Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Infeksi Menular Seksual pada Wanita: Ciri dan Jenis
Kembali ke Artikel & Berita

Infeksi Menular Seksual pada Wanita: Ciri, Jenis, dan Pencegahan

SBAInfeksi Menular Seksual

Bagi wanita, menjaga kesehatan reproduksi sangatlah penting karena berkaitan erat dengan peluang memiliki keturunan. Ironisnya, masih banyak yang kurang peduli dan enggan berdiskusi secara terbuka karena menganggap hal tersebut tabu. Dampaknya, terjadi banyak kasus infeksi menular seksual pada wanita.

Apa Itu Infeksi Menular Seksual (IMS)?

Banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa organ reproduksinya memiliki struktur sensitif, yang membuatnya lebih rentan terhadap paparan mikroorganisme dari luar. Alhasil, terjadilah proses infeksi menular seksual (IMS), yang bahkan sering tidak disadari oleh pemilik tubuh.

Jadi, infeksi yang menyerang organ reproduksi wanita merupakan ulah bakteri, virus, parasit, atau jamur. Proses penularannya hanya melalui kontak atau hubungan seksual antar individu. Masalahnya adalah kondisi ini sering kali tidak disertai gejala yang terlihat.

Ciri-ciri Infeksi Menular Seksual pada Wanita

Melansir MedlinePlus, gejala yang tidak tampak atau asymptomatic membuat banyak orang yang telah terpapar tidak menyadari kondisinya sendiri. Alhasil, mereka tetap aktif secara seksual dan membuat penularan IMS semakin meluas.

Namun, biasanya situasi tersebut hanya terjadi pada minggu awal penularan. Setelah beberapa waktu, infeksi menular seksual pada wanita ini akan menunjukkan ciri-ciri atau gejala yang jelas seperti berikut.

1. Pada Area Genital (Organ Intim)

  • Keputihan tidak normal, di mana warnanya berubah menjadi kekuningan, kehijauan, hingga bahkan keabu-abuan. Selain itu, teksturnya menjadi sangat kental, berbusa, dan berbau tidak sedap yang cukup menyengat.

  • Muncul rasa gatal terus menerus di area yang sama, dengan sensasi seperti terbakar dan kemerahan pada bibir vagina atau sekitar area kewanitaan.

  • Rasa perih ketika buang air kecil dan nyeri di area panggul saat melakukan hubungan intim.

  • Terdapat luka melepuh berukuran kecil atau benjolan seperti kutil di vagina atau anus.

  • Mengalami pendarahan yang tidak umum dan di luar siklus menstruasi, biasanya berupa bercak yang cukup banyak sesaat setelah berhubungan intim.

2. Pada Tubuh secara Menyeluruh

  • Suhu tubuh meningkat sehingga menyebabkan demam dan menggigil. Ini merupakan respons peradangan yang umum terjadi pada tubuh. 

  • Pembengkakan pada area kelenjar getah bening, seperti leher dan selangkangan. Saat benjolan tersebut ditekan, akan terasa nyeri hebat.

  • Timbul ruam atau bintik-bintik merah di area telapak tangan dan kaki, tapi bisa juga di bagian tubuh lainnya. Namun, tidak disertai dengan rasa gatal.

  • Merasa pegal dan nyeri di perut bagian bawah yang berkepanjangan. Gejala ini merupakan akibat dari perpindahan infeksi ke area organ reproduksi bagian dalam.

  • Tubuh merasakan kelelahan ekstrem sebagai reaksi akibat sistem kekebalan tubuh yang melawan infeksi tanpa henti. 

Penyebab Infeksi Menular Seksual pada Wanita dan Penularannya

Sebagaimana disebut di awal, penyebab utama dari infeksi ini adalah paparan infeksi mikroorganisme yang berpindah antar individu melalui hubungan seksual. Namun, sebenarnya ada beberapa penyebab lain yang dapat mengakibatkan penularan infeksi ini meskipun persentasenya tidak setinggi pemicu utama. Di antaranya adalah:

  • Melalui kontak langsung (sentuhan) tanpa pelindung, seperti sarung tangan, dengan luka melepuh atau kutil di area kelamin.

  • Penggunaan satu jarum suntik untuk bersama atau bergantian. Biasanya terjadi saat mengonsumsi obat-obatan terlarang dan pembuatan tato yang asal-asalan. Kuman pemicu dapat berpindah melalui saluran pembuluh darah pada area yang disuntik.

  • Penularan dari ibu yang mengidap infeksi menular seksual pada janin selama masa kehamilan atau saat proses persalinan.

Faktor Risiko Infeksi Menular Seksual

Selain serangkaian penyebab di atas, infeksi menular seksual juga memiliki peluang lebih besar dialami wanita akibat beberapa faktor risiko berikut.

  • Berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual, yang meningkatkan peluang terpapar berbagai jenis mikroorganisme pemicu yang dibawa pasangan.

  • Melakukan hubungan intim tanpa alat kontrasepsi, seperti kondom, yang bisa menjadi pelindung fisik dari kontaminasi silang.

  • Berhubungan seks di usia dini, padahal jaringan organ intim belum berkembang sempurna, sehingga lebih sensitif dan mudah mengalami iritasi atau infeksi.

  • Menggunakan obat-obatan terlarang, membuat tato, dan aktivitas lainnya dengan memakai satu jarum bersamaan dengan orang lain.

Jenis Umum Infeksi Menular Seksual pada Wanita

Infeksi menular seksual sendiri bukan merupakan diagnosis tunggal. Secara medis, kondisi ini dikelompokkan menjadi beberapa tipe berikut ini.

  • Klamidia yang sering kali tanpa gejala di awal, tapi jika dibiarkan tanpa pengobatan cukup lama dapat menyebabkan peradangan panggul.

  • Kencing Nanah (gonore) yang mengakibatkan vagina mengeluarkan cairan kental dan rasa nyeri saat buang air kecil.

  • Raja Singa (Sifilis) yang juga tanpa rasa sakit di awal, tapi berdampak besar terhadap kesuburan bila tidak segera mendapat penanganan.

  • Human Papillomavirus (HPV) atau jenis IMS akibat virus yang paling banyak terjadi pada wanita maupun pria. Penandanya adalah kemunculan kutil kelamin dan berisiko tinggi memicu kanker serviks sehingga WHO sangat menyarankan tes HPV berkala. 

  • Herpes yang menimbulkan lepuhan perih dan luka berulang di area intim.

  • Trikomoniasis adalah IMS yang menyebabkan keputihan berbau tidak sedap, berwarna kuning-hijau, dan rasa gatal luar biasa.

  • HIV/AIDS sebagai infeksi menular seksual pada wanita yang paling fatal. Infeksi ini menyerang sistem kekebalan tubuh lalu melemahkannya secara total. Belum ada obat-obatan atau metode penyembuhannya hingga saat ini.

Diagnosis Infeksi Menular Seksual

Memerhatikan gejala dan faktor risiko tentu tidak cukup untuk langsung menentukan infeksi yang terjadi. Jadi, langkah utama untuk memastikan kondisi kesehatan organ kewanitaan adalah dengan menjalani serangkaian tes infeksi menular seksual berikut.

  • Pemeriksaan fisik oleh dokter di sekitar area organ kewanitaan untuk melihat ada tidaknya kemerahan, luka, kutil, atau keputihan yang tidak normal.

  • Melakukan pengambilan sampel darah untuk mendeteksi antibodi atau keberadaan mikroorganisme penyebab infeksi.

  • Pemeriksaan sampel air kencing (urine) guna mengidentifikasi keberadaan bakteri khusus klamidia dan gonore.

  • Pengambilan sampel cairan di area leher rahim menggunakan metode usap (swab).

Tidak hanya untuk menegakkan diagnosis, rangkaian pemeriksaan tersebut juga memiliki manfaat lain sama seperti tes HPV DNA. Tidak lain adalah menentukan langkah penanganan dan pengobatan yang tepat untuk pasien.

Cara Pengobatan Infeksi Menular Seksual pada Wanita

Metode pengobatan secara medis tentu harus menyesuaikan faktor penyebab atau jenis IMS yang dialami pasien. Berikut ini caranya.

  • Pemberian antibiotik untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri, seperti klamidia, gonore, dan sifilis. Obat antibiotik harus diminum sampai habis sesuai resep dan arahan dokter.

  • Pengobatan dengan antivirus untuk kasus seperti herpes dan HIV. Antivirus ini membantu meredakan gejala, mengontrol jumlah virus, dan menurunkan risiko penularan.

  • Memberikan resep obat antiparasit dan jamur pada kasus IMS akibat keduanya faktor tersebut, biasanya dalam bentuk tablet minum atau krim vagina.

  • Pengobatan kontaminasi silang, yaitu pasangan seksual dari pasien juga wajib mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan simultan untuk mencegah penularan berulang (ping-pong effect).

Cara Pencegahan Infeksi Menular Seksual

Pengobatan infeksi menular seksual pada wanita tidak perlu Anda rasakan jika dapat mencegah diri sendiri tidak terkontaminasi. Cara-cara yang perlu Anda lakukan juga tidak terlalu sulit, seperti:

  • Setia terhadap pasangan alias tidak berganti-ganti pasangan seksual;

  • Menggunakan alat kontrasepsi pelindung, seperti kondom;

  • Menjalani skrining atau pemeriksaan kesehatan rutin. Bila perlu dapatkan vaksinasinya juga; dan

  • Menghindari penggunaan jarum bersama dengan orang lain–harus selalu sekali pakai dan steril.

Skrining HPV untuk Kesehatan Reproduksi Wanita

Infeksi menular seksual pada wanita tidak terbatas pada tipe-tipe yang sudah disebutkan sebelumnya. Jika penanganan secara medis tidak tepat, peluang terjadinya komplikasi akan terbuka lebar. Kanker leher rahim (serviks) menjadi satu dari banyak komplikasi yang dimaksud.

Namun, kondisi ini dapat Anda cegah dengan melakukan tes swab HPV dari Bumame yang nyaman dan memberi hasil dengan tingkat akurasi hingga 96%. Pemeriksaan dilakukan lewat dua metode, yaitu pengambilan sampel dengan pengusapan di area vagina dan sampel urine.

Selain untuk pasien yang sudah terpapar infeksi menular seksual, perempuan dengan faktor risiko tinggi kanker serviks juga disarankan menjalani tes. Pasien juga tidak memerlukan persiapan fisik secara khusus. Hanya saja tidak boleh jika tengah menstruasi.

Kapan Harus ke Dokter?

Sering kali rasa malu, segan, atau pola pikir yang menganggap masalah organ intim sebagai “hal tabu” menjadi penghalang untuk berkonsultasi dengan dokter. Kesampingkan semuanya dan lekas berkonsultasi dengan tenaga medis profesional saat merasakan ketidaknyamanan di area kewanitaan sekecil apapun itu.

Apalagi bila ketidaknyamanan tersebut muncul setelah melakukan hubungan seksual atau mengetahui pasangan terdiagnosis gangguan kesehatan organ intim. Semakin cepat berkonsultasi, kondisi infeksi seksual lebih cepat terdeteksi sehingga peluang kesembuhannya juga semakin besar.

Lindungi Kesehatan Organ Intim dan Masa Depan Anda

Merawat kesehatan organ kewanitaan merupakan hal yang wajib, terutama untuk kelancaran memiliki keturunan di masa depan. Lakukan tindakan preventif seperti membatasi aktivitas seksual dengan satu orang saja, menggunakan kontrasepsi pelindung, hingga rutin menjalani tes kesehatan.

Selain itu, jangan ragu untuk langsung berkonsultasi dengan dokter saat merasakan ketidaknyamanan di area organ intim. Supaya dokter juga dapat menentukan diagnosis dan merencanakan langkah pengobatan yang tepat. Yuk, lebih menyayangi diri sendiri dengan peduli terhadap kesehatan organ intim!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. National Library of Medicine (NLM). (2022). Sexually transmitted infections and female reproductive health. 

  2. MedlinePlus. (2025). Sexually Transmitted Infections.

  3. WHO. (2025). Sexually transmitted infections (STIs).

  4. Healthline. (2023). Sexually Transmitted Disease (STD) Information for Women.

  5. Office on Women’s Health. (2026). Sexually transmitted infections.

  6. Rochester Regional Health. (2024). Common STIs For Women. 

  7. North Atlanta Women’s Care. (2025). How to Identify the Early Signs of STDs in Females and Protect Your Health.

  8. Mayo Clinic. (2023). Sexually transmitted diseases (STDs).

  9. Siloam Hospitals. (2024). 7 Pencegahan Infeksi Menular Seksual yang Bisa Diterapkan.

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa saja ciri-ciri infeksi menular seksual pada wanita?
Gejalanya meliputi keputihan tidak normal, gatal atau rasa terbakar di area intim, nyeri saat buang air kecil, luka atau kutil kelamin, perdarahan di luar menstruasi, demam, ruam, dan kelelahan ekstrem.
Apa penyebab dan cara penularan infeksi menular seksual pada wanita?
IMS disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, atau jamur. Penularannya dapat terjadi melalui hubungan seksual, kontak langsung dengan luka atau kutil kelamin, penggunaan jarum suntik bersama, serta dari ibu kepada janin selama kehamilan atau persalinan.
Apakah infeksi menular seksual pada wanita selalu menimbulkan gejala?
Tidak. Beberapa IMS dapat berlangsung tanpa gejala, terutama pada minggu-minggu awal, sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan kondisi dan mendeteksi infeksi.
Bagaimana cara mendiagnosis infeksi menular seksual pada wanita?
Diagnosis dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisik, tes darah, pemeriksaan urine, serta pengambilan sampel cairan dari leher rahim menggunakan metode swab.
Bagaimana cara mencegah infeksi menular seksual pada wanita?
Pencegahan dapat dilakukan dengan tidak berganti-ganti pasangan seksual, menggunakan kondom, menjalani skrining kesehatan rutin, mempertimbangkan vaksinasi, serta menghindari penggunaan jarum bersama.