Pernahkah Anda menyadari buah hati lebih mudah lelah atau sering terjatuh? Anda mungkin berpikir bahwa itu hanya kecerobohan belaka. Namun, ada kemungkinan anak mengalami duchenne muscular dystrophy. Bagaimana cara membedakannya? Apa pilihan pengobatannya? Mari kita bedah DMD secara menyeluruh!
Apa itu Duchenne Muscular Dystrophy (DMD)?
Duchenne muscular dystrophy adalah kelainan genetik pada otot yang membuatnya melemah dan rusak secara progresif. Akar masalah distrofi otot Duchenne sendiri ada pada protein yang bernama dystrophin.
Dystrophin bertugas sebagai “pelindung” di dalam sel otot untuk menjaga kekuatan dan stabilitas sel. Ketika tubuh tidak menghasilkan pelindung cukup banyak, serat otot menjadi mudah rusak setiap kali dipakai. Akhirnya, secara perlahan, tempatnya digantikan oleh jaringan lemak dan parut.
Penanganan kelainan ini akan mengombinasikan obat, terapi, fisioterapi, pemantauan jantung, paru, dan nutrisi, serta pengadaan alat bantu. Tergantung pada temuan medis dan koordinasi bersama tim multidisiplin, misalnya dokter saraf, jantung, paru, dan rehabilitasi.
Gejala dan Tanda-Tanda Peringatan
Kondisi ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki dengan tanda-tanda awal muncul di usia 3-5 tahun. Biasanya, di otot panggul dan paha terlebih dahulu, baru meluas hingga jantung dan pernapasan. Di sebagian anak, DMD juga berkaitan dengan keterlambatan bicara, kesulitan belajar, memusatkan fokus, atau mengatur perilaku.
Karena dapat terlihat sejak dini, kondisi ini sering kali terlewatkan dengan anggapan “anak-anak memang begitu”, padahal kenyataanya tidak sesepele itu. Nah, agar terhindar dari skenario tersebut, terdapat beberapa pola yang perlu Anda perhatikan dalam tumbuh kembang anak.
Tanda pada Gerak dan Aktivitas
Perlu adanya perhatian pada gerak-gerik anak sehari-hari. Contohnya sebagai berikut.
Terlambat mencapai tonggak motorik (untuk duduk, berdiri, atau berjalan)
Sering jatuh atau tampak ceroboh.
Kesulitan melompat, berlari, atau naik tangga
Sulit bangkit dari lantai (Tanda Gowers)
Jalannya jinjit atau langkahnya goyang
Betisnya tampak besar
Mudah lelah, menghindari permainan fisik atau mengeluh nyeri setelah aktivitas
Pada aktivitas yang sama, dulu terlihat mudah, sekarang kesulitan.
Tanda di Luar Kemampuan Bergerak
Tak hanya soal aktivitas, sebagian anak mengalami keterlambatan bicara, sulit fokus, maupun tantangan perilaku dan emosi. Tapi tidak semuanya mengalami hal tersebut, dan bukan berarti kemampuan intelektual penderita duchenne muscular dystrophy sama. Ketika kelemahan mencapai saluran pernapasan, waspadai tanda berikut.
Batuk yang melemah
Sulit mengeluarkan dahak
Infeksi saluran napas berulang
Tidur terganggu
Sakit kepala saat bangun
Mengantuk di siang hari
Sulit berkonsentrasi
Perkembangannya memang perlahan-lahan, jadi perlu pemantauan paru yang telaten. Otot jantung pun dapat terdampak. Di tahap awal, mungkin tidak ada gejala. Namun, perlu adanya perhatian khusus jika mulai muncul gejala-gejala gangguan jantung, seperti cepat lelah, jantung berdebar, napas pendek, atau kaki bengkak.
Penyebab dan Faktor Risiko Duchenne Muscular Dystrophy
Seperti yang telah kita singgung di awal, penyebabnya adalah perubahan gen yang berhubungan dengan pembuatan dystrophin. Berbicara soal gen, apakah ini genetik?
Pola Pewarisan
Gen penyebab DMD terletak di kromosom X. Anak laki-laki biasanya punya satu kromosom X. Jadi, satu perubahan pada salinannya sudah cukup untuk menimbulkan DMD. Sedangkan perempuan memiliki 2 kromosom X. Jadi, meski membawa varian penyebab DMD, sering kali tidak ada gejala atau pengaruhnya ringan.
Jika perempuan yang membawa varian DMD hamil, peluangnya mewariskannya 50% pada setiap kehamilan. Jika anaknya laki-laki dan mewarisinya, maka akan terdampak. Nemun, jika anaknya perempuan, bisa menjadi carrier atau berisiko ringan tadi. Ayah tidak mewariskan kromosom X pada anak laki-lakinya.
Lalu bagaimana jika tidak ada di riwayat keluarga? Masih ada kemungkinan, namanya de novo. Di mana kemunculan pertama kali terjadi pada keluarga tersebut. Jadi, masih perlu perhatian jika gejalanya terlihat.
Faktor Risiko
Anda perlu memahami bahwa duchenne muscular dystrophy bukan kesalahan pola asuh, pola makan, ataupun kesalahan orang tua. Faktor yang relevan hanyalah perubahan genetik atau kerentanan akibat adanya kerabat yang membawa varian tersebut.
Diagnosis dan Tes
Mulanya, dari diagnosis klinis. Dokter akan menilai kekuatan otot, kesulitan bangkit, pembesaran betis, hingga riwayat kesehatan keluarga. Bila kecurigaan menguat, maka rujukan ke dokter saraf atau spesialis penyakit neuromuskular akan mempercepat pemeriksaan lanjutan.
1. Pemeriksaan Darah
Langkah tes yang umum adalah tes creatine kinase (CK), enzim yang meningkat saat serat otot rusak. Namun, kenaikan CK tidak menunjukkan seberapa berat kondisinya. Jadi, dokter bisa saja melakukan tes enzim lain agar lebih detail.
2. Tes Genetik
Untuk mencari dan mengkonfirmasi perubahan gen, dokter memerlukan tes genetik dari sampel darah atau sampel biologis lain. Tujuannya untuk mencari penghapusan atau penggandaan bagian gen. Terlebih, pengurutan gen bisa dilakukan untuk mencari jenis perubahannya.
Mengetahui varian spesifiknya sangat penting untuk memenuhi syarat terapi yang menyasar varian tersebut. Penggunaan tes DNAset complete Bumame pun sangat cocok untuk memeriksa DNA secara lengkap dan menyeluruh. Di mana pemeriksaan ini akan membaca lebih dari 700 karakteristik genetik dari sampel air liur.
Bagaimana jika masih tidak terlihat? Pada sebagian kasus, spesialis bisa memeriksa biopsi otot untuk menilai keberadaan atau jumlah dystrophin pada jaringan.
3. Pemeriksaan setelah Diagnosis
Setelah terkonfirmasi duchenne muscular dystrophy, dokter akan memetakan kondisi tubuh dan merencanakan pemantauan jangka panjang. Termasuk memeriksa:
jantung,
pernapasan,
gerak dan sendi,
pertumbuhan, tulang, dan nutrisi, serta
perkembangan kesejahteraan: penilaian bicara, belajar, perilaku, kecemasan, atau kebutuhan kebutuhan psikososial.
Pilihan Pengobatan dan Opsi Perawatan
“Lalu, apa yang bisa saya lakukan?” Perawatan DMD tidak sama di setiap kasus. Semuanya bergantung pada hasil diagnosis serta preferensi pasien dan keluarga. Tujuan perawatan adalah menjaga fungsi dan kemandirian selama mungkin dan menangani komplikasi dari dini.
1. Kortokosteroid
Penggunaan obat kortikosteroid berguna untuk membantu mempertahankan kekuatan dan fungsi motorik. Obat-obatan ini memiliki efek samping dan perlu pemantauan dokter. Kortikosteroid juga tidak boleh langsung berhenti mendadak.
Ada juga obat non-steroid, givinostat (Duvyzat) untuk anak 6 tahun ke atas. Juga ada efek sampingnya. Pemeriksaan darah dulu, lalu pada sebelum dan selama pemakaian harus sesuai arahan dokter.
2. Terapi sesuai Varian Genetik
Beberapa obat exon-skipping hanya cocok untuk varian genetik tertentu. Cara kerjanya seperti “melompati” bagian gen yang bermasalah agar tubuh membuat dystrophin yang fungsional. Contoh obatnya: Eteplirsen, Golodirsen, Viltolarsen, atau Casimersen.
3. Terapi Gen
Elevidys adalah terapi gen berbasis virus. Tujuannya agar sel otot dapat membuat dystrophin dalam bentuk yang lebih pendek.
Terapi gen bukan pengobatan rutin yang cocok untuk semua orang, perlu andil spesialis untuk menempatkan kelayakannya. Sekaligus mempertimbangkan kondisi pasien, varian gen, manfaat, risiko, hingga persetujuan prosedur dari negara. Terapi juga tidak menggantikan pemantauan dan perawatan organ yang terpengaruh.
4. Perawatan Pendukung Sehari-hari
Di luar obat, perawatan sehari-hari juga punya peran besar terhadap kesembuhan duchenne muscular dystrophy. Contoh kegiatan yang baik adalah sebagai berikut.
Peregangan dan fisioterapi.
Aktivitas fisik yang aman.
Alat bantu dan penyesuaian lingkungan: ortosis, kursi roda, dan lain-lain.
Perawatan pernapasan.
Pemantauan jantung.
Periksa kesehatan tulang dan nutrisi.
Dukungan belajar dan psikososial.
Strategi Pencegahan
Melihat kondisi yang asing ini, lantas apakah penyakit ini bisa dicegah? Sayangnya tidak. Penyebabnya adalah perubahan gen, bukan kesalahan gaya hidup, pola makan, atau aktivitas. Meski begitu, dengan memahami gejalanya dan konseling genetik, Anda dapat menemukan tanda-tandanya lebih awal.
Kapan Harus ke Dokter?
Bagaimana agar terhindar dari anggapan “memang anaknya begitu” jika ternyata mengalami duchenne muscular dystrophy? Jawabannya adalah dengan mengetahui kapan normalnya anak bisa melakukan sesuatu. Dan ketika telah memperhatikan gejala pada anak, segeralah temui dokter.
Beberapa yang dapat Anda perhatikan adalah ketika kelemahan anak semakin nyata, sering jatuh, dan kesulitan berdiri. Jangan sampai menunggu anak kehilangan kemampuan yang dulunya bisa ia lakukan. Meski belum tentu merupakan DMD, tidak ada salah mengonsultasikan pengamatan Anda pada dokter.
Hadapi dengan Pengetahuan dan Dukungan yang Tepat!
Duchenne muscular dystrophy memang kondisi yang menuntut perjalanan panjang, tetapi Anda tidak harus menjalaninya sendirian. Kenali tanda awalnya, jangan ragu memeriksakan anak bila ada yang janggal, dan percayakan perawatan pada tim multidisiplin yang memahami kondisi ini.
Jika keluarga sedang menghadapinya, ingat bahwa diagnosis dini, pemantauan rutin, dan dukungan lingkungan sangat berarti bagi kualitas hidup anak. Mulailah dari langkah kecil, seperti berkonsultasi dengan dokter, bergabung dengan komunitas, dan konsisten menjalani perawatan.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
MedlinePlus Genetics (National Library of Medicine) — Duchenne and Becker Muscular Dystrophy
Birnkrant, D. J., dkk. (The Lancet Neurology) — Diagnosis and Management of Duchenne Muscular Dystrophy, Part 1: Diagnosis, and Neuromuscular, Rehabilitation, Endocrine, and Gastrointestinal and Nutritional Management
Duvuru, R., Cunningham, T., Colvin, M. K., & Veerapandiyan, A. (GeneReviews®, NCBI Bookshelf) — Dystrophinopathies
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Clinician Brief: Muscular Dystrophy
U.S. Food and Drug Administration (FDA) — FDA Approves Nonsteroidal Treatment for Duchenne Muscular Dystrophy
U.S. Food and Drug Administration, Center for Drug Evaluation and Research (CDER) — Summary Review: Application Number 213026Orig1s000 (Amondys 45/Casimersen)
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apa gejala awal Duchenne muscular dystrophy pada anak?
Gejala awalnya dapat berupa terlambat mencapai tonggak motorik, sering jatuh, kesulitan berlari atau naik tangga, sulit bangkit dari lantai, berjalan jinjit, betis tampak besar, dan mudah lelah. Tanda-tanda ini umumnya mulai terlihat pada anak laki-laki berusia 3–5 tahun.
Apa penyebab Duchenne muscular dystrophy?
Duchenne muscular dystrophy disebabkan oleh perubahan gen yang berkaitan dengan produksi protein dystrophin. Protein ini membantu menjaga kekuatan dan stabilitas sel otot. Kondisi tersebut dapat diwariskan melalui kromosom X atau muncul akibat perubahan gen baru dalam keluarga.
Bagaimana Duchenne muscular dystrophy didiagnosis?
Dokter akan menilai kekuatan otot, pola gerakan, kesulitan bangkit, pembesaran betis, dan riwayat kesehatan keluarga. Pemeriksaan lanjutan dapat mencakup tes darah creatine kinase (CK), tes genetik, dan dalam kasus tertentu biopsi otot. Setelah diagnosis, kondisi jantung, pernapasan, gerak, pertumbuhan, dan nutrisi juga perlu dipantau.
Apakah Duchenne muscular dystrophy bisa diobati?
Perawatan DMD bertujuan mempertahankan fungsi dan kemandirian selama mungkin serta menangani komplikasi sejak dini. Pilihannya dapat mencakup kortikosteroid, obat tertentu seperti givinostat, terapi yang disesuaikan dengan varian genetik, terapi gen untuk pasien yang memenuhi kriteria, fisioterapi, perawatan pernapasan, dan pemantauan jantung. Penanganan harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan arahan tim medis.
Kapan anak yang dicurigai mengalami Duchenne muscular dystrophy perlu dibawa ke dokter?
Bawa anak ke dokter jika kelemahan otot semakin nyata, sering terjatuh, kesulitan berdiri, atau kehilangan kemampuan gerak yang sebelumnya sudah dikuasai. Catat kapan gejala mulai muncul dan perubahan yang terlihat untuk membantu pemeriksaan. Gejala tersebut belum tentu DMD, tetapi tetap perlu dikonsultasikan.
