Buang air kecil di malam hari terbilang normal sebagai tanda bahwa tubuh membuang sisa-sisa metabolisme. Namun, kondisi ini patut dipertanyakan apabila terjadi dengan frekuensi lebih sering di tengah malam sampai mengganggu kualitas tidur, sebab mungkin saja nokturia adalah penyebabnya.
Apa Itu Nokturia?
Nokturia adalah kondisi di mana seseorang merasakan dorongan kuat ingin berkemih di malam hari sebanyak dua kali atau lebih. Penderita nokturia biasanya akan bangun saat tengah malam kemudian kencing dengan volume urine yang cukup banyak.
Sekilas kondisi seperti ini memang terlihat normal sebagai konsekuensi alami dari proses metabolisme tubuh. Hal inilah yang membuat banyak penderita tidak mencari pertolongan medis, padahal nokturia adalah kondisi yang membutuhkan perhatian karena bisa mengganggu kualitas tidur dan menghambat produktivitas.
Meski banyak terjadi pada orang dewasa, kondisi ini juga bisa dialami kelompok usia muda dengan keluhan terbanyak dari laki-laki karena ada pembesaran kelenjar prostat yang terletak di bawah kandung kemih.
Nah, agar suatu kondisi bisa dikategorikan sebagai nokturia adalah seseorang harus tidur dulu sebelum terbangun untuk kencing lalu kembali tidur setelahnya. Untuk kencing pertama kali pada pagi hari dan siang hari tidak termasuk nokturia.
Tentu ini berbeda dengan inkontinensia urine, di mana seseorang tidak dapat mengontrol keluarnya urine, baik sadar maupun tidak, sehingga sering mengompol (beser).
Kondisi ini sering dialami orang tua yang sudah menopause akibat perubahan hormon sehingga memengaruhi elastisitas jaringan di sekitar uretra dan kandung kemih. Inkontinensia urine juga bisa terjadi akibat kehamilan atau persalinan sehingga terjadi peningkatan beban otot panggul dan uretra.
Nokturia juga berbeda dengan gangguan frekuensi buang air kecil (poliuria) yang dapat terjadi sepanjang siang dan malam, bukan hanya malam hari. Biasanya, volume pengeluaran urine normal pada orang dewasa sekitar 1–2 liter, sementara orang dengan gangguan poliuria lebih dari itu.
Penyebab Nokturia
Banyak penelitian menyebut bahwa nokturia termasuk kondisi multifaktorial. Beberapa faktor penyebab nokturia adalah sebagai berikut.
1. Terlalu Banyak Minum Sebelum Tidur
Penyebab paling umum adalah penderita terlalu banyak minum sebelum tidur yang membuat produksi urine meningkat melebihi daya tampung. Kondisi ini tidak hanya berlaku untuk air putih, tetapi juga minuman berkafein sebelum tidur.
Hal ini terjadi karena kafein bersifat diuretik yang dapat meningkatkan produksi urine. Begitu juga dengan alkohol yang bisa meningkatkan produksi urine dan menghilangkan cairan tubuh melalui urine.
2. Mengonsumsi Obat Peningkat Urine
Obat diuretik atau peluruh kencing yang diminum menjelang tidur sering menjadi penyebab keluhan buang air kecil di malam hari. Biasanya, obat ini diminum oleh penderita darah tinggi sebagai cara membuang natrium dan air dalam tubuh yang meringankan beban kerja jantung.
3. Penyakit Saluran Kemih
Nokturia adalah kondisi yang bisa menjadi tanda adanya masalah saluran kemih bawah atau dikenal sebagai lower urinary tract symptoms (LUTS). LUTS adalah masalah saluran kemih, seperti kandung kemih terlalu aktif atau overactive bladder (OAB), obstruksi prostat jinak atau benign prostatic obstruction (BPO) yang membuat penderita mengeluh sering kencing, kencing tersendat, maupun nyeri saat kencing.
4. Gangguan pada Neurogenik
Gangguan saraf kandung kemih (neurogenic bladder) adalah salah satu penyebab seseorang sering berkemih malam hari. Kondisi ini membuat saraf tidak bisa berkomunikasi secara normal dengan kandung kemih sehingga terjadi miskomunikasi pada proses pengisian dan pengosongan urine.
5. Poliura Noktural
Poliuria nokturnal adalah penyebab paling umum di mana tubuh memproduksi urine secara berlebihan di malam hari. Penderita di usia dewasa muda mengalami peningkatan produksi urine malam hari hingga 20% dari batas normal harian. Usia lanjut bisa lebih dari itu, yakni sekitar 33% dari batas normal.
6. Diabetes Mellitus
Buang air kecil terus menerus di malam hari pada penderita diabetes mellitus disebabkan oleh kadar glukosa tinggi yang dibuang oleh tubuh melalui urine. Ini yang membuat produksi urine meningkat drastis.
Selain itu, kadar gula berlebihan membuat sistem saraf pengatur kandung kemih ikut terganggu. Ini menyebabkan otot kandung kemih sudah tidak mampu menampung air kencing dengan baik.
7. Hipertensi
Hubungan antara hipertensi dengan nokturia terjadi karena adanya perubahan laju filtrasi (penyaringan) pada glomerulus dan transpor tubulus ginjal. Kondisi ini dapat memicu penumpukan cairan dan menurunkan kadar hormon AVP penahan kencing di malam hari.
Faktor Risiko Nokturia
Masalah berkemih ini memang terbilang kompleks. Namun, ada beberapa risiko yang harus Anda sadari, yaitu:
Usia, biasanya terjadi pada kelompok menopause yang membuat penderita sering terbangun di malam hari hanya untuk kencing;
Gangguan hormon, yang sering terjadi pada usia lanjut (menopause), perimenopause, dan kehamilan;
Jenis kelamin, turut menyumbang risiko terkena nokturia terutama pada laki-laki karena adanya masalah pada prostat;
Obesitas, yang memicu terjadinya komplikasi termasuk kenaikan gula darah, sleep apnea (henti napas ketika tidur), dan tekanan pada kandung kemih sehingga produksi urin meningkat;
Kehamilan, terutama trimester kedua dan ketiga yang menjadi respons normal tubuh akibat tekanan rahim dan perubahan hormonal; serta
Penyakit kardiovaskular, terutama hipertensi karena adanya perubahan proses penyaringan pada ginjal.
Gejala Nokturia
Adapun tanda atau gejala seseorang terkena masalah berkemih nokturia adalah sebagai berikut.
Sering bolak-balik kamar mandi di tengah malam hanya untuk kencing sebanyak lebih dari dua kali.
Anyang-anyangan atau adanya dorongan kuat untuk kencing tetapi hanya mengeluarkan sedikit urine.
Volume urine meningkat dari biasanya.
Karena sering terbangun untuk kencing, kualitas tidur memburuk sehingga mudah lelah dan emosional.
Risiko terjatuh pada lansia karena frekuensi buang air kecil yang membuat bolak-balik ke kamar mandi.
Gejala-gejala nokturia di atas harus segera mendapat penanganan supaya tidak terjadi komplikasi, seperti gangguan ginjal dan gangguan tidur kronis yang menyebabkan kelelahan sehingga mengganggu mental hingga infeksi saluran kemih akut.
Diagnosis Nokturia
Untuk diagnosis nokturia, biasanya tim medis akan menjalankan beberapa prosedur berikut ini.
Pemeriksaan fisik, dengan menanyakan identitas, gejala, penggunaan obat-obatan, hingga riwayat kesehatan secara detail.
Dokter menggali keluhan yang dirasakan pasien, seperti frekuensi kencing, kencing berbusa, kuat tidaknya pancaran kencing, adanya bengkak di sekitar mata kaki, hingga nyeri saat kencing.
Pasien sebaiknya mencatat frekuensi kencing sebagai data bagi dokter. Data ini mencakup jenis dan jumlah cairan yang diminum, waktu minum, waktu dan jumlah urin yang keluar.
Tes darah, untuk mendeteksi adanya penyakit kronis yang diderita pasien seperti diabetes, hipertensi, dan anemia.
Tes urine, untuk mendeteksi adanya infeksi dan kadar gula darah.
Sistoskopi, untuk memeriksa kondisi kandung kemih.
Urodinamik, berguna untuk menilai fungsi kandung kemih bawah, khususnya bagaimana organ ini menyimpan dan mengeluarkan urine.
Bladder scan, untuk mengukur jumlah urin yang tersisa setelah kencing.
Cara Mengatasi Nokturia
Di samping itu, biasanya dokter akan memberikan beberapa perawatan, salah satunya memberikan obat-obatan seperti:
Desmopressin, supaya menekan produksi urine oleh ginjal;
Solifenacin, untuk melemaskan otot kandung kemih;
Estrogen Vagina Topikal, adalah terapi untuk wanita menopause yang mengalami masalah kencing akibat perubahan hormon; dan
Oxybutynin, obat untuk meredakan kandung kemih yang terlalu aktif, mirip Solifenacin.
Selain pengobatan, cara mengatasi nokturia adalah beralih ke pola hidup sehat, seperti:
Tidak banyak minum di malam hari;
Mengatur pola tidur teratur;
Rajin melatih otot kandung kemih dan otot dasar panggul;
Kurangi konsumsi garam dan gula;
Atur jadwal minum obat yang baik; dan
Menjalani program diet.
Cara Mengurangi Risiko Nokturia
Nokturia adalah masalah berkemih yang bisa Anda hindari dengan pemeriksaan Fungsi Ginjal di Bumame. Layanan ini akan membantu Anda memahami seberapa baik ginjal dalam menyaring darah.
Pemeriksaan Bumame mencakup empat komponen, yaitu ureum untuk menilai fungsi ginjal, kreatinin + eGFR yang mampu meninjau kerja ginjal dalam menyaring darah, asam urat, dan kontrol urine lengkap.
Bumame juga menyediakan pemeriksaan Urine Lengkap yang membantu Anda mendeteksi masalah kesehatan, terutama mendiagnosis infeksi saluran kemih, diabetes, dan kelainan metabolisme lainnya.
Sementara itu, ada Paket MCU Kesehatan Hati & Ginjal sebagai solusi tepat bagi Anda yang menderita obesitas, hipertensi, diabetes maupun pengguna obat jangka panjang untuk mengevaluasi kesehatan organ dalam secara menyeluruh, termasuk mendeteksi masalah ginjal.
Kapan Harus ke Dokter?
Nokturia adalah gejala yang tidak boleh disepelekan, terlebih apabila memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas Anda dalam jangka panjang. Oleh karena itu, segera lakukan pemeriksaan apabila frekuensi kencing di tengah malam sangat sering dan gejala semakin memburuk, terutama muncul sesak napas, nyeri, maupun ada darah dalam urine.
Pahami Gejala Nokturia dan Mulai Hidup Sehat
Nokturia adalah kondisi yang muncul akibat kebiasaan kurang sehat dan menjadi gejala penyakit tertentu sehingga harus segera mendapat penanganan medis. Penyakit ini bisa sembuh, tergantung penyebab yang mendasarinya, dengan mengendalikan frekuensi buang air kecil sampai normal dan mengubah gaya hidup sehat pasien.
Dari sini sangat penting melakukan cek urine bersama Bumame, terutama Anda yang memiliki penyakit bawaan atau kebiasaan pola hidup kurang sehat. Yuk, sayangi tubuh Anda mulai sekarang!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Library of Medicine. (2012). Nocturia: Focus on Etiology and Consequences.
MD Search Light. (2024). Nocturia.
Ikatan Ahli Urologi Indonesia. (2020). Panduan Diagnosis dan Tatalaksana Nokturia.
Scientific Reports. (2025). Association Between Nocturia and Sleep Issues, Incorporating the Impact of Lifestyle Habits Perceived as Promoting Sleep in a Internet Survey.
Bladder & Bowel Community. (.n.d). Nocturia Treatments.
Urology & Continence Care Today. (2026). Effective Assessment and Management of Nocturia in the Older Person.
Urology Greater Atlanta. (.n.d). What Is Nocturia?
The Global Diabetes Community. (.n.d). Nocturia.
National Association for Continence. (.n.d). Behavioral Therapies for Reducing Nocturia.
Indonesia Urological Association. (.n.d). Nokturia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Inkontinensia Urine.
Advanced Urology Institute. (2024). Nocturia Interrupting Your Sleep? It Might be Your Prostate’s Fault.
The British Association of Urological Surgeons (.n.d). Male Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS).
Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna
Frequently Asked Question
Apa itu nokturia?
Nokturia adalah kondisi ketika seseorang terbangun dari tidur untuk buang air kecil sebanyak dua kali atau lebih dalam semalam, sehingga dapat mengganggu kualitas tidur dan produktivitas.
Apa saja penyebab nokturia?
Nokturia dapat disebabkan oleh terlalu banyak minum sebelum tidur, konsumsi kafein atau alkohol, obat diuretik, gangguan saluran kemih, gangguan saraf kandung kemih, produksi urine berlebihan pada malam hari, diabetes mellitus, dan hipertensi.
Apa saja gejala nokturia?
Gejala nokturia meliputi sering terbangun untuk buang air kecil lebih dari dua kali semalam, dorongan kuat untuk berkemih meski urine sedikit, peningkatan volume urine, serta kualitas tidur yang memburuk sehingga tubuh mudah lelah dan emosional.
Bagaimana cara mengatasi nokturia?
Cara mengatasi nokturia meliputi mengurangi minum menjelang tidur, mengatur jadwal tidur, melatih otot kandung kemih dan dasar panggul, mengurangi konsumsi garam dan gula, serta menyesuaikan jadwal minum obat. Dokter dapat memberikan pengobatan sesuai penyebabnya.
