Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mengenal CMV Virus: Gejala, Bahaya, dan Cara Mencegahnya
Kembali ke Artikel & Berita

Mengenal CMV Virus: Gejala, Bahaya, dan Cara Mencegahnya

SBATips Kesehatan

Pagi hari, anak bersin-bersin dan air liurnya menetes ke mana-mana. Ketika mengganti popoknya, Anda mengusap mulutnya yang basah dan tanpa sadar langsung memakan sisa biskuit yang baru saja ia gigit. Adegan sederhana semacam ini mungkin merupakan rutinitas yang akrab di banyak rumah, namun juga dapat menjadi jalur penularan CMV.

Satu virus yang sangat umum namun kerap tidak disadari, cytomegalovirus, tersembunyi di balik kebiasaan tersebut. Sebagian besar orang yang terinfeksi memang tidak merasakan gejala. Namun, ibu hamil dan individu dengan daya tahan tubuh lemah, infeksi tetap perlu diwaspadai. Yuk, kenali virus ini lebih dekat!

Apa itu CMV?

CMV adalah singkatan dari cytomegalovirus, yaitu virus yang dapat menginfeksi manusia di segala usia. Pada orang sehat, sistem kekebalan tubuh biasanya mampu menahan virus ini sehingga tidak menimbulkan sakit.

CMV sendiri termasuk keluarga herpesvirus, sama seperti virus cacar air dan virus Epstein-Barr. Ciri khasnya adalah bisa menetap di dalam tubuh seumur hidup. Setelah infeksi pertama, virus CMV "tertidur" di dalam sel dan jarang menimbulkan masalah, kecuali daya tahan tubuh seseorang menurun akibat penyakit atau obat tertentu.

Sebagai gambaran, berdasarkan informasi dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention), di Amerika Serikat, cytomegalovirus telah menginfeksi hampir 1 dari 3 anak pada usia 5 tahun dan telah menginfeksi lebih dari separuh orang dewasa saat mereka berusia 40 tahun.

Gejala dan Tanda yang Perlu Diwaspadai

Sebagian besar orang yang terinfeksi CMV virus tidak menunjukkan gejala apa pun. Namun, kelompok rentan seperti ibu hamil dan individu dengan imunitas tubuh yang lemah perlu mewaspadai tanda-tanda khusus.

Pada Orang Sehat

Sebagian besar orang tidak menunjukkan gejala apa pun dan tidak menyadari bahwa virus telah menginfeksi mereka. Jika gejala tersebut muncul, umumnya bersifat ringan dan menyerupai flu, seperti demam, sakit tenggorokan, mudah lelah, serta pembengkakan kelenjar.

Dalam beberapa kasus, cytomegalovirus dapat memicu penyakit yang mirip dengan mononukleosis (ditandai dengan demam dan rasa lelah berkepanjangan) atau menimbulkan gangguan pada fungsi hati.

Pada Bayi

Dokter menyebut bayi yang lahir dengan cytomegalovirus sebagai CMV kongenital. Menurut data dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention), sekitar 1 dari 200 bayi lahir dengan kondisi ini dan sekitar 1 dari 5 di antaranya mengalami gangguan kesehatan jangka panjang.

Pada bayi baru lahir, tanda-tanda infeksi cytomegalovirus bisa muncul dalam bentuk ruam, kulit dan mata yang menguning, ukuran kepala lebih kecil dari normal, berat lahir rendah, pembesaran hati dan limpa, kejang, hingga gangguan pada retina.

Sebagian besar bayi sebenarnya tidak menunjukkan tanda apa pun saat lahir, hanya sekitar 10% yang menunjukkan gejala. Bayi paling sering mengalami gangguan pendengaran sebagai masalah jangka panjang. Gangguan ini bisa muncul belakangan, bahkan pada bayi yang lolos tes pendengaran saat lahir.

Pada Individu dengan Daya Tahan Tubuh Lemah

Pengidap HIV atau pasien pasca transplantasi organ umumnya mengalami kondisi ini. Di mana virus CMV berisiko menyerang berbagai organ vital seperti mata, paru-paru, hati, kerongkongan, lambung, hingga usus.

Gejala awalnya meliputi penglihatan yang mendadak kabur secara drastis, nyeri saat menelan, serta diare berdarah yang disertai sakit perut. Perlu dicatat bahwa keluhan pencernaan ini juga dapat mengindikasikan berbagai kondisi medis lain karena menyerupai gejala infeksi usus.

Penyebab dan Faktor Risiko

CMV dapat menyebar lewat kontak dengan cairan tubuh, termasuk air liur, urin, darah, air mata, air mani, dan ASI. Jalur penularannya meliputi kontak langsung dengan air liur atau urin (terutama dari bayi dan anak kecil), hubungan seksual, menyusui, transfusi darah atau transplantasi organ, serta kehamilan.

Anak-anak menjadi sumber utama penularan karena virus dapat bertahan di tubuh mereka hingga berbulan-bulan setelah terinfeksi. Oleh karena itu, individu yang sering berinteraksi erat dengan anak, seperti orang tua, memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular.

Kelompok yang berisiko tinggi mengalami komplikasi serius dari virus ini adalah bayi yang terinfeksi sejak dalam kandungan, bayi prematur atau dengan berat badan lahir sangat rendah, serta individu yang mengalami gangguan sistem imun. 

Selama kehamilan, ibu dapat menularkan virus kepada janin melalui infeksi primer, infeksi ulang oleh jenis virus yang berbeda, maupun reaktivasi virus laten. Risiko penularannya berkisar antara 30–40% pada trimester pertama dan kedua, kemudian meningkat menjadi 40–70% pada trimester ketiga. 

Janin mengalami risiko terberat jika ibu mengalami infeksi pertama ini pada trimester pertama. Menariknya, menurut CDC, ibu yang sudah terinfeksi sebelum hamil justru menyebabkan sebagian besar kasus CMV kongenital di Amerika Serikat.

Sebuah penelitian juga menunjukkan sekitar 83% populasi umum di dunia pernah terinfeksi, dan angkanya bahkan naik menjadi sekitar 86% pada perempuan usia subur. Artinya, bagi banyak orang, virus ini sudah lama “menumpang” di tubuh tanpa pernah kita rasakan.

Diagnosis dan Pemeriksaan

Dokter menyesuaikan diagnosis dengan kondisi pasien, mulai dari melakukan tes antibodi atau PCR untuk orang dewasa, tes air liur/urin untuk bayi, hingga memberikan pertimbangan khusus bagi ibu hamil. Berikut rinciannya.

  • Dewasa dengan Gejala

    • Tes darah antibodi: memeriksa IgM (menandakan infeksi baru) dan IgG (menandakan riwayat infeksi di masa lalu).

    • Tes PCR: Orang dengan imunitas lemah memilih tes ini sebagai pilihan utama untuk mendeteksi materi genetik virus di dalam darah.

  • Bayi (Kongenital)

    • Diagnosis tidak bisa ditegakkan melalui pemeriksaan antibodi.

    • Lakukan tes PCR air liur atau urin dalam 2 hingga 3 minggu pertama setelah lahir untuk membedakan infeksi bawaan dari infeksi yang didapat setelah lahir.

  • Kehamilan dan Skrining

    • Skrining rutin CMV pada ibu hamil belum direkomendasikan secara luas karena hasil tesnya sulit ditafsirkan dan belum bisa memastikan apakah janin pasti terinfeksi atau mengalami gangguan.

Sebaiknya Anda mengonsultasikan keputusan untuk melakukan pemeriksaan langsung dengan dokter kandungan sesuai kondisi medis Anda.

Karena hal ini, Anda dapat memanfaatkan Paket TORC dari Bumame untuk mendeteksi potensi penyakit yang perlu diketahui sebelum menikah. Tes ini sekaligus akan membantu Anda mendapat gambaran awal status antibodi Toksoplasma, Rubella, dan CMV melalui pemeriksaan IgG dan IgM yang Anda lakukan.

Pemeriksaannya pun praktis tanpa persiapan khusus dan tersedia melalui layanan Home Care maupun Walk-in. Pastikan untuk mendiskusikan hasilnya dengan dokter yang menangani, dengan menyesuaikan riwayat kesehatan serta usia kehamilan Anda.

Pilihan Penanganan

Pada orang dengan daya tubuh kuat, infeksi CMV umumnya tidak memerlukan obat khusus. Langkah terbaik adalah istirahat yang cukup dan meredakan gejala (seperti demam atau pegal-pegal) sesuai anjuran dokter.

Dokter biasanya hanya memberikan penanganan medis seperti obat antivirus. Khususnya kepada pasien dengan sistem imun lemah yang mengalami infeksi berat atau gangguan penglihatan, serta kepada bayi yang baru lahir dengan gejala cytomegalovirus bawaan (kongenital).

Pemberian obat valganciclovir pada bayi dapat membantu mengoptimalkan fungsi pendengaran dan tumbuh kembangnya. Namun, karena obat ini berisiko menimbulkan efek samping serius, dokter wajib mengawasi penggunaannya secara ketat.

Cara Mencegah CMV

Belum ada cara yang benar-benar bisa menghilangkan risiko infeksi sepenuhnya. Tapi kabar baiknya, kita bisa menekan risikonya cukup signifikan hanya dengan menjalankan kebiasaan sehari-hari yang sederhana, terutama saat kita sering berinteraksi dengan bayi dan anak kecil. 

Pola hidup bersih seperti ini sebenarnya mirip dengan cara mencegah hepatitis dan berbagai infeksi virus lainnya. Anda dapat melakukan beberapa langkah praktis berikut.

  • Jangan berbagi makanan, sendok, gelas, atau dot dengan anak.

  • Selalu cuci tangan pakai sabun dan air mengalir setelah mengganti popok atau membantu anak ke toilet.

  • Kurangi kontak langsung dengan air liur dan urin anak kecil, misalnya, hindari mencium bayi tepat di bibir.

Langkah-langkah ini sangat penting, terutama bagi ibu hamil. Jika ibu terinfeksi saat hamil, virus bisa menular ke janin dan menyebabkan cytomegalovirus kongenital. 

Sekitar 1 dari 200 bayi lahir dengan infeksi ini, dan sekitar 1 dari 5 di antaranya berisiko mengalami masalah kesehatan jangka panjang, seperti gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan, atau masalah penglihatan.

Sekarang ini, vaksin masih dalam tahap uji klinis dan belum tersedia untuk umum. Pemeriksaan rutin pada ibu hamil juga belum direkomendasikan di banyak negara, termasuk Amerika Serikat. Sebab, hasil tes belum mampu memprediksi secara akurat apakah janin akan terinfeksi atau mengalami masalah.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami salah satu kondisi berikut.

  • Anda sedang hamil dan mengalami demam, nyeri tenggorokan, kelelahan yang tidak biasa, atau sempat terpapar anak yang diketahui terinfeksi CMV.

  • Bayi baru lahir menunjukkan kulit atau mata menguning, muncul ruam, kejang, atau tidak merespons suara.

  • Anda memiliki daya tahan tubuh yang lemah dan mengalami penglihatan kabur, sulit menelan, atau diare yang berkepanjangan.

Dengan pemeriksaan rutin, banyak risiko bisa terdeteksi lebih awal. Bila Anda ingin berdiskusi tentang pemeriksaan TORC atau layanan kesehatan lainnya, Anda bisa menjadwalkan layanan di Bumame. Tersedia juga berbagai pilihan medical check-up untuk memantau kesehatan secara lebih menyeluruh.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — About Cytomegalovirus

  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Clinical Overview of CMV and Congenital CMV

  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — CMV in Newborns

  4. Nguyen AD, Shorman M — Cytomegalovirus Infections. StatPearls

  5. Zuhair M, Smit GSA, Wallis G, Jabbar F, Smith C, Devleesschauwer B, Griffiths P — Estimation of the Worldwide Seroprevalence of Cytomegalovirus: A Systematic Review and Meta-Analysis

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apakah CMV bisa sembuh total?

Virus CMV dapat menetap di dalam tubuh seumur hidup dan aktif kembali di kemudian hari. Namun, pada orang sehat, infeksi biasanya tidak menimbulkan masalah serius dan tidak memerlukan pengobatan khusus.

Apakah CMV menular lewat air liur?

Ya. CMV dapat menular melalui air liur dan urine, terutama dari bayi dan anak kecil. Virus juga dapat menyebar melalui darah, air mata, air mani, ASI, hubungan seksual, serta transplantasi organ atau transfusi darah.

Apakah semua ibu hamil perlu tes CMV?

Tidak semua ibu hamil perlu menjalani tes CMV secara rutin. Dokter akan mempertimbangkan kondisi medis dan riwayat kesehatan sebelum menentukan apakah pemeriksaan diperlukan.

Apakah orang sehat yang terinfeksi CMV perlu diobati?

Umumnya tidak. Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, infeksi CMV sering kali tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan keluhan ringan sehingga tidak memerlukan pengobatan khusus.

Bagaimana cara mencegah penularan CMV, terutama bagi ibu hamil?

Cuci tangan dengan sabun setelah mengganti popok atau membersihkan air liur anak. Hindari berbagi makanan, minuman, alat makan, atau dot dengan balita, serta kurangi kontak langsung dengan air liur dan urine anak kecil.