Anak demam beberapa hari, lalu bintik merah muncul di wajah dan menjalar ke badan. Sebagian orang menyebutnya campak, sebagian lagi campak Jerman. Dua nama ini sering dipakai bergantian, padahal penyebab dan perjalanan penyakitnya berbeda.
Perbedaan itu menentukan langkah berikutnya. Campak bisa menimbulkan komplikasi pada anak yang sakit, sedangkan rubella umumnya ringan tetapi bisa berdampak besar pada janin bila menulari ibu hamil.
Berikut cara membedakan keduanya, mulai dari urutan gejala hingga peran imunisasi.
Apa Bedanya Campak dan Rubella?
Campak dan rubella disebabkan oleh dua virus berbeda, yaitu virus campak dari genus Morbillivirus dan virus rubella dari genus Rubivirus. Keduanya menyebar lewat saluran napas dan sama-sama memunculkan demam serta ruam. Istilah rubeola di literatur kesehatan merujuk pada campak, sementara rubella sering disebut campak Jerman.
Pada penyakit campak, gejala cenderung berat dengan demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah sebelum ruam keluar. Penyakit rubella cenderung ringan pada anak, tetapi menjadi ancaman bagi janin bila ibunya tertular. Kekebalan terhadap salah satu virus tidak melindungi dari virus lainnya.
Cara Penularan dan Masa Menular Keduanya
Kedua virus menular lewat percikan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Campak sangat mudah menular. Hingga 9 dari 10 orang yang belum kebal dan berada dekat penderita bisa tertular, dan virusnya bisa bertahan di udara sampai 2 jam setelah penderita pergi.
Masa menular keduanya dimulai sebelum ruam terlihat:
Campak. Penderita bisa menularkan virus sejak 4 hari sebelum sampai 4 hari setelah ruam muncul. Gejala biasanya timbul 7 sampai 14 hari setelah terpapar.
Rubella. Penularan bisa terjadi sejak 7 hari sebelum sampai 7 hari setelah ruam muncul. Gejala biasanya timbul 2 sampai 3 minggu setelah paparan. Sekitar 25 sampai 50% infeksi tidak bergejala, sehingga penularan sering tidak disadari.
Siapa yang Lebih Berisiko?
Siapa pun yang belum kebal bisa tertular. Kelompok berikut perlu perhatian lebih:
Anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa. Komplikasi campak lebih sering terjadi pada kelompok ini. Risikonya meningkat pada anak yang kurang gizi, khususnya kekurangan vitamin A, dan pada orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Ibu hamil. Campak saat hamil meningkatkan risiko keguguran dan bayi lahir prematur. Rubella di awal kehamilan berisiko menular ke janin.
Anak laki-laki maupun perempuan. Kemenkes menegaskan rubella bisa menyerang keduanya. Anak yang sakit tetap bisa menulari ibu hamil di sekitarnya, meski gejalanya hanya demam ringan.
Membedakan Gejala Campak dan Rubella dari Urutannya
Cara praktis membedakannya adalah memperhatikan gejala yang muncul lebih dulu dan berapa lama gejala bertahan.
1. Gejala Awal Sebelum Ruam Muncul
Campak diawali demam tinggi, badan lemas, batuk, pilek, dan konjungtivitis atau mata merah berair selama beberapa hari. Rangkaian ini termasuk ciri campak pada anak. Pada rubella, keluhan anak umumnya ringan, berupa demam rendah, mual, dan mata sedikit merah.
2. Bercak Putih di Pipi Bagian Dalam
Bintik putih kecil di sisi dalam pipi, disebut bercak Koplik, merupakan tanda khas campak yang muncul sebelum ruam kulit. Memeriksa bagian dalam mulut membantu dokter membedakan campak dari rubella.
3. Pola dan Lama Ruam
Ruam campak muncul 3 sampai 5 hari setelah gejala pertama, dimulai di wajah dan leher atas, lalu menjalar ke badan dan tungkai dalam sekitar 3 hari. Ruam bertahan 4 sampai 8 hari dan bisa meninggalkan bekas kehitaman yang bersisik. Ruam rubella lebih ringan, menyebar dari wajah ke seluruh tubuh dalam 24 jam, dan hilang dalam sekitar 3 hari.
4. Benjolan di Belakang Telinga dan Leher
Pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dan leher merupakan ciri khas rubella. Benjolan ini bisa muncul sebelum ruam dan bertahan 5 sampai 8 hari.
5. Nyeri Sendi pada Orang Dewasa
Orang dewasa dengan rubella, khususnya perempuan, bisa mengalami nyeri atau radang sendi. Keluhan ini dialami hingga 70% perempuan dewasa yang terinfeksi dan biasanya berlangsung 3 sampai 10 hari.
Ringkasan Perbedaan Campak dan Rubella
Tabel berikut merangkum perbedaan utama keduanya.
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Komplikasi Campak dan Bahaya Rubella bagi Kehamilan
Sebagian besar penderita campak pulih, tetapi sebagian lain memerlukan rawat inap, termasuk anak yang sebelumnya sehat. Komplikasinya meliputi infeksi telinga, diare, pneumonia atau radang paru, kebutaan, dan radang otak atau ensefalitis yang bisa meninggalkan kerusakan otak permanen. Campak juga bisa melemahkan kekebalan tubuh selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, sehingga anak lebih mudah terkena infeksi lain.
Rubella pada anak dan orang dewasa umumnya ringan. Bahaya utamanya muncul saat ibu hamil tertular. Pada infeksi di awal kehamilan, peluang virus menular ke janin mencapai 90%, dan kerusakan berat umumnya terjadi pada 12 minggu pertama.
Akibatnya bisa berupa keguguran, bayi lahir mati, atau sindrom rubella kongenital (CRS), yaitu kumpulan kelainan bawaan akibat infeksi rubella dalam kandungan. Bayi dengan CRS bisa mengalami tuli, katarak, kelainan jantung bawaan, dan disabilitas intelektual. Sebagian gejalanya bisa ditangani, tetapi CRS belum bisa disembuhkan.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Periksakan ke dokter bila demam disertai ruam, apalagi bila imunisasi belum lengkap atau baru kontak dengan penderita. Kabari fasilitas kesehatan sebelum datang agar petugas bisa menyiapkan ruang terpisah.
Segera ke IGD bila muncul tanda berikut:
Napas cepat atau sesak. Tanda ini bisa mengarah ke radang paru.
Kejang, sangat mengantuk, atau sulit dibangunkan. Keluhan ini bisa berkaitan dengan radang otak.
Muntah atau diare terus-menerus. Anak yang tidak mau minum dan jarang buang air kecil bisa mengalami dehidrasi.
Ibu hamil yang mengalami ruam atau kontak dengan penderita rubella perlu segera menghubungi dokter. Kemenkes mencatat sekitar separuh ibu hamil yang terinfeksi rubella tidak bergejala, sehingga pemeriksaan antibodi dalam darah, seperti pada tes TORCH, diperlukan untuk memastikannya.
Bagaimana Dokter Memastikan Diagnosisnya?
Dokter akan menanyakan kapan demam dan ruam muncul, riwayat imunisasi, serta kontak dengan penderita, lalu memeriksa bagian dalam mulut, kelenjar di belakang telinga, dan pola ruam.
Diagnosis dari gejala saja kurang bisa diandalkan karena ruam rubella mirip banyak penyakit lain. Dalam pedoman surveilans Kemenkes, setiap orang dengan demam dan ruam makulopapular, yaitu ruam kemerahan yang datar atau sedikit menonjol, dicatat sebagai suspek campak dan diperiksa laboratorium. Pemeriksaannya mencari antibodi IgM campak dan rubella dalam darah, kadang disertai PCR dari usap tenggorok atau urine.
Penyebab ruam lain juga perlu disingkirkan. Cacar air memunculkan ruam berisi cairan, sehingga perbedaan campak dan cacar mudah terlihat. Ruam yang muncul setelah minum obat atau makan makanan tertentu membuat dokter menimbang perbedaan campak dan alergi.
Pengobatan dan Perawatan di Rumah
Belum ada obat antivirus khusus untuk campak maupun rubella. Perawatan berfokus meredakan gejala dan mencegah komplikasi:
Cukup cairan dan makanan bergizi. Minum yang cukup mengganti cairan yang hilang akibat demam, muntah, atau diare.
Vitamin A sesuai arahan dokter. WHO menganjurkan vitamin A bagi balita yang diduga campak untuk membantu menurunkan risiko kerusakan mata. Takarannya ditentukan dokter karena jumlah berlebih bisa menimbulkan keracunan.
Antibiotik hanya untuk infeksi bakteri. Dokter memberikannya bila muncul komplikasi seperti radang paru atau infeksi telinga.
Tinggal di rumah selama masa menular. Penderita campak beristirahat di rumah sampai 4 hari setelah ruam muncul, sedangkan penderita rubella sampai 7 hari. Jauhkan penderita dari ibu hamil dan bayi.
Pencegahan Lewat Imunisasi MR
Imunisasi membantu menurunkan risiko tertular dan menularkan kedua penyakit ini. WHO menganjurkan dua dosis vaksin campak bagi setiap anak karena tidak semua anak kebal setelah dosis pertama. Di Indonesia, vaksin MR diberikan dalam program imunisasi rutin pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD atau sederajat. Selain MR, orang tua bisa mendiskusikan vaksin MMR untuk anak yang juga mengandung komponen gondongan.
Sejak April 2026, BPOM memperluas izin vaksin MR dan MMR untuk usia dewasa. Orang dewasa yang belum yakin status imunisasinya bisa mendiskusikan imunisasi dewasa dengan dokter.
Perempuan yang merencanakan kehamilan sebaiknya memastikan kekebalan rubella lewat tes darah saat program hamil. Vaksin MR dan MMR berisi virus hidup yang dilemahkan sehingga tidak diberikan saat hamil, dan kehamilan sebaiknya ditunda minimal 4 minggu setelah vaksinasi MMR.
Vaksin MMR di Bumame
Vaksin bekerja dengan memperkenalkan virus yang sudah dilemahkan kepada sistem kekebalan, sehingga tubuh membentuk antibodi tanpa harus jatuh sakit. Bumame menyediakan Vaksin Measles, Mumps, Rubella MMR II yang berisi virus campak, gondongan, dan rubella hidup yang telah dilemahkan, dengan layanan Home Care maupun Walk In di klinik Bumame.
Untuk vaksinasi anak, hubungi CS Bumame untuk memastikan ketersediaan sesuai usia anak. Untuk pertanyaan seputar jadwal vaksinasi, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Kenali Bedanya, Lengkapi Imunisasinya
Campak dan rubella sama-sama memunculkan demam dan ruam, tetapi urutan gejala, masa menular, dan pihak yang terancam berbeda. Catat kapan demam dan ruam muncul, lalu sampaikan kepada dokter.
Lengkapi imunisasi MR anak sesuai jadwal dan cek kekebalan rubella sebelum hamil. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.
Lokasi Klinik Bumame
Pemeriksaan tersedia di lima klinik Bumame.
Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28, Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi
Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi
Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi
Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat 11610. Senin sampai Minggu, pukul 06.00 sampai 20.00. Lihat lokasi
Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Kelapa Gading Barat, Kec. Kelapa Gading, Jakarta Utara, DKI Jakarta 14240. Senin sampai Minggu, pukul 06.00 sampai 20.00. Lihat lokasi
Pilih lokasi terdekat dari tempat Anda.
Referensi
World Health Organization. Measles.
World Health Organization. Rubella.
Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Overview of Measles.
Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Overview of Rubella.
Centers for Disease Control and Prevention. Pregnancy and Rubella.
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Surveilans Campak-Rubela.
Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Izin Vaksin MR Keluar, Kemenkes Prioritaskan Vaksinasi Kepada Tenaga Kesehatan.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Menkes, Pikirkan Risiko dan Dampaknya Bila Anak Tidak Diimunisasi MR.
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
Frequently Asked Question
Apa perbedaan campak dan rubella?
Campak biasanya ditandai demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah sebelum ruam muncul. Rubella cenderung lebih ringan, dengan demam rendah dan pembengkakan kelenjar di belakang telinga atau leher.
Apakah rubella sama dengan campak Jerman?
Ya, rubella sering disebut campak Jerman. Namun, rubella disebabkan virus yang berbeda dari campak, sehingga kekebalan terhadap salah satunya tidak melindungi dari penyakit lainnya.
Berapa lama campak dan rubella menular?
Campak menular sejak 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul. Rubella dapat menular sejak 7 hari sebelum hingga 7 hari setelah ruam muncul.
Mengapa rubella berbahaya bagi ibu hamil?
Rubella pada awal kehamilan dapat menular ke janin dan menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, atau sindrom rubella kongenital. Dampaknya dapat berupa tuli, katarak, dan kelainan jantung bawaan.
Kapan anak perlu mendapatkan imunisasi MR?
Dalam program imunisasi rutin di Indonesia, vaksin MR diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD atau sederajat.
