. Menurut Ayo Sehat Kemenkes, anak didiagnosis stunting, yaitu pendek akibat kurang gizi kronis, bila tinggi badannya berada di bawah garis -2 SD kurva WHO.
Anak di Atas 5 Tahun Dinilai dengan IMT menurut Umur
WHO menyediakan data berat badan menurut umur hanya sampai usia 10 tahun. Alasannya, setelah usia itu banyak anak mengalami lonjakan pertumbuhan pubertas, sehingga anak yang sebenarnya tinggi bisa tampak kelebihan berat.
Untuk anak di atas 5 sampai 18 tahun, Kemenkes memakai IMT/U. IMT adalah berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter. Karena anak masih tumbuh, hasilnya dibandingkan dengan anak seusia yang berjenis kelamin sama, berbeda dari cara menghitung berat badan ideal pada orang dewasa.
Contohnya, anak perempuan berusia tepat 8 tahun dengan berat 25 kg dan tinggi 125 cm memiliki IMT 16,0, yaitu 25 dibagi 1,25 kali 1,25. Pada tabel Kemenkes, gizi baik untuk anak perempuan usia ini berada di antara 12,9 dan 17,7, jadi hasilnya masuk kategori gizi baik.
Pada usia 5 sampai 18 tahun, nilai di bawah -2 SD masuk gizi kurang atau gizi buruk, di atas +1 sampai +2 SD masuk gizi lebih, dan di atas +2 SD masuk obesitas. Ambang diagnosis tetap ditentukan oleh dokter.
Cara Membaca Grafik Pertumbuhan di Buku KIA
Grafik di Kartu Menuju Sehat (KMS) dan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) memakai z-score standar WHO 2006. IDAI mengingatkan bahwa satu kali pengukuran hanya menunjukkan ukuran saat itu, jadi yang dinilai adalah garis dari waktu ke waktu. Langkahnya sebagai berikut:
Ukur dengan cara yang benar. Standar Kemenkes mewajibkan alat dan teknik pengukuran yang sesuai standar. IDAI menyarankan pengukuran dilakukan petugas terlatih, baik di Posyandu maupun saat tes tumbuh kembang anak.
Pilih grafik sesuai jenis kelamin. Grafik anak laki-laki dan perempuan dibuat terpisah. Hitung usia dalam bulan penuh, lalu beri tanda pada titik pertemuan usia dan berat badan di grafik BB/U.
Sambungkan titik dari bulan ke bulan. Menurut Kemenkes, anak yang tumbuh normal mengikuti jalur yang sejajar dengan garis median dan garis z-score. Jalur ini bisa berada di atas atau di bawah median.
Perhatikan tiga pola yang perlu dinilai ulang. Ketiganya adalah garis yang memotong garis z-score, garis yang naik atau turun tajam, dan garis yang terus mendatar. Kemenkes menyebut pola ini bisa menandakan masalah atau risiko pertumbuhan.
Arah garis sama pentingnya dengan posisinya. MSD Manual mencontohkan bayi yang turun dari persentil 90 ke persentil 50 dalam waktu singkat tetap perlu diperhatikan, walaupun beratnya kini tampak rata-rata.
Hal yang Membuat Berat Badan Anak Naik atau Tertahan
IDAI membagi penentu kualitas pertumbuhan menjadi faktor dari dalam tubuh, seperti genetik dan hormon, serta faktor dari luar, seperti nutrisi, penyakit kronik, dan gangguan emosional. Rinciannya sebagai berikut:
Asupan gizi dan suasana makan. MSD Manual mencatat faktor lingkungan dan sosial sebagai alasan yang sering membuat anak kurang gizi, misalnya makanan bergizi yang sulit dijangkau atau cara pemberian makan yang belum tepat. Situasi keluarga yang penuh tekanan juga bisa menurunkan nafsu makan anak.
Penyakit dan infeksi. Infeksi, gangguan pencernaan, penyakit jantung, ginjal, atau hati, serta gangguan hormon dan metabolisme seperti diabetes bisa menghambat kenaikan berat badan. Keluhan yang berulang perlu diperiksakan.
Faktor bawaan dan hormon. Genetik, kelainan bawaan, dan hormon ikut menentukan ukuran tubuh anak. Karena itu, jalur pertumbuhan tiap anak bisa berbeda walaupun sama-sama normal.
Baca Juga: Peran Vitamin D dalam Tumbuh Kembang Anak
Kapan Grafik Pertumbuhan Anak Perlu Dibicarakan dengan Dokter?
Bicarakan dengan dokter atau tenaga kesehatan bila menemukan kondisi berikut:
Titik berada di luar rentang normal. Standar Kemenkes meminta BB/U di bawah -2 SD atau di atas +1 SD dikonfirmasi dengan indeks lain. Pada anak di atas 5 tahun, IMT/U di atas +1 SD sudah masuk kategori gizi lebih.
Garis tidak naik. Bila garis tidak mengikuti jalur pertumbuhan atau anak tidak ditimbang bulan sebelumnya, Kemenkes meminta kenaikan beratnya dinilai ulang. Pada anak di bawah 2 tahun, penilaian ini memakai tabel kenaikan berat badan.
Anak tampak kurang sehat. Lemas, pucat, atau mudah lelah bisa termasuk ciri-ciri anemia. Diare atau infeksi yang berulang juga perlu diceritakan, karena penyakit seperti ini bisa menghambat pertumbuhan.
Dokter juga menilai perkembangan anak, termasuk tanda gangguan tumbuh kembang yang tidak tampak dari timbangan.
Pemeriksaan Darah bila Dokter Mencari Penyebab
Saat berat badan anak tertinggal dari jalurnya, dokter menanyakan pola makan dan riwayat sakit, lalu memeriksa fisik anak sebelum memutuskan perlu tidaknya tes darah, feses, atau urine. Tes darah lengkap membantu menilai anemia, yang menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023 dialami 16,3% anak usia 5 sampai 14 tahun.
Bila dokter menyarankan pemeriksaan darah, Bumame menyediakan Paket Tumbuh Kembang Basic. Menurut halaman produknya, paket ini berisi hematologi lengkap, glukosa sewaktu, serum iron, TIBC, dan ferritin, tanpa persiapan khusus, dan bisa dipilih secara Walk In atau Home Care.
Langkah Menjaga Berat Badan Anak Tetap di Jalurnya
Datang ke Posyandu setiap bulan. Kemenkes menganjurkan balita ditimbang, diukur, dipantau perkembangannya, dan diimunisasi di Posyandu setiap bulan. Bawa Buku KIA agar titik baru bisa langsung disambungkan dengan titik sebelumnya.
Sajikan protein hewani setiap hari. Ayo Sehat Kemenkes menganjurkan protein hewani setiap hari bagi bayi di atas 6 bulan, misalnya telur, ikan, atau daging. Lengkapi dengan makanan pokok, sayur, dan buah sesuai kebutuhan gizi harian anak.
Jaga keseimbangan saat grafik naik terlalu cepat. Pada balita, Kemenkes menyebut IMT/U di atas +1 SD sebagai tanda berisiko gizi lebih yang perlu ditangani untuk mencegah obesitas pada anak. Saat memilih camilan dan minuman, perhatikan juga gula dan garam dalam makanan anak.
Ikuti Garis Pertumbuhan Si Kecil dari Bulan ke Bulan
Berat badan ideal anak menurut WHO adalah rentang yang dibaca bersama usia, jenis kelamin, tinggi badan, dan arah garis pertumbuhan. Timbang rutin, bawa Buku KIA setiap kali kontrol, dan diskusikan dengan dokter bila garisnya berubah arah. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.
Bila ada pertanyaan seputar pemeriksaan tumbuh kembang anak, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak
Ikatan Dokter Anak Indonesia — Pemantauan Pertumbuhan Anak
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat — Stunting
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat — Anemia
World Health Organization — Child Growth Standards, Questions and Answers
World Health Organization — Weight-for-Age (5–10 Years)
Centers for Disease Control and Prevention — Child and Teen BMI Categories
MSD Manual Consumer Version — Growth and Weight Faltering in Children
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
Frequently Asked Question
Berapa berat badan ideal anak 2 tahun menurut WHO?
Median WHO untuk usia 24 bulan adalah 12,2 kg pada anak laki-laki dan 11,5 kg pada anak perempuan. Rentang normalnya 9,7–13,6 kg untuk laki-laki dan 9,0–13,0 kg untuk perempuan. Penilaian tetap perlu mempertimbangkan pertumbuhan anak secara keseluruhan.
Apakah berat badan anak di bawah median berarti kurang gizi?
Belum tentu. Berat badan di bawah median masih dapat tergolong normal jika berada di antara -2 dan +1 standar deviasi serta mengikuti jalur pertumbuhan yang sesuai pada grafik WHO.
Bagaimana menilai berat badan anak usia 6 sampai 10 tahun?
Hitung indeks massa tubuh (IMT) dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter. Bandingkan hasilnya dengan grafik IMT menurut umur dan jenis kelamin sesuai standar pertumbuhan anak.
Mengapa berat badan anak perlu dibandingkan dengan tinggi badannya?
Anak yang bertubuh pendek dapat memiliki berat lebih ringan dibandingkan teman seusianya. Karena itu, berat badan menurut umur saja belum cukup untuk menilai status gizi. Dokter dapat mengonfirmasi hasilnya menggunakan berat badan menurut tinggi badan atau IMT menurut umur.
Kapan berat badan anak perlu diperiksakan ke dokter?
Konsultasikan dengan dokter jika titik berat badan berada di luar rentang yang dianjurkan, garis pertumbuhan mendatar atau berubah tajam, atau anak sering sakit, tampak lemas, pucat, dan mudah lelah.
