Bagi orang tua, momen menyambut kehadiran buah hati, apalagi anak pertama, tentu menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Namun, di tengah momen bahagia itu, kadang terjadi peristiwa yang membuat Anda sebagai “orang tua baru” merasa khawatir. Salah satunya adalah fenomena bayi kuning.
Pada kondisi ini, biasanya kulit atau bagian putih pada mata si kecil terlihat kekuningan, khususnya saat dijemur di bawah sinar matahari pagi. Namun, belum tentu juga diagnosisnya tepat. Maka dari itu, yuk kenali penyebab, gejala, diagnosis, dan cara mengatasinya.
Apa yang Dimaksud Keluhan Bayi Kuning?
Melansir Mayo Clinic, istilah medis untuk kondisi kulit kuning pada bayi adalah ikterus neonatorum. Jadi, pada kulit, jaringan mukosa, dan area putih pada mata terdapat warna kekuningan. Penyebabnya utamanya adalah kadar pigmen kuning alias bilirubin yang meningkat di dalam sirkulasi darah bayi.
Bilirubin merupakan zat sisa hasil pemecahan sel darah merah yang sudah tua. Pada manusia, baik dewasa maupun anak-anak, fungsi organ hati adalah memproses bilirubin agar dapat keluar saat buang air kecil dan besar.
Namun, karena organ hati pada bayi yang baru lahir belum berkembang secara sempurna, proses pengolahan dan pembuangan bilirubin memerlukan waktu lebih lama. Akibatnya, zat tersebut menumpuk sementara waktu di dalam jaringan tubuh sehingga memicu warna kuning yang khas.
Penyebab Bayi Kuning
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, kondisi bayi kuning disebabkan oleh penumpukan bilirubin. Faktor utama yang mengakibatkan penumpukan tersebut adalah fungsi organ hati yang belum sempurna. Namun, ada juga penyebab lainnya, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Penumpukan Bilirubin pada Darah
Sel darah merah pada bayi baru lahir memiliki masa hidup yang lebih pendek daripada orang dewasa. Sehingga, pemecahan sel darah terjadi lebih cepat yang mana menghasilkan bilirubin dalam jumlah lebih banyak.
Ketika jumlah bilirubin yang terbentuk melebihi kapasitas organ tubuh yang mengeluarkannya, otomatis sisa zat yang gagal keluar akan mengendap di bawah kulit. Inilah yang kemudian memicu timbulnya warna kekuningan pada area-area tertentu pada tubuh.
2. Kurangnya Asupan ASI (Breastfeeding Jaundice)
Asupan ASI yang kurang pada fase awal kehidupan bayi bisa mengakibatkan pergerakan usus bayi jadi lambat, lho. Padahal, proses pembuangan bilirubin sangat bergantung pada aktivitas buang air besar yang justru terganggu akibat metabolismenya tidak maksimal.
Maka dari itu, saat ASI kurang, proses pembuangan akan terhambat hingga terserap kembali ke aliran darah. Serapan tersebut yang kemudian memicu fenomena bayi kuning. Faktor yang satu ini juga paling sering menjadi pemicu warna kekuningan muncul pada kulit bayi.
3. Perbedaan Golongan Darah atau Rhesus (Incompatibility)
Tidak banyak yang tahu bahwa ketika golongan darah ibu dan bayi tidak cocok, tubuh ibu bisa membentuk antibodi yang menembus plasenta. Malangnya, antibodi ini bekerja dengan merusak sel darah merah bayi secara massal.
Proses tersebut lalu memicu lonjakan kadar bilirubin secara mendadak dan mengacaukan sistem pembuangannya yang masih terbatas. Alhasil, zat tersebut kembali mengendap dan menyebabkan bayi kuning sebagaimana skema pemicu yang lain.
4. Masalah Kesehatan atau Infeksi Organ Dalam
Dalam kasus yang lebih jarang, kondisi medis ini juga bisa dipicu oleh adanya masalah medis dasar. Contohnya, infeksi bakteri, penyumbatan saluran empedu, kelainan enzim sel darah, dan gangguan fungsi hati bawaan.
Perbedaan Penyakit Kuning pada Bayi vs. Kuning Normal (Fisiologis)
Namun, tidak semua kondisi kuning pada bayi bersifat berbahaya. Keluhan ini secara medis terbagi menjadi dua kategori, yaitu normal karena fisiologis dan abnormal akibat patologis atau penyakit yang perlu Anda waspadai. Lantas, bagaimana cara membedakan antara keduanya?
Mengutip Cleveland Clinic, Anda bisa menjadikan parameter dalam tabel berikut sebagai acuan untuk membedakan kondisi bayi kuning akibat reaksi normal tubuh atau penyakit.
Gejala dan Tanda Bahaya Penyakit Kuning pada Bayi
Selain mengenali perbedaan antara kondisi kuning fisiologis dan patologis, Anda juga perlu memahami gejala serta tanda bahaya yang meningkatkan urgensi penanganan si kecil. Berikut adalah beberapa gejala kuat penyakit kuning pada bayi.
Warna kuning pada kulit dari wajah mulai merambat turun ke bagian tubuh lain, terutama dada, perut, lengan, dan telapak kaki.
Bagian putih pada mata berwarna kuning secara jelas dan bayi dalam kondisi lemas, sulit dibangunkan, serta menolak menyusu.
Bayi menangis dengan nada tinggi yang tidak biasa, lalu merentangkan badan atau melengkungkan punggung ke belakang.
Demam tinggi atau suhu tubuh jadi tidak stabil.
Warna tinja pucat putih/kelabu dan urin berwarna kuning pekat atau cokelat tua.
Sama halnya seperti memantau kondisi ruam atau ciri-ciri campak pada bayi yang memerlukan kecermatan orang tua, perubahan fisik pada bayi kuning juga membutuhkan pengamatan teliti agar penanganan dapat diberikan sedini mungkin.
Diagnosis dan Pemeriksaan Bilirubin
Jika mendapati gejala-gejala atau tanda di atas, Anda bisa membawa Si Kecil ke dokter untuk melakukan serangkaian pemeriksaan berikut.
Pemeriksaan fisik dengan mengevaluasi penyebaran warna kuning pada tubuh anak dari ujung kepala hingga kaki.
Pemeriksaan transkutan, yaitu menggunakan alat khusus yang ditempelkan lembut pada dahi atau dada. Tujuannya adalah mengukur kadar bilirubin melalui pantulan cahaya pada kulit tanpa perlu mengambil sampel darah.
Pemeriksaan darah di laboratorium, hanya jika hasil pemeriksaan transkutan menunjukkan tanda bahaya.
Pengambilan sampel darah pada bayi dilakukan untuk mengukur bilirubin secara akurat, baik langsung maupun tidak langsung. Penilaian sampel tes darah rutin juga membantu mengevaluasi adanya indikasi infeksi atau kelainan darah.
Cara Mengatasi Bayi Kuning
Penanganan keluhan medis ini juga tidak selalu dengan rawat inap dan rangkaian obat-obatan, tetapi menyesuaikan dengan tingkat kadar bilirubin serta kondisi kesehatan bayi secara keseluruhan. Beberapa langkah penanganan yang sering kali dokter atau tenaga medis rekomendasikan adalah sebagai berikut.
Meningkatkan frekuensi pemberian ASI atau susu formula, hingga 8–12 kali sehari. Tujuannya untuk mendorong gerakan usus, tepatnya sistem metabolisme, agar bilirubin cepat terbuang melalui tinja.
Fototerapi (Phototherapy) atau menempatkan bayi di bawah paparan lampu sinar biru khusus di rumah sakit. Struktur molekul bilirubin jadi lebih mudah larut dalam air sehingga bisa keluar lewat air kencing dan tinja tanpa pemrosesan organ hati terlebih dahulu.
Transfusi Tukar (Exchange Transfusion) adalah prosedur khusus untuk kasus bayi kuning berat. Biasanya, cara ini bertujuan untuk mencegah risiko kerusakan otak akibat kadar bilirubin yang berada pada tingkat bahaya dan fototerapi tidak cukup responsif.
Menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi, tetapi pastikan bagian matanya tidak terpapar langsung karena rentan memicu gangguan penglihatan.
Selain menjaga asupan nutrisi untuk pemulihan, menjaga kebersihan dan kesehatan kulit bayi selama perawatan juga tidak kalah penting. Khususnya jika Si Kecil rentan mengalami masalah kulit seperti kasus dermatitis atopik yang juga memerlukan perhatian ekstra.
Pantau Kesehatan Organ Hati Bayi Sejak Dini
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, bukan? Sama halnya dengan keluhan bayi kuning yang masih bisa dicegah dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memantau secara berkala kesehatan organ hati yang memegang peranan kunci dalam sistem metabolisme, termasuk mengelola bilirubin.
Si Kecil bisa mendapatkan layanan kesehatan mendalam dari MCU Plus dan Pemeriksaan Hati Bumame untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai fungsi organ mereka, termasuk hati. Isi pemeriksaan yang dapat mendeteksi gangguan hati, termasuk jumlah produksi bilirubin yang tidak wajar, antara lain:
Bilirubin total untuk mengukur produk hasil pemecahan sel darah merah yang organ hati proses.
Bilirubin direk guna mengetahui jumlah komponen bilirubin yang terproses sempurna.
Pemantauan berkala terhadap bilirubin tubuh sangat efektif sebagai deteksi dini gangguan fungsi hati pada bayi maupun orang dewasa. Melalui data tersebut, dokter dapat menentukan langkah-langkah penanganan cepat untuk mencegah kerusakan fatal.
Kapan Harus ke Dokter?
Nah, sebenarnya kapan waktu yang pas untuk membawa Si Kecil ke dokter ketika menunjukkan gejala bayi kuning? Anda bisa melakukannya dalam situasi-situasi berikut.
Warna kuning semakin pekat, bahkan cenderung kehijauan.
Si Kecil menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, parameter paling mudah adalah popoknya tetap kering padahal sudah 6 jam berlalu.
Bayi mudah tertidur, tapi juga gampang terbangun, lalu menangis dengan lengkingan tinggi.
Kulit tetap berwarna kuning setelah 14 hari sejak hari kelahiran.
Langkah Bijak Menjaga Tumbuh Kembang Optimal Si Kecil
Keluhan bayi kuning pada newborn sejatinya merupakan fenomena medis yang cukup sering terjadi. Sebagian besar bahkan teratasi dengan baik secara mandiri. Kuncinya adalah Anda sebagai orang tua harus tenang, cermat mengamati tumbuh kembang Si Kecil, dan memastikan kebutuhan nutrisi dan cairan terpenuhi.
Melalui pemahaman tepat tentang perbedaan kondisi normal dan sakit (patologis), Anda jadi tidak mudah panik jika menemukan situasi serupa. Apalagi jika secara bersamaan juga memanfaatkan layanan pemeriksaan tepercaya Bumame, Anda juga dapat mendampingi tumbuh kembang Si Kecil dengan rasa aman.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Mayo Clinic. (2025). Infant jaundice - Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. (2022). Jaundice in Newborns: Symptoms, Causes & Treatment.
National Center for Biotechnology Information. (2024). Neonatal Jaundice.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Indikasi Terapi Sinar pada Bayi Menyusui yang Kuning.
Centers for Disease Control and Prevention. (2022). What are Jaundice and Kernicterus?
American Academy of Pediatrics. (2022). Clinical Practice Guideline Revision: Management of Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation.
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
.jpg&w=3840&q=75)