Seorang karyawan berusia 20-an belakangan cepat haus, sering ke toilet pada malam hari, dan mudah lelah. Ia menyalahkan cuaca dan jam lembur, karena baginya diabetes adalah penyakit generasi orang tuanya.
Kenyataannya, diabetes bisa dialami orang usia muda, bahkan anak-anak. Gejalanya sering samar, sehingga sebagian kasus baru dikenali saat kondisinya sudah berat.
Artikel ini membahas ciri-ciri diabetes di usia muda, beda tipe 1 dan tipe 2, faktor risiko, hingga kapan perlu cek gula darah.
Apa Itu Diabetes dan Mengapa Bisa Muncul di Usia Muda?
Diabetes melitus adalah penyakit kronis dengan kadar gula darah tinggi. Hormon insulin dari pankreas membantu gula masuk ke sel untuk menjadi energi. Bila insulin kurang atau tidak bekerja baik, gula menumpuk di darah.
Pada diabetes tipe 1, sistem imun keliru merusak sel penghasil insulin, sehingga tergolong autoimun. Pemicunya diduga gabungan faktor gen dan lingkungan, misalnya infeksi virus. Tipe ini sering muncul pada anak, remaja, dan dewasa muda.
Pada tipe 2, tubuh masih membuat insulin, tetapi sel kurang peka terhadapnya. Kondisi ini disebut resistensi insulin. Dulu dikenal sebagai diabetes orang dewasa, tipe 2 kini makin sering ditemukan pada orang muda seiring bertambahnya obesitas atau kegemukan.
Sebelum menjadi tipe 2, gula darah bisa naik di atas normal tanpa mencapai ambang diabetes. Tahap ini disebut prediabetes.
Ciri-Ciri Diabetes di Usia Muda yang Sering Dianggap Biasa
Kemenkes menyebut gejala diabetes pada usia muda tidak jauh berbeda dengan ciri-ciri diabetes pada usia lain. Tanda berikut perlu dikenali:
1. Sering Haus dan Sering Buang Air Kecil
Gula yang menumpuk di darah bisa terbuang lewat urine, asal-usul sebutan kencing manis. Keluhannya berupa sering buang air kecil, termasuk malam hari, dan haus yang tidak kunjung reda. Pada anak, tanda ini bisa berupa kembali mengompol.
2. Cepat Lapar, Berat Badan Turun, dan Mudah Lelah
Tanpa insulin yang cukup, gula sulit masuk ke sel sehingga tubuh kekurangan energi, cepat lelah, dan lemas. Seseorang bisa makan lebih banyak dari biasanya, tetapi berat badannya justru turun tanpa sebab yang jelas. Di usia produktif, keluhan ini mudah dianggap akibat kurang tidur atau lembur.
3. Pandangan Kabur
Kadar gula yang tinggi bisa membuat penglihatan kabur. Keluhan ini mudah dikira mata lelah akibat layar, jadi periksakan juga gula darah bila muncul bersama rasa haus atau sering buang air kecil.
4. Luka Lama Sembuh
Luka kecil, lecet, atau goresan yang butuh waktu lebih lama untuk sembuh termasuk gejala diabetes. Pada orang muda yang aktif, perubahan ini mudah luput dari perhatian.
5. Infeksi Berulang, Termasuk Infeksi Jamur
Orang dengan gula darah tinggi lebih mudah mengalami infeksi saluran kemih, infeksi kulit, infeksi jamur, atau sariawan. Infeksi yang sering kambuh perlu disampaikan kepada dokter.
6. Kesemutan atau Baal di Tangan dan Kaki
Gula darah tinggi yang berlangsung lama bisa merusak pembuluh darah kecil yang memberi makan saraf. Akibatnya muncul kesemutan, baal, rasa terbakar, atau nyeri di tangan dan kaki, yang biasanya berkembang perlahan.
7. Kulit Gelap di Lipatan Leher atau Ketiak
Bercak kulit yang lebih gelap bisa muncul di lipatan leher atau ketiak dan kerap dikira daki. Kondisi bernama akantosis nigrikans ini berkaitan dengan resistensi insulin, ciri khas tipe 2.
8. Pada Tipe 1, Gejala Bisa Cepat Menjadi Darurat
Pada tipe 1, gejala bisa muncul dalam hitungan hari hingga minggu, bahkan langsung berupa ketoasidosis diabetik (KAD), yaitu penumpukan zat asam bernama keton akibat kekurangan insulin. Tandanya napas cepat dan dalam, napas berbau buah, muntah berulang, nyeri perut, sangat lemas, hingga penurunan kesadaran. Kondisi ini gawat darurat dan perlu segera ditangani di IGD.
Siapa yang Lebih Berisiko Terkena Diabetes Sejak Muda?
Faktor risikonya meliputi hal yang bisa diubah maupun tidak, antara lain:
Berat badan berlebih dan kurang bergerak. Kemenkes memakai batas indeks massa tubuh (IMT) di atas 23 kg/m² serta lingkar perut di atas 90 cm pada pria dan 80 cm pada perempuan. Waktu layar yang panjang membuat tubuh jarang bergerak dan berat badan mudah naik.
Riwayat keluarga dan keturunan. Orang tua atau saudara kandung dengan diabetes meningkatkan risiko tipe 1 maupun tipe 2. Di Amerika Serikat, anak keturunan Asia juga tercatat lebih berisiko mengalami tipe 2.
Pola makan dan kebiasaan tidak sehat. Kemenkes memasukkan pola makan tinggi gula, garam, dan lemak, serta merokok, sebagai faktor risiko. Minuman kemasan manis dan soda ikut menambah konsumsi gula harian.
Riwayat kehamilan dan berat lahir. Perempuan yang pernah mengalami gula darah tinggi saat hamil atau melahirkan bayi di atas 4 kg lebih berisiko. Orang yang lahir dengan berat badan rendah juga termasuk kelompok berisiko.
Alasan Diabetes pada Orang Muda Sering Terlewat
Diabetes dulu dianggap penyakit orang di atas 60 tahun, sehingga keluhan orang muda jarang dikaitkan dengan gula darah. Gejala tipe 2 pun muncul perlahan dan mirip keluhan ringan sehari-hari.
Pada tipe 1, proses autoimun bisa berjalan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sebelum gejala muncul. Pada sebagian orang dewasa, tipe 1 juga berkembang lambat dan tampak seperti tipe 2. Saat KAD terjadi, muntah dan nyeri perutnya mirip infeksi saluran cerna.
Padahal, gula darah yang lama tinggi bisa merusak jantung, ginjal, saraf, mata, kaki, dan gigi. Menjaga gula darah mendekati kisaran sehat membantu menurunkan risiko tersebut.
Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2 pada Usia Muda, Apa Bedanya?
Tabel berikut merangkum perbedaan diabetes tipe 1 dan tipe 2 pada orang muda.
Gunakan tabel ini sebagai gambaran umum. Kepastian diagnosis datang dari pemeriksaan dokter.
Kapan Perlu ke Dokter dan Kapan Harus ke IGD?
Bila muncul tanda KAD, segera ke IGD sebelum pemeriksaan lain.
Di luar keadaan darurat, periksakan diri ke dokter bila muncul salah satu ciri di atas. Bila orang tua atau saudara kandung punya diabetes tipe 1, dokter bisa menyarankan tes meski tanpa gejala.
Kemenkes menganjurkan cek kesehatan rutin. Gula darah bisa diperiksa sebagai bagian dari medical check up di usia 30 atau lebih awal bila ada faktor risiko. Hasil cek di acara kesehatan atau apotek sebaiknya ditindaklanjuti di klinik agar akurat.
Bagaimana Dokter Memastikan Diabetes dan Tipenya?
Dokter menilai gejala dan riwayat kesehatan, lalu meminta pemeriksaan berikut:
Tes untuk memastikan diabetes. Gula darah puasa mengukur kadar gula setelah berpuasa, sedangkan HbA1c menggambarkan rata-ratanya selama sekitar 3 bulan. Pada orang yang sudah bergejala, dokter bisa memakai gula darah sewaktu. Bila perlu, dokter meminta tes toleransi glukosa oral (TTGO) yang mengukur gula darah sebelum dan sesudah minum larutan gula.
Tes untuk mengetahui tipe. Tes gula darah belum menunjukkan tipe diabetes. Dokter bisa menambah tes autoantibodi penanda proses autoimun, C-peptida yang menggambarkan produksi insulin, atau keton urine.
Ambang diagnosis ditentukan oleh dokter, dengan acuan nilai normal gula darah dari laboratorium.
Dua Angka yang Dokter Pakai untuk Skrining Diabetes
Gula darah puasa menunjukkan kadar gula saat diperiksa, sedangkan HbA1c menggambarkan rata-ratanya selama sekitar 3 bulan, sehingga keduanya saling melengkapi untuk menyaring diabetes yang gejalanya masih samar.
Bumame menyediakan Paket Diabetes Melitus yang berisi pemeriksaan HbA1c dan gula darah puasa. Hasilnya sebaiknya dibaca dokter untuk menentukan perlu tidaknya tes lanjutan. Untuk menanyakan persiapan atau jadwal, Anda bisa hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Penanganan Diabetes pada Usia Muda
Penanganan disesuaikan dengan tipe diabetes dan dipantau dokter secara berkala, meliputi:
Tipe 1. Insulin dibutuhkan setiap hari lewat suntikan atau pompa. Penggunaannya diimbangi makanan, aktivitas, dan hasil cek gula darah agar tidak terjadi hipoglikemia atau gula darah terlalu rendah.
Tipe 2. Pola makan dan olahraga bisa cukup pada sebagian orang. Bila belum terkendali, dokter menambahkan obat diabetes minum atau insulin.
Pemantauan dan dukungan. HbA1c dipakai untuk menilai kontrol gula darah. Dukungan keluarga membantu orang muda dengan diabetes tetap hidup aktif.
Langkah Menurunkan Risiko Diabetes Tipe 2 Sejak Muda
Sampai saat ini tipe 1 belum bisa dicegah. Risiko tipe 2 bisa diturunkan lewat kebiasaan berikut:
Atur pola makan. Perbanyak sayur dan buah, serta kurangi gorengan, makanan beku, minuman kemasan manis, dan soda. Kemenkes menganjurkan batas harian 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam, dan 5 sendok makan lemak.
Bergerak setiap hari. Targetkan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari atau 150 menit per minggu. Kurangi juga waktu duduk di depan layar.
Jaga berat badan, hindari rokok, dan cek rutin. Berat badan yang sehat membantu menurunkan risiko tipe 2. Cek kesehatan berkala membantu menemukan kenaikan gula darah lebih awal.
Kenali Gula Darah Anda Sejak Usia Muda
Ciri-ciri diabetes di usia muda sering tampak ringan, padahal bisa menandai tipe 1 atau tipe 2. Memeriksakan gula darah saat ada gejala atau faktor risiko membantu penanganan dimulai lebih awal. Mengetahui kondisi lebih awal membuka lebih banyak pilihan. Bila ada pertanyaan, silakan chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Diabetes pada Anak: Mengenali Gejala Awal untuk Mencegah Kondisi Gawat Darurat. Retrieved 23 September 2026 from https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/diabetes-pada-anak-mengenali-gejala-awal-untuk-mencegah-kondisi-gawat-darurat
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Type 1 Diabetes. Retrieved 23 September 2026 from https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes/overview/what-is-diabetes/type-1-diabetes
Mayo Clinic. Type 1 diabetes in children - Symptoms and causes. Retrieved 23 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/type-1-diabetes-in-children/symptoms-causes/syc-20355306
MedlinePlus. Diabetes in Children. Retrieved 23 September 2026 from https://medlineplus.gov/diabetesinchildrenandteens.html
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Waspada Diabetes Militus pada Usia Muda, Kenali Gejala dan Faktor Risikonya. Retrieved 23 September 2026 from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2972/waspada-diabetes-militus-pada-usia-muda-kenali-gejala-dan-faktor-risikonya
Centers for Disease Control and Prevention. Type 1 Diabetes. Retrieved 23 September 2026 from https://www.cdc.gov/diabetes/about/about-type-1-diabetes.html
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
