Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Neuropati Diabetik Adalah: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan
Kembali ke Artikel & Berita

Neuropati Diabetik: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

SBAOthers

Kaki yang sering kesemutan, terasa kebas, atau seperti tertusuk jarum bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika keluhan ini terjadi pada penderita diabetes, maka neuropati diabetik adalah kondisi yang mungkin terjadi.

Lantas, bagaimana kondisi ini bisa terjadi dan apa yang perlu diwaspadai? Mari kita mempelajarinya bersama-sama.

Apa Itu Neuropati Diabetik?

Neuropati diabetik adalah kerusakan saraf akibat komplikasi diabetes atau gula darah berlebih dalam tubuh. Kondisi ini bisa memengaruhi saraf tepi yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang dengan bagian tubuh lain, termasuk tangan, kaki, organ pencernaan, sistem tekanan darah, serta fungsi jantung.

Kondisi kadar gula darah yang tinggi bisa mengganggu fungsi saraf dan merusak pembuluh darah kecil yang menjadi pemasok oksigen serta nutrisi ke jaringan otak. Alhasil, saraf tidak bisa mengirimkan sinyal secara normal yang akhirnya menuntun pada gejala tertentu seperti nyeri, kesemutan, atau kebas.

Gejala neuropati diabetik tidak selalu sama pada setiap orang. Tingkat keparahannya pun bervariasi, mulai dari gangguan sensorik ringan hingga masalah yang memengaruhi fungsi organ. Dari sebagian besar kasus, neuropati diabetik adalah kondisi medis yang bisa terjadi pada penderita diabetes tipe 1 ataupun diabetes tipe 2.

Jenis Neuropati Diabetik

Dalam medis, neuropati diabetik terbagi menjadi empat jenis berdasarkan saraf yang mengalami kerusakan. Berikut ini penjelasannya.

  • Neuropati perifer: Terjadi akibat kerusakan saraf tepi di kaki dan tungkai, atau  tangan serta lengan. Gejalanya bisa berupa kesemutan, nyeri, rasa terbakar, atau sensasi mati rasa.

  • Neuropati otonom: Terjadi akibat kerusakan saraf yang mengatur fungsi tubuh seperti pencernaan, denyut jantung, tekanan darah, kandung kemih, dan fungsi seksual. Gejalanya bergantung pada fungsi tubuh yang terdampak.

  • Neuropati radikulopleksus: Terjadi akibat kerusakan jaringan yang berhubungan dengan panggul, bokong, atau paha. Gejala yang muncul biasanya berupa nyeri hebat pada satu sisi panggul atau paha dan kelemahan otot.

  • Mononeuropati: Terjadi saat kerusakan hanya mencakup satu saraf tertentu. Biasanya, kerusakannya terjadi pada saraf di wajah, kepala, badan, atau anggota gerak. Gejala utamanya adalah kelemahan otot pada area saraf terdampak.

Penyebab Neuropati Diabetik

Penyebab kerusakan saraf berkaitan erat dengan gangguan metabolisme akibat penyakit gula. Namun, tidak berarti semua orang dengan penyakit gula pasti mengalami kerusakan saraf pada tingkat yang sama. Beberapa faktor yang bisa meningkat risiko neuropati diabetik adalah sebagai berikut.

  • Kadar gula tinggi dalam jangka panjang: Paparan gula darah tinggi secara terus menerus bisa menyebabkan terganggunya proses metabolisme sel saraf dan merusak pembuluh darah kecil pemasok nutrisi ke saraf.

  • Durasi: Semakin lama periode pasien mengalami penyakit gula, maka semakin besar pula peluang terjadinya komplikasi kerusakan saraf.

  • Tekanan darah dan kolesterol tinggi: Tekanan darah tinggi dan kadar lemak darah tidak terkendali bisa memperburuk kondisi kesehatan pembuluh darah.

  • Berat badan berlebih:  Kelebihan berat badan bisa menyebabkan gangguan metabolisme dan kesulitan mengontrol kadar gula.

  • Kebiasaan merokok: Merokok bisa mengganggu sirkulasi darah, sehingga bisa mempengaruhi kesehatan jaringan, termasuk saraf di kaki.

  • Gangguan ginjal: Penyakit ginjal diabetik bisa meningkatkan risiko komplikasi atau masalah kesehatan lain.

  • Mengonsumsi alkohol: Konsumsi alkohol berlebih bisa menyebabkan kerusakan pada saraf secara langsung yang menyebabkan keluhan neuropati.

Gejala Neuropati Diabetik Berdasarkan Jenisnya

Gejala neuropati diabetik pada dasarnya bergantung pada saraf mana yang mengalami kerusakan. Selain itu, sebagian keluhan bisa muncul secara perlahan pada beberapa jenis, namun berkembang lebih cepat pada jenis lainnya.

1. Gejala Neuropati Perifer

Gejala yang paling sering muncul pada jenis neuropati ini adalah:

  • Kesemutan di area kaki atau tangan;

  • Rasa terbakar, nyeri tajam, atau kram, terutama pada malam hari;

  • Mati rasa atau berkurangnya kemampuan merasakan suhu dan nyeri; serta

  • Kelemahan otot, gangguan keseimbangan, dan perubahan cara berjalan.

Komplikasi yang perlu Anda waspadai adalah luka diabetes yang tidak disadari karena kaki kehilangan sensasi. Luka tersebut dapat berkembang menjadi infeksi, ulkus, hingga kerusakan jaringan akut.

2. Gejala Neuropati Otonom

Pada kasus neuropati otonom, keluhan atau gejala yang muncul bergantung pada organ terdampak. Berikut ini penjelasannya.

  • Pencernaan: Cepat kenyang, mual, kembung, sembelit, atau diare.

  • Kandung kemih: Sulit mengosongkan kandung kemih atau mengalami gangguan berkemih.

  • Tekanan darah: Pusing ketika berdiri akibat penurunan tekanan darah.

  • Fungsi seksual: Gangguan ereksi atau masalah respons seksual.

  • Keringat: Produksi keringat yang berlebihan atau berkurang pada area tertentu.

Jika gejala di atas tidak mendapatkan penanganan, maka tentunya bisa mengganggu aktivitas harian. Misalnya, gangguan pengosongan lambung bisa mempersulit pengaturan gula darah karena penyerapan makanan menjadi tidak terduga.

3. Gejala Neuropati Radikulopleksus

Pada jenis kerusakan saraf ini, gejala yang biasanya muncul berupa rasa nyeri hebat di satu sisi panggul, bokong, atau paha. Nyeri ini juga bisa muncul bersama dengan kelemahan otot, penyusutan massa otot, dan kesulitan berdiri atau berjalan. Jika tidak segera mendapatkan penanganan, gejala ini bisa membatasi gerak dan meningkatkan risiko jatuh.

4. Gejala Mononeuropati atau Neuropati Fokal

Mononeuropati memiliki gejala umum berupa melemahnya kelompok otot tertentu, rasa nyeri di satu area, penglihatan ganda, atau kelopak mata terkulai. Karena gejalanya mirip dengan kondisi darurat medis lainnya, sebaiknya Anda tidak langsung menganggap kemunculan gejala sebagai indikasi kerusakan saraf akibat penyakit gula.

Diagnosis Neuropati Diabetik

Biasanya, dokter akan mendiagnosis pasien melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, tes darah, dan pemeriksaan saraf lanjutan. Tujuannya bukan hanya untuk mengidentifikasi kerusakan saraf, tapi juga penyebabnya.

  • Wawancara medis: Dokter akan menanyakan sejumlah pertanyaan, seperti gejala yang pasien alami, kapan keluhan muncul, dan bagian tubuh yang terdampak. Riwayat penyakit, gaya hidup, dan konsumsi obat-obatan juga termasuk pertanyaan yang biasanya akan dokter fokuskan.

  • Pemeriksaan fisik: Pemeriksaan fisik bisa mencakup pemeriksaan kekuatan otot, refleks, kemampuan merasakan sentuhan, nyeri, dan getaran. Umumnya, dokter menggunakan monofilamen untuk memeriksa kemampuan merasakan tekanan dan garpu tala untuk menilai kemampuan merasakan sensasi getaran.

  • Tes darah: Pemeriksaan darah bertujuan untuk menilai pengendalian diabetes dan mencari penyebab lain dari keluhan saraf.  Pemeriksaannya terdiri dari uji HbA1c, glukosa darah, vitamin B12, fungsi ginjal, dan tiroid.

  • Pemeriksaan saraf lanjutan: Jika gejala yang muncul tidak khas atau  diagnosis belum jelas, dokter bisa merekomendasi pemeriksaan konduksi saraf atau elektromiografi (EMG).

Pengobatan Neuropati Diabetik

Pengobatan neuropati diabetik adalah langkah terbaik untuk memperlambat perkembangan kerusakan saraf, meredakan keluhan, dan mengatasi komplikasi yang muncul. Berikut adalah beberapa terapi pengobatan yang umumnya dokter sarankan.

1. Mengendalikan Kadar Gula Darah

Langkah utama pengobatan neuropati diabetik adalah menjaga kadar gula darah sesuai target yang dokter berikan. Pengelolaan kadar gula darah ini biasanya juga mencakup penggunaan obat-obatan sesuai resep, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, dan pemantauan HbA1c secara berkala.

2. Menggunakan Obat untuk Nyeri Saraf

Jika penderita diabetes mengalami nyeri, dokter biasanya juga meresepkan obat tertentu untuk meredakan keluhan tersebut, seperti pregabalin, gabapentin, amitriptyline, atau duloxetine. Pemilihan obat bergantung pada kondisi kesehatan, tingkat nyeri, riwayat konsumsi obat,  dan kemungkinan efek samping.

3. Menangani Gangguan Organ Tertentu

Untuk jenis neuropati otonom, pengobatan dilakukan berdasarkan organ yang terdampak. Gangguan pengosongan lambung, masalah kandung kemih, atau gangguan seksual mungkin membutuhkan terapi khusus dan konsultasi dengan dokter spesialis.

4. Melakukan Perawatan Mandiri

Selain terapi medis, ada juga perawatan mandiri yang bisa Anda terapkan di rumah. Adapun langkah perawatan neuropati diabetik adalah:

  • Periksa kaki secara rutin untuk menemukan luka, lepuh, kemerahan, atau adanya perubahan warna;

  • Gunakan alas kaki yang nyaman dan tidak memberi tekanan berlebih;

  • Hindari berjalan tanpa alas kaki;

  • Jangan menggunakan air yang terlalu panas untuk merendam kaki, karena berkurangnya sensasi saraf bisa membuat risiko luka bakar; serta

  • Konsumsi makanan bergizi seimbang dan lakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan.

Cara Mencegah Neuropati Diabetik

Neuropati diabetik termasuk kondisi medis yang tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya. Meskipun demikian, ada beberapa langkah yang bisa membantu mengelola faktor risikonya, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Pantau kadar gula darah melalui pemeriksaan rutin dan jadikan hasilnya sebagai dasar evaluasi pengelolaan keluhan atau risiko komplikasi.

  • Jaga pola makan dengan menjadikan sayuran, sumber protein, bijian utuh, dan makanan kaya serat sebagai prioritas makanan. Selain itu, sesuaikan jumlah asupan karbohidrat berdasarkan kebutuhan dan aktivitas sehari-hari.

  • Lakukan olahraga secara teratur sesuai kondisi kesehatan untuk membantu penyerapan glukosa.

  • Lakukan pemeriksaan tekanan darah dan kolesterol berkala untuk deteksi dini faktor risiko yang bisa memperburuk komplikasi.

  • Berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan saraf.

  • Lakukan pemeriksaan saraf kaki secara berkala setidaknya setiap satu tahun sekali.

Pantau Gula Darah untuk Mengurangi Risiko Kerusakan Saraf

Pengendalian gula darah adalah bagian penting dalam mengurangi risiko penyakit gula, termasuk kerusakan saraf. Pemeriksaan laboratorium secara berkala bisa menjadi sarana untuk mendapatkan evaluasi kondisi gula sekaligus mendapatkan penanganan tepat berdasarkan evaluasi tersebut.

Layanan pemeriksaan Diabetes Melitus dari Bumame adalah salah satu paket medis yang bisa memenuhi kebutuhan pemeriksaan kondisi gula. Paket pemeriksaan ini mencakup tes HbA1c yang memberi gambaran rata-rata kadar gula selama kurun waktu 2–3 bulan dan glukosa puasa yang mengukur kadar gula setelah berpuasa.

Melalui paket ini, Anda bisa memantau kadar gula dan mendeteksi faktor risiko komplikasinya. Jika Anda ingin mengevaluasi risiko diabetes sebelum terdiagnosis, Bumame juga menyediakan paket pemeriksaan Pre-Diabetes Melitus yang mencakup pemeriksaan HbA1c.

Pemeriksaan ini memungkinkan Anda untuk mendeteksi adanya peningkatan kadar gula tubuh yang belum memunculkan gejala khas penyakit gula. Jadi, Anda bisa melakukan pencegahan lebih dini.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Anda memiliki penyakit gula dan sering mengalami gejala kesemutan berulang, nyeri seperti terbakar, mati rasa pada kaki, kelemahan otot, atau perubahan fungsi pencernaan dan kandung kemih, maka sebaiknya segera jadwalkan pemeriksaan medis.

Inisiasi pemeriksaan ini sifatnya wajib jika Anda memiliki luka yang tidak kunjung sembuh, kemerahannya meluas, atau terjadi pembengkakan dan tanda infeksi. Khusus untuk gejala kelemahan otot, jadwalkan pemeriksaan sesegera mungkin meskipun Anda tidak memiliki riwayat penyakit gula. Pasalnya, gejala ini juga bisa menandakan kondisi yang lebih serius seperti stroke.

Kenali Gejala Sejak Dini, Jaga Kesehatan Saraf Anda

Neuropati diabetik adalah bentuk komplikasi diabetes yang bisa memengaruhi saraf tepi maupun saraf yang mengatur organ dalam. Gejalanya bisa bervariasi, mulai dari kesemutan, nyeri, mati rasa, hingga gangguan pencernaan atau tekanan darah.

Meskipun kerusakan saraf tidak bisa pulih sepenuhnya, namun Anda bisa mengurangi risikonya dengan mengendalikan gula darah, pemeriksaan berkala, dan pengobatan sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, jangan ragu memeriksakan diri langsung ke dokter saat Anda mengalami gejala yang merujuk pada kondisi kerusakan saraf ini.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diabetic Neuropathy. National Institutes of Health. 

  2. Mayo Clinic. Diabetic Neuropathy: Diagnosis and Treatment. 

  3. American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). Retinopathy, Neuropathy, and Foot Care: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care. 

  4. Bumame. Diabetes Melitus. 

  5. Bumame. Pre Diabetes Melitus.

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apa itu neuropati diabetik?

Neuropati diabetik adalah kerusakan saraf akibat komplikasi diabetes atau kadar gula darah tinggi. Kondisi ini dapat memengaruhi saraf tepi serta saraf yang mengatur fungsi organ tubuh.

Apa saja gejala neuropati diabetik?

Gejalanya meliputi kesemutan, nyeri seperti terbakar, mati rasa, kram, kelemahan otot, dan gangguan keseimbangan. Jika menyerang saraf otonom, kondisi ini juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan, berkemih, tekanan darah, dan fungsi seksual.

Apa penyebab neuropati diabetik?

Penyebab utamanya berkaitan dengan kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang. Risikonya juga dapat meningkat akibat durasi diabetes, tekanan darah dan kolesterol tinggi, berat badan berlebih, kebiasaan merokok, gangguan ginjal, serta konsumsi alkohol berlebihan.

Bagaimana cara mengobati neuropati diabetik?

Bagaimana cara mengobati neuropati diabetik?

Apakah neuropati diabetik bisa disembuhkan?

Kerusakan saraf akibat diabetes tidak selalu dapat pulih sepenuhnya. Namun, pengendalian gula darah, pengobatan yang tepat, dan pemeriksaan rutin dapat membantu meredakan gejala serta memperlambat perkembangan kerusakan saraf.